"Tente ajak aku ke pasar malam ya? Aku ingin kesana." rengek keponakanku, Aska.
Aku menghembuskan nafasku kasar. Fifi selaku Ibu Aska menitipkan Aska padaku, dia bilang dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan suaminya di Paris. Sebenarnya aku tidak terlalu jago dalam mengurus anak, tapi untunglah Aska sudah bisa mandiri jadi aku tidak perlu repot-repot turun tangan.
"Jangan sekarang ya, Tante masih banyak kerjaan. Sekarang beli eskrim aja ya? Janji deh Minggu depan kita ke pasar malam, gimana?"
"Aku maunya sekarang, ayoo Tante." apa aku harus memarahinya? Atau mengikuti kemauannya? Tolonglah pekerjaanku masih banyak, seharusnya aku lembur hari ini tapi aku meminta bos untuk membiarkan aku menyelesaikan semuanya di rumah.
"Okey, baik. Tapi jangan minta yang aneh-aneh ya?" anak itu mengangguk dengan semangat.
"Ayo!! Kita pergi." serunya dengan semangat 45.
"Hey jangan lari-lari, jatuh nanti."
Sampai di tempat tujuan yaitu pasar malam, suasana di sana lumayan ramai. Banyak anak kecil yang berusia sama seperti Aska bermain bersama orang tuanya.
Aska menarik tanganku mendekati wahana yang berbentuk lingkaran lebih tepatnya kincir ria. Wahana yang belum pernah aku naiki. Aku merasa takut dengan wahana itu, pikiranku sudah ke negatif berpikir yang tidak-tidak dengan wahana itu.
"Tante aku mau naik yang itu." Aska menunjuk wahana kincir ria.
Aku menarik Aska lebih dekat kepadaku, "Jangan ya? Nanti kalau jatuh gimana?" tanyaku mengada-ada.
"Aaa aku mau naik itu, ayolahh Tante sekali aja." aku mengangguk kecil. Aku tidak enak dengan orang-orang yang melihat Aska merengek meminta naik wahana.
"Baiklah-baiklah. Ayo." ucapku dengan pasrah.
Aku dan Aska masuk ke dalam kabin, tiba-tiba saja seorang laki-laki ikut masuk ke dalam kabin. Kata mas-mas pemilik Kincir ria, semua kabin telah terisi dan kabin aku yang hanya kosong.
Aku duduk sendiri dan Aska duduk bersama laki-laki itu. "Aska duduk di samping Tante sini," ajak ku tapi Aska menolak dengan menggelengkan kepalanya.
Kincir ria berjalan dengan sangat pelan, tadi yang awalnya aku berada di bawah kini aku berada di atas. Aku menatap kebawah, banyak orang-orang dan lampu yang menghiasi pasar malam. Ternyata pemandangannya terasa lebih indah jika di lihat dari atas.
Tiba-tiba saja Kincir ria berguncang keras seperti gempa bumi. Aku sudah ketar-ketir, pikiran negatif kembali muncul. Guncangan yang sangat keras membuat aku kehilangan kendali. Laki-laki di depanku dengan tidak sengaja mengecup keningku, membuatku mematung. Dan di saat itu pula semua lampu padam.
Laki-laki itu tersentak, melebarkan bola matanya lalu menarik tubuhnya agar kembali di posisi semula. Untungnya Aska tidak melihat kejadian itu.
"Maaf" ucap laki-laki itu.
"Tante kenapa? Kok pipinya merah?" astaga Tuhan tolong aku, Aska sangat keterlaluan. Kenapa bisa dia spontan berbicara seperti itu, sangat memalukan.
"Aska." panggilku seperti memperingatinya. "Sini duduk di samping Tante." aku menepuk kursi besi di sebelahku.
Aku sangat tidak berani menatap laki-laki di depanku, aku terus menatap Aska. Tentu saja hal itu membuat Aska risih tapi mau bagaimana lagi, dia takut jika aku akan marah.
"Kapan jalannya sih?" gerutuku kesal, sudah 5 menit berjalan belum juga ada tanda-tanda listrik hidup.
"Sabar," celetuk laki-laki di depanku ini.
Tidak lama kemudian, kincir ria kembali berjalan dengan aman. Aku pastikan aku tidak akan pernah naik wahana seperti ini. Sampai di bawah aku langsung menarik Aska menjauh dari wahana.
"Ck, aneh." gumam laki-laki itu saat melihat aku dan Aska yang menjauh.
"Tantee, kita belum selesai mainnya." Aska berusaha melepaskan genggaman tanganku.
"Engga Aska, sudah itu aja. Sekarang kita pulang."
"Engga mau! Aska masih mau main!"
"Aska!"
"Engga mau!!"
"Hey, kamu mau ini?" seorang laki-laki yang tadi muncul kembali membawa eskrim di tangannya lalu memberikannya lada Aska. Dengan senang hati Aska menerimanya.
"Aska kembalikan." tintahku, Aska menatapku dengan tajam dan terlihat rasa tidak suka.
"Saya tidak mencampuri dengan racun. Dan saya tidak selicik itu." ucap laki-laki itu.
"Saya tidak bilang kalau kamu meracuni eskrim itu, kamu bilang seperti itu saya yakin kalau kamu ada niat jahat."
"Tante engga boleh gituu."
Aku menghela nafasku, dari pada aku menghabiskan tenagaku untuk debat dengan kedua lelaki yang tidak pernah mengalah ini mending aku meninggalkan mereka.
"Ehh Tante mau kemana?" tanya Aska saat melihatku melangkah pergi.
"Pulang. Cape." jawab ku ketus tanpa memberhentikan lankahku.
"Biar saya antar, tidak baik kalian pulang berdua apa lagi ini sudah tengah malam." ucap laki-laki itu menawarkan dirinya.
"Boleh-boleh, ayo Tante pulang sama Om ganteng aja." Aska menarik tanganku mengikuti laki-laki itu dari belakang.
Di mobil tidak ada pembicaraan, sampai di rumah aku langsung turun dari mobilnya.
"Terimakasih." ucapku yang di angguki olehnya.
"Om engga mau mampir gitu?" tanya Aska.
Laki-laki itu tersenyum tipis, "Kapan-kapan aja Om mampir." terdengar Aska mengdengus kesal membuat laki-laki itu mengelus rambut Aska. "Om janji ke sini setiap hari, gimana?"
Aska langsung menerbitkan senyum lebarnya, "Oke Om di tunggu janjinya ya!"
"Sudah Aska ayo masuk!" teriakku.
Aska hanya menoleh sekilas, "Tante ku sangat galak." laki-laki itu tersenyum.
"Galak-galak tapi cantik." celetuk laki-laki itu. Aska tersenyum misterius menatap laki-laki di depannya.
"Ciee Om suka ya sama Tante?"
"Engga,"
"Deketin aja Om, lagi jomblo orangnya."
"ASKAAA!!"
~Tamat~
Jangan lupa like dan komen ya!!