Setelah ditinggal pacarku, aku menjadi bosnya?
Bisa dibayangkan bagaimana ekspresinya saat melihatku, berdiri mematung dengan mulut menganga dan mata lnya yang membulat sempurna.
Dalam hati aku bersorak gembira dan dengan puas aku mendekatinya dan berbisik di telinganya.
"Igot you".
Aku benar benar ingin tertawa melihat wajahnya yang seketika menampakan kesenduan, meskipun ada rasa sakit yang masih terasa dalam dadaku, tapi ternyata Tuhan begitu sayang padaku, dia memberikanku kesempatan untuk membalas kesakitan ku.
"Nona Rana Syifa Rahma, selamat anda diterima di perusahaan kami sebagai sekretaris pribadi saya, dan anda tidak diperkenankan resign dari perusahaan kami selama masa kontrak anda belum berakhir, jika Anda mengajukan pengunduran diri, anda diwajibkan membayar finalti sebesar 10 kali gajih, anda faham?" ucapku.
"Silahkan ikuti pak Arman asisten saya, dia akan menjelaskan apa saja tugas anda" lanjutku.
Aku melihat jelas ketika bibirnya sedikit bergetar, sangat jelas dia sedang menahan tangisnya dan melepas tangannya kuat kuat.
"Baik pa, terima kasih ".
Sangat jelas terdengar suaranya sedikit parau, dalam ingatanku yang tak pernah aku lupakan sedikitpun Rana mantanku ini memang wanita yang tegar dan mandiri meskipun dia sangat mudah menangis, tapi dia akan sebisa mungkin menahannya, meskipun seringkali dia tak bisa menahan lelehan air mata dikala dia merasa sedih dan terpukul, aku sangat mencintai setiap jengkal dalam dirinya, karakternya, tatapan matanya, senyumnya, tangisnya, bahkan kemarahannya.
Rana adalah satu satunya wanita yang kucintai, tak pernah aku segila ini mencintai seorang wanita, bahkan setelah dia mencampakkan aku, aku masih tetap mencintainya sampai sekarang, tapi bedanya sekarang cintanya bercampur kebencian, entah apa yang akan aku lakukan, kita lihat saja nanti.
Lalu asistenku sekaligus Sahabatku Arman memberi arahan untuk mengikutinya keruangan mereka tepat di depan ruanganku.
Di dalam ruangan ini, aku bisa dengan jelas melihat setiap gerak gerik yang dilakukan oleh asistenku diluar sana, karena terdapat kaca satu arah yang menjadi dinding pembatas antara ruang dan diluar sana tepat menembus ruangan yang sekarang ditempati oleh Rana.
Kemudian aku melirik biodata sekertaris baruku yang sekarang dipegang oleh sang mantan terindahku Rana, aku membaca setiap kata perkata didalamnya, dan aku melihat status pernikahan dalam biodatanya.
"Brengsek...".
Seketika amarahku memuncak dikala aku melihat status dari pernikahan Rana, dia seorang janda dan memiliki seorang anak?
Hanya dalam 1 tahun, dia melupakan aku menikah dengan laki laki brengsek yang sekarang membuatnya menjadi janda, beraninya dia meninggalkanku dan menderita dengan orang lain.
"Arman, masuk keruangan ku" ucapku dalam sambungan telpon ku pada Arman.
Tidak menunggu lama Arman sudah berdiri di depanku, dengan wajah yang tak bisa aku baca ekspresinya, entah apa yang ada di fikiranya, mengingat aku bertemu dengan mantan terindahku dan kini menjadi sekwrtaris pribadiku.
"Aku tau apa yang harus ku lakukan" belum aku mengatakan apa apa, dia sudah tau apa yang aku inginkan.
"Beraninya kau mendahului keinginanku hah?" ucapku kesal pada Arman.
Saat ini aku benar benar sedang kesal, mengingat gadis pujaanku pernah dijamah oleh pria lain dan memiliki buah cinta nya.
Seketika Arman menampakan senyum mengejeknya padaku dan berkata.
"Sudahlah aku tau maksudmu, aku akan menyelidiki apapun yang berhubungan dengan Rana mantan terindah seorang Regan Nalendra Wijaya, seorang CEO dari MIU Production yang terhormat dan yang masih belum bisa move on dari seorang janda beranak satu". seketika tawa menyebalkan Arman tercipta dari wajahnya yang menyebalkan.
"Hei, kau ingin aku pecat hah? sudah bosan digajih besar olehku?" ucapku mengancamnya.
"Silahkan pecat aku, dan kau tak akan pernah mendapatkan asisten seperti aku lagi". kurang ajar sekali dia , terlalu percaya diri dan sayangnya yang bisa mengimbangi ku sekarang hanya dia, sialan.
"Ya sudah jangan banyak tingkah kau, kerjakan apa yang ku mau, jangan ada yang terlewat sedikitpun, kau mengerti?" titahku.
"Siap bos". jawabnya.
" Sekarnag siapkan berkas berkas yang dibutuhkan, untuk meeting hari ini" lanjutku.
Kemudian kami melanjutkan kesibukan kami yang tiada henti ini hingga malam tiba.
Keesokan harinya.
Rana mulai efektif bekerja di perusahaan ku hari ini, aku sudah tak sabar ingin melihat wajahnya, wajah yang selalu aku rindukan selama 1 tahun ini, wajah yang selalu menampakkan senyum manisnya kala bertemu denganku, wajah yang menggores hatiku saat dia tega memutuskan hubungan denganku saat aku sedang begitu mencintainya, hubungan kami berjalan 4 tahun saat di bangku kuliah, dan dalam 1 hari dengan mudah dia mencampakkan aku, dia memang tak berperasaan sedikitpun, bahkan dia tak menatap mataku kala dia mengatakan kita putus, dan beraninya dia hidup menderita dengan suami brengseknya yang telah menjadikan dirinya janda beranak satu.
Jika kau menikah denganku Rana, kau akan ku jadikan seorang Ratu, tak akan ku biarkan kau terluka sedikitpun, aku akan memberikan kebahagiaan yang tak akan pernah orang lain berikan. ( Ya ampun PD luar biasa dia 😂😂😂)
Waktu menunjukan tepat pukul 8 pagi, dan aku disini di di dalam lift, menuju lantai dimana ruanganku berada, di lantai 50.
Saat pintu lift terbuka, Seketika setiap Sekertaris yang berada tepat di depan ruanganku berdiri memberikan hormat padaku, tak terkecuali Rana.
Dia terlihat sangat cantik dengan pakaian yang dikenakannya, memakai kemeja sedikit longgar berwarna peach dipadupadankan dengan rok sepan dibawah lutut dan jangan lupa rambut panjangnya yang sedikit bergelombang dengan dihiasi jepitan kecilnya di dekat telinga begitu cantik dan membuatku seketika menghentikan langkahku hanya untuk menatapnya beberapa detik.
Dia menyadari tatapan mataku, dan dia berusaha menundukkan kepalanya, tak ingin beradu tatapan langsung denganku.
Seketika, hatiku begitu sakit melihat sikapnya yang menghindari ku, tak taukah dia betapa aku merindukannya?.
Aku marah padanya karena dia berani sekali hidup menderita dengan orang lain, seharusnya dia hidup bahagia dengan pilihannya, kenapa dia begitu bodoh memilih racun bersama pria brengsek yang entah siapa dia.
Tak menunggu lama lagi, aku memasuki ruanganku, dengan kesal aku membanting pintu sekuat tenaga.
Terdengar diluar sana karyawan ku sedang berbisik bisik , aku tak peduli aku sedang sangat marah sekarang.
Dalam ruanganku yang melihat di balik kaca yang menembus tepat ke ruangan para staff ku, aku melihat Rana sedang terduduk di kursinya, wajahnya terlihat sendu dan menyedihkan, lalu aku telpon dia memakai telpon kantor yang langsung tersambung ke telpon yang ada di mejanya.
kriiiing
"Selamat pagi"
Suaranya terdengar lembut jantungku terpompa sedikit lebih cepat.
"Buatkan saya kopi" titahku padanya.
"Baik pa" Jawabnya.
Tidak menunggu lama, Rana langsung bergegas menuju pantri untuk membuatkan ku kopi yang aku pesan.
Setelah menunggu beberapa menit, Terdengar ketukan pintu.
Tok tok tok
" Masuk" titahku pada orang yang mengetuk pintu.
" Saya mengantarkan kopi pesanan bapa".
Ucapnya begitu lembut.
Aku tak berkata apapun, hanya menatapnya dan dia sedikitpun tak berani membalas tatapanku, hanya menundukkan kepala.
"Ada yang lain pa? ucapnya menawarkan diri".
Seketika senyumku tersungging dengan lugas aku berkata.
" Ya ada, tunggu disini, aku akan mencoba kopi buatan mu" ucapku menahannya untuk pergi.
lalu aku hirup aroma kopi yang Rana buat, begitu Hidmat, begitu aku rindukan, apakah masih sama rasanya, apakah dia masih ingat selera kopiku, dulu dia begitu tau apa yang aku suka, lalu ku teguk sedikit dan alangkah bahagianya racikannya pas, dia masih ingat dengan kopi yang aku suka, yang tak semua orang tau bagaimana memuaskan seleraku.
Seketika senyumku terkembang dengan sempurna , dan tatapan nya menunjukan keheranan sepertinya dalam fikiranya dia bertanya ada apa denganku.
"Kamu masih ingat kopi kesukaanku Ran?", ucapku sambil berdiri dan mendekatinya.
Rana kaget dan menatapku, saat aku mendekatinya dia sedikit memundurkan tubuhnya.
"Kenapa kamu masih ingat Ran? apakah kamu juga selalu ingat padaku, tak pernah melupakanku, masih selalu merindukanku seperti aku yang selalu merindukanmu?".
Rentetan pertanyaan itu dengan lancar keluar dari mulutku.
"Kau tau Ran, aku tak pernah sedetikpun melupakanmu, tak pernah terbersit dalam fikiranya untuk menggantikanmu dengan wanita lain, tak ada niatku untuk menikah jika bukan denganmu Rana, kau telah mengacaukan hidupku Rana, apa kau tau betapa menderitanya aku setelah kau pergi Rana, kau bahkan dengan mudah menikah dengan orang lain yang tega meninggalkanmu, dan membuatmu menjadi janda seperti sekarang ini?".
Ucapku dengan penuh emosi yang ditekan.
Rana hanya diam menundukkan kepalanya, dan mencengkram kuat rok yang dipakainya.
"Apakah kau menyesal Rana? kau menyesal meninggalkanku dan berakhir menderita dengan si brengsek mantan suaminya itu hmmm?"
Seketika Rana mengangkat kepalanya dan menatap mataku, dalam sorot matanya terlihat marah dan tak terima dengan apa yang ku katakan.
"Maaf Pak Regan yang terhormat, anda tidak pantas menilai orang yang belum Anda kenal, lagi pula apa urusan anda saya bahagia atau tidak! saya bahagia dengan mantan suami saya, darimana anda tau jika saya tidak bahagia?, Anda bukan tuhan yang bisa mengetahui isi hati saya "
Ucapnya begitu murka sambil menatap mataku tajam, seketika rasa sakit ini datang lagi, seperti ditusuk sembilu mendengar setiap kata yang ia lontarkan.
"Lalu, jika kalian bahagia, kenapa kamu sekarang menjadi janda? apakah dia tidak mencintaimu sehingga dia menceraikannya?, atau dia berselingkuh? seperti apa yang kau lakukan, jangan jangan kamu juga dulu berselingkuh nona Rana ?".
Ucapku begitu kejam, aku sedang emosi dan aku benar benar tidak bisa mengontrol ucapanmu ini.
Aku terus melangkah mendekatinya, dan dia terus mundur mendekati sofa yang ada di belakangnya, semakin merapat tubuh kami, semakin dia menundukkan kepalanya, dan kini ia terdesak dan terduduk di sofa.
Kemudian aku mendorongnya hingga ia berbaring di lalu aku mencengram tangannya dan berucap.
"Kembalilah padaku, aku akan menerimamu bagaimanapun keadaanmu sekarang, aku akan menganggap anakmu sebagai anakku sendiri, aku masih mencintaimu Rana dan akan tetap mencintaimu sampai kapanpun"
Rana memberontak dibawah kungkunganku, tetapi aku terus memeluknya berusaha untuk menyalurkan kerinduanku padanya, aku berusaha menciumnya tetapi dia terus menghindar.
"Hentikan pa, jika tidak aku akan berteriak" ucapnya menantangku.
" Silahkan berteriak, tidak akan ada yang mendengar teriakanmu".
Ucapku dengan dihiasi senyum mengejek.
Lalu terdengar ketukan dibalik pintu, yang menghentikan aksiku, kemudian aku menghentikan kasihku dan turun dari tubuh Rana, masih terlihat amarah di wajah cantik, kemudian ia berlari ke arah Pintu dan segera membukanya.
Terlihat dibalik pintu ada Arman yang telah menunggu sambil menenteng berkas yang lumayan banyak.
" Permisi pa" ucap Rana tergesa gesa.
Sekilas Arman memperhatikan keadaan dan berkata padaku.
"Wah wah wah, belom apa apa udah di apa apain udah diapa apain bro" ucapnya mengejek.
Aku hanya menyunggingkan bibirku dan berkata.
"Sudah beres ? " ucapku.
Lalu Arman menyerahkan berkas yang dibawanya.
"Data Rana sang mantan kekasih tuan Regan lengkap tanpa ada yang terlewat sedikitpun, dan akan membuat sang bucin akut kaget bukan kepalang". Ucapnya lagi lagi mengejekku dengan menyebalkan.
"Bagus" ucapku.
"Sekarang handel semua Rapat, hari ini aku tak ingin diganggu".
ucapku dengan tegas tak mau dibantah, sambil mengibaskan tanganku pertanda pengusiran pada sang asisten serba bisa.
"ok"
Lalu Arman keluar dari ruanganku, aku langsung memposisikan diri untuk membaca setiap detail tentang Rana, apa yang dia lakukan selama setahun ini, bagaimana perekonomiannya , siapa suaminya yang tega menceraikannya, siapa anaknya dan bagaiman keluarganya , semuanya tak ada yang terlewat sedikitpun.
Aku begitu terpukul mengetahui siapa mantan suami dari Ranna, dia adalah Wisnu Kakak iparnya, suami dari mendiang Kakak perempuannya.
Ternyata alasan Ranna menikah dengan kakak iparnya adalah untuk menyelamatkan anak dari kakaknya yang berusia 1 tahun dan dia mengorbankan dirinya , aku dan cinta kami demi hak asuh anak dari kakaknya.
Ya Tuhan , apa yang aku lakukan, aku menganggap Ranna berselingkuh dengan orang lain padahal dia tetap setia padaku.
Seketika sesal itu datang dengan tanpa aba aba, lihat saja aku akan mendapatkannya lagi Ranna, aku berjanji, teka-teki tak akan terbantahkan lagi.
Saat masuk jam makan siang, kemudian aku keluar dari kantorku dan menuju ke meja Rana yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.
" Kamu ikut saya , Arman siapkan mobil" titahku tak terbantahkan.
"Iya pa?" tanya Rana dengan mengeluarkan ekspresi kagetnya yang begitu imut.
"Kita ada meeting di luar, bersipalah" ucapku pura pura tegas , tapi di dalam hati aku benar benar bahagia, ingin rasanya memeluk gadis pujaan hatiku ini.
Tak lama mobil yang kami timoangi menembus jalanan padat ibu kota yang menuju pinggiran kota yang aku yakin Ranna tau arahnya mau kemana.
" Maaf pa kita meeting dimana ya, kenapa kesini?" ucapnya penasaran.
" Nanti juga kamu tau" jawabku misterius.
Setelah menempuh waktu sekitar 30 menit, kami tiba di suatu rumah yang asri, rumah sederhana bercat abu abu yang terlihat sejuk dan didepannya dihiasi bunga bunga yang indah.
Rana begitu kaget mendapati mereka berada di rumah orang tuanya termasuk kediamannya sekarang.
"Kenapa kita kesini pa" tanyanya begitu penasaran.
Aku merasa tak perlu menjawabnya, karena dia juga akan tau sebentar lagi apa maksudku datang kemari.
"Kamu ngga mempersilahkan kami masuk Rana ? saya ada perlu dengan orang tuamu" ucapku dengan sedikit Penekanan.
"Ah iya" ucapnya terbata.
Kemudian dia langsung berlari kedalam memanggil orang tuanya, kemudian kami dipersilahkan masuk.
"Maaf pa, Bu, saya Regan kekasih Rana dulu sebelum dia menikah dengan Wisnu, dan sekarang saya juga atasan Rana " ucapku memperjelas.
"Hah? " orang tua Rana hanya menatapku dengan kaget.
"Kedatangan saya kemari adalah, ingin melamar Rana untuk menjadi istri saya"
seketika semua orang kaget, dan Ranna sampai tersedak mendengarnya ....
bersambung ....