Setelah aku ditinggalkan oleh Pacarku, sekarang aku jadi Bosnya. bos disini maksudnya bukan dalam hal pekerjaan ya, tapi dalam urusan hati.
Aku masih ingat waktu itu di gang depan kost ku, setelah bang Doni mengajakku jalan malam itu, dia pamit padaku untuk pergi keluar kota dan menetap disana.
"Apa ga bisa di kota ini saja bang"? tanyaku mencoba membujuknya untuk mengurungkan niatnya.
"Adek tau sendiri kan kalau disini susah mencari tempat honor. kalau disana Abang sudah pasti diterima, walaupun disana cuma disekolah swasta tapi gajinya lumayan untuk bisa menutupi kebutuhan bulanan, dan yang lebih penting lagi Abang dapat kerjaan sesuai keahlian, jadi sayang kalau tidak di ambil"katanya mencoba meyakinkanku.
"Tapi kalau Abang pergi, bagaimana dengan hubungan kita?" kataku dengan mata yang mengembun.
Sambil meraih tanganku dia berusaha meyakinkanku "Hubungan kita masih berlanjut, kita akan tetap berkomunikasi, setelah Adek menyelesaikan kuliah nanti bisa nyusul abang kesana, Abang juga bisa nyariin sekolah untuk Adek juga nantinya".
Aku terdiam sejenak, merenung apa yang disampaikan bang Doni, ada benarnya juga karena 6 bulan lagi aku juga akan menyelesaikan kuliahku. sekarang aku disibuk dengan penelitian akhirku untuk syarat kelulusanku. Aku dan bang Doni udah pacaran selama tiga tahun. kami kuliah dikampus dan jurusan yang berbeda. Aku kuliah disebuah perguruan tinggi swasta jurusan pendidikan matematika angkatan 2004. Sedangkan bang Doni kuliah di Fakultas teknik jurusan pendidikan teknik elektronika angkatan 2003 disebuah universitas negeri ternama di kota P.
Beberapa bulan awal kepergiannya, komunikasi kami masih lancar lancar aja. Tapi seiring berjalannya waktu, bang Doni berubah. Dia jarang menghubungiku, kalaupun aku yang menelponnya jarang sekali diangkat, kalau dichat pun balasnya lama, padahal dia online.
Karena aku juga disibukkan dengan urusan skripsi sidang kompre dan wisuda, perubahan bang Doni bisa teralihkan.
Seminggu lagi aku wisuda, aku menghubungi bang Doni untuk kasih tahu sekaligus mengundangnya untuk hadir dihari bahagiaku.
"hallo dek" terdengar suara diseberang sana setelah panggilanku kesekian kalinya malam ini. padahal aku mencoba menelponnya sudah dari pagi tapi ga diangkat. Karena aku masih berfikiran positif tentang hubungan ini, makanya aku coba lagi menghubunginya. seperti itulah yang terjadi akhir akhir ini. setiap kali aku tanyakan tentang alasannya berubah, selau saja dijwab dengan bernbagai alasan yang terkadang alasannya tidak masuk akal.
"Iya bang" jawabku menahan hati.
"Ada apa dek" katanya tanpa ada rasa bersalah.
"Abang kok selalu seperti ini, susah sekali dihubungi?" aku bertanya balik, karena ga bisa lagi menahan emosi.
"Engghh..... itu ... tadi disini mati lampu"katanya berusaha mencari alasan lagi.
"Apa hubungannya mati lampu dengan ga ngangkat telpon aku coba" kataku ga terima alasannya.
" Ya karena mati lampu, didalam gelap makanya Abang ngumpul diluar ma teman teman Abang" katanya mencoba menjelaskan.
panggilan telponku pun terputus begitu saja, aku ga tahu kenapa yang jelas aku enggan tuk menghubunginya kembali karena hanya membuat aku tambah sedih aja. Aku putuskan untuk ngasih tahu wisuda ku lewat chat aja. karena waktu pamit keluar kota dulu dia meminta ku untuk kasih tau hari wisudaku supaya dia bisa datang.
"bang, hari Sabtu besok aku wisuda" begitulah chat yang kukirimkan padanya. kulihat pesan sudah centang dua, tapi warnanya masih hitam. padahal aku tahu dia lgi online sekarang. Huh..... kuhembuskan napasku untuk membuang rasa kesal dan sedihku, sambil kuseka sudut mataku yang berair. Untung saja tak satupun temanku berada di kost, karena malam ini malam Minggu. tentu saja mereka jalan dengan pacar masing masing. Andaikan bang Doni masih disini, mungkin aku sedang bahagia diluar sana.
Seperti itulah yang terjadi setiap kali aku menelponnya, dia selalu santai dan seperti tidak merasa bersalah. Dan bodohnya aku, aku selalu berusaha menghubunginya.
Aku terbangun karena bunyi alarm di hp ku, alarm menandakan kalau sekarang sudah 4.30 pagi, sebentar lagi adzan subuh berkumandang. aku ingat kembali ternyata tadi malam aku tertidur dalam kesedihan. segera kuraih hp langsung kubuka aplikasi hijau, dan ternyata sudah ada balasan chat dari bang Doni.
" Abang ga bisa datang, ga bisa minta izin" balasan chat untukku. kembali kuletakkan hpku tanpa ada keinginan untuk membalasnya. Lagi pula ga ada pula yang perlu dibalas karena dari kalimatnya ga ada yang membuatku harus membalasnya. Jangankan bertanya tentang perasaanku tentang ketidakhadirannya minta maaf pun tidak.
Setelah wisuda, Aku kembali ke kotaku. Dikota S aku memasukkan lamaran ku ke beberapa sekolah, namun aku hanya dapat penolakan secara halus dari kepala sekolahnya.
Telah sebulan kulewati hari hariku seperti pengangguran. Rutinitas ku hanya memsak dipagi dan sore hari, sisanya habis begitu saja di hadapan TV dan hp. rasanya sangatlah membosankan. Andaikan aku bisa memilih sekarang, aku lebih memilih tetap kuliah dari pada hanya dirumah menghadapi kegiatan yang itu itu saja.
Hubunganku dengan bang Doni Masih sama seperti kemaren kemaren, dia ga pernah menghubungiku. Selalu Aku yang memulai komunikasi itu, tapi selalu berakhir sama.
Pernah waktu itu aku menagih janjinya mencarikan ku sekolah tempat aku honor,tapi katanya ga ada peluang. memang sih cari honor itu ga gampang, aku sendiri juga mengalaminya.
Suatu hari aku dapat kabar Bahagia dari bapak ku. ada yang menawari aku honor disebuah sekolah. Tapi sekolah itu jauh dari kotaku, mungkin sekitar empat jam perjalanan. Disana juga tidak ada sinyal, sehingga membuatku sedikit ragu pasti aku akan kehilangan komunikasi dengan bang Doni. Memikirkan itu semua membuat aku sedih.
"Coba aja dulu, siapa tahu nanti kmu betah disana, kalau ga betah nanti ya pulang lagi" kata bapak memberiku semangat. Beliau ga pernah tahu apa yang membuat aku ragu, Karen memang aku ga pernah cerita pada siapun tentang hubunganku dengan bang Doni.
Akhirnya kuputuskan untuk berangkat ke desa T menerima tawaran itu. Ternyata disini tidak seburuk yang aku kira, sinyal disini memang jelek, tapi ada tempat tempat tertentu yang masih bagus sinyalnya. Ditempat ini aku bertemu dengan teman teman baru. Kebetulan ada juga teman teman CPNS yang baru lulus disekolah ini, mereka ada yang seusiaku dan ada yang lebih tua dariku beberapa tahun.
Disini aku seperti menemukan kehidupan baruku dan kesedihanku karena bang Doni mulai berkurang berlahan lahan. Tanpa disadari ternyata sudah sebulan aku tak berkomunikasi dengannya. ketika kulihat hp ternya banyak panggilan tak terjawab dari bang Doni, tapi kuabaikan. Kemudian kubaca chat darinya "kenapa telpon Abang ga diangkat"?
Kuletakkan kembali hp ku tanpa berniat membalasnya. Tak lama berselang hpku berdering dengan malas kugeser tombol hijau di hp ku.
"halo dek" terdengar suaranya menyapaku.
"hallo bang" kataku dengan suara sedikit bergetar. Karena tak kuasa menahan tangis kumatikan sambungan teleponnya dan buru buru aku menonaktifkan ponselku supaya dia tidak menghubungiku lagi. Kulepaskan tangisku supaya hilang rasa sesak didadaku. Mengapa setelah aku bisa membuat hari hariku tanpa memikirkannya dia kembali muncul dalam hidupku. Teringat kembali saat aku akan pergi ketempat ini, aku memberitahu bang Doni melalui chat " bang mungkin aku akan jarang menghubungi mu,karena aku akan berangkat ke desa T, disana sinyalnya susah". pesanku langsung dibaca Tanpa ada respon darinya, dan baru kali ini dimenghubungiku. Disaat itu aku udah bertekad akan melupakannya. Walaupun dengan menahan berbagai rasa. Aku seperti digantung tetapi ga ada talinya. Saakiiiiittttt........ itu lah yang kurasakan.
Setelah aku puas menangis kuhidupkan kembali ponselku. Aku membuka aplikasi biru, ternyata banyak notifikasi yang memberi komentar dan like di postingan yang menandai akunku. Kulihat di postingan itu ada fotoku berdua yang sengaja diambil diam diam oleh bang Soni. Foto itu diberi caption "bersama makmumku" disertai emoticon love dibelakangnya. Bang Soni adalah teman di sekolah tempatku mengajar, bedanya denganku dia sudah PNS walaupun didepannya masih ada C nya. Aku tahu postingan itu hanya bercanda, karena aku tahu bang Soni seperti apa. dia orangnya supel dan selalu ceria. Aku jarang banget posting di aplikasi biru itu, bagiku itu hanya tempatku refreshing setelah seharian beraktivitas.
Aku baru menyadari, pasti bang Doni melihat postingan yang menandaiku. mungkinkah dia cemburu, ada rasa bahagia menyelinap dihatiku. tapi secepatnya kutepis rasa itu. Aku ga ingin kesedihan itu hadir lagi. cukup selama ini aku mengorbankan harga diriku untuk selalu memulai menghubungi laki laki itu.
Malam ini bang Doni kembali menghubungiku. Kubiarkan ponselku terus berbunyi tanpa ada niat untuk mangangkatnya. Sebenarnya bukanya aku pendendam, tapi aku hanya ingin dia juga merasakan apa yang pernah kurasakan.
Hari hari berlalu dengan komunikasi seadanya dengan bang Doni, aku hanya angkat telpon sesekali saja. sementara hubungan ku dengan Soni semakin dekat saja. Bang Soni sering main ke kost ku. Kami bercerita banyak hal, dan entah mengapa dengan bang Soni aku menjadi orang yang terbuka, beda ketika aku dengan bang Doni karena kami sama sama pendiam, aku tidak terlalu terbuka dengannya.
Suatu ketika bang Soni mengajakku menikah, aku ga terkejut dengan apa yang disampaikan. karena aku menganggap dia cuma bercanda.
Aku juga jawab dengan bercanda juga" kalau berani datang aja kerumah ku".
"Ok, siapa takut" ujarnya sambil tertawa, dan akupun tertawa bersamanya. Dan kami bercengkrama tentang banyak hal. begitulah hari hari ku habiskan disini selain tugas disekolah.
Hari ini hari terakhir sekolah di semester ini, itu artinya nanti siang aku kembali ke kota S kerumah orang tuaku.
"Dek pulang ke kota S nanti bareng Abang aja ya, Abang juga sekalian pulang". ujar bang Doni disela sela aktivitas nya menyusun rapor yang siap dibagikan pada siswa kami.
"kita kan beda kota bang, aku nebeng Sama Abang sampai terminal aja, abis itu aku naik bus ke kota S", jawabku mengelak Karena merasa tak enak.
"sekalian aja dek, kan Abang juga lewat kotamu juga" katanya lebih serius lagi.
"baiklah" jawabku sekenanya.
Sampai dikota S, aku menawari bang Soni mampir kerumah, sebenarnya aku takut sama bapak karena aku belum pernah membawa laki laki ke rumah. Tapi bagaimana lagi tak sopan juga rasanya jika tidak ditawari mampir. Eh yang ditawari juga mau.
Akhirnya bang Soni berkenalan dengan bapak, dan tanpa aku duga bang Soni mengutarakan keinginannya untuk menikahi ku. dan Bapak pun setuju.
Akhirnya tibalah hari pertemuan dua keluarga untuk membicarakan kelanjutannya. Entah hanya kebetulan bang Doni dari tadi berulang kali meneleponku. Dipanggilannya yang kesepuluh aku baru mengangkat telponnya.
"Hallo bang"
"Kok susah sekali mgenghubungimu sekarang"
"Maaf bang, tadi aku lagi bantu masak didapur"
"Kamu marah ya sama Abang, maaf ya dulu Abang sering mengabaikan mu"
"ga pa pa kok bang" tanpa seizin ku air mataku beercucuran. Kata kata ini lah yang kutunggu dari bang Doni, tapi mengapa terlambat dia minta maaf setelah hatiku telah dimiliki orang lain. Aku menangis bukan karena menyesal mengambil keputusan menerima lamaran bang Soni. Tapi aku menangisi kebodohanku memperjuangkan orang yang tidak pantas diperjuangkan. Semuanya sulit kuungkapkan, entah apa alasannya menggantungku seperti itu aku pun tak tahu.
"Hallo dek" Sapaan dari seberang sana kembali menyadarkan ku.
"Eh engh ... iy bang hallo..."jawabku gelagapan.
"Dek kamu mau kan maafin abang, kita mulai dari awal lagi ya" katanya.
ku tarik napas dalam dalam, aku sudah bulat dengan keputusanku, "Maaf bang aku ga bisa, karena hari ini aku bertunangan".
Terdengar Isak diseberang sana "Siapa orangnya dek? apa orangnya yang ada difoto itu?"
Ternyata benar saja, waktu itu dia melihat postingan bang Soni. Tanpa ragu aku menjawab, "Iya bang".Masih dengan isakan tangis dia membujukku"Batalkan pertunangannya dek, kita bersama lagi ya, Abang akan bawa keluarga Abang kerumahmu, kita juga akan menikah".
"Ga bisa begitu bang, semuanya sudah terlambat". kataku jengkel.
"Abang tahu dek, Abang salah, selama ini Abang terlau cuek sama kamu. sekali lagi maafkan Abang. kalau kamu ga bahagia dengan nya kembalilah ke Abang".
Bang Doni menutup telponnya. Aku lega telah menyampaikan semuanya sama bang Doni. Dan apa yang disampaikan Bang Doni tidak sedikitpun membuat aku ragu pada bang keseriusan Bang Soni. Aku tidak sabar menunggu hari itu datang.