Dorr.... Dorr.... Dorrr....
"Hancurkan semuanya, jangan ada yang dibiarkan hidup. Apalagi keturunannya !!!!" Teriak seseorang yang memimpin pasukan berbaju hitam.
"Arrrgghhh" aku menjerit histeris ketika mendengar bunyi senapan yang sangat mengerikan dihalaman rumahku.
"Ayah, ibu, kakak, dimana kalian ? Aku takut" aku menangis didalam lemari, berharap ini tak nyata.
"Nak" panggil Ibuku.
"Ibu, ibu aku takut" aku menggigil sambil memeluk Ibuku yang datang dengan wajah pucat pasih dan menahan sakit.
"Tak akan ada yang terjadi padamu nak. Dibelakang lemari ini ada jalan yang akan membawamu keluar dari tempat ini. Berjalanlah lurus, dan jangan melihat kebelakang. Ini, ambillah liontin ini nak. Jangan sampai hilang. Mama harus pergi membantu ayah dan kakakku. Mama sangat mencintaimu nak, sangat. Maafkan mama sayang" mama berucap padaku sambil menangis dan memeluk erat.
"Tidak, IBUUUUUUU !!!!!!"
Hoosshh
Hoosshh
Hoosshh
Aku terbangun dari tidurku, mimpi yang setiap hari selalu menghantuiku selama 10 tahun ini. Aku menangis ketika disetiap malamku, wajah ibu yang selalu aku ingat.
"Ibu" ucapku lirih.
Umurku sekarang hampir 20 tahun. Aku memiliki wajah yang sedingin hatiku. Kulitku putih, rambutku silver, wajahku cantik bak dewi. Orang-orang mengenalku dengan nama Fuyumi yang artinya musim dingin yang indah. Bila orang memandangku dalam 3 detik, ia akan langsung jatuh cinta.
Semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, aku dibawa pergi oleh teman ayahku ke Italia. Aku kala itu masih kanak-kanak harus berpisah dari keluargaku karena suatu insiden naas dimalam ulang tahunku. Aku pun tak tahu, apakah keluargaku selamat pada malam itu ? Malam yang membuatku memutuskan untuk tak pernah merayakan lagi hari ulang tahunku.
"Nak" ucap seorang lelaki paruh bayah padaku.
"Ya paman" sahutku.
"Apakah masih memimpikan hal yang sama?" Tanyanya.
"Ya paman, setiap malam aku selalu bermimpi hal yang sama. Mimpi yang sangat menyakitkan ketika aku bangun dari tidurku, tapi tak menemukan keluargaku" jawabku.
"Paman mengerti perasaanmu nak. Tapi apa kau ingat bahwa besok adalah hari ulang tahunmu ?" Tanyanya lagi.
"Tidak, aku bahkan sudah lupa sejak 10 tahun lalu" ucapku datar.
"Tapi nak, kamu masih ingatkan bahwa ketika umurmu genap 20 tahun, kamu akan mendapatkan kekuatanmu" ucapnya.
DEG !
Aku menegang ditempat dudukku. Apa ? Besok ? Akhirnya hari itu akan datang. Hari dimana aku mendapatkan kekuatanku.
"Apakah memang besok paman ?" Tanyaku lagi.
"Betul nak. Persiapkan dirimu malam ini. Pukul 12 malam kita berangkat ke dermaga" ucapnya.
"Baik paman" balasku tersenyum.
Didalam darahku mengalir darah penyihir putih. Ibuku seorang penyihir putih. Sedangkan ayahku manusia biasa. Mereka jatuh cinta ketika sedang berperang melawan penyihir hitam.
Dulu ketika Kekaisaran Jepang diserang oleh sekelompok pemberontak dan penyihir hitam untuk membumi hanguskan Kekasiaran Jepang, ayahku berdiri paling depan. Dia seorang pria yang sangat gagah dan merupakan jenderal kepercayaan kaisar.
Dahulu, penyihir hitam dan kekasiaran Jepang merupakan kerabat yang bekerjasama dan menguntungkan dua belah pihak. Tapi suatu ketika, penyihir hitam menginginkan tahta dan kekaisar Jepang yang tentu saja langsung ditolak oleh kekaisaran Jepang. Itulah awal mula peperangan yang berlangsung bertahun-tahun.
Ayahku berjuang membunuh para pemberontak dan penyihir hitam yang sangat berbahaya. Sampai tiba-tiba, ibuku datang membantu kekasiaran Jepang mengalahkan mereka.
Ibuku adalah keturunan terakhir dari penyihir putih. Mereka semakin punah, sejak penyihir hitam kian giat menghancurkan dan mengambir sari-sari kehidupan dari penyihir putih.
Sejak pertemuan itu, ayah dan ibuku jatuh cinta. Dan lahirlah aku, Fuyumi.
Aku membuyarkan lamunanku ketika aku dan paman sampai di dermaga. Sunyi, sepi dan hanya ada suara jangkrik. Suasana yang selalu membuatku tenang dan merasa damai.
Bruuukkkkk ....
"Awww" teriak seorang lelaki dari balik semak-semak.
Aku mendekat dan melihat seorang lelaki yang sangat tampan, sedang terduduk ditanah dengan kaki yang berdarah.
"Hei, kau tak apa-apa?" Tanyaku.
Diam
Dia hanya diam dan memandangku terpukau. Sejujurnya aku pun sama, tapi aku tetap mempertahankan ekpresiku yang dingin.
"Ah, iya tak apa-apa. Hanya sedikit terluka saja. Tapi tak masalah" ucapnya grogi.
"Oh" jawabku singkat dan berbalik berjalan ke arah paman yang sedang menyiapkan sesuatu.
"Hei, kamu mau kemana ? Sedang apa kamu malam-malam disini ? Disini sangat berbahasa ketika malam" ucapnya.
"Berisik" jawabku ketus.
"Paman, apakah sudah selesai ? Apa lagi persiapan yang diperlukan?" Tanyaku pada paman.
"Sudah nak, sudah selesai tinggal meunggu beberapa menit lagi. Kamu duduklah didalam lingkaran ini. Ketika waktunya tiba, jangan sekalipun kamu keluar. Kamu mengerti ?" Ujar paman.
"Aku mengerti paman" jawabku. Aku pun duduk bersilah didalam lingkaran, sedangkan pria tampan itu melihatku instens dari luar lingkaran. Hhm, menarik. Pikirku sambil tersenyum smirk.
Hening
Hening
Hening
Tiba-tiba....
Cetaasssss
Cetassssss
Cetassssss
Petir menyambar sebagian pohon yang berada didekatku, tapi aku tak bergeming. Fokus, itulah yang dipikiranku.
Duuuuaaaaarrrrrr.....
Bunyi ledakan besar dari arah belakangku.
Tubuhku terasa semakin ringan dan suhu tubuhku terasa semakin menurun.
Dingin. Batinku
1 menit
2 menit
3 menit
Semakin dingin.
Kenapa ?
Apakah prosesnya memang seperti ini ?
Kulitku mengeluarkan cahaya biru dengan kerlap kerlip putih yang sangat cantik. Mataku menjadi biru sejernih lautan. Rambutku mengeluarkan aroma mawar yang sangat memabukkan.
Fokus
Fokus
Fokus
Tapi tiba-tiba...
Buuuukkkkkkkk..
Aku tak merasakan apapun lagi dan aku tertidur.
"Ayah, mama, kakak. Dimana kalian ? Aku takut" ucapku menangis
Aku berasa disebuah tempat yang sangat gelap dan berbauh amis. Dimana ini ? Apakah aku sudah mati ? Kenapa aku merasa kakiku tak berpijak diatas tanah ?
"Nak, dek"
Suara yang tak asing memanggilku diujung sana.
"Nak, sebelah sini"
Aku berlari dan terus berlari, sampai akhirnya aku menemukan keluargaku dipasung ditempat yang sungguh tak layak. Tapi dimana ?
"Ayah, ibu, kakak" ucapku gemetar.
"Nak, akhirnya kamu mendapatkan kekuatanmu. Kami bangga padamu nak. Maaf kami meninggalkanmu. Bukan ingin kami seperti ini nak" ucap ayahku sambil menangis.
"Tak apa ayah. Kita berada dimana ? Kenapa kalian dipasung disini ? Ayo kita pulang kerumah yah" ajakku pada mereka tapi mereka hanya memandangiku dengan sendu.
"Nak, kami tak bisa keluar dari sini. Penyihir hitam sudah mengambil kekuatan ibumu dan kakakmu sehingga kamu tak bisa keluar dari sini" ucapnya sendu.
DEG !
"Lalu apa yang harus aku lakukan ayah agar bisa menolong kalian?" Ucapku sambil memeluk ayahku.
"Nak, hiduplah dengan baik didunia sana. Kami akan selalu mencintai kamu walaupun kita berada didunia yang berbeda. Maafkan ibu nak tak bisa menjagamu dengan baik" sahut ibuku sendu.
"Iya dek, biarlah kami disini. Kami tak apa yang penting kamu selalu aman. Sekarang kamu harus bangun. Ayo bangun sebelum darahmu tercium oleh penyihir hitam disini. Bangun dek, bangun" ucap kakakku
Mataku terbuka dan menatap kesekeliling.
Kosong
Tak ada seorangpun.
"Ayah, ibu, kakak" ucapkan menangis sesegukan.
Kalau aku tak bisa menyelamatkan kalian, lalu untuk apa aku mendapatkan kekuatanku ? Tapi aku tak akan menyerah. Aku harus menyelamatkan kaliman dan membawa kalian kembali.
Dan disinilah aku sekarang, Tokyo. Kota kelahiranku yang sudah lama tidak aku kunjingi. Aku memutuskan kembali dan mencari keluargaku. Dan jangan lupa, seorang pria tampan yang selalu mengekoriku kemanapun.
Ya, semenjak pertemuan kami di dermaga itu, dia selalu datang menghampiri dan mengajakku berteman, Jiro. Seorang lelaki yang sangat tampan, umurnya hanya berbeda 3 tahun denganku.
Tok..tok..tok..
DEG !
"Nona muda" ucap bibi yang telah menjagaku sedari kecil.
"Bi" ucapku tersenyum hangat.
Aku memutuskan menemui bibi yang rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku dahulu.
"Ya ampun nak. Kamu masih hidup nak" ucapnya menangis histeris sambil memelukku erat.
"Suuttt, sudah jangan menangis bi. Aku masih hidup, sehat dan semakin cantik" ucapku bercanda.
"Ayo masuk nak, ayo jangan sungkan" ucapnya bahagia.
"Rumah bibi masih sama seperti dahulu ya, tak ada yang berubah" ujarku.
"Iya nak, seperti inilah rumah bibi. Kamu kemana saja selama ini nak ? Apakah kamu hidup dengan baik nak ?" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku di Italia bersama dengan teman ayah bi. Bibi, aku datang kesini ingin menanyakan tentang insiden yang terjadi 10 tahun lalu. Apa bibi masih ingat?" Tanyaku
Hening
Hening
Hening
"Nak, tak mungkin bibi lupa insiden naas itu. Walaupun bibi tak ada dilokasi ketika peristiwa itu tapi bibi selalu ingat nak" ucapnya sendu.
"Iya bi. Apa bibi tau asal usul keluargaku?" Tanyaku lagi
DEG !
Wajah bibi berubah menajam, tapi sedetik kemudian wajah berubah sayu.
"Tidak nak. Maafkan bibi" ucapnya
"Oh iya tak apa bibi. Aku harus pergi setelah ini, karena ada hal yang harus aku kerjakan bi. Maaf kami pamit dulu" ucapku lagi.
Aneh
Aneh
Pasti ada yang disembunyikan dari bibi. Raut wajahnya sungguh mencurigakan. Aku harus lebih berhati-hati. Batinku
"Jiro, apakah kamu akan terus membuntutiku ? Pergilah kamu berkeliling Tokyo. Jangan mengikuti terus" ucapku ketus
"Aku ingin menemanimu saja, tak ada yang menarik selain kamu" ujarnya singkat
Huuhhh
Aku pun memutuskan pergi kerumahku dahulu. Rumah dengan sejuta kenangan indah. Semuanya masih sama, tak ada yang berubah dari rumah ini. Bedanya, hanya terdapat beberapa kerusakan akibat insiden 10 tahun lalu.
Aku berdiri dibalkon, melamunkan masa lalu ku.
Tiba-tiba..
Cup
Aku tersentak kaget ketika mendapatkan sebuah kecupan singkat di pipiku.
"Kauuuu !! Kurang ajar !!!" Aku berteriak kesal dan memukul Jiro yang berani mencium pipiku. Ingin rasanya aku membunuhnya detik itu juga.
"Ampun, ampun, ampun. Salah kamu sendiri, sedaritadi aku memanggilmu tapi tak didengar" ucapnya sambil tertawa.
"Sial** !!" Degusku galak.
"Iya maaf. Rumahmu unik, ada banyak sekali askara Jepang disini" ujarnya
Aku diam saja
"Yumi, apakah kau ingin berbagi denganku ?" Ucapnya lagi
"Berbagi apa ? Bicara jangan setengah-setengah" ketusku
"Maksudku, apakah kamu ingin menceritakan tentang masalalumu padaku, mungkin aku bisa membantu lebih banyak kalau mau bercerita" ucapnya
"Tidak, kau hanya orang asing. Dan baru kukenal. Sungguh tak pantas aku menceritakan semua masa laluku padamu. Jangan kamu melewati batasmu. Atau kau akan tahu akibatnya !! Paham" ucapku tegas dan mengeluarkan aura intimidasi yang kuat.
"Baiklah princesku " balasnya tersenyum lebar
Pukul 2 dini hari
Kreeekkkk
Kreeekkkk
Kreeekkkk
Aku terbangun dari tidurku ketika mendengar suara jendela kamar yang berbunyi tertiup angin kencang.
Aneh
Bukannya sudah ku kunci ? Kenapa bisa terbuka lagi ?
Tiba - tiba...
Duaaaarrrrr
Bunyi ledakan dilantai bawah.
Apa itu ?
Lari
Lari
Lari
Aku berlari turun kebawah.
DEG !
Penyihir hitam
Kenapa mereka tiba-tiba menyerangku seperti ini ?
Aku melawan dengan kekuatanku, liontin dileherku mengeluarkan cahaya biru yang sangat cantik.
Bug
Bug
Bug
Aku dengan mudahnya mengalahkan mereka dengan kekuatanku. Aku membuat portal diluar rumah agar tak ada yang lolos.
Cetassss
Cetassss
Cetassss
Petir biru keluar dari telapak tanganku yang dengan mudahnya membuat para penyihir hitam itu membeku dan binasa.
"Jiro, kamu dimana ? Jiro !!!" Aku terus melawan sambil menanggil nama Jiro.
"Ya Yumi, aku disini" ucap Jiro tenang dari belakang tubuhku.
Aku berbalik dan ......
DEG !
"Jiro" ucapku lirih.
TAMAT
Hai, ini cerpen keduaku. Maafkan kalau masih banyak kekurangan karena aku tak ada basic sma sekali dalam hal menulis 😅 Baru tadi malam aku mutusin buat belajar menulis jadi tolong dimaklumi hehehe 😅😅😅
Arigatou gozaimasu minna san
Ja, mata ne
❤❤❤
Buat yang masih penasaran kelanjutannya, ditunggu ya, nanti bakal dibikin versi novelnya segera hehehe 🥰