Ini aku.
Seseorang yang suka dengan pelangi namun tidak suka hujan.
Seperti kamu yang malah suka dengannya namun tidak suka denganku.
Airi berlari kecil menghindari hujan yang menerpa tubuhnya. Lalu ia memasuki sebuah kafe. Bukan hanya untuk sekedar berteduh dari hujan, namun juga untuk menikmati secangkir latte.
Secangkir latte di tengah hujan mengingatkannya pada masa lalu.
Flashback
"Rain, mau hujan nih," ujar Airi yang duduk dibelakang Rain sambil mengeratkan tangannya yang melingkar pada perut Rain.
"Kita mampir dulu," sahut Rain.
Rain menghentikan motornya di depan sebuah kafe. Tak lama hujan pun turun dengan derasnya.
"Mau pesan apa? " seorang waiters bertanya.
"Latte," jawab Rain dan Airi bersamaan.
"Ada yang lain? " sang waiters bertanya lagi
"Rainbow cake, " lagi-lagi Rain dan Airi menjawab bersamaan.
Sekitar lima menit kemudian pesanan mereka sudah sampai di atas meja.
"Selera kita sama, kenapa kita tidak jadi saudara kembar saja, " celetuk Rain.
"Ogah saudaraan sama kamu. "
"Kenapa? Bukankah bagus kita bisa tinggal bersama? "
"Dasar gak peka, " gumam Airi.
"Kau bilang apa tadi? "
"Enggak, hanya kesal dengan nyamuk yang mengigit kakiku. Dia tidak peka apa, aku sedang ingin minum latte-ku dengan tenang, " kilah Airi.
"Pukul saja kalau begitu. "
"Tentu, ingin sekali aku memukul kepalanya agar dia sadar. "
Rain mengerutkan keningnya, ia tak paham dengan apa yang gadis itu katakan.
"Airi, hujan sudah reda. "
Airi menoleh ke arah jendela.
"Ada pelangi, Rain! " seru Airi antusias.
"Wah ini momen langka. Mari kita abadikan, " Rain pun segera mengambil ponsel yang ia taruh di dalam saku celana.
Rain dan Airi adalah sahabat dari kecil. Orang-orang mengira mereka sepasang kekasih karena kedekatan yang sering mereka tunjukkan, namun kenyataannya Rain tetap menganggap Airi sahabatnya.
*
"Rain"
"Ayo kita latihan, " ajak Airi.
"Oke."
Rain dan Airi sudah bersiap pada posisi mereka. Mereka sudah mengganti baju seragam sekolah dengan baju berwarna putih dengan sabuk hitam. Ya, mereka sedang berlatih untuk mengikuti kejuaraan taekwondo tingkat kota. Pihak sekolah selalu mengajukan mereka untuk berkompetisi karena mengetahui potensi dan bakat mereka dalam taekwondo.
Rain dan Airi memang sering berlatih bersama. Ditengah adu mekanik, entah kenapa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Airi.
Karena kurang fokus, Airi tak bisa menghindari tendangan Rain hingga mengenai perut yang membuatnya jatuh ke belakang, namun sebelum jatuh Rain segera menarik tangannya. Tapi kaki kiri Airi tak sengaja mengenai kaki Rain dan membuat mereka jatuh bersama.
Brugghh
Rain jatuh di atas Airi dengan posisi mengungkungnya. Hingga ia dapat merasakan nafas Rain dari jarak sedekat ini. Kupu-kupu diperut Airi mulai berterbangan. Membuatnya khawatir jika Rain dapat mendengar detak jantungnya yang sedang maratonan dari jarak sedekat ini. Dunianya serasa berhenti saat mata mereka saling bertemu. Entah, apakah Rain merasakan hal yang sama dengannya atau tidak.
"Ciee.. Cieee... " sorak-sorai mulai terdengar dari beberapa anak murid di ruangan itu.
"Kamu berat Rain!" seru Airi yang salah tingkah, kemudian mendorong dada Rain agar beranjak dari atasnya.
"Aduuhh!"
Karena dorongan Airi yang terlalu keras Rain malah yang terjungkal sekarang.
"A-aku mau ambil minum dulu. "
Airi segera berlari pergi dari ruangan itu. Ia berusaha mengatur irama jantungnya yang berantakan saat sudah berada di koridor.
"Aku harus menyatakan perasaanku. Ini sangat mengganggu, " tekad Airi pada dirinya sendiri.
*
Airi berjalan di koridor sekolah disertai lompatan kecil dengan senyuman lebar. Mungkin murid lain akan mengiranya seperti orang tidak waras sekarang. Sebenarnya ia gugup karena ingin menyatakan perasaannya pada Rain sekarang. Namun ia berusaha tenang.
Bahkan tadi ia sempatkan bangun pagi-pagi sekali untuk membuat rainbow cake. Walau harus beberapa kali gagal karena ia salah memasukkan takaran dan membuat cake-nya menjadi bantet, tapi ia tidak menyerah begitu saja dan terus mencoba hingga mendapatkan hasil yang terbaik. Ia memang tidak pandai kalau urusan dapur. Untung saja ibunya bersedia untuk membantu.
Kini sepotong rainbow cake yang ia hias dengan wadah cantik sedemikian rupa dan sepucuk surat cinta sudah ada di tangannya yang sudah siap untuk berpindah tangan kepada sang penerima.
"Nah itu dia, " gumamnya saat ia berhasil menemukan Rain.
Namun langkahnya terhenti saat Rain sedang bersama Amaira, anak kelas sebelah yang cantiknya naudzubillah.
Airi langsung bersembunyi dibalik tembok saat Rain meraih tangan Amaira lalu mencium kening gadis itu.
'Apa yang mereka lakukan?' batin Airi.
'Apakah Rain dan Amaira memiliki hubungan spesial? Tapi Rain tidak pernah bercerita jika ia sedang dekat dengan seseorang. ' pikiran negatif terus menghantui pikiran Airi.
Mendadak air di pelupuk mata Airi sudah mendesak untuk keluar. Tak dapat dibendung lagi, air itu pun tumpah dan mengalir dikedua pipinya. Dadanya mulai sesak. Isakkan kecil mulai terdengar. Airi segera berlalu dari tempatnya bersembunyi sebelum Rain menyadari kehadirannya.
Ia membuang surat dan rainbow cake yang sudah ia rusak ke tempat sampah terdekat. Lalu berlari sekencang mungkin menuju kamar mandi. Ia bukan orang yang suka menunjukkan kesedihannya di depan orang lain. Takut orang mengejeknya sebagai anak cengeng. Nyatanya patah hati sebelum memiliki itu benar-benar menyakitkan.
Malam harinya...
Drrttt.. Drrtttt....
Ponsel Airi berdering. Layar ponsel menunjukkan nama Rain di sana.
"Halo.. "
"Emmt, Airi.. " suara Rain nampak gugup dari seberang sana.
"Ada apa? "
"Aku menemukan sebuah surat dan rainbow cake di tempat sampah sekolah"
Airi langsung terkejut mendengarnya. Lalu mimik wajahnya berubah, ia harus bisa bersikap biasa.
"Lalu? "
"Aku pikir surat dan kue ini untukku. Jadi aku ambil saja"
"Hmm"
"Kenapa malah dibuang? Tidak memberikannya langsung padaku saja? "
Kali ini Airi merutuki dirinya karena ia sudah menulis surat cinta dengan mencantumkan namanya dan Rain dengan jelas di sana.
'Harusnya tadi dibakar saja. ' batin Airi.
"Kau sudah membaca suratnya? " Airi bertanya.
"Sudah."
"Maaf.. Hiks.. "
"Kenapa malah minta maaf. Apakah kau menangis?"
"Hiks.. Maafkan aku karena perasaan bodoh ini aku hampir merusak persahabatan kita.. Maaf.. " suara Airi mulai terdengar parau.
"Tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah"
"Kau benar. Perasaanku saja yang salah"
"Airi.. "
"Apakah kita masih bisa jadi sahabat? " Airi menghapus air matanya. Lalu berusaha tersenyum.
"Oh tentu kita akan jadi sahabat selamanya"
"... "
"Maaf, aku merahasiakan ini padamu. Aku sudah berpacaran dengan Amaira"
"Aku tahu"
"Jangan marah"
"Kenapa harus marah? Harusnya aku senang jika sahabatku bahagia. Umm, sudah berapa lama? "
"Baru satu minggu yang lalu"
"Oh begitu. Kalau begitu aku tutup dulu ya? Aku lelah"
"Jangan lupa cuci muka, gosok gigi, cuci tangan sama kakinya juga."
"Iya."
"Selamat malam. "
"Malam."
Pip
Setelah mematikan sambung telepon, bukannya tidur Airi malah menangis lagi dengan tangisan yang lebih kencang hingga terdengar memilukan. Sampai-sampai orang tuanya cemas karena bukan hanya malam itu saja ia menangis. Malam-malam selanjutnya pun menangis sudah seperti menjadi rutinitas.
Hingga suatu hari orang tua Airi mengajaknya untuk pindah ke kota lain dengan maksud membuka lembaran hidup yang baru.
Flashback end.
Airi menyesap latte-nya hingga habis.
Ia bersyukur sampai saat ini masih bisa bersahabat dengan Rain. Meski sekarang mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu, tapi dengan adanya teknologi yang bisa saling menghubungkan persahabatan mereka tidak putus begitu saja.
Oke, cinta boleh saja tak terbalas tapi sahabat jangan sampai lepas.
Drrttt..
Airi mengecek ponselnya yang berdering.
Pesan dari Rain :
'Ada yang dingin tapi bukan hujan. '