Pendidikan adalah hal terpenting dalam kehidupan. Bersekolah dengan mengenakan seragam rapi dan mecing adalah kebanggaan tersendiri yang tumbuh dalam nurani. Ibu dan Ayah sangat baik hingga mengizinkan aku untuk bersekolah, namun sayang hanya sampai SMA saja. Dilihat dari ekonomi, Ayahku mampu menyekolahkanku sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, walaupun Ia hanyalah seorang buruh bangunan. Namun, tidak dengan Ibuku yang selalu memandang bahwa pendidikan itu bukanlah apa-apa, yang penting mengetahui mana benar dan mana salah. Yang penting tahu bagaimana caranya bersuci dari hadas besar dan hadas kecil.
Ujian semester telah berlalu, pun juga dengan Ujian Nasional. Tinggal menunggu waktu pengumuman tiba. Kini aku termenung topang dagu, akan jadi apa aku kelak jika aku tidak melanjutkan pendidikanku. Namun, Ibu begitu keras menentang keinginan kuatku untuk kuliah di perguruan tinggi. Ia masih tidak percaya diri dan selalu mengikuti omongan orang, karena memang di kampungku ini rata-rata anak gadis menikah setelah mereka lulus SMA. Mereka masih kental mempercayai bahwa jika anak gadis yang akan disekolahkan, maka bukan kebanggaan yang mereka dapatkan, malah sebaliknya kerugian (rugi harta berupa uang ). Memang benar, adanya faktor tersebut mendukung kecutnya hati Ibuku untuk menguliahkan aku. Namun, aku ingin sekolah dan aku ingin kuliah.
Ayahku tidak bodoh, Ia adalah orang yang cerdas, namun tidak tegas. Ia kalah dengan keinginan Ibu, dan Ibu menang dengan keinginanku. Perasaan depresi, syok, kecewa dan segala perasaan negatif menghantui pikiranku.
“Kenapa Ayahku seperti ini? Kenapa Ibuku juga seperti ini? Ia lebih memilih menimbun harta benda demi kepentingannya sendiri, atau apakah yang bermasalah itu aku? ”
Di kampungku ini, kampung Kesambik Rempung masih kental mempercayai kepercayaan nenek moyangnya, bahwa anak perempuan kurang membawa keberuntungan, walaupun mereka nantinya sukses, jika kelak sudah menikah akan tinggal dengan suaminya dan memperkaya material ekonominya disana. Kaum perempuan dipandang dengan sebelah mata. Sedangkan laki-laki adalah pembawa keberuntungan besar bagi mereka, maka tidak heran mengapa laki-laki dijunjung tinggi martabat dan derajatnya disini. Sekolah kesana-kemari, apa yang Ia inginkan terpenuhi. Akan tetapi, perempuan hanya dipandang sebagai tukang urus rumah, tidak bisa apa-apa, lemah dan pekerjaannya hanya meminta tanpa berusaha. Tak seperti laki-laki yang bekerja bisa dalam segalanya. Ya, aku memiliki Adik laki-laki yang kini masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Dan sudah jelas yang menjadi sorotan, harapan dan masa depan orang tuaku di emban pada anak kecil ini. Sedangkan aku? Aku hanyalah perempuan yang bisa apa? Namun, aku menginginkan kuliah?
“ Ibu tidak bisa membiayai kamu hingga perguruan tinggi Nak. Lihat pekerjaan Ayahmu mana cukup untuk membiayai kuliahmu? ”
“ Tapi Bu…”
“ Sudahlah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan.”
Alasannya selalu tidak memiliki uang, tidak jarang menjadi pemicu pertengkaranku dengan Ibu. Ayahku hanya bisa terdiam, tidak membelaku dan hanya tertunduk dengan Ibu.
“ Sudahlah Nak, Ibumu memiliki alasan yang baik kenapa kamu tidak ingin dikuliahkan, Ibu tidak ingin ditinggalkan olehmu ”
“ Ayah, sebelumnya aku minta maaf, apa yang menyebabkan Ayah begitu tunduk pada Ibu? Hanya satu pintaku, kuliahkan aku ”
“ Tapi Nak … ”
“ Cukup! Ayah juga sama saja, dengan kejadian anak tetangga sebelah yang menikah di pertengahan kuliah itu kan!? Menghabiskan uang hanya dengan kuliah, lalu ujung-ujungnya menikah dan biaya kuliahnya diperhitungkan. Dan juga anak Bu Siti, yang tinggal dua bulan mau wisuda malah didahului jodoh, terus menikah! Pandangan Ayah dengan Ibu sama saja sempit. Sama-sama mementingkan materi tanpa menatap masa depan. Menyedihkan! ”
Ayah hanya terdiam tanpa berkata apa-apa dan kediamannya inilah yang membuat hati ini tersayat murka. Tangisku tak dapat ditahan lagi, aku berlalu meninggalkannya.
*****
Heboh di sekolah teman-teman mengikuti tes SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) lewat jalur undangan sekolahku. Semua siswa berkumpul untuk mendaftarkan diri mereka.
“ Mampu tidak mampu yang penting kita telah mencoba,” ujar teman kelas di dekatku dengan semangat murka yang tercuat lewat ekpresinya.
“ Kamu tidak ikut, Nis? ”
“ Ah, tidak ”
“ Baiklah, jika nanti kamu berubah pikiran, kamu nyusul ke ruangan lab TIK ya.”
Teman-teman pun berlalu meninggalkanku dengan kesedihan batin yang ku tanggung sendiri, hatiku menciut ketika setiap mendengar mereka mengobarkan semangat api keinginan kerasnya kuliah. Tapi aku? Aku hanya diam mendengarkan rintihan hati karena tidak bisa seperti mereka, tersenyum bahagia akan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Aku hanya dapat menatapnya dari kejauhan, spanduk-spanduk promosi perguruan tinggi yang mebuatku semangat membayangkan seperti apa kuliah itu. Namun, perlahan bayangan itu samar-samar memudar dan akhirnya keinginan kuliah itupun hilang, lenyap ditelan oleh waktu.
“ Kalian harus mengikuti SNMPTN ini, pendaftarannya wajib diikuti oleh seleuruh siswa kelas XII SMA yang ada di PONPES DM ini, ” seru Bapak Nazar selaku guru TIK yang mengajari kami di SMA itu. Namun, setiap aku mendengar desas-desis perkuliahan, mengapa hati ini terasa sakit? Iri dan dipenuhi dengan kebencian. Hatiku sakit mendengar teman-temanku akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Iri dengan ilmu yang akan mereka miliki jelas lebih tinggi dibandingkan aku. Apa yang salah? Siapa yang salah? Sekarang pikiran dan hatiku terkotori oleh bayangan orang tuaku yang begitu menentang keras pendidikan untukku. Aku iri dengan Adik laki-lakiku, kenapa Tuhan tidak menjadikanku sebagai laki-laki. Segala keterpurukan, keputus asaan dan pikiran negatif kini menjadi teman bayanganku. Pikiranku hancur, tidak tahan dengan apa yang aku alami. Aku tak sadar sontak kaki ini berdiri, aku menjerit, berteriak, menagis histeris layaknya kesurupan. Ya, memang benar aku kesurupan karena aku ingin sekali kuliah … aku ingin kuliah.
Kejadian di kelasku tak pernah kusadari hingga berhasil mengundang perhatian dari banyak kalangan teman-teman kelas yang lain. Teman-temanku yang berada di kelas ketakutan dan segera memanggil guru.
*****
Perasaanku terasa tenang pelan kubuka kedua mata ini, pandangan pertama tertuju pada arah Pak Nazar, entah darimana air mataku mengalir, merintih haru dan terasa ada tekanan batin di dalam benakku.
“ Pak … aku ingin kuliah … aku ingin kuliah …. ”
“ Kamu kenapa Nak? Kalau mau kuliah nanti Bapak daftarkan ikut SNMPTN ya ”
“ Tapi Pak, orang tuaku tidak mendukung dan tidak mengizinkanku untuk kuliah …,” tangisku tidak dapat aku tahan, aku keluarkan keluh-kesah yang membenani hati ini. Beliau sangat mengerti keadaanku.
“ Besok, Nak datang ke rumah Bapak ya, Bapak akan membantu Nak untuk mendaftarkan diri, dicoba saja dulu nanti jika tidak lulus Nak yang sabar ya. Yang penting sudah mencoba. Kalau lulus Alhamdulillah. Sekalian Bapak daftarkan Nak beasiswa juga jika orang tua Nak tidak mendukung dalam pembiayaan, tapi Nak harus membayar sendiri nanti uang pendaftarannya jika Nak lulus ”
“ Iya Pak, terimakasih banyak. Tapi, Bapak jangan kasih tahu Ibu dan Ayahku ya, dan juga kejadian ini. Usahakan juga agar teman-teman tidak gaduh mengadu ke orang tua Nis ”
Kini aku dapat tersenyum dalam tangisan, tangisan harapan masa depan meskipun belum tentu arah dan tujuan. Keesokan harinya aku tidak mengikuti pendaftaran massal yang diadakan di sekolah. Namun, secara pribadi datang ke rumah Pak Nazar untuk mendaftarkan diri dengan membawa persyaratan-persyaratan. Akan tetapi, scan nilai rapot untuk seluruh siswa SMA Kelas XII sudah tersimpan otomatis di lapotpnya Pak Nazar. Dan yang paling dibutuhkan untuk pendaftaran ini adalah scan nilai rapot. Akhirnya apa yang menjadi impianku kini perlahan akan terwujud menjadi kenyataan, walaupun belum tentu pasti dan belum jelas aku tidak bisa menjamin.
Demi pendidikanku, demi masa depanku, aku akan melakukan apa saja selama aku mampu dan berusaha mewujudkan keinginan dan cita-cita. Hidup tanpa cita-cita ibarat hidup tanpa masa depan yang tidak tahu arah dan tujuan. Usahaku ini semoga tidak sia-sia. Aku mendaftarakan diri masuk perguruan tinggi tanpa sepengetahuan orang tua, semoga saja mereka tidak akan pernah tahu sebelum aku sendiri yang memberitahunya melalui lisan ini.
“ Semoga mereka tidak akan pernah tahu usahaku untuk mengikuti pendaftaran SNMPTN ini.”
SNMPTN di luar daerah yang aku ikuti bersama teman-temanku di UIN Yogyakarta.
Waktu berlalu begitu cepat, namun tidak membuatku lupa akan kebahagiaan yang aku bangun, ya kebahagiaan karena aku akan kuliah. Ya, Kuliah!
*****
Tiga minggu aku menunggu pengumuman kelulusan Ujian Nasional dan kelulusan SNMPTN waktu itu. Aku lega dengan hasil kelulusan UN, namun tegang dengan hasil pengumuman SNMPTN yang belum ada informasi dari sekolah. Satu minggu setelah pengumuman lulus UN, aku menerima pesan dari Pak Nazar lewat sms, beliau memberitahu bahwa malam ini pukul 00:00 tanggal 22 Februari 2012 pengumuman kelulusan SNMPTN.
“ Berdo’alah Nak, semoga kamu lulus dan apa yang menjadi cita-citamu tercapai ”.
Selasa, pukul 07:00 langkahku menuju ke sekolah terhenti.
“ Rrt-rrt ”, telepon genggamku bergetar dua kali menandakan adanya sms yang masuk. Pesan tersebut dari Pak Nazar ….
“ Nak, cepatkan langkahmu menuju sekolah.”
Pesan yang aku terima dari Pak Nazar ini membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, nafasku seakan terhenti sejenak. Ada dua kemungkinan maksud sms dari Pak Nazar ini, ketidak pastian apakah aku lulus seleksi atau tidak. Ketidak pastian ini mengiringi perjalananku menuju ke sekolah. Aku berlari seolah ketakutan dikejar anjing, pontang-panting entah aku menabrak batu atau apa aku tidak perduli. Sesampai di sekolah, lab TIK adalah tujuan utamaku, disana aku tersadar bahwa sepatu dan seragam yang kugunakan berlumuran lumpur sawah. Aku tidak sadar bahwa ternyata ketika aku berlari, aku sempat terpeleset tanah lumpur sawah yang begitu licin karena semalam telah turun hujan. Pak Nazar memarahiku dengan jurus nada halusnya yang begitu mengena, tapi aku tidak perduli. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah kejelasan keputusan apakah aku lulus atau tidak.
“ Pak, bagaimana? Aku lulus SNMPTN atau tidak?”
“ Sayang sekali …, ” Jawaban Pak Nazar menghentikan jantungku berhenti berdetak dalam sejenak.
“ Mau tidak mau kamu harus persiapkan diri tiga hari ke depan, kamu berangkat ke Yogjakarta bersama Lilis, Farah, Ahmad, dan kawan-kawanmu yang lain.”
“ Allahu Akbar! ”
Aku yakin bahwa Tuhan memang sangat menyayangiku, gerakan refleks sujud syukur tersimpuh kepada Tuhan diiringi dengan genangan air mata kebahagiaan. Aku menangis bahagia di hadapan Pak Nazar, sembari mencium tangannya dan mengucapkan terima kasih. Memang dari awal Tuhan telah mengirimkan perantara pertolongan kepada sosok hambanya yang hina ini, perantara melalui Pak Nazar, ya guruku sendiri. Kini aku dapat berkhayal dan bermimpi, menabung cita-cita tanpa ada batasannya. Kebagahiaanku terhenti sejenak ketika aku teringat Ibuku. Namun, aku harus menjadi orang yang berani, aku belum menceritakan kepada Ayah dan Ibuku tentang hal ini. Aku mempertimbangkan pemberitahuan berita bagus ini kepada mereka sampai sehari menjelang keberangkatanku. Dua hari berlalu dari hari pengumuman, aku belum juga memberitahu mereka sampai tiba pada malam itu, aku meberanikan diri untuk berbicara.
“ Bu, maaf sebelumnya aku tidak bercerita pada Ibu. Sebenarnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu, aku telah mendaftarkan diri SNMPTN di sekolah dan aku lulus. Tiga hari dihitung dari hari pengumuman itu, aku dan kawan-kawanku harus berangkat ke Yogja. Dan hari itu tiba besok, besok sekitar jam 08.00 WITA aku harus berangkat ke pelabuhan. Aku ingin meminta restu dari Ibu ”.
“ Tidak! Tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini! Tidak ada yang akan kuliah! Tidak ada yang akan pergi ke Yogja! Dapat uang darimana kamu, berani-beraninya kamu mendaftarkan diri untuk kuliah! Siapa yang akan membiayaimu!? Lalu, biaya makan kamu, biaya buku, seragam, dan sebagainya. Apakah Ibu harus menjual rumah ini demi dirimu!? ” Geram, kemarahan Ibu mendengar pengakuanku membuat hati ini tersayat luka, Ayah pun tidak perduli.
“ Keputusan Ibumu adalah keputusanku juga,” jawabnya acuh dan langsung menyalakan televisi.
“ Sebaiknya kamu kubur khayalanmu itu, pergilah istirahat ke kamar dan jangan berharap kamu dapat pergi besok pagi. Tidak ada yang akan pergi besok.”
Ucapan Ibu melumpuhkan hati, jiwa dan raga ini, tangisku tak dapat kuhentikan lagi, air mataku tak dapat menerima perintahku untuk berhenti berderai. Dengan keputus asaan yang mendalam, langkah ketidak berdayaan kaki ini berlalu meninggalkan Ibu. Setelah aku masuk kamar, aku mengirimkan Pak Nazar pesan yang berisi keputusasaan harapan dan impianku. Aku menceritakan apa yang terjadi padaku malam ini, namun beliau sangat menyayangkan perjuanganku jika tidak kuliah.
“ Rrt-rrt, rrt-rrt.” Telepon genggamku bergetar lama menandakan ada panggilan masuk … Pak Nazar.
“ Assalamu’alaikum, Nak .… ”
Aku menjawabnya dengan isakan tangis yag tak dapat aku samarkan, aku hanya dapat mengeluarkan kata-kata dalam isakan yang tak jelas.
“ Ban … tu … Nis … ri … na …. Pak … ”
“ Nak, jika tekadmu kuat ingin kuliah, maka Bapak akan membantumu semampu Bapak. Kepakkan sayapmu Nak, terbang kemanapun engkau mau, raih cita-cita, dan gapai kesuksesan. Jadilah merpati untuk Bapak, jika kamu sukses kelak, jangan pernah melupakan siapapun yang pernah menolongmu. Bapak akan membantumu kalau Nak mau. Bapak akan memberikanmu pinjaman sebesar Rp. 2. 500. 000. Yang penting jadi modal Nak dulu untuk awal kuliah, lagi pula Nak juga mendapatkan beasiswa. Kapan-kapan Nak bisa menggantinya dengan cara dicicil. Apakah Nak mau? ”
“ Aku akan melakukan apapun demi masa depanku, Pak. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik! Terima kasih untuk segala bantuan Bapak, aku tidak akan pernah melupakan perjuangan Bapak ini.”
Tangisku mereda mendengar tuturan guruku ini. Aku telah mempersiapkan barang-barang keperluanku saja beberapa hari yang lalu, sejak pengumuman kelulusan itu. Modalku saat ini hanyalah dua ratus ribu rupiah, uang pribadi sisa uang saku yang aku tabung di celengan ayamku. Aku tidak bisa tidur, hatiku resah karena orang tuaku. Namun, tenang dengan dengan kepastian bahwa aku akan kuliah.
Segala tindakan, aku pikirkan dengan matang, bahwa aku memang harus pergi tanpa sepengetahuan orang tuaku. Segera aku ambil telepon gengganmku dan menghubungi Farah .… Aku menceritakan semuanya.
“ Teman … aku membutuhkan bantuanmu, nanti pukul 03:00 WITA, aku berencana akan pergi dari rumah, meninggalkan orang tua yang tidak merestuiku demi ilmu, maukah kau tampung aku sementara menunggu pagi tiba di rumahmu? ” Ia pun mau dengan syarat … “ Jika terjadi apa-apa jangan libatkan aku ” ujarnya. Bailkah.
Aku tidak bisa tidur mempersiapkan taktik serta teknik bagaimana aku akan pergi, tidak ada yang ku ingat waktu itu. Orang tua pun tidak, hanya satu titik sumbu yang ada di kepalaku.
“Besok, aku akan pergi untuk menuntut ilmu di pulau sebrang”.
Waktu menunjukkan pukul 02.30 WITA, aku bersiap-siap untuk pergi ke rumah Farah, teman yang akan menjadi teman seperjuanganku menuntut ilmu di pulau sebrang. Keputusanku sudah bulat, jelas aku tidak dapat keluar melalui pintu depan, dan akhirnya keputusanku yang sudah terencana matang akhirnya aku keluar melewati jendela. Haru bercampur kebahagiaan tak dapat aku hentikan, aku tidak meninggalkan surat, atau apa pun mengenai kepergianku.
“ Jangan pernah memaafkanku Ibu, karena aku menjadi anak durhaka yang membangkan kepadamu demi ilmu. Aku melakukan ini karena aku ingin.”