Dia Putri Es, semua orang menyebutnya seperti itu. Di Desa Zarkot, ada sebuah Kerajaan Cold yang masyarakatnya terkenal dengan kekuatan supranatural mereka. Sebenarnya dia bernama Zagit, anak Zamura seorang selir yang di usir dari Kerajaan Cold. Semua orang menganggap kelahiran Zagit adalah kutukan. Karena dia lahir ketika Gerhana Merah, bersamaan badai salju di Wilayah itu.
Kekuatan Zagit yang bisa membekukan sebuah benda, dan badai salju ketika gadis itu marah. Karena hal itu membuat semua orang di Desa itu menjauhinya. Sebab kekuatan itu hanya bisa di miliki anak dari Raja dan Permaisuri. Jika anak selir di luar Kerajaan atau rakyat jelata memiliki kekuatan itu, sudah di anggap suatu kutukan.
Sementara kekuatan Zagit, melebihi kekuatan kakak - kakaknya yang ada di dalam Kerajaan.
"Zagit, sudah berapa banyak korban atas ulahmu?" tanya Raja dengan tatapan tajam.
Entah fitnah apa yang, menimpa Zagit sehingga dia di panggil sang Raja ke Kerajaan.
"Maksud yang Mulia, apa?" tanya Zagit tidak mengerti.
"Ada laporan kalau kau, telah membunuh para utusan Kerajaan." ucap Raja membuat Zagit tersenyum simpul.
"Utusan Kerajaan, apa para pembunuh bayaran yang di kirim untuk aku dan Ibu. Yang Mulia?" pernyataan Zagit itu tentu saja membuat seluruh di dalam Istana terkejut.
Inilah salah satu kelebihan dari Putri Es ini. Bisa menebak mana utusan Kerajaan, dan mana penjahat. Sehingga, dia selalu waspada apa yang terjadi.
"Eh, anak haram. Dari mana kau tahu itu adalah pembunuh bayaran?" tanya seorang pangeran yang tak lain dari anak selir Raja yang ada di dalam Kerajaan.
Semua pangeran, maupun putra mahkota di Kerajaan itu. Menganggap Zagit adalah anak Haram, karena dia satu - satunya anak Raja yang Perempuan. Semua anak Raja mulai dari Permaisuri sampai selir semuanya laki-laki. Hanya selir yang terakhir melahirkan seorang anak perempuan setelah di usir dari Istana karena di anggap mandul, dan tidak memiliki keturunan dari Raja. Tapi nyatanya, ketika selir itu di usir dari Kerajaan. Selir itu sedang hamil, dan dia tidak mau Raja ataupun yang lain tahu soal itu.
***
Kembali ke cerita, di hadapan semua mentri Kerajaan dan Raja. Zagit masih di sidang oleh semua pihak. Sementara sang Ibu, hanya bisa menangis di luar Istana karena tidak di perbolehkan masuk.
"Asal Yang Mulia tahu. Di antara semua pangeran kesayangan Yang Mulia. Ada satu orang, yang berambisi untuk membunuhku dan juga Ibu." ucap Zagit dingin.
"Kelahiranku memanglah sebuah kutukan. Semua orang mengakui itu semua. Namun untuk masalah nyawa, hanya Sang Penguasa langit yang tahu." lanjut Zagit dengan tajam.
"Ayahanda, dia terlalu banyak bicara yang mengada - ngada. Cepat hukum dia sekarang juga, Ayahanda." ucap salah satu Putra Mahkota bernama Victor.
"Benar Ayahanda, dia itu juga kutukan bagi keluarga kita. Lebih baik dia di hukum mati, agar tidak menambah banyak korban." tambah salah satu pangeran.
"Wahai para saudara tertuaku, buat apa aku di hukum? Tidak di anggap sebagai anak oleh Raja, itu sudah hukuman bagiku. Jadi, hukuman apalagi yang akan di berikan untukku? " ujar Zagit.
Belum selesai mereka membahas soal Zagit. Tiba-tiba, sebuah awan hitam menghantam memecahkan jendela kerjaan, dan membuat semua orang panik.
"Zagit, apakah itu awanmu?" tanya Putra Mahkota tertua Sean.
'Zeb!'
'Bruakkk!'
awan hitam itu berubah menjadi beku, dan terjatuh saat Zagit menggunakan kekuatannya.
"Awanku putih kebiruan, Kakak. Siapa saja yang terkena awan itu akan membeku seperti patung yang gampang pecah ketika disenggol." ucap Zagit kepada kakak tertuanya itu.
Sesaat kemudian, seorang pengawal penuh luka. Menghadap sang Raja, bersama pengawal yang lain.
"Maaf, Yang Mulia. Sepertinya Kerajaan Dark Cloud, mulai meneror Kerajaan kita kembali." lapor pengawal.
"Dark Cloud? Bukannya itu Kerajaan yang ingin membawa ibu menjadi Permaisurinya, dan akan menghancurkan Kerajaan ini?" ucap Zagit membuat sang Raja terkejut.
"Diam kau Zagit, kau bukan anggota Kerajaan. Sebagai hukumannya, kau dan ibumu pergilah dari Kerajaan dan wilayah ini. Juga kau dilarang mengikuti urusan Kerajaan ini." putus sang Raja geram.
Semua orang setuju dengan. Dengan hal ini, agar tidak ada lagi kekuatan Es yang menurut meraka mematikan di wilayah itu.
***
Sejak di putuskan hukuman dari Raja. Zagit benar-benar pergi bersama sang ibu. Zagit pergi benar-benar jauh dari Kerajaan. Sementara semua pangeran, dan putra mahkota senang. Karena saingan terberat mereka sudah pergi. Jika tidak, Zagit yang akan memimpin mereka semua ketika perang melawan musuh. Karena hampir semua kekuatan para Pangeran dan Putra Mahkota, ada di dalam diri Zagit sejak lahir.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kepergian Zagit, membuat Kerajaan Dark Cloud semakin gencar untuk menyerang Kerajaan Cold. Karena selama ini, mereka takut dengan Zagit dan perisai Zagit di pintu perbatasan bisa merenggut nyawa mereka. Sementara Kerajaan Cold tidak tahu soal itu.
"Sean, kau buatlah perisai untuk melindungi Kerajaan ini. Aku akan, cari Ayahanda." ucap Victor.
"Perisaiku tinggal menipis, Victor. Kita harus mencari Ayahanda untuk menghadapi mereka." ucap Sean.
Belum beranjak mencari Raja, tiba-tiba mereka di hantam oleh angin bewarna hitam pekat, dan membuat mereka terjatuh.
"Wah, hanya segitu kekuatan para anak Kerajaan Cold?" sindir salah satu pangeran Kerajaan Dark Cloud.
Suasana Kerajaan semakin kacau, karena perisai mereka mudah di hancurkan oleh musuh. Sementara Raja, masih saling serang dengan Raja Dark Cloud. Sedangkan para pangeran, melawan para pangeran dari Dark Cloud.
Sesaat kemudian, dari arah langit. Sebuah anak panah Es, menyerang semua pasukan Dark Cloud tanpa ampun. Sementara Raja Dark Cloud, diam terpaku serta tubuhnya perlahan-lahan membeku setelah sambaran angin kencang kepadanya.
Suhu dingin di Kerajaan tiba-tiba, semakin meningkat. Kemudian salju perlahan - lahan turun dari permukaan.
"Zagit," gumam Victor ketika seorang gadis datang dengan membawa tongkat Es dengan tatapan datanya.
"Kurang ajar kau gadis Es. Bukannya kau di usir dari Kerajaan ini?" geram Raja Dark Cloud.
"Walaupun aku di usir, aku tak akan diam jika tempat kelahiranku kau serang." ucap Zagit dingin.
Sementara sang Raja Cold, berserta putranya. Mereka terkejut melihat penampilan Zagit seperti Dewi Salju yang turun dari khayangan yang di utus oleh Dewa.
"Kalian jangan heran, inilah penampilanku ketika ada kode bahaya." ucap Zagit dan mengebah penampilannya seperti biasa.
"Dan kau Raja Dark Cloud, para Dewa sudah marah terhadapmu. Kini saatnya, aku menghukummu beserta seluruh pasukan dan anggota Kerajaanmu." ucap Zagit menyentuh pundak Raja Dark Cloud.
Seolah terhipnotis, Raja jahat itu menatap mata Zagit yang tajam. Mata itu memiliki, kekuatan beku yang sangat dahsyat. Sekali sentuh dan pandang tatapan itu, musuh langsung melebur.
Dan benar saja, tubuh Raja itu langsung membeku seketika. Kemudian di ikuti cahaya yang menyilaukan, yang menghancurkan mereka yang membeku satu persatu seperti butiran-butiran salju.
"Kekuatan itu, seperti milik mendiang Ibu Suri." Raja Cold terkejut.
"Zagit Zamora sebenarnya dia titisan dari Putri Salju dan reinkarnasi dari Ibu Suri, Yang Mulia Raja." ucap Ibu Zagit tiba-tiba sudah datang ke Kerajaan.
"Karena kelahirannya bersamaan dengan Gerhana Merah. Membuat dia memiliki kekuatan di atas semua saudaranya. Banyak peramal mengatakan, Zagit bukanlah kutukan. Melainkan keajaiban yang bisa melindungi Kerajaan ini." jelas Ibu Zagit kepada sang Raja.
"Kenapa kau sembunyikan ini semua dariku, Zamura?" sesal sang Raja.
"Karena hamba bertekad, Zagit tidak akan ikut dengan Anda. Wahai Yang Mulia..., " jawabnya membuat sang Raja semakin menyesal.
Setelah mengatasi Raja Dark Cloud itu, suhu di Kerajaan kembali normal sedia kala. Mentari kembali bersinar di Kerajaan itu. Setelah berbulan-bulan mendung gelap karena Kerajaan Dark Cloud menyerang.
"Ibunda, ayo kita pulang. Tugas Zagit sudah selesai di sini." ucap Zagit mengajak ibunya, dan tanpa memandang wajah sang Ayah beserta saudara - saudara yang lain.
"Kau mau pulang kemana, Zagit. Ini Rumahmu juga sekarang," ucap Raja menahan putrinya.
"Maaf, Yang Mulia. Di sini bukan tempatku maupun Rumahku. Rumahku berada di daerah jauh dari Kerajaan ini. Di sana aku dan Ibunda hidup bahagia, tanpa gunjingan dari berbagai pihak. Ayo, Ibunda." jelas Zagit mengajak sang Ibu untuk segera pergi.
Raja ingin menahan mereka berdua, namun dengan cepat Zagit menggunakan teleportasinya menghilang bersama sang Ibu. Hanya meninggalkan beberapa butiran salju sebagai tanda mereka sudah pergi.
- Tamat
cerita fantasi pertamaku bentuk cerpen.
Jangan lupa, like, komentar dan share ....