Kurasa aku takut bahagia,
Kerena setiap aku merasakannya, sesuatu yang buruk selalu terjadi.
Rasa sakit ini sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Tapi aku sudah terlalu lama merasakannya hingga aku menganggapnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam hidupku.
Bercerita tentang kata Sudah terbiasa itu adalah sesuatu yang sudah tidak bisa aku hindari lagi di dalam hidupku ini.
Terutama terbiasa dalam kata Aku Terluka lagi, bahkan lagi dan lagi. Entah terlalu polos entah bagaimana akupun tidak tau. Bahkan aku bisa terjatuh ke lobang yang sama untuk kesekian kalinya.
Aku adalah orang yang memiliki sifat rasa kasih sayang dan peduli sesama seseorang. Mungkin dengan sifat ku yang begini orang-orang di sekitar memanfaatkan kelemahan ku. Tapi aku terlalu bodoh hingga pada akhirnya aku terlambat menyadari nya.
"Tolong hilangkan sifatmu itu dek!"
"Sedikit saja! Berputar-pura untuk I don't care." ucap Seorang kakak yang sedang menasehati Adiknya.
"Kamu pasti bisa,"
"Jangan cepat mudah percaya jika seseorang menceritakan kesedihan nya di depan mu." masih terus berbicara tak henti-hentinya menasehati Adiknya, Sebenarnya dia sangat merasa sedih dan bangga.
Di sisi kebanggaan nya dia memiliki adik yang begitu peduli terhadap sesama bahkan dia lebih mempedulikan orang lain demi dirinya, di sisi lainnya yang membuat dia merasa sedih karena adiknya sering Terluka.
Entah itu masalah pertemanan, Sahabat bahkan pacar sekalipun. Itulah yang membuat nya merasa tidak tenang, sebagai seorang kakak, sejahat apapun dia, dia juga tidak akan mau melihat adiknya terluka lagi dan lagi.
"Ok kak."
"Stop! Aku tau aku salah, aku tau aku Bodah kak, tapi aku bisa apa?" semakin lama semakin kesal mendengar ucapan kakaknya.
"Aku sudah ihklas dengan semuanya." Tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja.
"Mulai sekarang aku masa bodoh! kalau mau emang ngejauh semuanya ya silhkan."
"Lagiian aku juga sudah terbiasa dengan semua ini, bukan cuma sekali dua kali bhkan sudah terlalu sering kakak." menjawab semua perkataan kakaknya karena sudah lama menahan nya selama ini.
"Bukan itu maksudnya kakak, kamu adik kakak satu-satunya dan kakak menyayangi dirimu." ucap Lifia sambil berdiri di depan adiknya.
Menyeka semua butiran bening yang jatuh satu persatu dari pelupuk mata adiknya.
"Sejak kapan aku meragukan kasih sayang mu kakak?" Alya bertanya balik, mungkin pikiran nya saat ini dalam keadaan yang sangat kacau, sehingga apa yang di tanya apa yang dia jawab tidak masuk akal sama sekali. Malah ngelantur kemana-mana.
Ini lah sifat aslinya Alya, selain dia memiliki sifat simpati yang sangat luar biasa dia juga memiliki sifat yang suka asal bicara seenaknya saja.
Lifia tau kalau adiknya lagi berada di posisi seperti ini dia suka kali biacara asal-asalan. Sesuka hati nya saja.
"Jika itu tidak Dosa mungkin sudah aku lakukan sejak dulu kakak, aku juga tidak ingin terus menerus seperti ini."
"Di sakiti dan di lukai berkali-kali." mendengar ocehan adiknya Lifia memeluk Alya seketika, dia ikutan larut dalam kesedihan yang di sarankan adiknya.
"Hufff..."
"Kakak tidak tau lagi harus berbicara apa? Kamu suka sekali berbicara yang tidak-tidak." protes Lifia karena dia tidak suka jika adiknya mengucapkan kata-kata itu berulang kali.
"Kamu berdosa Lo dek jika berbicara seperti itu terus." ucap seseorang pria yang berjalan menghampiri Lifia dan Alya.
"Coba lah untuk selalu bersyukur!"
"Apapun yang terjadi itu adalah takdir, mau sekuat apapun kita menghindari nya yang nama takdir akan selalu menghampiri kita." menuntun Lifia dan Alya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Dia adalah Rangga, Kakak tiri mereka berdua, namun dia sangat menyayangi Alya, bahkan melebihi dari layaknya seorang adik dan kakak.
Memberikan dua buah lembar tisu, "Hapus air mata kalian!" perintah Dia.
"Kakak tidak mau mendengar ada suara tangisan di rumah ini lagi." tutur Rangga.
Namun Alya masih saja menangis, "Life sekrang kamu kebelakang, bikin makan untuk kita."
"Alya biar kakak saja yang menenangkan nya," ucap Rangga, Life mengangguk kemudian pergi meninggalkan Alya dan Rangga.
Setelah Lifia sudah tidak terlihat lagi, Rangga menggenggam tangan Alya, menyuruh Alya untuk menatap wajah nya. "Ayo sekarang kamu ikut kakak." Tampa perotes Alya mengikuti Rangga dari belakang, meskipun Rangga masih menggenggam tangan dia namun dia tidak marah sama sekali. Walaupun dia tau kalau kakak tirinya itu memiliki perasaan lebih terhadap dirinya.
Rangga menuntun Alya sampai ketaman belakang rumah, gelapnya malam di tambah taburan bintang membuat suasana semakin tenang, yang ada cuma sedikit suara Isak tagisan.
"Duduklah." mempersilahkan Alya untuk duduk di samping nya. Alya menurut perintah Rangga.
"Sekarang ceritakan dengan detailnya."
"Apa yang terjadi? Sampai-sampai kamu seperti ini.. hmmm..?" tanya Rangga, sambil melihat manik-manik mata Alya.
Flashback
Setelah di hianati teman dan sahabat satu persatu membuat Alya semakin sedih. Rasa kepercayaan yang dia berikan selama ini seakan-akan hanya percuma saja.
Dan sekarang hatinya begitu Terluka, di saat dia mengetahui fakta yang sebenarnya, yaitu tentang kekasih nya.
Dia bilang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi namun sang kekasih masih saja tetap peduli terhadap mantannya. Dengan alasan klasik yaitu "dia sudah aku anggap seperti sahabat aku sendiri, dan kamu tau sayang, sebelum nya kita adalah sahabatan, dan tidak mungkin setelah putus hubungan kami juga renggang."
Kata-kata ini lah yang membuat Alya juga semakin terluka. Setelah di hianati teman dan sahabat nya berkali-kali.
Entah kenapa Alya begitu benci sama orang-orang yang pernah memiliki hubungan dengan kekasih nya, namun di sisi lain sang kekasih selalu ingin melihat Alya berteman dengan mantan kekasih nya itu.
"Aku belum siap untuk semuanya sayang." protes Alya.
"Jika memang di hatimu masih ada dia, kenapa kamu memiliki aku?" setiap pertanyaan selalu terlontar dari mulut Alya.
Alvaro, "Aku hanya ingin kamu akur bersama dia!"
"Lagiian rasa sayang ini tidak ada lagi untuk dirinya, kenapa kamu masih cemburu" Alvaro tidak terima jika Alya selalu mengungkit masa lalu mereka.
Kalau bukan masih sayang tidak mungkin Alvaro masih perhatian sama mantan kekasihnya, apa lagi jika melihat mantannya itu terluka dia tidak terima.
Alvaro tidak pernah memberi Alya, saran namun dia malah memberikan Alya sebuah pilihan yang sulit buat dia dapatkan atau di jawab.
...
Mendengar itu semua Rangga begitu memahami apa yang tengah dirasakan oleh adiknya, mungkin saja jika tidak di larang sudah dari dulu Rangga menikah adiknya.
Alvaro seolah-olah mempermainkan kasih sayang yang di berikan oleh Alya, dan dia seolah-olah juga mempermainkan sifat peduli Alya, sehingga dengan mudahnya dia berbicra yang sedih agar Alya bersifat simpati, namun lama kelamaan Alya juga tidak mampu untuk memahami keadaan.
Note author : Jangan mencintai apapun terlalu banyak, karna terlalu banyak bisa melukaimu terlalu banyak juga.
Ex : Makanan -> Jika makan makanan terlalu banyak bisa melukai dirimu, seperti sakit perut dan lainnya, begitu juga dengan perasaan, jika terlalu banyak ya bersiap-siap saja kamu untuk terluka terlalu banyak🤪🤣🤣