“mama bilang, mama nggak setuju kamu sama dia. Kita beda adat istiadat dengan temenmu itu din.” Mama masih saja tidak dapat menerima pilihan Dindra untuk hubungan yang lebih serius. Dindra dan Niza ‘teman' yang diucapkan mamanya sebenarnya sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Saat awal Niza berkunjung kerumah Dindra, mama Rita sangat menyambut Niza dengan sepenuh hati namun, akhir-akhir ini ntah apa yang membuat mama Rita tidak lagi menyetujui hubungan mereka.
“ma, kita semua beda ma… Nggak sama dalam hal sikap dan pemikiran. Lagian kita masih satu agama apa masalahnya?” Dindra masih saja mencoba membujuk mamanya untuk menyetujui keputusannya.
“nanti setelah kamu tahu satu hal ini mungkin kamu nggak akan berfikir seperti ini lagi din…” ucap mama Rita jengah dengan sikap anakya.
“apa ma? Hal apa yang buat Dindra berubah fikiran?” dindra semakin penasaran.
“sekarang belum saatnya…” mama Rita pergi meninggalkan DIndra diruang tengah sendirian.
****
Papa Dindra yang bernama Wijaya baru saja pulang dari luar kota, ada pelatihan yang tidak dapat diwakilkan sehingga mengharuskan papa Wijaya tetap berangkat dalam keadaan kurang sehat. Keadaan papa Wijaya setelah pulang sungguh mengkhawatirkan, mama Rita menyarankan untuk dibawa kerumah sakit namun papa Wijaya menolak.
“pa, kita kerumah sakit saja ya… papa terlihat pucat, sekalian kita cek kondisi kesehatan jatung papa ya…” Dindra masih saja membujuk papa Wijaya untuk berangkat kerumah sakit.
“besok kalau keadaan papa masih seperti ini kita berangkat.” Ucap papa tegas.
Akhirnya Dindra mengalah, ia kembali kekamarnya meninggalkan papa dikamar. Diluar dugaan, pukul setengah tiga pagi papa Dindra mengalami gejala struk. Kemudian langsung dibawa kerumah sakit. Sedari dulu memang papa Dindra memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes namun baru kali ini kondisi papa Dindra sampai seperti ini. Yang lebih membuat Dindra khawatir karena sebentar lagi Dindra akan wisuda. Sebelum papa Dindra berangkat pelatihan mereka telah membeli baju berwarna senada untuk menghadiri acara wisuda Dindra.
Selama tiga hari papa Dindra telah sedikit membaik namun belum diperbolehkan pulang karena akan dijadwalkan terapi kecil untuk gejala struknya. Dua hari setelahnya jadwal terapi kecil, semua orang yang berada dalam ruangan dipersilahkan untuk menunggu diluar. Tiga puluh menit setelahnya dokter yang menangani keluar dan memberitahu jadwal terapi selanjutnya. Tangan kanannya yang tadinya tidak bisa diam, setelah dilakukan terapi tangannya tidak begitu banyak bergerak. Dindra mendekati papa dan duduk disampingnya, ia memegangi tangan kanannya agar tak menarik selang yang berada dihidung. Tak lama kemudian datang saudara dari papa Dindra.
“assalamu’alaikum…” bibi Dindra yang ada diluar kota telah sampai langsung menuju rumah sakit menengok kakaknya.
“walaikumsalam…” sahut Dindra dan mama Rita bersamaan.
“gimana kabar pakde?” mendekati papa Dindra. Dindra kemudian bergeser agar bibi Dindra dapat mendekati kakaknya.
Papa Dindra hanya melihat, kemudian matanya berkaca-kaca tak mampu berbicara. Melihat hal ini membuat bibi Dindra menangis, Dindra yang ada disampingnya menahan air matanya agar tidak keluar. Namun ia tak kuasa hingga ia berlari keluar, ia mencari tempat yang tidak begitu ramai kemudian mengeluarkan sesak yang ada didalam dadanya, ia menangis namun tak bersuara.
Dindra kembali ke ruangan, kemudian duduk disamping papanya bergantian memegangi tangan papanya dengan bibinya. Ketika tidurpun posisi Dindra duduk dan memegangi tangan papanya, ia lelah ingin rasanya tidur berbaring namun mama dan bibinya tidur terlelap ia tak enak hati jika harus membangunkannya. Ketika tengah malam, Dindra dibangunkan oleh mamanya. Menyuruhnya untuk tidur berbaring, bergantian menjaga papanya. Dindra tertidur hingga pagi.
Saat siang hari setelah makan siang, mama dan bibi Dindra duduk berbincang-bincang. Dindra baru tiba dari cuci tangan mendengar pembicaraan mereka yang sedang membicarakan hubungan Dindra dengan Niza. Hal ini tentu saja membuat Dindra tak enak hati, ia selalu merasa dipojokkan atas pilihannya.
“Dindra bilang kedepannya dia yang akan jalani hidupnya, susah senang bakal dia rasakan sendiri. Kita sebagai orang tua mana ada yang tega biarin anaknya sengsara, tahu anaknya sengsara diam saja. Mana mungkin…” ucap mama Rita mulai membara.
“ya iyalah kak… orang tua mana ada yang mau lihat anaknya sengsara ya pasti ditolong.” Sahut bibi Dindra menenangkan.
“denger itu din, nggak ada orang tua yang diam saja melihat anaknya yang menderita.” Menatap DIndra yang baru saja ingin duduk.
Dindra hanya terdiam, ia tak mampu menjawab bukan tepatnya ia tak ingin menjawab karena akan panjang pembicaraan jika terus diladeni dan pastinya akan terlihat seperti Dindra membangkak perkataan mama Rita. Dindra ingin pergi namun tak enak hati juga karena akan terlihat jika ia ingin menghindar.
****
Tiba jadwal terapi tinggal sehari lagi, seperti biasa Dindra duduk disamping papanya dengan memeganggi tangannya. Dalam hati Dindra berkata bahwa ia lelah, ingin segera istirahat. Namun ia tak bisa meninggalkan papanya sendirian. Tak lama berselang mama Rita datang, Dindra meminta bergantian menjaga papanya kemudian Dindra keluar ruangan berjalan-jalan tanpa tujuan ia hanya ingin mencari udara segar agar tak terlalu penat.
Sore hari Dindra kembali ke ruangan, mendekati papanya dan ia melihat papanya sedang membuka mata. Tampak sangat jelas matanya merah dan berkaca-kaca, dalam hati Dindra berkata “terimakasih Ya Allah, semoga papa segera sembuh”. Ntah mengapa pandangan mata papa Dindra ada yang berbeda, terlihat sedikit kosong namun juga terlihat begitu sedih.
DIndra memegangi tangan papa “papa cepat sembuh ya…” mata Dindra berkaca-kaca.
Setengah enam sore waktu papa Dindra makan sore, perawat masuk memberikan makanan cair seperti susu karena papa Dindra tidak dapat menelan makanan sehingga menggunakan selang. Makanan tersebut telah habis setengah namun papa Dindra muntah, sehingga perawat berhenti memberikan makanan dan izin keluar.
Setengah jam kemudian papa Dindra tertidur namun nafasnya tak teratur, suara nafasnya keras tak seperti biasanya. Adzan telah berkumandang, mama Rita langsung pergi berwudhu sedangkan aku dan bibi menjaga papa. Setelah selesai sholat Dindra pergi wudhu bergantian jaga dengan mama Rita, saat Dindra kembali dari wudhu ia tahu bahwa nafas papa semakin tak beraturan, Dindra takut. Dalam sholat ia berdo’a agar papanya diberi kesembuhan. Setelah selesai Dindra mendekati papanya, ia semakin takut, ia memegang tangan papanya yang sudah tak aktif bergerak lagi. Nafas papa yang hilang kemudian kembali jika dipanggil seperti itu berulang-ulang membuat Dindra semakin takut. Dokter dan perawat datang dan memberikan pertolongan, memberikan shock namun Allah berkehendak lain. Allah lebih sayang dengan papa Dindra. Papa DIndra dinyatakan meninggal dunia pukul 06.50 sore.
Mendengar hal ini membuat mama Rita, bibi Dindra dan Dindra menangis, meraung-raung, seolah tak menyangka hal ini akan dihadapinya.
“aarrrggghhhh…….” Teriak Dindra saat pertama kali mendengar pernyataan dari dokter.
Dindra memeluk mama Rita menagis sejadi-jadinya “pa… kenapa ninggalin mama… sebentar lagi juga Dindra wisuda pa, kita juga sudah beli baju senada untuk menghadiri wisuda Dindra… kenapa papa pergi pa…” mama Rita menangis, meracau tak henti-hentinya.
“istigfar kak… din… istigfar… yang ikhlas…” ucap bibi Dindra menenangkan.
“astagfirullahhalazim….” Berulang-ulang Dindra istigfar hingga perasaannya sedikit lega. Dalam hati Dindra berkata “aku nggak apa-apa pa kalau harus megang tangan papa semalaman, maaf kemarin aku bilang lelah, maaf pa…” mata Dindra kembali berkaca-kaca.
Mama Rita masih terus menangis, Dindra mengurus kepulangan papanya. Setelah selesai urusan administrasi, Dindra kembali keruangan untuk membereskan barang-barang untuk dibawa pulang. Dalam perjalanan pulang, mama Rita dan DIndra diam. Hanya saling memegang tangan menguatkan, karena tak ada kata-kata yang mampu keluar untuk menghibur.
Semoga beliau ditempatkan disisi Allah yang terbaik, aamiin…