Febrian berlari sekencang kencangnya. Beberapa pria bertubuh kekar masih juga mengejarnya. Beberapa gang sempit dia lewati, tapi orang orang itu masih saja menemukannya.
"Apa apaan ini..kemana lagi aku bersembunyi" Febrian menarik napas panjangnya. Dia mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.
"Hei..berhenti di situ..atau aku akan.."
Belum sempat melanjutkan ancamannya, Febrian sudah berlari menjauh. Dia tidak mau tertangkap oleh orang orang itu.
"Anak sialan.." teriak orang yang mengejar Febrian.
"Gimana bos..saya capek sekali. Bagaimana kalau kita kembali saja dan bilang kalau anak itu berhasil meloloskan diri." ucap salah satu orang bertubuh kekar itu.
"Kamu mau kepala kita dipenggal ha?" jawab pimpinannya. Mereka pun kembali mengejar Febrian.
Febrian pun berlari ke dalam hutan. Dia merasa tidak nyaman dari tadi mengelilingi kota, tapi masih saja bisa ditemukan pengawal ayahnya.
Jauh masuk ke dalam hutan, Febrian menemukan sebuah gubuk yang tertata rapi.Ada asap di bagian belakang rumah. Tanda ada penghuni di gubuk tersebut. Febrian pun bertekad hendak berteduh di gubug itu. Sesekali dia memperhatikan belakang, pengawal ayahnya sudah tak terlihat mengejar dia. Febrian bernapas lega.
Febrian pun duduk di bale depan rumah. sambil memanggil pemilik rumah dan masih mengatur napasnya. Lama tak ada jawaban, Febrian beranjak dan menuju belakang rumah. Tampak olehnya seorang perempuan sedang duduk di depan perapian. Febrian pun tertegun melihat perempuan itu. Perempuan itu terlihat cantik dan manis, padahal Febrian hanya melihatnya dari samping.
"Permisi..bolehkah saya singgah sebentar di sini?" Febrian pun memberanikan diri menyapa perempuan itu.
Perempuan itu menengok, melihat ke arah Febrian. Febrian semakin terpesona melihat kecantikan perempuan itu yang tampak dari depan. Namun..pandangan perempuan itu sangat jutek. Tak ada senyuman ramah dari bibirnya. Perempuan itupun masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Febrian. Febrian semakin terpesona.
"Baru kali ini aku dicuekin wanita."Febrian tersenyum tipis. Dia kembali ke depan rumah dan kembali duduk di tempatnya tadi.
"Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan disini?" seorang wanita paruh baya membawa kayu di punggungnya berdiri tak jauh dari Febrian. Febrian terperanjak kaget. Dia mengelus dadanya.
"Maaf..saya hanya numpang singgah..Saya tersesat" ucap Febrian.
"Saya Febrian, tak sengaja masuk ke dalam hutan dan tidak tau jalan pulang. Hingga saya menemukan tempat ini" lanjutnya.
"Mari masuk" ucap wanita itu.
Febrian tersenyum lega. Dipikirnya wanita itu sama seperti perempuan yang ditemuinya di belakang rumah tadi. Ternyata lebuh ramah.
Febrian dipersilahkan masuk ke dalam rumah dan dipersilakan duduk. Wanita itu ke belakang hendak menaroh kayu bakarnya. Tak lama perempuan yang dijumpai Febrian muncul dari balik bilik.. Perempuan itu kembali memandang Febrian dengan sinisnya. Febrian tersenyum pada perempuan itu tapi tak mendapat balasan.
"Nastya..cepat buatkan minum untuk kakak itu" perintah wanita paruh baya itu. Perempuan itu mengangguk dan pergi ke dapur.
"Namanya Anastasia.. Dia tidak pernah bicara, tapi mengerti apa yang saya katakan"
"Saya Arumi..pemilik gubug ini" lanjutnya. Febrian.
"Dia putri anda?" tanya Febrian penasaran.
"Bukan..Beberapa bulan lalu dia juga tersesat sama seperti anda Saya menampungnya disini karena kasihan" ucap Arumi.
Arumi tinggal di hutan karena dikucilkan orang desa. Dia disebut-sebut pembawa sial. Arumi pun meninggalkan desa dan membangun gubug di tengah hutan. Dia hidup sebatangkara untuk bertahan hidup. Entah berapa lama dia hidup di hutan ini. Beberapa bulan yang lalu, Anastasia datang dalam keadaan lusuh dan menangis. Saat ditanya Arumi, Anastasia hanya menjawab dengan mengangguk dan menggeleng. Sampai saat ini Anastasia belum pernah mengeluarkan suaranya.
Febrian hanya mengangguk mendengar cerita Arumi.
"Sepertinya dia perempuan yang cocok.." gumam Febrian.
Malam itu, Febrian merasa gerah di kamar yang ditempatinya. Seumur-umur baru kali ini dia tinggal di tempat yang sempit dan panas seperti ini.
Febrian pun keluar rumah mencari angin. Tak sengaja pandangannya terarah pada sosok wanita yang berdiri bersandar pada batu tak jauh dari gubug itu. Febrian pun menghampirinya.
"Hai.. aku Febrian. Kamu Anastasia kan.." Febrian memberanikan diri menyapa Nastya. Anastasia memandangnya sekilas dan langsung bergegas pergi meninggalkan Febrian dengan tatapan sinis dan tetap diam. Febrian merasa kesal karena dicuekin. Febrian pun memegang lengan Anastasia saat berlalu di samping Febrian. Anastasia berusaha melepaskan genggaman tangan Febrian. Namun Februan semakin mengeratkan genggamannya.
"Lepaskan! kamu menyakitiku!" ucap Anastasia.
Febrian tertegun mendengar suara Nastya. Dia pun melepaskan genggamannya. Febrian tersenyum memandang kepergian Anastasia. Ternyata dia tidak bisu. Pikirnya.
Febrian mengikuti Anastasia kembali ke rumah. Dia terus berceloteh. Meskipun tau Anastasia tidak membalas ocehannya, Tapi dia yakin Nastya mendengarkannya. Arumi tersenyum melihat kejadian itu. Ternyata dari tadi Arumi memperhatikan mereka.
"Dia sudah menemukannya bu.."