Iceland. Udara seakan membeku, tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Membeku, membiru. Tak ada yang bisa bertahan dengan udara sedingin ini. Tapi siapa yang tahu...sebuah tanda kehidupan berbaring lemah tak berdaya.
Tak ada yang bisa menentang kehendak Yang Maha Kuasa. Apabila kehendakNya adalah hidup maka tak kan ada satu makhluk pun yang bisa membuatnya mati.
Entah siapa yang begitu beku hatinya sehingga tega membuang seorang bayi perempuan di tengah hamparan salju seperti ini. Lebih keji dari seekor makhluk yang disebut binatang.
Seekor induk beruang salju mendekati timbunan salju yang terdapat bayi didalamnya..secara perlahan, induk beruang itu mengais perlahan salju yang menumpuk itu, seolah-olah ada kekuatan yang menggerakkannya menolong makhluk mungil itu.
Seketika terlihatlah sebuah tangan mungil dan kecil, warnanya menyerupai warna salju, induk beruang pun meneruskan mengais tumpukan salju sedikit demi sedikit sampai terlihat olehnya wajah mungil tak berdosa seperti sedang tertidur. perlahan-lahan diambilnya bayi itu, dibawanya dengan perlahan masuk ke dalam tempat tinggalnya.
Induk beruang memeluk bayi perempuan itu dengan penuh kasih , kulit bayi mulai terlihat berseri..badannya mulai menghangat. Tak terasa berkat kekuasaan Yang Maha Kuasa, bayi itu tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik.
Hari ini gadis kecil berambut putih, berkulit laksana salju dan bibir merah darah sedang berlari ke sana kemari mengejar anak-anak beruang lainnya. Induk beruang memang menjaganya dengan baik, walaupun ia sudah punya anak, induk beruang tidak membedakan gadis kecil itu dengan anaknya sendiri.
Dor..dor..dor..suara langkah kaki dan tembakan terdengar membahana, induk beruang dengan cepat menyelamatkan anak-anaknya, ketika ia akan menyelamatkan gadis kecil itu dua buah peluru bersarang di tubuhnya..
Gadis kecil terdiam, lalu berlari mendekati tubuh induk beruang yang sudah dianggap ibunya sendiri. Tangan kecilnya menepuk-nepuk tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.
Sebuah suara mengagetkannya, "Hei lihat ada seorang anak kecil, sepertinya beruang itu akan memakannya".
"Ayo kita bawa pulang, lumayan hari ini kita makan besar, makan daging beruang".
Gadis kecil itu membeku di tempatnya, ia tidak bergerak ketika tubuh mungilnya itu diangkat oleh para pemburu. Sesampainya di pemukiman, beruang itu dikuliti dan dipotong-potong didepan mata gadis kecil itu. Tidak ada yang menyadari perubahan warna mata gadis itu berubah yang semulanya berwarna biru berubah menjadi putih.
Para wanita dan anak-anak banyak yang memperhatikannya, mereka tidak ada yang mendekat, di mata mereka gadis itu terlihat aneh dan sedikit mengerikan. Berkulit seputih salju, berambut putih dan warna matanya juga putih terlihat kontras dengan bibirnya yang berwarna merah. Terlihat seperti hantu.
"Mau kita apakan anak ini? fisiknya aneh, dan sepertinya dia buta , mengerikan, apa kita buang lagi saja, biar tidak mengurangi jatah makan kita".
"Biar aku yang menjaganya, kurangi saja jatah makan ku, sebagian lagi berikan buat dia", Kata seorang nenek.
"Baiklah bila itu mau mu, nenek tua, jangan menyesal nanti".
Begitulah kesepakatan yang terjadi. Nenek itu mengangguk lalu membawa pulang gadis kecil itu. Ketika telah sampai di rumahnya. Nenek Membersihkan tubuh mungil itu dengan air hangat.
Nenek itu bernama Nenek Cima.
Nenek Cima lalu memberinya nama Dementria yang dalam filosofi Yunani berarti penutup bumi atau Dewi panen. Dementria kecil mulai beranjak remaja, ia mulai bisa berbicara, membaca dan menulis, walaupun matanya berwarna putih semua tapi ia bisa melihat.
Nek Cima mulai sakit-sakitan. Orang-orang di pemukiman mulai memperlakukan Dementria dan neneknya seenaknya, mereka dianggap sebagai benalu karena tidak dapat menghasilkan apapun untuk kelompoknya. Dementria mereka anggap sebagai manusia cacat.
Dementria mulai mencari makan sendiri dengan cara mencari ikan, Ia masih ingat cara mencari ikan seperti ajaran ibu beruangnya. Tapi kelompoknya sangatlah serakah. Dementria dipaksa untuk menyerahkan separuh dari hasil tangkapannya. Sampai suatu hari ia mendapati Neneknya meninggal dalam keadaan mengenaskan.
Ikan hasil tangkapan buat neneknya di rebut orang. Dementria teriak sekencang-kencangnya apalagi setelah melihat salah satu saudara beruangnya telah tertangkap dan mati.
Teriakannya memenuhi seluruh dataran es. matanya mengeluarkan darah. Seluruh pemukiman ketakutan. Para laki-laki mulai menyerangnya tapi entah mengapa tubuh mereka tidak bisa digerakkan seakan-akan es itu mencengkeram kaki mereka.
Dengan tenang Dementria mendekati tubuh saudara beruangnya dengan perlahan dibawanya tubuh beruang itu pergi. Setelah itu ia menatap pemukiman tempat ia tinggal, semua orang dipemukiman tubuhnya tertutupi es. Dengan satu jentikan jari tubuh mereka semua hancur berkeping-keping.
Matanya kembali seperti semula berwarna biru langit. Ia lalu pergi menemui saudara beruangnya yang masih tersisa. Sementara yang sudah mati ia kuburkan dibawah tumpukan salju.
Dementria tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, ia melindungi hewan-hewan di wilayahnya dengan baik. Setiap pemburu yang datang dipastikan tidak ada yang pulang dalam keadaan selamat. kekuatan esnya membekukan mereka semua lalu mati berkeping-keping.
Hal ini mengganggu sebuah kerajaan yang terletak di dekat wilayah Dementria. Pasokan daging mereka mulai menipis, sementara menurut cerita yang beredar hewan di suatu wilayah sangatlah banyak, namun anehnya tidak ada satupun yang berhasil mendapatkannya.
Putra Mahkota Lewis Augustine penasaran, ia lalu mempersiapkan diri untuk memeriksa sendiri wilayah tersebut. Dengan perbekalan lengkap ia pergi ke sana dengan membawa beberapa pengawal.
Putra Mahkota Lewis Augustine sangatlah tampan, mempunya badan tinggi dengan bentuk tubuh proporsional. Rahang yang kokoh, mata yang tajam berwarna hitam serta rambut hitam sebahu. Kulitnya putih, tapi tidak seputih salju.
Rombongan Putra Mahkota sampai di wilayah yang dimaksud. Seketika udara makin dingin terasa. Mereka tidak sadar kedatangan mereka sudah diketahui Dementria. Putra Mahkota memandang sekitar sampai akhirnya ia pandangannya terpaku pada satu sosok yang berdiri dengan anggunnya di atas sebuah bukit tak jauh dari situ.
Terlihat olehnya seorang gadis berambut putih panjang dengan mata sebiru lautan dan berbibir merah darah sedang menatapnya dingin. Deg..deg..deg..jantung Putra Mahkota berdetak tidak karuan. Baru kali ini ia melihat kecantikan yang luar biasa. Ia lalu mencoba mendekatinya.
"Tetap di tempatmu, jangan coba mendekat!", teriak Dementria. " Katakan tujuanmu!".
"Aku membutuhkan izin mu untuk berburu di sini!", teriak Putra Mahkota.
"Tidak akan aku izinkan", jawab Dementria.
"Tapi rakyatku membutuhkan daging", balas Putra Mahkota.
"Di Selatan istana anda masih banyak pasokan daging yang bisa anda dapatkan, mengapa harus dari wilayah ini?, pergilah kalau anda tidak mau mati cepat", Dementria berjalan meninggalkan rombongan itu.
"Tunggu dulu, siapa namamu, aku Lewis", berjalan mendekati.
"Aku Dementria , dan berhentilah mendekatiku".
Seketika kaki Lewis tidak dapat di gerakkan.
"Yang mulia", teriak pengawal serentak. Lewis mengisyaratkan para pengawal untuk tidak berusaha mendekatinya.
"Dementria maafkan aku, kerajaan ku dan aku tidak akan pernah mengganggu wilayahmu lagi, aku berjanji".
" Buktikan!", teriak Dementria.
"Satu hal lagi, lautan kaya akan ikan, kalian bisa juga mendapatkannya dari laut", jelas Dementria.
"Baiklah, aku akan membuktikannya", Jawab Lewis.
Putra Mahkota lalu membawa rombongannya pulang, Sesampai di kerajaan, Putra Mahkota menceritakan semuanya kepada Raja. Lalu Putra Mahkota minta dibuatkan istana kecil di wilayah perbatasan antara wilayah Dementria dan wilayah kerajaan. Dengan berat hati Raja mengabulkannya.
Lewis akhirnya hidup berdampingan dengan Dementria, dalam arti bukan tinggal satu istana. Lewis menjaga janjinya. Sesekali ia bertemu dengan Dementria, mendekatinya. Tapi sepertinya usahanya memerlukan waktu yang lama.
Karena... hati Dementria telah membeku.
TAMAT