Semua orang pasti punya impian. Begitupun dengan Ina dan temannya Isna. Ini adalah kisah mereka yang saling berbagi impian mereka.
Terik matahari, semilir angin dan suara yang dihasilkan oleh deru mesin motor dan mobil yang saling bersahutan. Ina dengan sepedanya melaju membelah jalanan yang cukup ramai. Sambil bersenandung dia mengayuh dengan semangat. Dengan ditemani sepedanya itu, ia pergi menuju ke rumah temannya Isna yang berjarak sekitar 3 KM dari rumahnya. Mereka berjanji akan kerja kelompok di rumah Rena bersama dengan Jani, Rima dan Hima. Ina berniat berangkat bersama dengan Isna karena setelah mereka kerja kelompok mereka akan mengerjakan kerajinan tangan bersama.
Setelah sampai di rumah Isna, Ina memberitahukan bahwa dia telah sampai melalui ponselnya. Isna pun keluar dan menyuruh Ina menaruh sepedanya di halaman dan pergi bersama menuju rumah Rena yang mesti ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menit. Saat di perjalanan Rena menghubungi Isna dan menyuruh mereka segera datang. Karena itu mereka pun memutuskan untuk menaiki angkutan umum dan menunggu di pinggir jalan.
Setelah sampai mereka pun mulai mengerjakan pekerjaan mereka, agar lebih singkat mereka pun membagi rata tugas mereka. Mereka mengerjakan dengan di selingi obrolan yang terus berlanjut tiada habisnya.
"Hei, kalian tahu tidak? Kak Dan bentar lagi mau mengikuti perlombaan melukis tingkat provinsi." Seru Rena sambil terus mengerjakan tugas.
"Kak Dan IPS 2 itu? Waahh... Hebat ya." Sahut Jani bersemangat
"Tentu saja. Kak Dan kan memang terkenal dengan tangannya yang berbakat. Ku dengar setelah lulus dia akan mengambil jurusan seni lukis di universitas di ibukota." Balas Hima tak mau kalah
Dengan wajah heran, Isna menyahut "Kau tahu dari mana Hima?"
Dengan cepat Rima membalas "Loh kamu tidak tahu, Is? Berita itu kan sedang banyak diperbincangkan"
"Ish Rima, seperti tidak tahu Isna saja. Dia kan di dalam kelas mulu kalau istirahat" Ledek Ina sambil tersenyum jahil pada Isna
Karena sebal Isna pun menyahut "Seperti kamu tidak begitu saja. Kita kan selalu bersama. Jika aku di dalam kelas, kamu pun di dalam kelas" Ina yang disindir seperti itu hanya tersenyum lebar menunjukkan giginya dan menggaruk kepalanya. Teman-teman yang lain hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Tentu saja karena hal yang diucapkan Isna benar. Mereka memang sudah seperti kembar, selalu bersama. Mereka tetap melanjutkan perbincangan sambil tetap mengerjakan bagian mereka.
★★★
Tugas yang seharusnya mampu dikerjakan selama tiga puluh menit, menjadi satu setengah jam karena diselingi obrolan khas remaja. Beberapa menit yang lalu, ibu dari Hima dan Rima menghubungi mereka menyuruh mereka segera pulang karena ayah mereka baru saja datang. Tentu saja mereka langsung pulang untungnya yang lain memaklumi. Karena memang ayah mereka kerja di laut lepas, tidak rutin pulang. Jadi saat pulang tentu saja mereka ingin menghabiskan waktu dengan ayah mereka.
Sekarang mereka (Rena, Jani, Isna, dan Ina) membereskan alat tulis yang tadi mereka gunakan. Saat membereskan ternyata ada buku Rima yang tertinggal. Mereka memutuskan untuk langsung memberikannya pada Rima. Sebenarnya buku Rima bisa saja ditaruh di rumah Rena, tetapi kalau tidak salah buku itu akan digunakan segera oleh Rima. Jadi mereka memutuskan untuk mengembalikannya. Awalnya semua memilih Jani untuk mengebalikan buku itu karena dia membawa sepeda motor, tetapi Jani beralasan dia memiliki kencan dengan seseorang. Yang langsung dijawab dengan kompak oleh yang mendengar "Kencan dengan tokoh dalam drama maksudmu?" Dan mereka semua tertawa terbahak bahak. Untunglah Isna mengusulkan agar dia dan Ina saja yang mengembalikannya. Ina sih setuju-setuju saja, hanya bukankah berarti mereka akan berjalan sampai ke rumah Rima dan Hima? Ternyata Isna memang sedang ingin jalan-jalan menyelusuri rumah-rumah. Ina yang memang sangat suka menjelajah tentu setuju.
Rumah Rima dan Hima berjarak sekitar 500 meter dari rumah Rena. Jika rumah Rena di pinggir jalan, maka rumah Rima dan Hima berada di dalam sebuah gang. Sambil berjalan tentu mereka tidak diam. Apalagi dengan kepribadian Ina yang selalu memiliki hal-hal untuk dibagi pada lawan bicaranya. Perjalanan mereka terasa ringan, mereka membicarakan mulai dari kakak kelas tampan atau pintar sampai kelakuan orang-orang yang mereka temui akhir-akhir ini. Tetapi tidak bisa dipungkiri terik matahari terasa di kulit untunglah hari ini matahari mengeluarkan cahaya panas yang bersahabat tidak menyengat.
Setelah menyelusuri rumah-rumah penduduk mereka sampai di depan rumah Rima dan Hima. Agar tidak menggangu acara kumpul keluarga, mereka memutuskan untuk menelpon Rima dan menyuruhnya untuk keluar. Rima keluar dan mangambil bukunya dan berterima kasih pada Isna dan Ina.
Rima masuk ke dalam rumah dan Isna Ina melangkah pulang. Mereka memutuskan untuk pulang melalui rumah-rumah di sana.
"Waahh... Jalannya bagus ya?" Seru Isna bersemangat setelah melihat jalan yang akan mereka lalui.
"Hem, tentu saja. Aku pernah ke sini bersama teman ku. Meski di pinggirnya adalah persawahan angin yang dihasilkan tidak menyengat kulit." Jelas Ina
"Padahal rumahku yang paling dekat dengan daerah ini, tetapi malah kamu yang pernah melewati jalan ini" Keluh Isna pada dirinya sendiri.
Melihat Isna tak bersemangat Ina pun mencoba memotivasi Isna "Hey, tak masalah. Bukankah yang penting sekarang kau di sini? Menikmati alam yang bebas dan indah ini. Dan mungkin kita bisa sedikit menjernihkan pikiran kita mencoba untuk santai dan melupakan tugas sekolah yang menggunung"
"Ya kau benar. Kita di sini untuk menghibur diri kita" Akhirnya Isna pun kembali semangat. "Ayo berfoto" lanjutnya sambil berhenti berjalan yang dijawab anggukkan oleh Ina
Mereka pun berfoto-foto ria. Sambil terus mengomentari sekeliling mereka. Puas berfoto mereka mulai melanjutkan perjalanan. Karena lelah berbicara mereka pun berjalan dalam diam. Mereka tentu menyadari diam ini tidaklah canggung justru tenang. Lalu tanpa mereka sadari kenangan tentang pertemanan mereka mulai muncul di ingatan mereka.
Tentang awal mereka bertemu. Menjadi teman sebangku. Lalu Isna yang awalnya agak pemalu atau Ina yang sering ceroboh. Tentang ketidakpercayaan diri Isna atau keegoisan Ina. Mereka menyadari meski terlalu banyak sifat buruk mereka yang terlihat, mereka tetap baik-baik saja. Mereka tetap berteman. Menyadari itu, bersamaan Isna dan Ina saling menghadap satu sama lain. Bagaikan tahu mereka memikirkan hal yang sama, mereka pun saling tersenyum. Dan mulai menceritakan apa yang mereka pikirkan. Yang ternyata adalah hal yang sama.
★★★
Di tengah perjalanan, mereka melihat sepetak tanah memanjang bertumbuhkan rumput liar.
Tiba-tiba Isna berucap "Hei tahu tidak? Bila melihat tanah kosong seperti ini aku selalu membayangkan ada apa di sana. Misalnya sebelah sana" sambil menunjuk tempat yang ia maksud Isna melanjutkan "Di sana ada sebuah pohon besar yang sangat rindang"
Lalu Ina pun melanjutkan "Dan di bawahnya ada bangku panjang untuk duduk-duduk."
"Hem benar dan di belakang pohon ada danau buatan." Balas Isna
Mereka saling lempar senyum karena pikiran mereka yang sejalan.
Lau Isna berkata "Kalau aku punya lahan kosong seperti ini, aku ingin membangun taman seperti di Korea. Kau tahu kan di pinggir rumahku ada lahan kosong ya kecil sih, tapi lumayanlah"
"Ah iya aku tahu, akan kamu apakan?"
"Nah jika aku punya uang cukup aku selalu ingin tanah itu diubah menjadi cafe kecil yang aku dekorasi sendiri atau menjadikannya sebuah ruang untuk berlatih dance. Kau tahu sendiri aku menyukai dance" jelas Isna
"Ya aku tahu. Kudo'akan impian itu tercapai." Ucap Ina "Aku juga selalu membayangkan jika nanti aku punya tanah yang luaaas... Sekali, aku akan membuat rumah impian. Rumah yang sederhana berlantai dua. Kalau bisa jauh dari jalan utama. Di sekelilingnya penuh dengan pepohonan. Di depan ada taman bunga. Di pinggirnya berjajar pohon buah-buahan. Dan di halaman belakang ada pohon besar yang di sana akan kubuat rumah pohon. Ada juga kursi taman dan lainnya. Oh iya aku juga ingin membangun toko bunga" lanjutnya panjang lebar.
Karena merasa banyak omong Ina pun meminta maaf dan bertanya hal yang sama pada Isna. Isna tentu tidak masalah dengan itu. Dia maklum memang sudah sifat Ina, orang berbicara atau bertanya satu kalimat Ina akan menjawab dua tiga paragraf. Isna tertawa setelahnya sedangkan Ina cemberut karena tahu apa yang Isna pikirkan.
"Kalau aku ingin rumah ditengah perkotaan, di sekeliling rumahku banyak toko-toko penjual segala yang kubutuhkan. Aku inginkan rumah yang luas agar aku bisa membangun ruang latihan dance dalam rumah. Di halaman depan terhampar luas rumput yang terjaga dan hanya terdapat dua air mancur kecil di kanan kiri jalan menuju pintu utama. Di halaman belakang aku ingin ada gazebo kecil untuk bersantai." Ucap Isna menjelaskan rumah impiannya.
Lalu mereka kompak menengadah menatap langit siang itu. Membayangkan rumah impian mereka masing-masing. Masing-masing dari mereka tahu impian itu masih jauh di depan. Tapi tentu mereka juga harus tahu mereka harus berjuang meraih mimpi mereka.
Sambil terus berjalan mereka saling berbagi impian masing-masing. Tentang Isna yang ingin pergi ke Korea dan mencoba makanan yang dia begitu inginkan. Ina yang ingin pergi ke Jerman dan menjelajahi seluruh kota di sana. Atau impian mereka mengunjungi seluruh kota di Negeri Indonesia tercinta dan mencicipi makanan daerah di daerahnya sendiri.
Di tengah pembicaraan, Ina berkata "Impian ini bisa terwujud jika kita sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan. Untuk mendapatkan pekerjaan kita harus lulus sekolah dan melanjutkan pendidikan. Oleh karena itu ayo terus semangat belajar dan gapai semua impian kita. Aku yakin jika kita bersungguh-sungguh tentu impian itu akan terwujud"
"Ya, ayo terus semangat dan gapai impian kita. Mungkin tak akan mudah, tapi aku tahu kita bisa" sahut Isna bersemangat
"Yosh, semangat buat kita" balas Ina tak kalah semangat
Perjalanan mereka masih panjang tapi dalam diri mereka terdapat tekad untuk terus berjuang memperjuangkan apa yang mereka inginkan di masa depan. Mungkin mereka akan jatuh tapi mereka harus melihat apa yang sudah mereka lalui untuk berada di titik itu. Mereka tahu mereka tidak bisa berhenti apa lagi memutar balik arah. Impian mereka sudah di hadapan mereka meski masih jauh, mereka tahu mereka akan sampai. Dengan tekad itu, Isna dan Ina melanjutkan langkah mereka dengan mantap.
Setelahnya perjalanan menuju rumah Isna diisi dengan candaan ringan ala Isna dan Ina. Tak lama dari itu, mereka sampai di rumah Isna. Tak mau membuang waktu mereka pun langsung mengerjakan kerajinan tangan mereka.
Mereka tidak mau terlalu serius mengerjakan karena nanti waktu kebersamaan mereka terasa singkat. Jadi sambil mengerjakan kadang diselingi memainkan Handphone atau mengobrol ringan.
Sambil menyodorkan Handphonenya Isna berseru "Ina lihat, Arey dan Rin pergi bersama dan Rin mempostingnya di sosial media. Pada akhirnya mereka mau mempublikasikan hubungan mereka"
"Wah iya benar. Yah semua orang sebenarnya pasti sudah tahu hubungan mereka dari kebersamaan mereka dan bagaimana mereka berinteraksi. Tapi mereka memang cocok sih. Pasti hampir semua orang setuju dengan hubungan mereka" balas Ina
"Sudahlah abaikan saja, ayo mulai mengerjakan lagi. Sudah jam segini" ucap Isna sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah ayo"
Mereka pun mulai serius mengerjakan. Tak lama pekerjaan mereka selesai. Karena sudah hampir sore, Ina berpamitan dan mengambil sepedanya. Ia mengungkapkan terima kasih dan sampai jumpa lalu mulai mengayuh sepedanya.
Di temani angin berhembus, Ina pun pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan ia memikirkan apa yang telah ia lalui hari ini. Dia bertekad untuk terus semangat. Ia harus bisa mewujudkan impiannya yang ia ucapkan pada Isna.
★★★
Ini bukanlah akhir dari cerita tapi ini adalah awal bagi Ina, Isna dan semua orang yang bermimpi memperjuangkan impian mereka.