Salju turun, seolah menutupi jejak yang telah di tinggalkan makhluk hidup. Musim dingin adalah musim yang di benci manusia. Itu kerana dingin membuat makhluk hidup bisa membeku hingga mati.
Belum lagi hewan yang tertidur panjang menyembunyikan diri hingga tidak ada yang bisa mendapatkan daging sebagai sumber makanan.
Semua orang berdoa, musim dingin akan cepat berlalu.
'Mengapa mereka sangat membenci ku?' Putri es, Liya, yang membawa musim dingin ke dunia bertanya sambil melihat semua manusia berdoa untuk dia cepat pergi.
Salju yang jatuh, terlihat indah, Liya tidak mengerti mengapa manusia dan makhluk lainnya membencinya.
"Liya." Tegur seorang pria dengan senyum hangat.
"Jauh jauh dari ku, Putra panas Adrian." Balas Liya dingin.
Adrian adalah pembawa musim panas, setelah musim bunga.
"Mengapa kamu sangat dingin!?" Rungut Adrian.
"Aku Putri es, tentu aja dingin g*blok. Kamu panas dan tidak cocok dengan ku." Ucap Liya ketika menjatuhkan salju halus ke bumi.
Adrian tersenyum ketika melihat salju yang indah, namun ketika dia memegangnya, salju itu langsung cair.
"Bagaimana khabar putra bunga, Roy dan putri gugur, Flora?" Soal Liya.
"Mereka baik dan sihat. Roy juga makin tampan loh...." Adrian menggoda Liya.
Wajah Liya yang selalu kaku sedikit merah.
"Aku percaya Flora semakin cantik." Balas Liya membuat wajah Adrian memerah.
"Dia selalu cantik, tentu saja!" Ucap Adrian membuang wajah.
Roy menatap Liya dari bunga di tangannya. Bunga yang tumbuh di tempat tinggal Liya bisa menjadi peninjaunya.
Senyuman terukir di wajahnya.
"Apa yang kamu senyumkan? Ini pasti tentang Liya." Flora menggoda.
"Siapa lagi yang bisa membuat ku tersenyum? Kamu? Heh." Balas Roy seolah merendahkan Flora.
Kemudian Roy melihat orang orang yang mengutuk musim dingin dengan tajam.
"Haruskah aku tidak muncul hingga mereka menyesal tidak menghargai musim dingin?" Gumam Roy terlihat menakutkan. Flora mengambil langkah mundur.
"Roy, kamu putra bunga, kamu seharusnya lembut...." Ucap Flora.
Roy tersenyum lalu bunga ros muncul di tangannya.
"Bunga terlihat lembut, tapi mereka menyakiti dalam diam. Tidak seperti salju yang sudah dingin dan menunjukkan bahwa dia bahaya. Setidaknya, mereka tahu bagaimana mereka mati, bukan?" Ucap Roy tersenyum lembut.
'Ngapain juga aku temenan sama dia ya?' Pikir Flora dan ingin pergi menemui Adriannya.
.
.
Hari dingin terus berlanjut, dan Liya terus di tusuk oleh kutukan dan doa untuk dia segera pergi.
Kerana penasaran mengapa banyak orang mengutuknya, untuk pertama kali, dia memberanikan dirinya untuk berubah menjadi manusia, dan mencari tahu.
.......
"Tantu saja aku membenci musim dingin! Anak ku mati kedinginan beberapa tahun lalu!" Jawab seorang bibi dan dengan kasar meninggalkan Liya.
"Aku sudah tua, dan musim dingin semakin dingin, aku takut aku tidak bisa bertahan tahun ini. Padahal cucu ku masih kecil, hah...." Keluh seorang pria tua.
"Musim dingin membuat kami demam! Dan beberapa teman ku mati kerana demam waktu musim dingin!" Ucap seorang anak kecil mengingat teman baiknya baru saja pergi.
Liya terdiam ketika mendengar itu.
'Aku tidak tahu itu.' Pikir Liya ketika matanya menjadi kosong.
'Aku merbahaya? Aku membuat orang mati? Apa aku, memang seharusnya ada?' Liya menatap kakinya yang berdiri di atas salju.
Lalu dia melihat pria, wanita, tua, muda, kaki mereka tenggelam ketika mereka menginjak salju, wajah mereka merah dan tubuh mereka menggigil kedinginan.
'Mengapa aku tidak, pernah tahu? Aku Putri es, es adalah mata ku, jadi mengapa?' Pikir Liya mula ketakutan.
Roy, berdiri di belakangnya, tersenyum.
"Liya, apa yang kamu lakukan?" Tegur Roy.
"Hik!" Liya Kaget langsung menatap melihat Roy.
"Mengapa kamu di sini? Ini belum waktunya musim bunga." Tanya Liya.
"Hanya ingin mengambil angin. Dan kamu?" Soal Roy kembali.
Liya memegang lengannya tidak menjawab.
"Roy, aku tidak pernah tahu kekuatan ku sudah membunuh banyak orang tidak bersalah. Apa musim dingin, itu memang perlu ada?" Soal Liya terdengar murung.
Kerana Liya tunduk, dia tidak melihat senyuman Roy yang memudar dan wajahnya terlihat menyeramkan.
"Apa yang kamu bilang? Jika tidak ada musim dingin, maka tidak akan ada musim bunga! Manusia hanya sedikit lemah, jadi mereka begitu mudah terbebani oleh cuaca dingin. Lihat beruang kutub dan lainnya, mereka baik baik saja di musim dingin." Pujuk Roy.
Liya menggerakkan kepalanya ke arah kuburan yang terlihat baru saja di timbus.
Bang!
Tiba tiba, pagar hancur dengan suara kuat. Ketika debu salju menghilang, 2 kawanan serigala dan 3 beruang kutub di sana.
"Apa yang!?" Teriak Liya kaget.
Roy membawa Liya ke dalam pelukannya, berlari pergi dan tidak akan melepaskannya.
"Kita harus pergi." Ucap Roy dingin.
"Tapi manusia itu!" Teriak Liya kembali.
"Mereka hanya manusia, apa yang harus kamu pedulikan?" Ucap Roy seolah dia membencinya.
Liya tidak percaya ketika mendengar itu.
"Roy, kamu kenapa!? Aku harus pergi!" Liya melepaskan pelukan Roy dan pergi ke arah desa.
Roy menatap tangannya yang mencoba menahan Liya.
'Mengapa kamu selalu bodoh, Liya?' Pikir Roy.
Liya berlari kembali ke desa, dan menatap situasi putus asa itu.
"Arrrggg!!!"
"Tidak! Anak ku, anak ku! lepaskan anak ku banjingan!"
"Tidak! Aku tidak mau mati!"
Teriakan putus asa ada di mana mana.
Liya menggertak giginya, dan mula memunculkan hujudnya yang asli.
Duri duri yang terbuat dari es muncul, dan mula bergerak membunuh para hewan yang menyerang manusia.
Tusk! Tusk! Chung!
Liya menutup matanya ketika duri duri esnya menusuk para hewan itu.
"Huh....." Keluh Liya ketika melihat hewan yang terbaring berdarah tidak bernyawa kerana duri esnya.
Dia berbalik, "Apa kalian baik.."
Chung!
Belati menusuk perutnya.
'Apa yang?'
Pandangan Liya kabur ketika melihat belati menusuk dirinya, dan melihat seorang paman yang berbicara dengannya tadi.
'Mengapa?' Soal Liya ketika air matanya mengalir.
Tangan paman itu bergetar, dia juga menangis.
"Salju membunuh seluruh keluarga ku! Aku tidak bisa memaafkannya!" Ucap paman itu.
Mahkota di kepala Liya jatuh.
Dia datang untuk membantu, tapi....
Semua orang di desa itu menatapnya dengan kebencian.
Belati di cabut, dan Liya terbaring di tanah. Para penduduk yang juga sedih akan kehilangan menjadi kesal dan marah, mula menginjak injak Liya.
'Apa aku, di benci, hingga tidak bisa di terima?' Liya memikirkan itu, ketika air mata dan darahnya berubah menjadi es.
"Mati saja kau banjingan!"
"Kerana mu anak ku mati!"
"Kamu pantas mati!"
Suara kutukan dari orang yang dia selamatkan membuat hati Liya semakin hancur.
'Apa aku, sebegitunya tidak di inginni di dunia ini?' Pikir Liya ketika cahaya di matanya semakin redup.
'Jika aku mati di sini, aku tidak ingin menjadi Putri es lagi.'
Dengan keinginan terakhir Liya, hanya meninggalkan mahkotanya, dia bersatu dengan es, yang kemudian mencair.
Semua orang bersorak ketika ais mencair.
Malam itu, mereka merayakan cairnya es, ketika Roy kembali mengambil mahkota milik Liya.
'Ini yang ke 200.' Pikir Roy.
'Sudah 200 kali aku gagal membuat mu diam bersama ku. Mengapa manusia begitu penting bagi mu? Padahal aku sudah melakukan yang terbaik supaya kamu tidak tahu dingin itu bisa membunuh.' Pikir Roy ketika menatap langit, air matanya mula jatuh.
Lalu menatap manusia yang bersenang senang kerana cairnya es dengan penuh kebencian.
'Manusia bodoh. Mengapa salju itu ada untuk kebaikan kalian juga. Jika salju tidak ada, paras air laut akan meningkat, dan banyak hewan musim dingin kehilangan tempat tinggalnya. Thunami akan segera datang.'
Roy berjalan pergi ketika air laut mendadak surut.
"Aku akan menunggu mu, Liya. Dan waktu itu, aku pasti membuat mu membenci manusia." Ucap Roy ketika mencium mahkota yang di tinggalkan Liya.
Tidak akan ada musim bunga jika tidak ada musim dingin.
"Bagaimana kita berkerja jika mereka absen?" Soal Adrian.
"Ini pertama kali juga Liya pergi tanpa meninggalkan kekuatannya. Dia pasti sangat sakit kali ini. Manusia benar benar bodoh." Ucap Flora kasihan dengan takdir Liya.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan ketika itu memang takdirnya untuk mati setiap kali dia bangkit.
Itu kutukan yang di pegang Liya kerana dirinya yang pertama dengan sengaja menyakiti manusia. Namun diri kedua Liya menjadi seseorang yang baik tanpa mereka tahu penyebabnya.
Roy mencintai Liya sejak kehidupan pertamanya, mencoba membuat Liya sekali lagi membenci manusia, namun semuanya gagal. Alasan Liya menyakiti manusia kerana mereka selalu memberikan kata kata kasar padanya, dan Liya berbuat seperti itu membuat mereka sebenarnya senang dari Liya yang hanya diam ketika di caci maki.
.
.
.
Mungkin, inilah awal mula mengapa ada beberapa daerah di dunia ini memiliki iklim tropis.
.
.
.
.
.
~Tamat~
Hati: Mengapa cerpen mu selalu bad ending?
Otak: Diam lu, biarin aja deh. Ku yang mikir, lelah tauk!
Aku: Kerana jika kita buat happy ending, aku mau lanjut! Jadi biar bad aja 😂
Baik, jika kalian suka, like dan komen ya! Makasih udah baca! Tata 👋