Game, Setelah diputuskan oleh pacarku (pria), aku menjadi Bos nya(wanita)
Masih kuingat jelas kalimat terakhirnya kala itu. Ia memutuskan hubungan sepihak tanpa alasan yang jelas padaku.
"Aku sudah tidak mencintaimu, Alma," ucap pemuda itu dengan gampangnya. Dia adalah Mas Roy. Kami menjalin hubungan sekitar tiga tahun lamanya.
Siapa yang terima di perlakukan demikian olehnya secara sepihak. Padahal, aku begitu mencintai dirinya.
Ia juga berjanji akan menikahiku apa pun alasannya. Nyatanya hari ini aku mendengar langsung dari mulutnya. Bahwa Ia sudah mengingkari janji itu.
"Kenapa kamu tega, Mas? Apa kesalahan yang sudah kuperbuat hingga kamu tega melakukan ini?" kataku marah. Sakit hati dan terluka mengiris relung hatiku.
"Aku tidak bisa menikah denganmu karena kedua orang tuaku tak setuju, mereka sudah menjodohkanku dengan perempuan lain."
Deg, bagai dihantam batu karang perasaanku Mendengar ucapan, Mas Roy.
"Aku mohon jangan begini, Mas. Aku tidak bisa berpisah darimu," melas ku seraya berlutut.
Pyur!
Seorang perempuan seusiaku tiba-tiba datang dan menyiramkan air ke wajahku.
"Sadar dong, kamu itu hanyalah perempuan miskin yang tak punya apa-apa! Hidup saja mengharap belas kasihan orang lain. Kamu ngaca dulu jika ingin menjadi pacar pengusaha hebat seperti Mas Roy!"
"Ya, dialah Rossa. Perempuan yang menjadi pilihan kedua orang tua Mas Roy. Dia memang cantik, modis dan punya segalanya.
Sedang aku, aku hanya anak dari orang tua yang melarat. Ibuku meninggal saat aku masih kecil dan sekarang aku hidup bersama Ayahku yang sering sakit-sakitan.
"Al, kamu cari saja laki-laki lain. Kurasa kita memang tidak ada kecocokan," ujar Mas Roy menatap kearahku. Mungkin sudah tak ada lagi cinta yang tersisa di hati nya untukku.
Tiga tahun bukanlah sesuatu yang singkat, tentu butuh waktu untuk memutuskan aku jika Mas Roy memang mencintai diriku.
Ku lihat Rossa memeluk Mas Roy di hadapanku tapi pria itu sama sekali tidak menolak.
Aku tersenyum kecut kearah mereka. Kuangkat lutut yang semula mencium tanah.
"Baiklah, Mas. Jika itu keinginanmu. Aku akan pergi untuk selamanya," ujarku kelu.
Kuseka air mata yang mengalir dipipi, mungkin sudah bisa di artikan seperti sungai yang bendungan nya hancur di terpa gelombang air.
Lama memandang dalam diam. Aku melihat mereka pergi dari hadapanku. Sakit hati ini tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
"Kamu tega, Mas. Aku bersumpah akan membalas rasa sakit hatiku akan tindakanmu," gumamku dalam hati.
Dua tahun aku melewati fase panjang. Mencari pekerjaan di tolak, dihina bahkan di lempari telur sudah aku alami.
Begitu kejam nya dunia terhadap hidupku. Namun, aku tak berhenti sampai disitu. Aku harus bangkit dan melanjutkan hidupku.
Sampai suatu ketika aku di pertemukan dengan seorang lelaki tua yang tengah sekarat di tepi jalan. Aku membantu membawa beliau kerumah sakit.
Alhamdulilah kesehatannya membaik, sejak saat itu. Dia selalu berbuat baik kepadaku. Memberikan apa pun yang aku butuhkan.
Namun, sayang. Dua bulan yang lalu, Allah menjemputnya akibat kecelakaan yang sangat parah.
Beliau yang hanya hidup sebatang kara menyerahkan sebagian harta beliau kepadaku.
Kukelola uang itu sebaik mungkin.
Dengan Kerja keras dan tekat yang bulat aku akhirnya berhasil mendirikan perusahaan property yang lumayan terkenal di tanah air.
Usaha tak menghianati hasil. Yah, aku kini mampu membeli apa yang kumau. Bahkan aku bisa memberi kan pengobatan terbaik untuk Ayahku meski Beliau belum sepenuhnya sembuh.
Di kursi kebesaranku, aku memegang beberapa daftar calon pegawai baru. Kuperiksa satu persatu foto yang tercetak di surat permohonan pekerjaan itu.
Kedua bola mataku membulat indah. Salah satu orang dalam foto itu begitu kukenal. Bahkan sampai detik ini, aku tidak akan melupakan wajah pria itu.
Lekas kutelpon bagian HRD, aku meminta orang itu menghadap kepadaku sekarang juga.
Inilah saat nya kutunjukkan pada lelaki itu, siapa aku sebenarnya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" perintahku. Kutahan hati yang menggelora panas. Ingin kumaki pemuda itu habis-habisan tapi tidak sekarang. Belum waktunya begitu pikirku.
Pemuda lusuh di balut pakaian seadanya tanpa di setrika sama sekali, masuk dan berdiri sambil menundukkan kepala di hadapanku.
Heh, aku mengulum tawa menyaksikan keadaanya. "Dunia ini berputar, Mas," ucapku dalam hati.
Aku membuka lagi map atas nama dirinya, pura-pura kalau aku tidak mengenal dirinya.
"Siapa namamu?" tanyaku tegas.
"Roy Mahendra," jawabnya sayu.
Astaga, lembek sekali suaranya. Tak kusangka Ia berubah sedrartis ini. Biasanya wewangian bertebaran dari tubuhnya tapi kali ini hanya bau amis yang masuk dalam Indra penciumanku.
Aku menopang dagu, menikmati penampilannya dari atas sampai bawah. Rambutnya sedikit kusut bisa jadi dia tidak menyisir rambutnya.
"Punya pengalaman kerja?" tanyaku lagi.
"Dulu, aku adalah direktur di perusahan minyak kelapa sawit," jawabnya.
"O ya? kenapa sekarang mau kerja disini?" aku terus mendekte dirinya sesukaku.
"Setelah menikah dengan istriku, perusahaanku hancur. Dia suka menghambur-hamburkan uang," jelasnya.
"Cih, apa peduliku. Hukum karma berlaku untukmu," decihku pelan.
"Oh, malang sekali nasibmu. Istrimu tidak mencintai kamu ya?" tanyaku lagi.
"Iya, setelah aku miskin dia selingkuh, Bu," jawabnya sedih. Kutangkap raut wajah yang tak bersahabat di sana.
Betah sekali dia menunduk sejak tadi. Apa dia tidak mengenali suaraku dan berharap memandangku. Atau karena dia memang tengah menghormati diriku.
Aku pun mengitari meja dan melangkah mendekatinya.
"Jika kau ingin bekerja di sini, ada syarat-syarat yang harus kau patuhi, apa kau sanggup?" hem, dia anak Mama. Aku tidak yakin akan kemampuannya.
"Sanggup, Bu," jawabnya sangat yakin.
"Sungguh, tapi sayangnya perusahaan ini sudah penuh. Tidak ada lowongan yang cocok untukmu," tutur kuparah.
"Aku mau bekerja apa pun, Bu. Tolong kasih aku pekerjaan," ucapnya memelas.
Tentu saja akan kuberi, tapi tak semudah yang kau bayangkan, Mas.
"Baiklah, kamu bisa bekerja sebagai OB disini, apa kau mau?" Tanyaku pada nya.
"Iya, Bu. Saya mau."
Astaga, aku tak percaya dirinya bisa seyakin itu.
"Baiklah, jika itu kemauanmu. Setiap harinya kamu harus sudah sampai di kantor sebelum pegawai kantor datang, karena kantor ini harus sudah bersih. Siapa pun yang ingin di buatkan koffe, jangan pernah menolak," ujar ku lantang.
"Baik, Bu," jawabnya ringan.
Aku ingin membuktikan langsung seberapa sanggup Ia bertahan di kantor baruku ini.
"Baiklah buatkan koffe aku sekarang, satu setengah gula dan satu sendok koffe. Ingat baik-baik takaran ini karena aku tidak akan mengulanginya!" kataku culas dan puas.
"Baik, Bu."
Ku lihat Mas Roy bergegas keluar, lagi-lagi tidak berniat sedikit pun mau menatap wajahku. Okey, aku akan menunggu nya kali ini.
Aku pun duduk kembali di atas kursiku, penantian ini akhirnya tiba juga.
Tak berapa lama Ia kembali dengan secangkir koffe yang kuminta.
"Ini, Bu. Koffe nya," ucapnya sopan.
"Thank you," jawabku seraya meraih gelas koffe itu dan menyeruputnya.
Pyur!
Aku memuntahkan isi koffe itu di depan matanya.
"Koffe apa ini? kok rasanya sangat pahit," protesku marah. Sengaja aku begitu, agar Ia memandang wajahku.
"Maaf, Bu. Maaf," ucapnya memelas seraya mengangkat kepala.
Yes, dia akhirnya membuka matanya yang tertutup itu.
"A_ Alma...?"
****TAMAT****