Terlihat seorang gadis muda tengah berjalan di jalanan yang sepi dengan menangis tersedu-sedu
Alasannya menangis karena ia baru saja dikhianati sekaligus ditinggalkan oleh kekasihnya, sehabis pulang bekerja tadi niatnya ia ingin memberikan suprise kepada kekasihnya dengan dia yang diam-diam datang ke apartemen milik kekasihnya.
Namun alangkah terkejutnya saat ia sudah membuka pintu apartemen milik kekasihnya, suara desahan serta erangan memenuhi apartemen yang sunyi itu.
Gadis itupun langsung memaki serta tak lupa juga tamparan ia layangkan kepada kekasihnya serta jambakan yang sangat keras ia berikan kepada selingkuhannya.
Karena ketahuan selingkuh, sang kekasih pun lebih membela selingkuhannya ketimbang dirinya dan berakhirlah ia yang ditinggalkan begitu saja.
Tanpa berpikir panjang ia langsung memutuskan hubungan mereka. Sakit hati karena ditinggalkan oleh sang kekasih membuat ia menjadi dendam dengannya.
Kembali lagi pada keadaan sekarang, gadis itu terlihat menyedihkan dengan riasan wajah yang sudah luntur akibat kelamaan menangis.
Di tengah-tengah kesunyian jalanan ini, terdengar seseorang memanggil namanya. "Lily, my mate!"
Lily pun spontan berhenti berjalan dan menengok ke arah belakang.
Dapat ia lihat seorang pria dengan tubuh proposionalnya sedang berlari ke arahnya.
Saat ia sudah berada di hadapan Lily, ia langsung merengkuh tubuh lemah itu.
Lily yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja tidak menolak, walaupun pria ini tidak ia kenal, tetapi pelukannya sangat nyaman apalagi saat ini ia sedang membutuhkan tempat untuk bersandar.
Lily balas memeluk pria itu dengan tangisan yang tak bisa ia tahan lagi.
"Hikss.. Hiks.. Kenapa mereka jahat sama aku? Apa salahku hingga dia mengkhianatiku? Kenapa?!" Curhatnya pada pria itu
"Cup.. Kamu jangan sedih lagi ya my mate, sekarang ada aku yang akan menggantikan posisi mantanmu itu." Ujar pria asing itu seraya mengelus rambut Lily lembut
"Mate, maukah kamu ikut denganku? Kita akan bahagia di tempat tinggalku. Kamu akan dihargai serta dijunjung disana. Mau yaa?" Ujarnya memelas
"Untuk apa aku pergi ke tempat tinggalmu? Kita tidak saling mengenal." Ujar Lily yang kini keadaannya sudah sedikit tenang
"Kamu mate ku Lily! Sudah seharusnya kamu tinggal bersamaku dan menjadi lunaku."
"Apa itu mate dan luna?" Tanya Lily bingung
"Aku akan menjelaskan di mobil." Setelahnya ia membawa Lily menuju supercar miliknya.
"Cepat jelaskan padaku apa itu mate dan luna! Dan jelaskan kemana kamu akan membawaku!"
"Baiklah, pertama-tama apakah kamu percaya jika werewolf itu nyata?" Tanya pria itu
"Entahlah, aku pernah mendengar mitos jika di kota ini terdapat makhluk yang aku yakini itu sebagai makhluk mitologi."
"Kenapa kamu berpikir begitu? Dan bagaimana jika werewolf itu sebenarnya ada?"
"Karena tidak mungkin ia masih hidup sampai zaman modern begini, kalaupun ada mungkin aku akan sangat terkejut dibuatnya."
"Werewolf itu memang ada, dan aku salah satunya. " Ucapnya tiba-tiba membuatku terkejut bukan main
Okey, bibir Lily rasanya kelu untuk berbicara. Ia sangat terkejut atas pernyataan pria yang sedang menyetir itu.
"Dan mate adalah pasangan abadi yang dimiliki tiap werewolf sedangkan luna adalah pasangan dari seorang alpha."
"Dan alpha adalah-"
"Sudah cukup, aku sudah tahu tentang hal itu. Aku hanya ragu mate yang kutahu beda dengan mate yang kamu maksud."
"Jadi kita akan kemana?"
"Kita akan ke pack ku, dan tak lama lagi kamu akan menjadi ratu untuk mereka."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Lily
"Tentu saja, kamu ingin menanyakan tentang apa sayang?"
"Apa kamu sayang padaku?"
"Tentu saja."
"Jika aku ingin meminta bantuanmu, apakah kamu ingin membantunya?"
"Tentu saja, apapun keinginanmu akan aku turuti sekalipun kamu ingin meminta nyawaku."
"Bisakah kamu membantuku untuk membalaskan dendam kepada mantanku?"
"Tentu saja bisa, jadi rencana apa yang ingin kamu jalani? Aku akan membantunya."
"Sejujurnya aku tidak mempunyai rencana apa-apa."
"Apakah kamu punya saran?"
"Balas dendam yang sempurna adalah dengan menjadi lebih dari yang mereka miliki. Bagaimana jika kamu menjadi boss ditempatnya bekerja? Dengan begitu kamu bisa membalas dendam sesuka hatimu."
"Ah kamu pintar sekali-"
"Namaku Axelle."
"Jadi Axelle, bisakah kamu membantuku untuk menjadi boss di tempat mantanku bekerja?"
"Itu sangat mudah bagiku, tetapi itu tidak gratis. Ada imbalan yang harus dibayar,"
"Memangnya kau ingin meminta bayaran apa dariku?"
"Jadilah milikku dan tinggalah bersamaku."
"Hanya itu saja?"
"Iya, memangnya kamu pikir aku akan meminta apa?"
Seketika pipi Lily besemu merah seperti kepiting rebus.
"Sudahlah, kamu fokus saja menyetir." Ujar Lily seraya mengalihkan pandangannya
***
Keesokan harinya saat Lily membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah tangan kekar seseorang yang sedang memeluk pinggangnya erat
Setelah bersiap-siap, sesuai janji pria itu ia akan membawanya menuju restoran tempat dimana mantan kekasihnya bekerja dan akan menjadikan ia sebagai pemiliknya untuk membalaskan dendam Lily terhadap mantannya itu.
Sesampainya di tempat tujuan, Axelle tidak bisa menemani Lily ke dalam karena ia ada urusan mendadak dan terpaksa Lily harus turun sendiri.
Sedari turun dari mobil, raut wajah Lily langsung berubah 180° dari yang tadinya seperti gadis polos baik-baik, berubah menjadi gadis yang tegas nan dingin dengan tatapan mata yang sayu dan juga tajam.
Setelah perkenalan singkat bersama para karyawannya, ia melangkah menuju ruang ganti karyawan untuk menemui mantannya. Sedari ia memperkenalkan diri, ia tidak menemukan kehadiran mantannya, dan ternyata mantannya itu hanya menatap ia dari balik pintu ruang ganti tanpa berani keluar.
Lily memasuki ruang ganti karyawan dan segera menutup pintunya. Dapat ia lihat wajah Brent-mantannya yang saat ini wajahnya sudah pucat pasi.
"M-mau a-apa k-kau L-lily?" Ujarnya gugup
"Dimana sopan santunmu Brent? Aku ini sudah resmi menjadi bossmu. Tidakah kamu ingin menyapaku?"
"Melihat wajahmu yang seperti mayat hidup itu sudah memberitahuku bahwa kamu sama sekali tidak menduga jika aku yang akan menjadi boss barumu kan?"
"Santai saja Brent, aku tidak ingin menyakiti fisik mu. Aku hanya ingin menyakiti mentalmu." Ujarku seraya terkekeh ringan
"Dasar wanita gila! kejam! tidak berperasaan!" Ujar Brent memakiku
"Ohoho, lihatlah seorang karyawan kini sedang memaki bossnya tepat di depan wajahnya."
"Brent, Brent. Tidakah kau mengaca? Lihatlah siapa yang berperan sebagai antagonis disini? Kau atau aku?"
"Sudahlah aku bosan melihat wajahmu yang jelek itu, aku kesini hanya ingin mengucapkan selamat datang di neraka dunia wahai mantanku." Ujarku sembari memberikan senyuman termanisku
Setelahnya Lily pergi meninggalkan Brent yang terdiam mematung di tempatnya berdiri.
"Selamat menikmati hidup barumu Brent." Ucap Lily membatin seraya tersenyum miring
Setelah berbincang dengan Brent, Lily mulai berpikir jika dirinya cocok untuk menjadi antagonis.
-Tamat-