Istilah pelakor akhir - akhir ini begitu marak terdengar. Makna nya pun ngeri ngeri sedap " Perebut Laki Orang". Dari artinya sudah bisa di pastikan bahwa istilah ini di khususkan untuk kaum hawa yang mengambil atau merebut seorang laki laki dari perempuan lain. Bagaimana untuk laki laki yang merebut istri orang..? Maka istilahnya jadi " Pebinor" alias Perebut Bini Orang bla... bla...bla..... Sekilas ku baca kabar yang mampir ke beranda media sosial ku. Tak sempat ku baca semuanya karena aku takut baper....
Buru - buru ku tutup hapeku ketika ku dengar sapaan halus memanggil namaku.
" Ayo pulang bareng Dek Siti"
Aku tersenyum seraya mengendalikan hatiku yang dag dig dug tak karuan. Maklum ... diajak pulang oleh seseorang yang selama ini diam diam menarik perhatianku.
" Terimakasih Mas. Siti bareng sama Mbk Atun"
" Oh Ya udah. Mas duluan ya..."
" Ya Mas, hati - hati"
Aku bernafas lega ketika sosok laki - laki itu sudah pergi mengendarai motornya. Ku tatap punggungnya dari jauh. Deg...hatiku berdegup kencang... nyesel aku nolak tawarannya tadi. Ah .... cewek memang pandai menyembunyikan perasaan....
Namanya Satriyo. Senior di tempat kerjaku di salah satu perusahaan di area industri Batam.
Entah mengapa aku merasa ada perasaan lain begitu mengenalnya. Beda dengan teman - teman lainya. Tatap matanya yang tak biasa.... gesturnya seolah olah memberiku kesejukan. Seperti es di gurun pasir. Cessss....
Mbk Atun, rekan seangkatan ku menepuk bahuku. "Ayo pulang" katanya sambil membetulkan helmnya. Aku segera naik ke motor metik Mbak Atun. Sepanjang jalan kami ngobrol banyak tentang kerjaan kami hari ini. Tapi pikiranku melayang entah kemana.... Melayang di udara menembus atmosfir dan ionosfer....
Aku dan Mbak Atun selain rekan satu kerja juga rekan satu kos. Kami sama - sama menempati sebuah rumah kos dekat dengan tempat kami bekerja. Dengan jarak kurang lebih 15 menit menggunakan motor. Sengaja kami mengambil satu rumah dengan dua kamar, bukan satu kamar berdua. Berjaga - jaga kalo ada kawan atau saudara yang datang.
Aku dan Mbk Atun baru satu tahun ini bekerja di perusahaan tempat kami bekerja sekarang. Kami sama - sama berasal dari luar Batam. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Usia Mbk Atun 5 tahun di atasku.
Menjalani rutinitas yang sama setiap hari terasa sangat membosankan. Bayangkan... kita berada di satu ruangan dengan orang yang sama dan kegiatan yang sama setiap hari. Tapi mengingat kebutuhan yang harus dipenuhi kita harus mengusir rasa bosan itu dengan kegiatan hiburan lain. Aku masih mempunyai tanggungan 2 adik yang masih sekolah. Masing - masing SMP dan SMA. Orang tua ku sudah cukup tua untuk memikul beban itu. Aku sebagai anak pertama harus mengambil alih.
Akhirnya hari yang dinanti tiba.... Yeay.... Hari Sabtu datang. Artinya libur kerja. Libur bertemu orang - orang itu. Libur melakukan pekerjaan itu. Libur melewati jalan itu. Dan libur - libur yang lain.
Di tempatku bekerja hanya sampai hari Jum'at saja. libur 2 hari cukup untuk me refresh otak dan badan. Sabtu adalah me time ku. Me time dengan aneka pekerjaan rumah. Cuci baju, menyetrika, mengepel.... Cukup menguras tenaga. Me time versiku adalah rebahan, scroll hape ke atas ke bawah, ke kanan ke kiri. Mendengarkan musik, nonton tivi tanpa ada gangguan, iklan dan lain sebagainya.... ah it is a beautiful day..
Sabtu malam Minggu bukan hari yang spesial buatku. Sama saja. Karena aku jomblo. Tak ada acara nonton. Tidak ada yang apel. Tak ada dinner. Paling banter aku jalan - jalan ke mini market depan kos. Beli eskrim dan beberapa cemilan. Itu pun sendiri. Karena Mbk Atun biasanya keluar bareng pacarnya.... Jones.... jomblo ngenes kata anak - anak jaman now. Tapi aku sangat menikmati kesendirian ini dengan tabah dan lapang dada.
Tiba tiba hapeku berbunyi. Sebuah pesan lewat WA masuk
"Assalamualaikum Dek Siti. Ini Satriyo
Kebetulan lewat kos. Mau mampir. "
Deg.... hatiku langsung berdebar tak karuan. Sengaja nggak langsung kubalas. Bingung mau jawab apa. Kutengok jam. Masih jam delapan. Aku ragu mau menjawabnya. Untung centang biru kumatikan. Jadi tak ketahuan sudah ku baca atau belum.
Tiba - tiba Mbak Atun memanggilku dari ruang tamu
" Siti..... ada yang nyari tu"
" Siapa Mbk" tanyaku sambil keluar kamar menghampiri Mbk Atun
" Satriyo "
Hah.... kok cepat sekali sampai sini batinku. Aku tambah gelisah.
" Suruh masuk saja mbk. Aku pakai jilbab dulu ya"
" Oke. Jangan lama - lama"
Buru - buru aku masuk ke kamarku. Kupakai jilbab warna hitamku. Mengganti baju tidurku dengan rok hitam dan kaos panjang putih. Hitam putih... seperti mau melamar kerja.. it's oke lah. I like it. Ku oleskan bedak tipis - tipis agar tampak lebih segar. Sebelum keluar kamar ku tarik nafas dalam dalam. Kulepaskan pelan - pelan lewat bawah. Tuuut ... tuut..... Sungguh aku sangat grogi....
Di ruang tamu ku lihat Mas Satriyo sedang ngobrol dengan Mbk Siti. Begitu melihatku Mas Satriyo tersenyum. Its make me melting...
Aku duduk di samping Mbk Siti. Berhadapan dengan Mas Satriyo.
" Ga keluar Dek" tanyanya dengan memamerkan senyum manisnya
" Ga Mas. Ga ada yang ngajak." aku menjawab sembari terkekeh menyembunyikan kegugupanku
" Siti orang rumahan. Kalo dia keluar malah bahaya" Mbk Atun menimpali sambil tertawa kecil.
" Sat, ku tinggal dulu ya. Mau nelpon orang tua di kampung" lanjut Mbak Atun
Sepeninggal Mbak Atun aku berusaha mengontrol ke grogianku. Sambil basa basi ku tawari minuman kaleng dan makanan ringan yang sudah tersedia di meja. Kami ngobrol banyak hal. Dari kerjaan sampai keluarga. Sesekali mata kita bertemu. Aku pura - pura mengucek mata yang tidak gatal. Ku cari - cari tai mata di sana. Bah .... tak kutemukan pula. Itu kan bisa memanipulasi bahwa aku sebenarnya gugup. Akhirnya sasaran berikutnya adalah kacang kulit yang ada di meja. Kumakan sekalian kulitnya. Biar nampak sangar. Mas Satriyo tak mau kalah. Tiga kaleng minuman dia habiskan sendiri. Apakah sebenarnya dia juga gugup bertemu denganku. Entahlah.. Itu masih menjadi misteri sampai saat ini...
Aku berusaha menghindari kontak mata dengannya. Takut terbuai..... takut terlena. Ternyata Mas Satriyo orang nya asyik diajak ngobrol. Berpikiran luas dan nyambung. Nah itu poinnya.... nyambung menyambung menjadi satu
Setelah hari itu hubungan kami semakin dekat. Mas Satriyo sering ke kos. Tak jarang dia mengantar dan menjemputku kerja. Atau sekedar makan di luar. Perasaanku semakin jauh padanya. Tapi tak ada obrolan Mas Satriyo yang menjurus ke arah serius. Sepertinya dia masih menganggapku adik atau sekedar teman ngobrolnya. Teman tapi mesra. Begitulah kira - kita hubungan kami saat ini.
Pernah Mbak Atun bertanya padaku tentang hubungan kami
" Kalian pacaran ya" tanya Mbak Atun di suatu sore.
" Nggak Mbak. Kami simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan" jawab ku
" Hah... Hubungan macam apa itu Sit. Ada - ada saja kamu ini" Mbak Atun setengah tak percaya dengan jawabanku. Dia menatapku.
" Kamu suka sama dia Sit? " Hati - hati Mbak Atun bertanya. Mungkin takut aku tersinggung. Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Sulit untuk memungkiri bahwa sebenarnya aku punya perasaan itu.
" Mau tau atau mau tau banget" jawabku. Berusaha menyembunyikan perasaan ku yang sebenarnya. Padahal sebenarnya mau ku jawab " bangeeeet Mbak"
Mendengar jawabanku Mbak Atun hanya tertawa. Aku pun tak ingin menjawabnya saat ini. Biarlah ... waktu yang berbicara.
Sore itu, Mas Satriyo mengantarku pulang. Kebetulan kami pulang agak cepat. Mbk Atun di jemput Mas Wahyu. Calon suaminya. Ku selalu berdoa untuk kebaikan mereka berdua.
Mas Satriyo mengajakku makan bebek bakar kesukaannya. Aku termasuk cewek yang kalau diajak makan tak pernah jaim dengan tidak menghabiskan makanan. Pasti piringku bersih sampai ke akar - akarnya. Bagiku dengan menyisakan banyak makanan hanya demi menjaga image di depan cowok yang kita sukai adalah sebuah kemubadziran. Malu.... nggaklah. Kan aku pakai baju.
Kami ngobrol dari A sampai Z dan balik ke A lagi. Entahlah... kami seperti tak pernah kehabisan topik ngobrol.
Selesai makan kami pulang. Sepanjang perjalanan kami melanjutkan obrolan kami. Sesekali ku tabok pundaknya jika dia sengaja menambah kecepatan motornya alias ngebut. Jujur aku trauma dengan kebut mengebut. Dulu aku pernah jatuh dan mengakibatkan tulang kakiku sakit sampai saat ini.
Ku rasa Mas Satriyo sengaja melakukan nya. Soalnya tiap kali ku tabok dia tertawa lebar. Bahagia sekali kelihatan nya.
Suasana sore yang syahdu menambah teduhnya perasaan ini. Ingin rasanya ku peluk tubuhnya dari belakang. Aroma parfum yang tercium bersama hembusan angin semakin membuat ku melayang. Tapi apalah daya, dia bukan apa - apaku. Kami belum punya ikatan apa - apa. Sebatas hubungan tanpa status. Dekat tapi belum ada ikatan.
Sampai di kos, suasana masih sepi. Mbak Atun belum pulang rupanya. Turun dari motor aku tak menawari Mas Satriyo masuk. Takut Mas Satriyo nya mau. Khawatir terjadi fitnah karena di rumah hanya kami berdua.
" Terimakasih Mas" ucapku. "Ga usah masuk ya. Mbak Atun belum pulang. Tak enak sama tetangga" sambungku karena melihat dia tak jua berlalu
Mas Satriyo menatapku sebentar sambil menghisap rokok yang tinggal setengah. Sepertinya ada yang ingin disampaikan.
" Dek.... mulai besok aku cuti kerja 2 minggu. Ada keperluan di kampung"
" Hah.. " aku kaget. Karena selama ini dia tak pernah cerita mau pulang kampung.
" Kok mendadak Mas. Acara apa" tanyaku penasaran
" Bapak dan ibu katanya kangen sama aku. Mumpung cutiku masih ada. Dah lama juga mas ga pulang kampung" Mas Satriyo menjelaskan
" Perlu diantar ke bandara tak" aku mencoba menawarkan bantuan
" Ga usah. Mas sudah pesan travel. Lagian besok Dek Siti kerja kan" katanya. Dibuangnya rokok yang tinggal sedikit itu. Asap terakhir dihembuskannya ke wajahku.
" Biar Dek Siti tetap ingat Mas" Mas Satriyo menggodaku . Aku tersipu dan GeEr dibuatnya. Kurasa mukaku memerah. Salah tingkah tapi bahagia...
" oh.. oke lah kalo begitu. Hati - hati di jalan. Salam buat orang tua dan saudara di kampung ya" tak kutanggapi godaannya.
Mas Satriyo mengulurkan tangan berpamitan. Tumben dia seperti ini. Mungkin karena akan pergi lama. Kusambut uluran tangannya. Digenggamnya tanganku. Matanya lembut menatapku. Lama kami bertatapan. Hatiku rasanya tak karuan. Bergetar, berdebar dan bercampur aduk. Ya Tuhaaan.... aku benar - benar tersiksa dengan perasaan ini. Aku yakin Mas Satriyo pun merasakan hal yang sama. Lama dia terdiam. Mata kami beradu. Jantungku berdetak kencang. Kurasakan genggamannya makin erat. Kami hanya diam
" Jaga diri baik - baik ya" suaranya memecahkan keheningan. Aku tak menjawab. Dilepaskannya tanganku.
" Mas pulang dulu" katanya sambil merapikan jaket dan bersiap siap menghidupkan motornya. Dia masih sempat menyalakan sebatang rokok. Menghisap nya pelan - pelan.
Aku menatap kepergiannya bersama deru mesin membelah jalanan.
Semalaman aku tak bisa tidur. Bayangan sore itu itu masih terekam jelas di otakku.
Dua minggu Mas Satriyo pulang kampung kami masih berkomunikasi. Kami masih banyak bercerita tentang banyak hal. Cukuplah untuk mengobati rindu ku. Sesekali kami bercerita masalah keluarga atau masalah yang sedang ramai dibicarakan. Sayangnya kami tak pernah cerita tentang pribadi. Bener - bener hubungan tanpa status..
Hari Minggu yang ku nanti tiba. Mbak Atun dan Mas Wahyu mengundang ku dan Mas Satriyo untuk makan malam merayakan ulang tahun Mbak Atun yang ke 25. Sekalian mau kenalan sama Mas Satriyo katanya. Mas Wahyu dan Mas Satriyo memang belum pernah bertemu sebelumnya. Walaupun mereka berdua sering mampir ke kosan namun dalam waktu yang berbeda.
Jam 4 aku sudah bersiap-siap menunggu Mas Satriyo menjemputku. Sementara Mbak Atun dan Mas Wahyu sudah berangkat duluan. Aku menyambutnya begitu kudengar suara deru motornya. Mas Satriyo terlihat segar dengan setelan kemeja kotak kotak cokelat dan celana jins biru nya. Badanya nampak berisi semenjak kepulangannya dari kampung kenarin. Rambutnya disisir ke belakang. Bau parfumnya khas tercium hidungku. Dia menatapku sejenak dan cukup membuat dadaku berdesir
"cantik" pujinya
"kalo ganteng laki laki Mas" jawabku spontan
" perempuan buronan mertua" lanjutnya.
Aku melotot mendengar gurauan nya. Ku cubit lengan Mas Satriyo
"belum ada mertua yang mau memburuku mas" jawabku sambil naik ke motornya
Kami terkekeh. Menikmati sore yang terasa sangat indah hari itu.
Sampai di lokasi Mas Wahyu dan Mbak Atun sudah menunggu. Sudah ada beberapa hidangan di atas meja. Raut muka Mas Wahyu berubah ketika melihat kami. Dahinya mengernyit seperti mengingat sesuatu. Mas Satriyo pun terkejut
" Puji...." katanya sambil menatap Mas Satriyo
" Hai... Wahyu ya" jawab Mas Satriyo
" iya... apa kabar. Kok bisa di sini" tanya Mas Wahyu
Mereka berpelukan sebentar.
" Lho... kalian sudah kenal ya" Tanya Mbak Atun
" Kami satu SMA dulu" jawab Mas Wahyu
" kok jadi Puji namanya" tanyaku
" Namanya Satriyo Puji Wibowo. Dulu panggilanya Puji. Sekarang jadi Satriyo ya" Mas Wahyu menjelaskan
Aku baru tahu kalo itu nama lengkapnya. Acara ngobrol dilanjutkan sambil makan. Aku memperhatikan mereka mengobrol. Asyik sepertinya. Sesekali aku dan Mbak Atun menimpali. Sampai pada akhirnya....
" Sudah berapa anakmu" tanya Mas Wahyu sambil menghisap tulang kepiting. Lezat terlihat...
Deg..... aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Anak..... Mas Satriyo sudah punya anak. Mbak Atun juga terkejut.Dia menghentikan gigitan udang goreng nya. Kami berpandangan sebentar. Aku merasa tiba - tiba tak enak
" eh.... apa" Mas Satriyo gugup. Dia terlihat gelisah.
" Dulu kan kamu yang menikah duluan diantara teman teman kita. Empat tahun yang lalu kalo ga salah. Setahun setelah lulus SMA kan....Siapa nama istrimu... Novi kayaknya" Mas Wahyu masih terus bertanya.
Muka mas Satriyo memerah. Dia menghentikan makanya. Melihatku dengan tatapan bersalah nya. Rasanya kakiku tak menapak lagi di tanah. Ku coba kuasai diri. Tak satupun pertanyaan Mas Wahyu dijawabnya. Kulihat Mbak Atun memberi kode Mas Wahyu untuk berhenti bertanya dengan mencubit tangannya. Tapi Mas Wahyu tak menyadarinya
" oh... jadi Mas Satriyo sudah menikah ya" Tanyaku untuk menetralisir keadaan. Ku tekan suaraku agar tak terdengar bergetar
" Iya Sit... dia menikah muda. Kurasa anaknya sudah besar ya..... Istrinya namanya Novi. Teman sekelas kami juga. Waktu itu kami terkejut waktu dengar Puji mau menikah" Mas Wahyu menjelaskan
" Jadi berapa anak Mas Satriyo sekarang" tanyaku sama Mas Satriyo. Dia tidak menjawab. Tapi kegugupannya tak bisa disembunyikan. Keringat mulai memenuhi dahinya...
Mbak Atun sepertinya bisa membaca pikiranku. Dia mengalihkan topik pembicaraan dan mengajaku berkeliling.
Perasaan ku seperi jatuh dari tebing yang sangat tinggi. Ternyata aku salah menempatkan perasaan ini. Rasanya aku ingin segera berlari meninggalkan tempat itu dan menangis sejadi jadinya.
Setelah peristiwa itu aku mulai menjaga jarak dengan Mas Satriyo. Aku bukan pelakor... Mas Satriyo pun tak pernah menjelaskan apa apa lagi. Tapi bagiku sudah cukup informasi yang aku dapat. Aku menyadari memang selama ini kita tak pernah membicarakan perasaan kita. Aku yang terlalu baper mungkin.
Ah sudahlah.... Show must go on. Belajar untuk tidak mendramatisir keadaan. Belajar untuk menerima keadaan....