Minggu pagi membuatku mempunyai banyak waktu luang untuk mengenang kembali kisah masalalu. Aku tak sendirian, disebelahku ada hewan peliharan yang menjadi favoritku.
Hewan berbulu yang terkadang membuat sebagian orang bersin-bersin, tetapi tak sedikit orang yang mencintai hewan berbulu itu. Jabrik, nama yang aku berikan untuk kucing yang aku rawat dari kecil. Alasannya simple, hanya karena sewaktu kecil bulunya selalu berdiri. Cukup lucu bagi asal mula nama hewan peliharaan.
Di luar sana, sinar mentari tak malu lagi untuk menampakkan diri. Cahanya belum menyengat maupun meredup, sangat cocok untuk olah raga pagi. Sayangnya, aku tipikal orang yang malas bergerak. Istilah sekarang daya tarik kasur jauh lebih kuat daripada daya tari gravitasi. Cukup lebay untuk sebuah ungkapan.
Aku hanya berdiam di depan laptop syang menampilkan beberapa foto momen saat SMA sembari mengelus bulu lembut milik Jabrik yang baru saja dimandikan. Banyak teman yang mengatakan aku seorang paparazzi karena mengabadikan momen yang bisa dikatakan aib. Tanganku terus menggulir hingga menampilkan foto seseorang yang diam-diam aku ambil. Ah, rasanya aku seperti penguntit seorang idol. Hahaha.
Tiba-tiba memori indah saat dengan dia berputar diotakku. Hari itu, hari pertama masuk setelah liburan semester genap. Selama beberapa hari aku selalu memperhatikannya. Padahal aku sudah satu kelas dengannya mulai kelas sepuluh, tetapi anehnya aku baru memperhatikannya akhir-akhir ini. Suatu hari, teman yang duduk dibangku belakangnya menawarkan untuk bertukar posisi. Dalam hatiku bersyukur karena mendapatkan tawaran seperti itu. Lagian aku kurang nyaman berada di bangku belakang.
Hari berganti hari. Intensitas kedekatanku dengannya mulai sering. Bahkan, suatu hari aku mendapatkan perhatian pertama yang berhasil membuatku deg-degan.
“Diam, dikerudung kamu ada ulat,” katanya sambil mengambil sesuatu yang menggantung di atas kerudungku.
“Ih, nggak mau nggak mau. Tolong ambilkan!” ucapku yang menurutku sendiri terdengar aneh.
Aku melihat melihat tangannya terulur di depan wajahku dan benar saja ada ulat. Ya, meskipun kecil berhasil membuatku bergidik ngeri.
Senyum merekah dibibirku saat mengingat kejadian itu. Perhatian kecil yang berhasil membuatku jantung dag dig dug. Aku kembali menjalankan tanganku menggulir mosue ditangan kiriku. AKu tak mau memungkiri bahwa perhatian sederhananya membuatku berharap lebih. Namun, masih terlalu dini untukku menggantungkan harapan padanya. Lagi-lagi pencarianku berhenti pada fotonya. Kali ini dirinya yang ada dalam foto kelas.
Saat itu, aku hanya berdiam diri saat waktu istirahat tiba. Terlalu malas untuk melangkahkan kaki menuju kantin sekolah. Padahal jaraknya tak sampai lima ratus meter, hanya berjarak satu kelas dengan kelasku.
“Kenapa disini?” tanyanya sebelum duduk dikursi tempatnya. Dia lebih memilih untuk duduk menyamping dan menyilangkan kakinya diatas kursi yang kosong.
“Malas.”
“Ibu ku bekerja ke luar negeri,” ucapnya tiba-tiba. Untuk saat ini aku terlalu malas untuk menanggapinya. “Ayahku yang di rumah.”
“Sama. Ibuku yang bekerja. Ayah hanya bekerja saat ada tawaran,” responku setelah terlalu lama diam.
“Punya adik?” tanyanya lagi. Aku masih tidak paham mengapa dia bertanya seperti itu, yang pasti aku hanya merespon untuk menghargainya.
“Punya, laki-laki.”
Dia menaruh tangannya pada kepala kursi, “Aku terkadang bertanya kenapa ayahku yang tidak bekerja dan justru ibuku yang bekerja,” aku bisa merasakan kesedihan dikalimat yang baru saja ia ucapkan. Seakan menyiratkan kekecewaan pada sang ayah.
Aku hanya mengangkat bahu. Mau menjawab tapi takut menyinggung tidak menjawabnya juga tidak enak. Dia terlihat berdeham sebentar. Mencoba menelan salivasa untuk membasahi tenggorokannya yang terlihat kering.
“Punya adik?”
“Punya, laki-laki.”
“Beneran? Berapa usianya?”
“Kelas lima SD.”
“Laki-laki?” ulangku. Entah mengapa aku merasa tidak percaya.
Dia menggeleng, “Bukan. Dia perempuan.” aku yang terlampau kesal hanya memukul lengannya. Pertama mengatakan laki-laki, tapi ditanya lagi jawabannya perempuan. Bagaimana tidak sebal coba.
Ah… lagi-lagi senyumanku tak dapat ditutupi. Pertanyaan mengenai masing-masing orang tua kita membuatku kembali berharap. Dia seakan mencoba terbuka padaku dengan mengatakan semua keluarganya.
Aku mengalihkan perhatianku pada Jabrik yang memandangku dengan tatapan polosnya. Sungguh lucu sekali kesayanganku yang satu ini. Tanganku bergerak untuk mengelus bawah dagu yang membuatnya memejamkan mata. Seakan menikmati perbuatanku. Ternyata kucing juga bisa merasa nyaman saat berada di dekatku. Ada satu tindakannya di satu hari yang membuatku baper habis hanya dengan dua es krim. Mungkin dia mendengar aku mengatakan menginginkan es krim sebelumnya.
“Es krim siapa?” tanya ku yang baru datsng dari kegiatan yang ada di ruang BK. Topiknya membahas siapa yang lulus SNMPTN.
“Dari Zaki,” ucap Wulan yang saat itu duduk di kursiku.
Pandanganku langsung tertuju pada Zaki yang sedang sibuk menyenderkan punggungnya pada tembok yang ada di belakangnya. Matanya terpejam seakan merasakan hembusan angin dari jendela sebelah kiri tempat dudukku.
“Dari dia?” aku menunjukknya. “Beneran buat aku?” tanyaku padanya yang sayangnya saat itu tak mendapatkan jawaban apapun. Satu es krim cup coklat di mejaku.
“Za, tadi aku makan esnya satu. Udah cair soalnya, besok aku ganti,” ucap Anang yang baru memasuki kelas dengan rambut basah karena keringat.
Aku mendudukkan diri di kursi sebelahnya. Menikmati es krim yang katanya dari dia. Tak lupa aku juga mengucapkan terimakasih. Rasanya senang sekali mendapatkan yang aku minta, meskipun aku tak memintanya secara langsung.
Gila, aku rasa hari ini aku sudah gila karena tertawa hanya karena mengingat semua momen manis yang dia berikan padaku. Saat itu aku merasakan tindakannya yang bisa dikatakan manis, bahkan bisa membuat anak orang diabetes.
Aku mengalihkan pandangan ke luar. Sinar matahari nampaknya sudah cukup untuk membuat orang yang berlalu lalang bermandikan keringat. Aku melihat prediksi cuanya yang mengatakan hari ini akan sangat terik, bahkan menyentuh angka 37 derajat celcius. Beruntung bagiku yang memilih untuk menetap di dalam rumah. Ya, meskipun harus mendengarkan ibuku berceramah.
Segelas air es nampaknya bisa menghilangkan rasa dahaga yang menyerang tenggorokanku. Langkah kaki menuntunku berdiri di depan lemari es setelah mengambil gelas kosong. Cukup banyak air es yang ku tuangkan ke dalam gelas. Ah, akhirnya ada yang membasahi tenggorokanku yang entah kering sejak kapan. Dengan masih menggenggam gelas aku mengingat saat dia, ehmmm bisa dikatakan cemburu mungkin?
Senin terasa berkah bagi seluruh murid kelasnya karena guru jam pertama berhalangan hadir karena saudaranya baru pulang dari ibadah haji. Aku melihat teman-teman kelas mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang asik menonton film, bernyanyi di bangku belakang, sampai-sampai kelasku memiliki sound pribadi.
“Aku pinjam ponselnya,” ucapnya tiba-tiba.
“Bentar ya, masih aku pakai.” Terlalu asik dengan game yang ada di ponselku, aku tak terlalu mengindahkan permintaannya.
Sekilas ujung mataku menangkap dia pergi menjauh dan bergabung dengan temannya yang ada dibangku belakang dengan remi yang ada di depan mereka. Bukan hal tabu bagi kelasku jika bermain remi di kelas. Anak-anak selalu kucing-kucingan dengan guru olah raga yang terkenal killer.
Bosan juga bermain game saja. Aku mulai meletakkan ponselku di atas meja, menarik tanganku ke atas untuk merenggangkan tubuhku yang terasa kaku, memiringkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.
“Za, pinjam ponselnya dong. Hostpot bentar ya,” ucap Andhika. Salah satu temanku yang hobinya bermain game online.
“Hemm,” aku cukup malas menanggapinya.
Aku mulai menelungkupkap wajahku pada meja. Menggunakan tangan sebagai bantalannya. Baru beberapa menit aku memejamkan mata, aku merasakan kursi di depanku ditarik oleh seseorang. Aku langsung saja mengangkat kepalaku. Memandang Zaki yang sudah duduk di sana dengan buku di depannya dan bolpoin di tangannya.
Terlihat jelas dirinya sangat kesal. Aku memiringkan wajahku untuk memperjelas pengelihatanku. Ahhh benar saja, ia terlihat benar-benar kesal. Tangan yang memegang bolpoin mulai menari-nari diatas lembar kosong buku dihadapannya. Melukiskan pola abstrak yang sepertinya menggambarkan pemikiran dan perasaannya saat ini.
Entah mengapa aku merasakan hal ini ada sangkut pautnya denganku. Secara perlahan aku memegang tangannya, mengambil bolpoin yang ia gunakan melukis pola abstrak. Pandangannya masih terpaku pada lembar kertas yang terdapat hasil karyanya.
“Kenapa sih?” tanyaku. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman dengan tindakannya saat ini.
“Ada apa?” sekali lagi aku bertanya.
“Aku yang lebih dahulu meminjam ponsel kamu, kenapa Andhika yang mendapatkannya,” jeaslnya yang membuatku langsung berfikir. Entah mengapa saat itu aku langsung memanggil Andhika untuk meminta ponselku kembali. Rasanya aku takut kalau dia semakin marah padaku.
“Nih,” aku menyodorkan ponsel yang menjadi permasalahan. Dia langsung mengambil ponselku, entah sadar atau tidak tangannya masih aku genggam.
Indahnya memori masalalu membuatku tak sadar masih memegang gelas yang berisikan air es. Aku melangkahkan kaki meninggalkan dapur menuju ruang tamu untuk melanjutkan tugasku yang tertunda. Benda pintar tersebut masih menampilkan fotonya dengan tatapan yang tanpa sadar kurindukan. Sedetik kemudian aku tersenyum miris saat mengingat apa yang terjadi. Aku akhirnya sadar, bahwa selama ini aku dan dia bersembunyi dibalik tameng baja bernamakan friendszone. Kenyamanan yang selama ini aku rasakan dan dia berikan tanpa sadar membawaku melayang tinggi hingga tanpa sadar membentur tameng itu. Tameng baja yang membuat semua orang diam ditempat karena takut untuk melangkah.