Setelah putus dengan pacarku aku menjadi bosnya.
Aku, Bellezza Althea Winston seorang nona muda dengan kecantikan luar biasa yang kabur dari rumah karena dijodohkan, sungguh konyol.
Aku sang nona muda keluarga kaya harus menyamar jadi gadis cupu dan berbaur dengan rakyat biasa.
Di saat aku menjalani hari-hariku, aku bertemu dengan seorang pria tampan yang baik hati. Dia adalah Febian Wijaya, salah satu pegawai sebuah Perusahaan yang cukup besar dan terkenal. Semakin hari kami semakin dekat dan akhirnya kami berpacaran. Aku berniat untuk mengungkapkan identitasku yang sebenarnya pada dia.
"Febian, aku ingin berbicara sesuatu denganmu," ucapku dengan semangat.
"Aku juga ingin berbicara denganmu, Bella," ujar Febian padaku.
Bella? Ya itu nama samaranku!
"Kau ingin bicara apa?" tanyaku pada Febian dengan tersenyum.
"Aku ingin hubungan kita berakhir!" ujar Febian dengan tegas.
Aku sangat terkejut mendengar ucapan Febian. Kenapa dia tiba-tiba ingin memutuskan hubungannya denganku?
"Kau bercanda, kan?" tanyaku dengan bodohnya.
"Aku serius," balas Febian.
"Tapi ... kenapa tiba-tiba?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Apa kau sadar? Kau cupu dan miskin! Selama ini aku tidak benar-benar mencintaimu, aku hanya tertarik padamu untuk sesaat saja. Luna jauh lebih baik darimu! Dia cantik dan bekerja sebagai sekretaris sedangkan kau ... tidak berguna," ujar Febian kemudian menyuruh seorang wanita cantik menghampirinya. Dia Luna!
Aku, Bellezza sang nona muda Winston dibandingkan dengan sekretaris rendahan. Sungguh harga diriku sedikit terluka karena hal itu.
Pria itu memeluk pinggang ramping Luna membuatku merasa sesak.
"Apa kau ingin tau apa yang ingin aku katakan?" tanyaku pada bajingan itu.
"Tidak perlu! Aku tau tadi pasti kau ingin mengatakan bahwa kau mencintaiku, aku bisa menebak itu!" ujar Febian sangat menyebalkan.
"Percaya diri sekali dia," batinku merasa muak.
"Terserah apa yang kau pikirkan, yang paling penting sekarang adalah ... kita putus!" ucapku dengan tegas.
Aku tidak diputuskan tapi aku yang memutuskan, ingat itu! Tadi dia hanya mengatakan keinginanya sedangkan aku langsung mengatakan putus dan mengakhiri hubungan itu. Apapun yang Bellezza ucapkan selalu benar.
"Baguslah jika kau mengerti," ujar Febian dengan tatapan merendahkanku.
"Sepertinya kau sadar kalau kau tidak bisa dibandingkan dengan Luna," lanjut bajingan itu membuatku ingin sekali menghajarnya.
Tapi... tunggu!
Dia benar, aku Bellezza tidak bisa dibandingkan dengan Luna. Bukan tidak bisa tapi aku tidak pantas dibandingkan dengan sekretaris minim akhlak seperti Luna.
"Kau benar ... semoga hubungan kalian langgeng," ucapku dengan senyuman yang sulit diartikan oleh mereka.
"Jalang dan bajingan memang pantas untuk bersatu," ucapku berhasil membuat darah mereka mendidih.
Sebelum aku mendengar gonggongan mereka, aku berjalan menjauh meninggalkan mereka.
"Sampai bertemu di tempat kerja!" ucapku berhasil membuat mereka bingung pasalnya aku tidak bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja.
Aku melepas ikat rambut murah dan kacamata cupu yang aku pakai kemudian menginjak kedua benda itu. Kecantikan yang aku tutupi terekspos sekarang.
"Mommy, Daddy, aku kembali. Perjodohanku dengan Si Batu? Tidak apa, aku bisa menanganinya," gumamku.
Aku kembali ke kediaman Winston, dan aku disambut hangat oleh Mommy dan Daddy yang sangat menyayangiku.
"Mom, Dad, aku ingin mengambil alih W.S Company," aku langsung mengutarakan keinginanku.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin mengurus perusahaan cabang itu? Bukankah kau selalu bilang tidak akan membuang-buang waktumu dengan urusan-urusan kecil seperti itu," ucap Daddyku.
"Aku ingin bermain-main," ujarku dengan tersenyum smirk.
"Siapa yang sudah menyinggungmu, Princess?" tanya Daddy.
"Aku akan menanganinya sendiri, Dad. Oh iya untuk urusan Si Batu aku akan menuruti keputusan Mommy dan Daddy, atur saja semuanya oleh kalian," keputusanku membuat Mommy dan Daddy merasa senang. Mungkin seharusnya aku mengambil keputusan seperti ini dari awal.
Besok paginya, aku langsung bersiap dengan penampilan seorang Bellezza Althea Winston dan pergi ke W.S Company. Kedatanganku menghebohkan seluruh penghuni perusahaan itu, mereka tahu kalau aku adalah Presdir baru perusahaan W.S Company sekaligus penerus Perusahaan Utama Keluarga Winston.
Dan di sinilah aku, duduk di kursi kebesaranku dengan dua orang pegawai yang menunduk di hadapanku.
"Siapa aku?" tanyaku sambil memainkan rambut panjangku.
"Pre-presdir, kenapa anda menyuruh kami ke sini?" tanya Febian dengan ketakutan sungguh aku sangat puas melihat ekspresinya saat ini.
"Aku Presdir di sini kenapa aku tidak boleh memanggil kalian?" perkataanku membuat mereka terdiam.
"Huft ... kalian berani mempermainkanku, hukuman seperti apa yang cocok untuk kalian ya?" perkataanku membuat mereka semakin merasa tegang.
"Kembalilah bekerja, aku akan memikirkan pembalasan apa yang cocok untuk kalian," setelah aku mengatakan itu mereka berdua langsung keluar dengan terburu-buru membuat mereka terlihat konyol.
"Bekerjalah dengan keras," ucapku sambil menyeringai. Aku sudah mengatur pekerjaan khusus untuk mereka berdua yaitu mengerjakan tugas kantor yang seharusnya dikerjakan oleh sepuluh orang harus mereka berdua selesaikan dalam waktu yang singkat.
Tak terasa seminggu telah berlalu, Febian dan Luna hampir gila karena tugas yang aku berikan. Saat ini mereka ada di hadapanku, sepertinya mereka akan menyerah.
"Bella, hentikan semua ini!" tegas Febian.
"Bella? Saha eta? Maksudku siapa dia? Perhatikan nada bicaramu! Apa kau lupa siapa diriku?!"
"Aku tidak peduli siapa kau aku tau kau mencintaiku tapi tidak deng--" ucapan Febian terpotong.
"Oh ternyata selera sang ratu kecantikan seperti ini," ujar Si Batu Narendra.
Kenapa Si Batu ada di sini? Sepertinya Mommy dan Daddy yang menyuruh dia ke sini.
Aku melihat Si Batu menatap Febian, itu membuatku terlihat bodoh. Ketampanan Febian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Si Batu yang aku tolak. Jika aku adalah Ratu kecantikan maka Narendra adalah Raja ketampanan.
"Kenapa kau ke sini, batu?" tanyaku langsung membuat pria tampan itu marah. Dia selalu kesal saat aku memanggilnya batu tapi aku menyukai panggilan itu. Sudah kuduga dia hanya diam tak berniat menjawab pertanyaanku.
"Sudahlah, kau diam saja seperti batu oke?"
"Apa tadi yang kau katakan?" tanyaku pada Febian tanpa memedulikan Si Batu yang tampak sangat kesal.
"Hentikan semua ini, aku minta maaf karena sudah mencampakkanmu," ujar Febian berhasil membuat Si Batu menahan tawanya mengejekku.
"Aku tidak dicampakkan! Kau yang mencampakkanku!" ujarku berhasil membuat Si Batu tertawa.
"Hahaha itu sama saja, Gadis pengacau! Intinya kau yang dicampakkan," Si Batu akhirnya bicara banyak.
"Baiklah Febian, Luna, selamat!" ucapku membuat mereka tampak senang.
"Kalian dipecat!" lanjutku membuat mereka seketika mematung.
"Apa maksudmu? Kau tidak bis--" Aku menyuruh petugas keamanan mengusir kedua orang itu dari ruanganku.
"Ngomong-ngomong kau sudah pulang dari melarikan diri?" tanya Si Batu lagi-lagi mengejekku.
"Iya aku sudah pulang dari melarikan diri dan ingin membuat kesepakatan denganmu," ucapku langsung mengutarakan niatku.
"Kesepakatan apa?"
"Pernikahan kontrak," jawabku.
"Kau akhirnya setuju menikah denganku?" pria tampan itu tampak bersemangat.
"Setelah aku melarikan diri kau jadi sangat bawel apa yang membuatmu seperti itu?" tanyaku penasaran.
"Aku sudah meleleh," jawabnya membuatku tertarik dengan topik itu, aku pun duduk di sebelah Narendra.
"Siapa yang sudah berhasil membuatmu meleleh?" tanyaku.
"Kau," balasnya sambil tersenyum.
Oh tidak, jantungku berdegup kencang saat melihat senyumannya.
"Bagaimana bisa?"
"Kau selalu membuatku terbakar karena kesal apa mungkin aku tidak meleleh?" aku hanya tersenyum menanggapi perkataan pria itu.
"Mana surat kontraknya?" tanya pria itu.
"Sepertinya aku berubah pikiran," ucapanku membuat Narendra merasa bingung.
"Maksudnya?"
"Aku ingin mengontrakmu seumur hidup," perkataanku berhasil membuat pria tampan itu mematung.
"Sepertinya aku tertarik padamu," ucapku.
"Aku ingin mengatakan satu syarat dalam kontrak seumur hidup ini," ujarku dengan serius.
"Apa itu?" Narendra tampak antusias.
"Kau harus setia padaku tapi aku boleh tidak setia padamu," ucapku membuat dia langsung mengumpat, "Sial!"
"Aku hanya bercanda hahaha," ucapku disusul gelak tawa.
"Tentang kontrak seumur hidup itu apa kau serius?" tanya Narendra.
Aku langsung membalasnya dengan anggukan, hal itu membuat Narendra langsung mengangkat tubuhku dan berputar. Dia tampak sangat bahagia.
"Hei turunkan aku!"
Dia langsung menurunkanku dan mendekapku.
"Aku mencintaimu, Bellezza!"
"Aku juga mencintaimu, Narendra! Tapi nanti hahaha," ucapanku membuat Narendra mencapit hidungku gemas. Mereka tertawa bersama.
-Happy Ending-