hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Rasa sakit di relung hati mulai menjalar dan tiap memori berputar di otakku, " Thania...!! " teriak Mira sahabatku dari aku kuliah dan sekarang dia menjadi sekretaris pribadiku, gadis periang dan bawel dengan badan yang sedikit gemuk dengan wajah orientalnya selalu membuatku gemas ingin mencubit pipinya, " apa sich mbem " pggilanku untuknya
"Kamu tau tidak sekarang si Mike pengkhianat itu menjadi asisten manager marketing di sini dan itu artinya dia bawahanmu yang akan selalu nempel ke kamu kaya perangko " aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar Mira berceloteh dan membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan makanan karena aku tidak ingin dia membicarakan tentang Mike mantan pacarku yang memutuskan sepihak denganku
"Udahlah, lapar " aku langsung bergegas pergi tanpa mengajak Mira pergi makan siang, toh dia pasti akan ikut kemanapun aku pergi, " menikmati salah satu menu andalan di kafe favorit membuatku prasaanku sedikit teralihkan, tetapi kata- kata yang pernah Mike ucapkan dlu msih terngiang di telingaku.
Brakkkk....
Sontak membuatku sangat kaget dan membuyarkan lamunanku " apaan sich, udah bosan hdup kamu ya? " Mira tak menjawab tapi wajahnya yang keliatan marah jelas terlihat "kamu kenapa sich mbem?", "Bete aku, tadi waktu aku mau menyusulmu aku berpapasan dengan si Mike" 'deggg' jantungku terasa berhenti, jujur aku tak siap untuk melihat wajahnya lagi, " dia menanyakan kabarmu dengan wajah tak berdosa, kesel tau, benci aku..tak akan aku biarkan dia menyakitimu lagi, liat aja kalo bla..bla..." seakan ku tak bisa mendengar kata- kata yang di ucapkan Mira semua seolah terulang kembali " maaf ya thania, aku sangat mencintai Zora jadi lebih baik kamu lepaskan aku" kata Mike saat Mike memutuskan aku dulu, rasanya sangat sakit apalagi dengan di bubuhi adegan ciuman di bibir.
Flash back...
Thania kenalkan ini Zora sekretaris baru yang akan mengatur segala keperluanku kata Syam, CEO di perusahaan aku bekerja, gadis berkulit putih mulus dengan rambut panjang tergerai wajahnya yang ke indo an membuat dia terlihat sangat sempurna, perkenalan itu hanya aku sambut dengan senyuman sebagai tanda salam kenal untuknya. Karena dia baru dan tidak punya teman maka aku dan Mira menawarkan pertemanan " maksi yuk, laper nich " ajak Mira, " emang kamu ya doyan makan haha " ku acak-acak rambut Mira dan ku gandeng " yuk, kamu maksi juga khan Zora?" Tanyaku padanya dan dia hanya mengangguk.
Sesampai di kafe favorit, kami ngobrol sesekali di selingi tawa, sampai ku liat tatapan mata Zora tertuju pada laki-laki tampan dengan wajah blasteran indonesia arab dengan kaos putih dan blazer cokelat tua membuatnya terlihat semakin gagah, " hello sayang, sudah pesan makanan?" Tanya Mike dengan ciuman di pipiku, laki-laki yang dari tadi menarik perhatian Zora, " sayang kenalkan ini teman baru kami" "Zo...Zora" dia mengulurkan tangannya dan di sambut Mike, " saya Mike " balas Mike dengan senyuman yang bisa melelehkan kaum hawa.
Hari terasa sangat cepat tak terasa sudah sebulan " waktunya gajian, it's shoping time" teriak Mira senang... " eh Zora ikut enggak, kita mau shoping nich" ajak Mira yang sangat antusias", " enggak dech, aku ada acara keluarga, hehe" " ohhhh ya udah..." jawab Mira sekenanya.
Di mall yang tak jauh dari kantor cukup rame dengan pasangan muda mudi sambil sesekali cekikikan dan bergelayut manja, " eh, tumben Mike enggak nemenin kamu, enggak kaya biasanya" aku hanya menarik nafas panjang, "tadi mike telepon bilang ada sepupunya datang dari ausi jadi harus menemaninya," "ooohhh" sebelum berburu kita makan di foodcourt lantai 4, mataku menjelajah menu-menu makanan yang terpampang "eh mbem ka...", belum selesai aku bertanya Mira langsung memutar badanku, " tiba-tiba aku enggak lapar kita langsung beli baju yuk" saat Mira menarik lenganku mataku terpaku pada adegan mesra pada salah satu sosok yang aku kenal, "than, kita pergi yuk" aku tak mendengarkan kata mira dan langsung mendatangi pasangan itu ' brakkkk' akumenggebrak meja dengan tanganku rasa panas dan perih tak ku rasakan lagi, sontak mereka kaget " tha...thania, aku bisa jelaskan semua ini," kata Zora ketakutan, " enggak perlu aku sudah menganggapmu sahabatku sendiri tapi apa, apaaa? kau sangat tega!" aku tumpahkan minuman ke wajah Zora, dengan air mata yang tak dapat ku tahan lagi, plakkk.. sbuah tamparan mendarat di pipiku trasa sangat menyakitkan dihati karena di tampar kekasih sendiri " kau, tega menamparku karena dia" Mike menatapku tajam dengan penuh amarah " thania, aku sangat mencintai zora jadi lebih baik lepaskan aku" tubuhku semakin gemetar mendengar Mike memutuskan diriku sepihak apalagi di bubuhi adegan ciuman bibir di depan mata, aku hanya bisa menangis dan Mira langsung menyeretku " dengar ya pengkhianat, kalian pasti menyesal !! " sumpah serapah Mira karena marah dan benci melihat aku di khianati.
flashback off...
" Thaniaaa " teriakan Mira membuatku kaget " tu makananmu dingin" dengan cepat ku makan makananku agar bisa kembali ke kantorku, saksi bisu tentang rasaku.
Ku hanya duduk di depan laptop, hari ini terasa sangat membosankan hingga rasa malas melanda. Tok..tokk...tokk... suara ketokan membuyarkan lamunanku "masuk" aku membenarkan beberapa file yang berserakan dimeja dan terdengar suara langkah kaki masuk " thania.." suara terkejut begitu jelas di telinga " ya, silahkan duduk saya akan menjelaskan beberapa tugas kamu sebagai asisten saya " tak ingin terlihat lemah di depannya aku bersikap dingin dan karena keprofesional kerjaku, sementara Mike hanya memandangiku "kau terlihat lebih cantik, aku memyesal telah memutuskanmu" kata Mike dengan nada sedih " cihhh, liat saja pembalasanku" bathinku, " tolong jangan campur adukkan antara pribadi dengan kerja, bersikaplah profesional," kataku dengan tenang dan dingin, " ehhh i-iya maaf" dengan nada gelagapan dia salah tingkah dan mengambil kursi... setelah penjelasan panjang lebar akhirnya dia aku suruh pergi, aku tidak mau berlama lama dia di ruanganku karena terasa menyakitkan di hati.
" Than, aku rasa ini saatnya kamu membalas rasa sakit hatimu ke pengkhianat itu" kata Mira yang langsung nyelonong masuk tanpa ketuk pintu, "aku tau tapi aku akan membalasnya dengan cara halus karena aku tidak mau dia menyentuhku lagi", kataku dengan santai.
Setelah 3 bulan aku memberi sebuah harapan kepada Mike dan dia merasa aku sudah memaafkan dan masih mencintainya.
Tink ...
" Than, boleh tidak aku bicara penting dengamu, aku tunggu di kafe depan kantor" sengaja hanya aku baca tanpa aku balas biar dia resah menunggu balasanku.
Di kafe yang di janjikan aku sengaja datang agak terlambat, terliat wajahnya yang sedikit kesal seolah-olah aku kekasihnya " koq kamu telat sich, ini sudah hampir selesai jam makan siangnya,aku khan ingin bicara penting " nada kesal jelas terdengar " mau bicara apa sich " aku langsung duduk tanpa menghiraukan dirinya
"aku ...tau kamu belum bisa melupakan aku, karena aku cinta pertamamu cukup jelas terliat kalo kamu masih mencintaiku " " dasar tak tau diri, PD amat jadi orang", bathinku. Aku diam dan hanya mendengarkan semua perkataan yang tak berguna dari mulutnya, sampai dia terdiam lama dan hanya menatapku penuh kenyakinan, " sudah? Ini " aku sodorkan sebuah undangan yang tercetak dengan tinta emas membuatnya trrlihat elegan " a-apa ini? " tanyanya " undangan pernikahan aku dengan Rama wijaya sekaligus CEO di perusahaan kita bekerja " jawabku dengan tenang
"enggak, enggak mungkin, kamu bercanda khan? " dia terlihat begitu shock " enggak mungkin, thania kau hanya mencintaiku, hanya aku milikmu " dia mulai meracau tak karuan hingga menyita perhatian orang-orang di sekitarnya " enggak thania, kamu hanya boleh menikah denganku " dia mencengkeram pundakku dan mengguncang tubuhku membuatku sedikit bergidik, " thania memang akan menikah denganku," pelukan lembut dari seseorang yang telah mengisi hatiku selama ini, "enggak...enggakkkkk" teriak Mike seperti orang kesurupan dan hampir memukul wajah Rama, saat di tahan oleh keamanan di ruangannya dia masih terus meracau, " jangan-jangan dia gila pak, apa lebih baik kita hubungi psikiater?" tanya salah seorang keamanan ke Rama, " akan aku hubungi kenalanku".
Setelah hari yang sangat istimewa dan sekaligus melelahkan aku berniat menyusul Rama yang kini telah menjadi suamiku, saat sampai di depan pintu aku menghentikan langkahku karena mendengar rama menyebut-nyebut nama Mike dan rumah sakit jiwa ternama.
"Apa kah balas dendamku berhasil atau aku terlalu kejam?" Dalam hatiku, aku mengetok pintu dan langsung masuk sementara Rama langsung menyudahi percakapannya dan tersenyum menyambutku dengan kedua tangannya " aku akan membahagiakanmu, kau adalah ratuku" pelukannya terasa hangat dan nyaman
Tamat