Zhi menutup sebelah matanya untuk membidik target. Ia melakukan persisi seperti saat latihan.
"Sekarang! "
Dorr!
Tepat sasaran.
Seseorang yang berada pada jarak 9 meter itu limbung terkena timah panas tepat pada jantungnya.
"Masuk mobil", perintah dari sang ketua.
Ke-empat sosok dengan pakaian serba hitam segera memasuki mobil mereka lalu memacunya dengan kencang sebelum ada orang lain yang melihat mereka.
"Kerja bagus", Jean sang ketua menoleh ke arah Zhi yang ada di jok belakang sambil menurunkan masker yang ia kenakan.
"Bagus untuk seorang pemula", timpal Ken dari kursi kemudi.
Niel melirik Zhi sekilas lalu membuang muka dan kembali melihat ke arah jendela.
"Aku terpaksa", gadis bernama Zhi itu buka suara.
"Sudah, terima saja nasibmu", Niel berkomentar.
Zhi mendengus sebal. Malang sekali nasibnya karena harus terjebak dengan ketiga lelaki yang ada di dalam mobil itu. Mereka adalah kelompok bayangan yang ditugaskan untuk memenuhi permintaan klien. Kelompok mereka berada dibawah perintah Rei, bos dari Dark Mafia.
Dark Mafia adalah kelompok mafia yang bergerak dibidang jual beli barang ilegal, perampokan, penggelapan, pemerasan dan pembunuhan. Tergantung permintaan dari klien.
Dark Mafia memiliki anggota yang tersebar diberbagai tempat. Setiap wilayah memiliki masing-masing kelompok anggota yang bertugas. Seperti Jean, Ken, Niel dan Zhi yang bertugas di wilayah pusat kota. Rei menamai kelompok mereka sebagai Lucifer.
Zhi terpaksa bergabung dengan komplotan mafia itu karena ayahnya telah menjualnya pada Rei untuk melunasi hutang. Mau tidak mau Zhi harus menurut demi keselamatan ayah dan kakaknya. Karena hanya mereka keluarga yang ia milik.
"Jangan bengong, nanti kesambet brabe", Niel mencolek pundak Zhi saat mobil yang mereka tumpangi sudah sampai ditempat tujuan. Markas Lucifer.
Zhi pun turun dari mobil sambil mengamati sekitar. Rekan-rekannya sudah ada jauh di depannya. Zhi mengambil langkah yang berlawanan dari mereka.
Auuuuu...
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar lolongan serigala.
Tap!
Seekor serigala berbadan lumayan besar, berbulu abu-abu dengan mata menyala melompat tepat di depan Zhi. Membuat gadis itu mematung ditempat.
Anggota Lucifer yang lain langsung menoleh saat mereka mendengar lolongan serigala tadi.
"Oy Zhi, jangan coba-coba kabur atau serigala itu akan mencabik-cabik badanmu menjadi daging suwir", teriak Jean.
Zhi masih berdiri di tempatnya, badannya gemetar kecil. Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan serigala dengan jarak sedekat ini.
Jean memberi isyarat kepada Niel untuk segera membawa Zhi masuk ke markas.
"Ayo, jangan menyusahkan kami", Niel menarik paksa tangan Zhi.
" Apa itu tadi? " tanya Zhi yang masih dalam mode syok.
"Itu Canis, serigala peliharaan kami. "
"Serigala peliharaan?! S-sejak kapan? Kenapa aku baru melihatnya? "
"Dia penjaga markas ini. Jadi jangan coba untuk kabur kalau kau tidak mau mati konyol", ancam Niel.
Zhi bergidik ngeri karena ucapan Niel barusan. Begitulah, sejak menjadi bagian dari anggota Lucifer hidupnya seperti terkekang.
*
"Pergilah! Jangan dekat-dekat aku terus!" hardik Zhi kepada Niel yang berusaha mengimbangi langkahnya.
"Kita satu kelas, tentu arah tujuan kita sama."
Zhi memutar bola matanya malas.
Bahkan di sekolah ia terus dibuntuti oleh anggota Lucifer. Mereka selalu memata-matai pergerakannya, takut gadis itu melarikan diri dan membocorkan informasi tentang Dark Mafia. Namun Zhi sebenarnya tidak berniat untuk melakukan hal itu, yang ia inginkan hanya terbebas dari mereka dan hidup normal layaknya anak gadis seusianya.
Niel mendudukkan diri di bangku sebelah Zhi. Sejak Zhi bergabung dengan Lucifer, Niel yang memang seumuran dengannya diminta untuk terus mengikuti gadis itu termasuk harus pindah ke sekolah tempat Zhi menimba ilmu.
"Zhi", panggil Chisa.
" Ayo ikut aku sebentar", lanjutnya.
Zhi menghembuskan nafas lega, ia akhirnya bisa jauh dari Niel walau hanya sebentar. Chisa memang malaikat penolongnya.
"Kau berpacaran dengan anak baru itu? " tanya Chisa membuka topik saat mereka sedang menyusuri koridor.
"Dengan Niel? Tidak-tidak, itu hanya gosip."
"Bahkan kalian selalu berangkat dan pulang bersama. Apakah kalian tinggal di rumah yang sama?"
Zhi menelan ludah menanggapi pertanyaan sahabatnya.
"Benarkan kalian pacaran?" desak Chisa.
"Kami tidak pacaran. Dia.. Dia adalah saudaraku. "
"Sejak kapan kita jadi saudara."
Suara dari arah belakang mengejutkan kedua gadis itu. Sontak mereka menoleh ke arah belakang dengan ekspresi kaget layaknya melihat hantu.
Niel sudah berdiri di belakang mereka dengan wajah datarnya.
"S-sejak kapan kau ada di sini?" tanya Zhi dengan terbata.
"Sejak aku mengikuti kalian."
Zhi mengusap wajahnya kasar.
"Kami mau ke toilet", Zhi segera menarik tangan Chisa menjauh dari Niel.
Niel mengekori dua gadis itu tanpa berucap sepatah kata pun.
Zhi menghentikan langkahnya. Niel juga ikut berhenti.
"Bisa tidak kau berhenti mengikuti kami! Kami mau ke toilet! Toilet wanita!" sungut Zhi dengan penekanan diakhir kalimatnya.
"Aku akan menunggu diluar", balas Niel santai.
" Terserah. "
*
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Sepertinya merebahkan diri dengan selimut yang tebal ditemani secangkir coklat panas adalah hal yang paling nikmat untuk dilakukan.
Namun Zhi harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk bersantai. Ia kini sedang berada di atap sebuah gedung tua. Mengawasi gerak-gerik dua orang detektif yang menjadi target incaran mereka.
"Kau siap Zhi?" tanya Jean yang berada pada jarak 5 meter darinya menggunakan earpiece yang terpasang pada telinga masing-masing anggota Lucifer.
"Siap."
"Keadaan aman, aku akan menyusul", ujar Ken dari seberang sana.
" Target mendekat", sahut Niel.
Zhi sudah bersiap untuk membidik. Namun betapa terkejut ia saat tahu siapa targetnya saat ini.
"Aku tidak bisa", ucap Zhi sambil menekan earpiece-nya.
"Jangan bertindak bodoh! Cepat selesaikan tugasmu", tuntut Jean.
"Maaf"
"Aku saja", sahut Ken yang sudah ada di posisi bersiapnya.
" Tunggu! Jangan! " cegah Zhi.
Dorr!
Peluru melesat mengenai pelipis salah satu detektif itu.
"Oh tidak, Nathan!!" pekik salah satu dari detektif itu.
"Kakak!!"
Zhi berlari menuju ke arah dua detektif itu.
"KAK NATHAN!" teriak Zhi saat sudah ada di dekat tubuh kakaknya yang sudah terbujur kaku dengan darah segar mengalir dari pelipisnya.
Dorr!
Brugh
Tubuh detektif yang tersisa pun ikut tumbang dengan timah panas bersarang pada punggungnya.
Zhi tak bisa membendung air matanya saat melihat Nathan dan rekannya meregang nyawa di depan matanya.
"Ini resiko", sahut Jean yang sudah ada dibelakangnya.
"Sudahlah, misi kita sudah selesai", Ken juga sudah ada di sana.
"Hiks.. Dasar iblis. Kejam. Gak punya hati.. " maki Zhi dengan suara serak.
Zhi mengambil pistol yang ia sembunyikan di saku hoodie yang dikenakannya, kemudian mengarahkan ujung pistol itu pada kepala Ken.
"H-hey, kau sedang apa?" Ken terkejut dengan tindakan gadis itu.
"Nyawa dibalas dengan nyawa"
Dorr!
Tubuh Ken ambruk setelah mendapat tembakan tepat pada kepalanya.
"KEN! "
"Turunkan pistolmu! " teriak Jean seraya memposisikan mulut pistol pada wajah Zhi.
Dorr!
Brukk
"A-apa yang.. Akhhh!"
Jean tidak dapat melanjutkan ucapannya saat sebuah peluru sudah menembus perut dan merobek ususnya.
Zhi menoleh ke arah peluru itu berasal.
"Niel.. "
Dengan sigap Zhi memfokuskan bidikannya pada kepala Niel yang sudah mendekat sambil mengacungkan pistolnya.
Posisi mereka sekarang sama-sama ada di ujung tanduk. Mulut pistol sudah menempel pada masing-masing kepala.
Duarr
Sambaran petir tak mampu menggoyahkan posisi siaga mereka. Hujan gerimis mulai membasahi tempat mereka berpijak. Bau anyir mulai menyeruak ke dalam hidung. Lantai yang mereka pijak berubah menjadi merah karena air dan darah yang menyatu menjadi satu genangan.
Tak!
Niel menjatuhkan pistol yang ia pegang lalu membuat simbol pistol dengan tangannya, masih dengan menempelkan jari telunjuknya pada dahi gadis di depannya.
"Jangan bercanda!" bentak Zhi.
"Aku tidak segan untuk membunuhmu", lanjutnya.
"Lakukan sesukamu", balas Niel tenang.
" Kenapa... Kenapa kau tidak membunuhku sekalian saja?! Kenapa kau malah menjatuhkan pistolmu?!"
"Aku mengikutimu bukan karena Jean yang menyuruhku. Itu keinginanku sendiri. Untuk menjagamu agar tetap aman. "
"Aku tidak akan percaya semudah itu. Aku akan tetap membunuhmu. Kalian iblis! "
"Aku akan melakukan apapun agar kau tetap selamat"
"Satu.. " Zhi mulai menghitung.
"Percayalah padaku"
"Dua.. "
"Aku tidak berniat menyakitimu"
"Tiga.. "
"Karena aku mencintaimu"
Dorr!!