Setelah ditinggalkan pacarku, aku kembali ke desaku. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kami menjalani hubungan. Suka dan duka kami jalan bersama. Namun, keputusannya untuk meninggalkanku dengan alasan tak masuk akal sungguh menyakitkan hati.
Aku berusaha memahami, berusaha menerima keputusannya. Apalagi setelah beberapa kali membaca catatan-catatan kecil di buku kuliahnya. Aku tersadar, hatinya telah berpaling. Aku bukan lagi satu-satunya wanita dihatinya.
Perjalanan ke desa berlangsung terasa lambat. Segala kenangan indah, berputar bagai kaset rusak. sebenarnya apa salahku. pertanyaan itu terus-terusan berputar bagai kaset rusak. Mungkin karena aku tidak cantik, sehingga dia berpaling. tapi, dari awal memang aku tak cantik, tidak kaya dan memiliki banyak kekurangan, termasuk sifat kekanakan yang jadi alasannya meninggalkanku, kenapa bisa bertahan sejauh ini dan malah pergi saat kami telah melewati banyak hal.
Flashback
"nih, surat buat kamu, baca dirumah aja yah" ucapnya sembari menyodorkan kertas, disela kunjunganku waktu dia masih dalam tahanan karena menabrak orang hingga meninggal.
"kemarin orang tua, dan omku datang menjenguk, mereka habis meledekku gara-gara surat itu. Aku sudah menceritakan tentangmu pada mereka" sambungnya dengan riang.
Aku hanya menatapnya, tersenyum dan mengangguk memasukkan surat itu ke dalam tasku.
Hari itu aku kuliah pukul 13.00. Aku sengaja cepat ke kampus, agar bisa singgah di tempatnya menghabiskan waktu setahun ini karena keteledorannya berkendara. Kejadian yang dialaminya tidak membuat kami berpisah, justru semakin mendekatkan kami.
flashback end
"Sudah sampai terminal dek" seorang ibu yang duduk didekatku, menyentuh bahuku, memberi tahu dan lamunanku akan masa lalu pun menghilang. rasa sedih yang tak bisa kuungkapkan karena malu atau mungkin karena kesombongan, tak menyangka akan dicampakkan setelah segala pengorbanan.
Aku tersenyum mengucapkan terimakasih. Aku segera bangkit dari tempat duduk, turun dari mobil dan membayar pada supir angkutan umum yang kugunakan, lalu berjalan kearah angkutan yang akan membawaku pulang ke kampung.
Waktu satu jam lebih di mobil kugunakan hanya dengan melamun, tidak terlalu perduli dengan penumpang lain yang sekampung.
Tiba di rumah, ibu, ayah dan kakak-kakakku menyambut dengan gembira. setelah delapan tahun tinggal di kota, akhirnya aku memutuskan untuk kembali. Yah, aku memutuskan untuk tinggal di kampung, mengabdi di sekolah dekat rumah. sebelumnya, kakak sudah mengabari jika aku diterima disekolah itu. Jadi, aku memutuskan resign dari Sekolah Tinggi tempatku bekerja selama ini. Bagaimanapun juga, tinggal bersama orang tua adalah yang terbaik untukku saat ini.
***
Sepekan menghabiskan waktu di rumah, akhirnya aku mulai masuk mengajar. Aku bertemu dengan teman-teman mengajar yang baik serta siswa siswi yang menarik. aku seakan ditarik dari dunia suram. mereka mengajakku ke dunia yang penuh warna. Dia, perlahan terkikis dari hatiku, samar meski tak bisa hilang.
Hari demi hari berlalu, bulan berganti, tahun pun berganti. Hidupku terasa sempurna, kecuali kenyataan bahwa aku masih sendiri, tak mampu lagi membuka hati. Bukan tidak ada yang berniat masuk dalam hidupku, tapi aku yang takut untuk mengijinkan mereka masuk. Aku takut hanya akan memberikan kekecewaan sehingga akan ditinggalkan lagi.
"Bu Lin, hari ini ada waktu ga?" tanya salah seorang guru, teman mengajarkan.
"ya?" tanyaku tak mengerti.
"maksudku, jika ada waktu, aku mau ajak ke suatu tempat, ada hal yang ingin kubicarakan"
"OOO.. maaf yah, sepertinya tidak bisa. ada hal yang harus kukerjakan di rumah" Aku bukannya tak paham dengan hal yang ingin dia bicarakan. Beberapa hari ini, Chat darinya tak terhitung, selalu pertanyaan yang sama, tentang kesediaan untuk dilamar. dan selalu dengan jawaban bahwa aku tidak bisa, karena hanya bisa menganggapnya seorang adik. Akupun berkata memiliki seseorang yang kutunggu. Alasan yang selalu kukatakan kepada yang lainnya. Meskipun aku sendiri bingung, siapa yang aku tunggu. Ada harapan bahwa, aku betul betul menunggu seseorang yang bisa menerimaku apa adanya. Dengan kriteria yang bahkan sendiri aku tidak paham.
Keluargaku sendiri sudah resah, karena menolak lamaran keluarganya bisa saja merusak kekeluargaan kami. tapi aku tetap kekeh dan menganggap lebih baik aku menolak sekarang, daripada memberikan kesempatan keluarganya melamar ke rumah dan aku akan tetap menolak. maka, hubungan kekeluargaan kami betul-betul akan hancur.
Kami masih berdiri berhadapan, di perpustakaan yang sepi karena jam istirahat. Dia perlahan mengikis jarak.
"Kenapa menolakku, apa yang kurang dariku" ucapnya meraih tanganku, menatapku dengan tajam, tatapan penuh tanya, kecewa dan mungkin terluka harga dirinya. selama ini, dialah yang terlalu sering menolak perempuan yang dijodohkan dengannya dengan berbagai alasan.
"Maaf" hanya itu yang bisa kuucapkan, sambil menunduk.
Dia mengangkat daguku, berusaha menghilangkan jarak diantara kami. Aku mulai takut dengan gelagatnya. Sekarang, di ruangan ini kami hanya berdua. Aku berusaha tenang, tapi degup ketakutan tidak mampu kulawan. Aku berusaha menghindar saat bibirnya hendak menyentuh bibirku, hingga hanya bibirnya hanya bisa mendarat dipipiku.
Kudorong tubuhnya dengan kasar, lalu aku kembali ke kursi tempat dudukku. aku takut, perbuatannya dilihat oleh salah satu siswa. Meskipun, hal seperti ini tidak tabu bagi kehidupanku yang dulu, tapi saat ini aku ingin menjadi seseorang yang baru. seseorang yang bisa menjaga harga dirinya. Meskipun aku sendiri ragu, tentang apalagi yang harus kupertahankan, setelah selama ini menginjak-injak semuanya atas nama cinta.
Aku menghela nafas berat.
"Kumohon, aku tidak bisa menerimamu, aku hanya bisa menganggapmu adik, walau usia kita tak jauh beda. tapi tetap saja, aku lebih tua. Carilah seseorang yang lebih pantas untukmu. Dan jangan ulangi hal tadi, jika ada yang melihat, kita akan dalam masalah. tapi meskipun tidak ada orang yang melihat, setidaknya malu lah pada Allah yang melihat". Ucapku lagi dengan nada sendu. Dia menatapku dengan kekecewaan.
"Baiklah, aku akan menikah dengan orang lain. Maaf jika terkesan memaksamu" lalu dia beranjak pergi meninggalkanku sendiri dalam kekalutan.
Aku sadar, usiaku saat ini sudah TDK muda lagi. teman-temanku rata rata telah menikah dan punya anak. Harapan keluargaku untuk menikahkan ku, juga tidak bisa kuabaikan. Namun bagiku, menikah hanya akan membuka aib yang selama ini kisimpan. aku tidak ingin menikah dan memberikan kekecewaan pada suami dan keluargaku.
***
Akhir pekan, aku memutuskan bersih bersih di kamar. Tanpa sengaja, aku kembali melihat foto foto dan surat surat saat aku dan dia masih bersama. kutatap wajahnya selalu tampak ceria, bahkan difoto. Kenangan itu kembali hadir.
***
Kembali tangis itu tak bisa kutahan meski harus diredam dengan bantal agar tak satupun yang mendengar. Aku tidak pernah menyesal berpisah dengannya. aku hanya menyesal karena begitu bodoh menghianati kepercayaan orang tuaku dan lebih mempercayainya yang berjanji akan selalu bersamaku.
Kubuka suratnya yang diberikan waktu masih dipenjara. segala janji yang terangkum indah dalam untaian kata. aku sadar, kekecewaan ku hadir karena aku terlalu berharap pada manusia. aku menghianati kepercayaan orang tuaku, keluargaku bahkan Tuhanku. Segala lara yang kurasakan saat ini adalah buah perbuatanku sendiri. aku harus membuang semuanya. cukup sampai hari ini aku menangis untuknya.
segala kilatan kejadian selama aku tinggal di desa ini silih berganti. bagaimana kecewanya ibu, saat ada pertanyaan pernikahan tentangku "kapan menikah.." "kamu jangan pilih pilih dong..." "itu di A dah punya anak, kamu kok belum menikah sih.." dan banyak lagi. namun yang kukagumi, keluargaku tak pernah memaksaku sampai teman mengajarku yang ingin mengajukan lamaran, yang sekaligus juga kami masih keluarga dekat. Meskipun demikian, mereka masih menghormati keinginanku yang menolak dengan berbagai alasan.
aku tahu, aku harus membalas segala kekecewaan keluargaku dengan berbakti. aku akan melakukan segala hal untuk membahagiakan mereka. mungkin, kecuali untuk menikah. hingga ada seseorang yang dikirim Allah, untuk melengkapi hidupku, menerima segala kekurangan dan kelebihan ku.
Aku mengambil kaleng biskuit dibawa tempat tidur beserta korek api dilemari. Lalu kubakar satu persatu foto dan surat surat selama kebersamaan kami. Aku harus melupakan semua, semua rasa sakit yang kurasakan. Sekarang aku harus kembali kepada Allah, bertaubat dan menjalankan hidup dengan lebih baik.
Mengajar dan tinggal di desa ini, setidaknya mengenalkan ku kembali kepada nilai nilai agama yang telah banyak kutinggalkan selama di kota. Aku bertemu dengan guru-guru yang rela berbagi ilmu agama, dengan siswa yang membuatku kagum yang istiqamah dengan pilihannya untuk berhijab. Akupun mulai terbawa dengan pergaulan mereka yang terarah, tidak bebas seperti pergaulanku selama ini.
Meskipun aku masih tetap menyayangi dan menghargai teman teman selama di kota. Tapi tak bisa kupungkiri, sedikit banyaknya perbuatanku selama ini banyak terpengaruh dari kebebasan dan kebiaisaan mereka di kos. Sadarlah aku, bahwa pergaulan memiliki andil yang sangat besar bagi perilaku kita. Sehingga sangat dianjurkan untuk bergaul dengan teman yang baik, apalagi jika sikap kita masih plin-plan, masih kurang ilmu agama. agar, kita tidak terjerumus ke perbuatan yang salah.
Aku harusnya berterimakasih pada Allah, karena menunjukkan jalanNya. memberikan hidayah, hingga aku bisa kembali ke desa. Memulai hidup yang baru, meskipun dengan membawa noda. Namun, Allah maha pengasih, setidaknya Allah menutup aibku. Aku dapat menyelesaikan kuliah dan bekerja. Meskipun tetap saja, noda yang tertoreh tak mungkin kuhapuskan. Harapanku, semoga Allah mengampuni segala perbuatanku di masa lalu, dan orang tuaku tidak akan menanggung dosa dari perbuatanku.
"Ting.."
Kuperiksa pesan masuk dari HPku. kulihat ada pemberitahuan tentang pergantian kepala sekolah dan aku terpilih menjadi salah satu kandidat. Aku menyiapkan berkas yang diminta dan memasukkannya ke dalam map untuk dikumpulkan besok pagi.
***
Susana riuh terdengar, kami bertiga sudah duduk menunggu hasil tes untuk menjadi kepala sekolah baru, setelah kepala sekolah lama pensiun. Aku merasa belum pantas mencalonkan diri, tapi karena ditunjuk maka harus menerima.
Dan tanpa bisa menolak, aku harus menerima bahwa aku terpilih menjadi kepala sekolah yang baru. yah.. pengumuman hari ini memperlihatkan nilai kami tidak begitu jauh berbeda, tapi karena nilaiku yang tertinggi maka aku yang terpilih.
Menjadi kepala sekolah, bukanlah impianku. tapi melaksanakan amanah, wajib saat kita telah diberikan amanah itu.
"selamat yah.." ucapan itu diberkan oleh sesama kandidat kepala sekolah. kami bersaing dengan sehat, dan tentunya tidak akan memendam dendam apabila tidak terpilih.
Acara pelantikan kepala sekolah dilakukan bersamaan dengan sekolah sekolah lain dibawah naungan yayasan yang sama. Ada 18 kepala sekolah yang akan dilantik dihari yang sama. Pekan terakhir bulan ini, disebuah hotel di kota.
Tiba hari H, aku menuju ke hotel tempat acara. aku terburu-buru memasuki ruang pertemuan hingga tidak sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki berpakaian lengkap khas pekerja kantoran.
"Maaf.." ucapku merasa tidak enak.
"saya yang minta maaf, tadi buru buru karena anak saya menunggu di luar. HP nya, nanti saya ganti yah" ucapnya mengembalikan HP ku yang bagiannya tercecer kemana mana tanpa kusadari terjatuh tadi.
Dia mengeluarkan kartu nama dan memberikannya padaku, agar bisa menghubunginya. tak lupa dia meminta kontak yang bisa dihubungi. Tanpa ingin memperpanjang, karena akupun sudah terlambat, aku menerima hp dan kartu nama serta memberikan nomor hp yang bisa dihubungi.
Aku segera melanjutkan ke ruang acara dan diapun bergeas keluar hotel. Dan hari itu, aku tidak pernah berpikir bahwa takdir akan membawa kami pada hubungan yang indah.