Nama ku Dhiana Putri Triawan
Aku selalu melihat orang-orang di sekitar ku melihat ku dengan pandangan aneh, terkadang seperti takut, gugup, atau mungkin iri.
aku tidak tahu mengapa mereka menatap ku begitu, terkadang aku berpikir para gadis itu iri pada ku karena aku memiliki kakak yang sangat tampan dan baik. Sedangkan lelaki-lelaki itu juga iri karena mereka tidak setampan kakak ku ini, haha.
Tapi mungkin Dewi Fortuna masih memberikan ku sedikit keberuntungan, masih ada yang mau mengenal ku, gadis manis itu namanya Syila.
Syila sering mengajakku--dan Kakakku--pergi ke kantin untuk sekedar mengobrol. Tapi aku tidak pernah melihat Syila mengajak Stiven--kakak ku--untuk berbicara. Dan aku berfikir mungkin dia malu karena wajah Stiven bisa dibilang sangat tampan. Syila hanya berbicara hal-hal ringan kepada ku. Dan aku juga cukup senang berbicara dengannya karena dia sangat ramah.
Suatu hari, saat kami (bertiga) pergi bersama ke taman bersama. Syila bertanya padaku mengenai Stiven dan meminta mengenalkan Stiven padanya. Aku berfikir kalau Syila menyukai Stiven. Jadi aku mengenalkannya.
" Syila ini dia kakak ku, dia tampan kan? "
"Em, iya " dia menanggapinya sambil tersenyum, senyuman yang aneh menurut ku.
" Stiven, dia sahabat ku dia cantikkan? Ayo berjabat tanganlah, "
Aku melihat Syila tampak kikuk, mungkin.
" Kalau kau malu, tidak apa "
" Ah, iya "
Aku berteman baik dengan Syila. Sampai suatu hari dia membuat ku kesal dan marah padanya.
______________
Syila mengajakku pergi ke taman, sendiri tanpa Stiven. Di sana dia mengajakku duduk di sebuah kursi tua berwarna merah. Dia mulai berbicara dan akhirnya sampai di bagian yang agak menyinggung ku, bahkan sangat.
" Dhiana, kau mengidap penyakit Perkinson. "
" Maksud mu? "
" Ayahku seorang psikiater, mau bertemu dengannya? " Syila berkata lembut dan ramah. Tetapi bagi ku nadanya seperti mengejek. Aku lekas pulang dan menemui Stiven yang sedang berbaring di atas kasur di kamar ku.
Aku ikut merebahkan diri di sebelahnya, dan bercerita mengenai Syila.
" Kau mempercayai nya? " Tanya Stiven setelah aku selesai bercerita.
" Tentu tidak! Perkinson itu penyakit semacam apa? Psikiater,huh! "
" Mungkin dia ingin merebut aku dan ingin membuang mu, Dhi, " kata Stiven seperti menghasut.
" Maksud mu? "
" Ya, dia iri kepada mu karena kau memiliki aku sedang dia anak tunggal, bagaimana kalau kita singkirkan saja dia? " kata Stiven lagi.
Akhirnya aku mengangguk patuh dan mendengarkan setiap perkataannya.
____________
Keesokan harinya aku mengajak Syila pergi piknik bersama. Stiven tentunya ikut tapi dia tidak menampakkan diri di hadapan Syila.
Aku memberikan sebuah minuman botol kepada Syila. Setelah dia meminumnya Ia kesakitan sambil memegangi lehernya, dari kejauhan Stiven yang melihat itu tertawa keras sekali. Apalagi setelahnya Syila tidak sadarkan diri, mungkin dia mati karena aku lihat nafasnya sudah berhenti. Aku hanya ikut tertawa seperti Stiven, setelahnya Stiven mengajakku pulang ke rumah.
_______________
Semenjak kejadian Syila setiap malam aku merasa Stiven sedikit aneh dia menatap ku seperti sesuatu yang, entahlah aku tidak tau artinya.
Suatu malam, saat kondisi rumah sudah sepi Stiven membangunkan aku. Dia mengajakku menemui temannya di danau.
Keadaan rumah sangat sepi karena sudah hampir tengah malam. Aku sedikit takut tapi aku percaya pada Stiven karena dia selalu melindungi ku.
Kami sampai di danau yang ada di dekat rumah, sekitar 50eter jaraknya. Entahlah aku tidak pandai berhitung.
Di sana ada jembatan menuju ke tengah dan aku melihat seseorang di ujung sana. Aku dengan Stiven melangkah melewati jembatan danau. Tiba-tiba aku merasa aku di kelilingi air, aku tidak pandai berenang dan seketika pandangan ku menggelap aku tidak melihat siapapun termasuk Stiven yang biasanya selalu siap menolongku.
_____________
Dua hari kemudian di rumah keluarga Triawan banyak karangan bunga dan orang-orang berbaju hitam yang datang. Karena putri satu-satunya keluarga Triawan meninggal tenggelam di danau.
Sekian Terima kasih")