Aku hanya bisa menunduk, menahan air mata dan rasa malu, saat orang-orang di sekitarku melihat dengan tatapan benci sekaligus jijik. Tapi sekuat apapun aku menahan nya air mata ini tetap mengalir keluar, se menyedihkan itu hidupku hinaan juga cacian selalu ku dapatkan setiap harinya, hanya kata maaf yang mampu ku ucapkan saat rasa percaya itu tak lagi ku dapatkan.
"Dasar kurang ajar, wanita murahan berani-beraninya kamu menggoda suamiku," ucapnya menggebu.
Tak elak tamparan juga jambakan itu kurasakan, panas, pedih dan juga perih, saat tangan besar itu, memukul wajahku dan saat tangan yang lain nya mencabut helai demi helai rambutku.
"Ma … aaff," ucapku tertatih.
"Maaf, semudah itu kau bilang saat kau sudah menghancurkan rumah tangga ku, merusak hidup anak-anak ku, tanpa merasa bersalah sedikitpun hebat sekali kamu," bentak nya semakin keras.
Aku tetap menunduk, bukan karena merasa takut tapi malu yang ku rasakan, tak sebanding dengan perih yang ku dapatkan. Tapi memang ini semua salahku, aku yang menyebabkan semuanya, menyesal pun tiada guna.
Namaku Kirana gadis berusia dua puluh dua tahun, terpaksa menjalani hari yang pahit saat desakan ekonomi semakin menghimpit. Menjadi pelakor bukanlah pilihan ku tapi tak ada pilihan yang lebih baik dari pada itu, aku dua bersaudara dan aku mempunyai seorang adik laki-laki yang masih membutuhkan biaya.
Kisahku dimulai saat ayah ku meninggal dalam kecelakaan, kami bukan dari keluarga yang tidak punya, bahkan sebelum ayah meninggal, kami hidup dengan bergelimang harta tapi saat cobaan itu datang semuanya hilang tak tersisa.
Setelah kematian ayahku, ibuku jatuh sakit bahkan sampai sekarang pun masih suka sakit-sakitan, adikku yang bersekolah di tempat nyaman terpaksa harus pindah ke tempat yang tak layak. Dan aku demi menyambung hidup harus bekerja di sebuah tempat yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, sebuah club malam yang penuh dengan pria hidung belang.
Aku terpaksa harus berhenti kuliah di saat kelulusan itu sedikit lagi bisa ku raih. Lebih tepatnya karena terhalang biaya aku memilih mundur, keluarga besarku memilih menolak untuk membantu dan menjauh dari kami, padahal dulu saat almarhum ayahku masih ada, mereka tak segan untuk menjilat hanya untuk mendapatkan kebaikan dari ayahku, tapi kini semua hilang bersama dengan kekayaan yang aku punya.
***
Dua bulan yang lalu, saat diri ini melangkah ke ruang dekan, guna meminta ijin untuk cuti sementara dari mata pelajaran yang ku ikuti.
"Kenapa kamu mau cuti Kiran bukan nya sebentar lagi skripsi dan kamu akan lulus?" tanya salah satu dosen yang menjadi pembimbing ku.
"Maaf Pak, ibu saya sakit dan adik saya juga membutuhkan biaya yang lebih untuk sekolah nya jadi saya untuk sementara ini meminta ijin untuk cuti, tapi nanti kalau memungkinkan saya akan melanjutkan jika masih ada kesempatan," jelas Kirana.
"Baiklah terserah kamu, tapi sungguh sayang sekali, kamu itu anak yang cerdas sayang kalau sampai berhenti."
"Maaf Pak, kalau begitu saya ijin pamit dulu."
Kirana keluar dari ruangan dosen dengan langkah gontai, sampai tepukan di bahu menyadarkan Kirana dari lamunan nya.
"Woii, kesambet aja loe jalan sambil ngelamun begitu," ucap Rima.
"Hai Rim," sapa Kiran.
"Kamu kenapa kok kayak nya lemes banget sih?" tanya Rima.
Rima adalah satu-satunya sahabat Kirana di saat senang maupun susah, disaat teman yang lain pergi menjauh, Rima dengan senang hati terus menemani Kirana mendengar semua keluh kisah nya.
"Aku tadi habis ngajuin cuti Rim."
"Hah … cuti apaan kok gue gak tau?"
"Gue gak bisa lanjutin kuliah untuk sekarang, duit gue dah mulai menipis jadi untuk berjaga-jaga untuk sementara gue ngambil cuti dulu sebelum dapat pekerjaan." ungkap nya.
"Yang sabar ya, gue pengen bantuin tapi lo tau sendiri keadaan gue gimana, malah lebih parah gue kali daripada hidup lo."
"Iya gapapa santai aja lagi, tapi nyari kerja yang ga ribet trus gajinya gede dimana ya?" tanya Kirana.
Rima terlihat berpikir sebelum akhirnya memberi tahu Kirana, "lo mau kerja kaya gue, tapi kerjaan gue di tempat yang gak baik untuk gadis polos sepertimu," ucap Rima.
"Emang kerja apa Rim?" tanya Kirana antusias.
"Open B.O!" jawab Rima.
"Hah … apaan itu Rim?" tanya Kirana polos.
"Hahahahaha," Rima tergelak kencang, sampai jadi bahan tontonan teman-teman kampusnya.
Rima sampai meneteskan air mata saking asik tertawa, "Ya ampun polos banget sih lu Kiran," ucap Rima sambil menyusut air matanya.
Kiran menoyor kepala sahabat nya yang masih tertawa, "Udah tau gue polos, maka nya jangan di ajarin yang nggak bener."
"Iya ... iya maaf, kan tadi gue cuma bercanda doang bestie," kikik Rima. "Eh, tapi ini serius ya tapi gue gak yakin lo sanggup soalnya pekerjaan ini resiko nya besar," terang Rima.
"Dih dari tadi lo, muter-muter mulu ngomong nya to the point aja kenapa sih."
Rima menarik tangan Kirana untuk menjauh dari keramaian kampus, tak enak jika obrolan mereka sampai terdengar oleh teman-teman nya.
"Kenapa sih Rima?"
"Gapapa sih cuma gak enak aja kalau sampe teman-teman denger."
"Oh."
"Sebenernya gue kerja di club malam, demi menyambung hidup dan biaya kuliah, terpaksa gue kerja disana, karena itu gue ragu mau nawarin lo, karena setahu gue lo anak baik-baik jadi gak pantes kalo kerja di tempat seperti itu, ya walaupun gaji dan tip nya besar."
"Kamu kerja nya ngapain aja Rim, kok gak pernah cerita sama gue?" tanya Kirana.
"Gue nemenin om-om minum kadang juga gue nari disana."
"Terus lo udah pernah begituan Rim?" tanya Kirana tak percaya.
Dan yang ditanya hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan sahabatnya.
Hhhh, Kirana menghembuskan nafas kasar, "Terus kalo gue ikut kerja sama lo, gue harus begitu juga Rim?"
"Ya nggak lah itu tergantung dari lo nya sendiri mau apa nggak, kalo pun lo nya gak mau juga gapapa, Kirana," jawab Rima gemas.
"Terus gue disana kerja apaan dong, nemenin minum juga?"
"Gak usah, lo kan bisa nari jadi penari tiang aja lumayan gede uang nya, kalo misalkan ada om-om yang pengen megang lu, kasih aja harga tinggi biar mereka gak bisa macem-macem," jelas Rima.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya disinilah Kirana menjadi seorang penari tiang dan menjadi primadona club, Kirana mampu menarik perhatian kaum adam, entah tua ataupun muda tapi tarif tinggi yang di patok nya tidak pernah bisa digapai lelaki hidung belang yang bermodal pas-pasan.
Hingga suatu kejadian merubah Kirana menjadi seorang pelakor merusak hidup orang lain demi hidup nya sendiri. Berusaha membalas dendam kepada mereka yang membuat sakit dan penderitaan di hidupnya.
TAMAT
Gaes nanya dong kalo cerpen ini ku kembang kan jadi novel bagus nggak? minta krisan nya ya biar makin semangat bikin cerpennya dan jangan lupa mampir juga di ceritaku yang lain judulnya Luka Hati Istri Pertama. Terima kasih 🙏🙏🙏