Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya. Lihat! Betapa terkejutnya dia melihat keberadaan ku.
Hari ini, adalah pertama kalinya kami bertemu setelah satu bulan yang lalu dia memutuskan hubungan kami. Dia yang menganggap ku pengangguran, bahkan melupakan semua kebaikanku.
Saat ini, aku akan membuatnya menyesal. Menyesal, karena sudah mencampakkan gadis secantik aku.
"Ka-kamu!" ucapnya terkejut.
Aku tersenyum padanya. "Kenapa? Ada yang salah?" tanyaku santai.
"Ti-tidak," jawabnya.
Aku mengangguk dan menikmati wajahnya yang begitu syok. Bulir keringat sebesar jagung mulai terlihat di dahinya. Aku yakin, dia sedang merasa cemas saat ini.
"Ini!" Aku melemparkan berkas yang baru selesai diperiksa.
Dengan tangan gemetar, Chandra, mantan kekasihku itu mengambil berkas itu. "Apa ini?" tanyanya bingung.
"Laporan itu, kau yang buat?" tanyaku.
Dia menganggukkan kepalanya. "Iya," jawabnya.
"Coba kau lihat, apa ada kesalahan di sana?" Aku memintanya melihat sendiri laporan itu.
"Kau pasti sudah memanipulasi laporan ini 'kan," tuduhnya.
"Apa aku sekurangkerjaan itu, hingga harus memanipulasi laporan bawahanku?" Chandra meneguk salivanya dengan sulit.
"Atau, kau meremehkan pekerjaanku?" tanyaku penuh selidik.
Chandra diam dan membuka laporan itu. Sepertinya, dia sudah melihat beberapa tanda yang sudah ku buat di sana. Beberapa menit kemudian. Dia terlihat salah tingkah.
"Jadi, apa itu kesalahanku, atau dirimu yang kurang kompeten?" tanyaku.
Pria itu tersenyum miring. 'Apa dia sedang meremehkanku?' pikirku.
Aku berusaha bersikap santai Meski tanganku terasa gatal untuk membalasnya.
"Jadi, begini caramu membalasku?" tanyanya.
"Aku, membalasmu?"
Aku menunjuk hidungku sendiri mendengar pertanyaannya. Setelah itu, aku terbahak. Dia terlihat mengernyitkan dahinya bingung.
"Aku tidak sepicik itu, Sayang. Kau sudah memutuskanku, hanya karena aku seorang pengangguran. Sekarang, apa aku harus mengiba cintamu lagi?" tanyaku.
Chandra terlihat diam menatapku. Mungkin, dia sedang merangkai kata dalam benaknya untuk membalas ucapanku. Entah, hanya dia yang tahu isi hatinya.
"Ok. Karena kamu sudah melihat isi laporan itu, maka silahkan diperbaiki. Saya beri kamu waktu hari ini, untuk menyelesaikannya. Silahkan, kembali ke ruanganmu!"
Aku mempersilahkannya ke luar dari ruanganku. Dia berdiri dan melangkah pasti menuju ruangannya.
Aku tersenyum miring. Selama ini, laporannya memang tidak pernah benar. Selama dia bekerja di sini, aku menutup mata akan kesalahan yang diperbuatnya dan memperbaiki setiap kesalahan yang diperbuat.
Aku marah saat dia memutuskan hubungan kami dengan seenaknya. Tanpa dia ketahui, aku adalah atasan yang tidak pernah ditemuinya.
Kali ini, aku memutuskan menunjukkan diriku, agar dia tak lagi meremehkanku. Hatiku sakit, saat Chandra mengatakan, jika aku adalah benalu.
Apa dia tidak berkaca? Siapa yang selama ini membantunya? Siapa yang memberinya semangat? Aku. Dulu, duniaku terpusat padanya.
Namun, sejak ia mengatakan kata-kata kasar itu, dan aku mengetahui hubungannya dengan ketua timnya, membuat aku berpikir dia tidak pantas untukku.
***
Satu minggu berlalu. Chandra mulai mendekatiku lagi. Sayangnya, aku tak terpengaruh sedikitpun. Tak peduli seberapa banyak pria itu meminta maaf, tidak akan mudah bagi seorang Stefani memaafkannya.
"Hentikan rayuanmu itu! Aku tidak akan kembali padamu." Aku berbalik dan meninggalkannya begitu saja.
"Stefani."
Sebuah suara bariton menyapa gendang telingaku. Aku tersenyum melihat pria tampan di depanku ini.
"Kak Derbi," panggilku.
Aku berlari memeluk pria itu. Dengan senang hati, kak Derbi merentangkan tangannya menyambutku. Mencium puncak kepalaku bertubi-tubi.
"Aku merindukanmu, Sayang," ucapnya.
"Baru dua minggu tidak bertemu, sudah merayuku." Aku mencebikkan bibirku.
Dia tertawa dan mencubit hidungku. Tidak ku pedulikan bisik-bisik karyawan yang mulai terdengar. Kak Derbi merangkul pinggangku dan berjalan menjauh.
Aku tak mempedulikan lagi sang mantan. Melihat kedatangan calon tunanganku saja, sudah cukup membuat hati ini bahagia.
***
Setelah kak Derbi pergi, Chandra menemuiku. Aku menatapnya datar dan tanpa minat.
"Ada apa?" tanyaku.
"Apa kau tidak bisa memaafkan aku? Aku akan melakukan apa saja, asal kau kembali padaku."
Aku tertawa mendengar ucapan pria yang pernah mengisi hari-hariku ini. "Tapi, maaf. Aku tidak berminat kembali pada orang yang telah menyakitiku. Mengatai ku benalu, tanpa berkaca siapa yang sesungguhnya benalu. Silahkan pergi," usirku.
Chandra terlihat menunduk. Mungkin, ia sudah menyesali sikap buruknya padaku. Sayang, penyesalannya datang terlambat.
Keesokkan harinya, aku pulang sedikit lebih malam dari biasanya. Kantor sudah terlihat gelap. Aku menuju basement untuk menuju mobil.
Aku melajukan mobil menjauh dari lingkungan kantor. Mengendarai mobil sport yang ku miliki. Tanpa sadar, ada seseorang yang ada di dalam mobilku.
"Chandra!" pekikku.
"Hai, Sayang. Karena kau menolakku, maka akan ku dapatkan kau dengan caraku."
Aku terlalu terkejut hingga tak bisa memperkirakan perbuatan Chandra selanjutnya. Ia membekapku hingga aku tak sadarkan diri.
***
Aku mengerjakan mata dan menyesuaikan pandangan dengan sekitar. Lampu yang temaram, dan tubuh yang terasa dingin. Ternyata, tanganku terikat ke atas.
Aku terkejut saat menatap tubuhku yang hanya menggunakan pakaian dalam. Aku menyumpah dan mengumpat. Chandra terlihat masuk ke ruangan itu.
"Lepaskan aku!" pekikku dengan marah.
"Pasti, Sayang. Tapi, setelah aku berhasil menodaimu hingga kau akan menikah denganku." Chandra menyeringai.
Bulu kudukku meremang seketika. Aku hanya mampu berdoa, semoga ada seseorang yang menolongku saat ini.
"Dasar bajingan. Kau sakit jiwa, Chandra," makiku.
"Terserah apa katamu, Sayang."
Aku semakin ketakutan saat Chandra mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Hal itu jelas membuatku berteriak histeris.
Kejadian berikutnya, Chandra terpental saat akan memanjat ke atas tubuhku. Pandangan ku beralih pada sosok pria yang ada di samping kiri ku.
"Kak Derbi!" ucapku.
Kak Derbi tidak menatapku. Pria itu melepas mantel yang digunakannya dan menutupi tubuhku. Aku menangis histeris.
"Aku akan menolongmu. Jangan menangis!" ucapnya teduh.
Aku mengangguk. Wajahnya berubah memadam. Ia menghajar Chandra dengan membabi buta hingga pria itu meminta ampun.
"Pergi dan jangan pernah muncul di hadapan kami! Mengerti!"
Kak Derbi menghempaskan tubuh Chandra. Dia beralih padaku. Setelah melepaskan ikatan di tanganku, dia mengangkat tubuhku.
Aku menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Dia memberikan paper bag dan memintaku berganti pakaian di dalam mobil. Sementara kak Derbi berada di luar mobil.
"Tenang saja, kaca mobil ku gelap. Tidak akan terlihat dari luar," ucapnya.
Aku mengangguk patuh. Pintu mobil tertutup. Aku segera memakai pakaian yang kak Derbi berikan.
Mobil kak Derbi pun melaju meninggalkan tempat itu. "Terima kasih, Kak," ucapku.
Pria itu tersenyum hangat padaku. "Ayo kita menikah."
Ucapan tiba-tiba itu membuatku tertegun. Lidahku terasa kelu dan tak mampu berucap. Apakah aku salah dengar? Apakah kak Derbi sedang bergurau?
"Aku serius," ucap pria itu.
"Kenapa Kakak ingin menikah denganku tiba-tiba?" tanyaku.
"Karena aku sudah mencintaimu sejak lama. Jauh sebelum kau mengenal pria bajingan itu."
Aku menatap manik mata pria itu dalam. Tidak ada kebohongan yang ku temukan di sana. Aku tersenyum dan mengangguk.
Ku akui, aku memang mulai jatuh cinta pada pria ini. Dia yang selalu menghiburku saat aku terpuruk. Dia juga selalu menolongku tepat waktu. Perlahan, aku melupakan kesedihanku dan melabuhkan hati padanya.
Chandra kini tak berani menunjukkan diri di hadapan kami. Setelah kejadian malam itu, ia mengundurkan diri dari perusahaan. Aku bisa menghela napas lega sekarang.
***
Hari pernikahan ku pun tiba. Semua karyawan dan teman dekat datang ke acara itu. Sengaja, aku mengundang semua orang menghadiri hari bahagiaku. Mereka mendatangiku dan kak Derbi. Mengucapkan selamat dan mendoakan kebahagiaan untuk kami.
Kini, aku menemukan pria yang tepat untuk mendampingiku. Semoga, kami akan hidup bahagia selamanya. Sekalipun ada kerikil yang menghalangi, kami mampu mempertahankan biduk rumah tangga yang kami bangun.