Masuk keruang kerja Grey. "Hi" Grey mengangkat wajahnya. Lelaki dengan dagu tegas, alis mata yang tebal juga sorot mata tajam yang dingin.
Grey meletakkan ponsel ketelinganya "Harlo bawakan barang yang ada dimobil" lalu menutup sambungannya.
Ketukan pintu, Harlo membawa tentengan tas dan memberikannya pada Grey lalu pamit keluar.
"Ayo" Cengiran Renee. Grey berdiri, berjalan mendekat. Menarik pinggang Renee, menempelkan bibirnya yang padat pada bibir hangat Renee.
"Ganti bajumu" Serak Grey lebih mendekat pada Renee. "Cepat atau kita tak akan pergi" Usapnya pada bibir Renee yang tebal karna ulahnya. Ia lumat lagi bibir menggoda itu.
"Kenapa?" Disela ciumannya, Renee menjauhkan dirinya pada Grey.
"Enggak boleh! hanya boleh aku!" Posesif Grey.
Renee mengenakan atasan bunga-bunga dengan rok pensil. Dengan tali menutupi sebagian punggungnya. Grey mengambil tas itu menyerahkan pada Renee.
"Kenapa sih ini lucu lho"
"Lucu kalau aku melepasnya!" Ancam halus Grey.
Renee berdecak. Ia kesusahan melepas tali dibelakangnya.
"Kamu ini bantu dong" Grey menatap Renee. Lalu mendekat dan membantu Renee melepaskan talinya. Rene menyampirkan rambutnya ke samping, memudahkan Grey membantunya. Pose yang sangat intim.
"KAK!" Rose yang masuk terkejut dan memanggil dirinya dengan keras.
"Apa yang kalian lakukan!" Bella melihatnya tak percaya.
"Kita harus cepat menikahkan mereka" Darla keluar dengan riang. Ia ingin menelepon Dolores. Mengabarkan comblangan mereka berhasil.
"Kalian bisa mengetuk dulu" Acuh Grey masih membantu melepaskan tali baju Renee.
"Kak! Kamu selingkuh dari tunanganmu,"
"Aku tak percaya kau melakukan itu kak"
"Tunangan? Siapa tunanganku?" Grey mendudukan dirinya di tepi meja kerjanya.
"Bukannya aku yang kau lamar kemarin kak?" Gloria berjalan, kearah Grey.
Renee melepaskan atasannya. Ia hanya mengenakan bra. Acuh. Mendekat pada Grey yang menatapnya dengan senyuman terukir dibibir padat itu. Berani.
Membuka tangannya. Grey menariknya mendekat. Melingkarkan tangannya pada pinggang Renee.
"Dasar jalang"
"Murahan"
Hinaan keluar dari mulut Bella juga Rose, Gloria meneratkan kepalannya. Ia menatap bengis Renee.
"Tasnya" bisiknya sensual didepan wajah Grey. Sengaja memanaskan suasana.
Grey memberikan tasnya. Segara Renee mengeluarkan barang yang ada didalamnya. Sepasang baju couple.
Renee mengamatinya. Matanya melihat bolak balik ke Grey juga baju yang ia pegang. Tak percaya. Ukuran Pangeran Kartel. Melakukan hal yang se alay ini.
"Norak!"
"Kak dia tak pentas buatmu, kau lebih memilih wanita kampungan itu. Ih menjijikan pakaian kembaran"
"Dasar bocah!" Dengan cepat memakainya.
"Gimana?" Tanya Renee memutar badan yang mengenakan Hoodie warna hijau gelap. tulisan "Only Greygori"
Grey memandang gemas wanitanya ini. "Kamu suka hoodienya" Renee mangangguk.
Grey melepaskan jasnya kemudian merogoh tas yang sama, langsung memakai miliknya. "Renee's Property"
Tulisan di hoodie Grey membuat Renee terbahak. "Suka" tanya Grey. "Banget" wajah berserinya.
Mereka melupakan tiga pasang mata yang melihatnya benci. Yang memutuskan meninggalkan tempat terkutuk itu.
Gloria berjalan di belakang Bella dan Rose yang terus mengomel. Dasar wanita-wanita tak berguna desis Gloria memandang sinis ke Bella dan Rose.
*****
"Bagaimana?" Grey bertanya pada bawahannya.
"Mereka sudah menyekap beberapa tapi mereka tetap bungkam, hanya menyebut Queen"
"Habisi semua biarkan polisi menemukan kepala mereka." Grey merasa tak akan mendapat apapun. Ia akan menancing ketua mereka melalui pemberitaan media esok hari.
*****
"Ketua" lelaki dengan jas rapi meraih remot televisi, menyalakan dengan berita penemuan beberapa kepala oleh polisi.
"Mereka Team Max, ketua" mendengarkan penjelasan si tangan kanannya. Ia mengigiti kuku, gelisa.
"Tak ada yang kembali, tapi polisi hanya menemukan 5 kepala"
"Max pasti sedang sembunyi di satu tempat" desisan lirih.
"Aku tahu kamu masih hidup"
"Aku akan membalas mereka"
"SIAPKAN PENYERANGAN!" teriak perintahnya.
*****
"Queen, kartel Blanco diserang" Luvita mengabarkan.
"Kartel Blanco kewalahan. Penyerang mengetahui seluk beluk markas Blanco" jela Luvita.
"Bagaimana Hera?"
"Benar dugaan Queen, Gloria dalang dibalik semua ini. Ia mata-mata dari Black Death"
"Queen" Hera mendekat. Hera menundukan kepalanya pada Renee.
"Aj tak mengetahui kartelnya menyerang Kartel Blanco"
"Mereka menyerang atas perintah Gloria, dia mempunyai hubungan dengan Maximilian, petarung teratas di kartel Black Death juga tangan kanan Aj,"
"jadi para pengikut kartel Black Death yang tak terima rekan mereka dihabisi oleh kartel Blanco kemarin mengikuti perintah Gloria" jelasnya.
"Siap kan pasukan, kita bantu mereka" Renee bersiap dengan topengnya.
*****
Grey meradang, amarahnya sampai pada puncaknya.
"Sambungkan ke Rico"
"Ya Pangeran"
"Bagaimana?"
"Selama komunikasi mereka memanggil ketuanya Queen"
"Seperti yang kita rencanakan, mereka meledakkan markas"
"Queen mereka menggunakan topeng pangeran"
"Thomas terluka cukup parah tadi sempat ada yang membantu mereka pangeran"
"Bedebah sialan."
"Kita kesana, Harlo"
*****
Renee sudah berada disana, ia masuk dengan Luvita juga Hera. Menyembunyikan pasukannya.
"Wah gila juga" Celetuk Luvina. Bangunan didepannya sudah tak berbentuk.
Dilihatnya seseorang memang menunggunya. Di dalam, bersama puing-puing bangunan.
"Selamat datang Queen" Sambut Grey.
"Bagaimana? kalian senang, bisa menghancurkan markas Blanco?" Sarkas Grey.
Mata Renee memicing, ia tak mengerti maksud dari Grey.
Bunyi kokangan senjata didekat telinga Renee. Hera membidikan pistolnya pada kepala Renee.
"Hera!" Teriakan Luvita. Mengarahkan senjatanya pada Hera. Dingin di pelipisnya, Luvita melirik Harlo yang menodongkan pistolnya pada Luvita.
"Terkepung heh!" Grey menikmati tatapan mata terkejut itu. Ia merasa familiar dengan mata itu.
Renee berdecak. Ia dijebak. Sialan. Ia sangat marah sekarang. Bukan pada orang yang ada didepannya ini.
Tapi pada Gloria. Bisa-bisanya dia se bodoh ini. Berkata apapun sekarang, tak akan Grey dengar.
Disudut lain ada dua bibir menyeringai senang atas drama didepannya. Mereka menang.
Mereka saling menatap memberikan selamat lewat tatapan. Ini namanya sekali membidik dua burung mati. Mereka tersenyum culas.
Tak sabar, salah satu dari mereka ini memeprovokasi. Ia menembakan senapannya pada Renee.
Renee yang terlatih ia menghindar dengan sangat lihai.
"Sialan kalian!" Luvita marah karena mereka menyerang ratunya.
"MAJU SEKARANG!" Perintahnya dengan kencang. Ia menyerang Harlo. Mereka saling serang dengan petarungan sengitnya. Pasukan mereka bergerak.
Dua orang yang saling senyum dan masih menyunging senyuman kemenangannya itu adalah Maximilian dan Gloria.
Max menarik Gloria menjauh dari pertarungan. Membiarkan dua kartel saling beradu.
Ia tak sabar mendengar berita dua kartel itu hancur dan Kartelnya akan menajadi nomor satu yang berkuasa. Setelah itu ia akan menendang Aj. Ketua mereka. Tak sabar menunggu kemenangannya.
Tanpa ia tahu ada jebakan mengerikan menantinya juga Gloria.
Jleb!
Jleb!
Ia den Gloria tumbang seketika. Tembakan bius untuk gajah. Gloria melihat Renee yang mendekatinya dengan senyum mengerikan sekilas sebelum tak sadarkan diri.
"Sayang, kamu gak apa apa"
"Hmmm" hanya gumanan saja. Hera yang ikut membelot padanya adalah hal yang diluar rencananya. Dan Renee menyadari itu sebelum ia menemui Grey dengan Luvita.
Renee melumpuhkan Hera deng mudah. Menembak Hera dengan peluru bius di kakinya. Ia yamg akan memberi Hera pelajaran. Ia tak suka pengkhianat.
"Bawa mereka ke markas" ucap Luvita pada para bawahannya. "Iya Nona" Bawahannya menyeret tubuh Hera ke markas mereka.
Pandangan Luvita teralih pada Harlo, lelaki itu memandang tubuh Hera yang diseret. Dengan raut tak terbaca. Luvita beralih ke sisi ratunya. Tatapan gadis barbie itu dingin.
*****
Renee sebelumnya sudah menyampaikan apa yang ia temukan pada Grey. Sebelum mereka menjalin hubungan pura-pura itu.
Mereka bersandiwara untuk mengetahui siapa mata-mata yang ingin menghancurkan kartel Blanco.
Kejadian Hera, Renee sengaja. Apa Hera akan berkhianat? Ternyata memang berkhianat.
*****
Matanya mulai terbuka. Ia melihat plafon kamar yang familiar. Sentakan sinar matahari membuatnya menyipit. Memperhatikan penampakan kamar. ini kamarnya dirumah.
Ingin mengusap matanya tapi ada yang menahan kedua tangannya. Kedua tangannya diikat pada pinggir ranjang.
Dengan susah payah ia menarik tanganya. Kilatan menyilaukan menganggunya.
"Sudah bangun" Hera melihat Renee mengelap sajam kecil ditangannya. Ia sering melihat sajam itu dileher para musuh mantan ratunya.
"Cih!" Hera mendecih. Ia tak takut dengan itu. sama sekai.
"Tante!" Suara ketukan juga teriakan anak perempuan nyaring yang Hera kenali.
Renee membuka sedikit pintu itu. "Apa orang yang didalam masih sakit?" Tanya Rasmi ingin tahu.
"Rasmi udah sarapan?" Renee mengelus rambut anak perempuan itu. "Belum" ia ingin melongok kedalam.
Rasmi anak Hera. Hera mencoba menarik tangannya hingga lecet. Ketakutan menyeruak pada dirinya.
"Yaudah sana sarapan dulu sama Uti ya"
"ya, Utiiiiii makaaaann" teriaknya berlari ke meja makan. "Ish gak boleh teriak ter...." Sambut suara tua yang terdengar jelas oleh Hera. Ibunya.
Klek!
Renee menutup pintu, seringaian licik, ia perlihatkan pada Hera. Si pengkhianat.
"Bagaimana nyenyak tidurnya?" Pertanyaan basa basi.
"Lepaskan mereka, urusanmu denganku" Geram Hera.
"Kau kenal aku kan Hera. Aku tak akan segan."
Hera diam ia mencengkram tali yang mengikat tangannya, keras.
"Kau terlalu tamak!" Bisik Hera. matanya memicing.
"Menginginkan milik orang itu yang pantas dibilang tamak"
"Harusnya kau bisa lebih bahagia dengan Harlo, tapi kau menginginkan milikku"
"Sayang sekali, ia bocah sangat imut, juga penurut" Renee mengelus sajamnya perlahan.
"Tolong lepaskan mereka Renee" Pias. Hera memohon. Keegoisannya dan serakah membuatnya lupa. Siapa yang ia hadapi.
"Aku... aku yang berurusan denganmu bukan mereka" lanjutnya.
"Bagaimana jika aku membunuhmu perlahan..."
"Iya iya tapi lepaskan mere..."
"Didepan mata mereka" lanjut Renee menyela perkataan Hera. Mata Hera melebar. Sesak dadanya. ia tahu Renee akan melakukan apa yang ia katakan.
Ditempat lain.
Luvita duduk dengan laptopnya, ia mengerjakan pekerjaannya.
"Hmmm...Silau" Gloria membuka matanya.
"Nyenyak tidurnya nyonya" sapa Luvita. Ia beranjak dari tempatnya melangkah mendekati Gloria.
"Siapa kamu?"
"Kau tak perlu tahu"
Ingatan Gloria berputar pada wajah didepannya. Iya dia... dia selingkuhan Max. Gloria pernah melihatnya bersama Max kekasihnya, direstauran.
"Bangsat kau! Kau selingkuhan Max!" ingin menyerang Luvita.
"Lepaskan aku!" Marah Gloria saat tahu kedua tangannya diikat dipinggir ranjang.
"Apa yang kau lakukan padaku! Sialan!"
"Suka sekali kau mengumpat!" Luvita lelah. Malas mendengarkan ocehan Gloria.
"Dasar jalang sialan!"
Luvita mengeluarkan sajam miliknya dan melemparkannya pada tangan Gloria dan menancap di lengannya.
"Aaaargh... Jalang bangsat!"
"Sialaaan Aaaargh..." Luvita mendekat meraih sajamnya dan menariknya. Lalu menggores pergelangan Gloria.
"Masih bisa kau memaki"
"Tugasku selesai. Aku akan biarkan kau mati kehabisan darah."
"Lebih evisien, tak membuang waktuku yang berharga" Luvita mengemasi barangnya meninggalkan dalam ruangan penyiksaan, dengan Gloria yang terus berteriak memakinya.
"Ini" menyerahkan kunci pada algojo, penjaga tempat itu.
"Kau bisa lakukan apa saja, tanpa melepaskan apapun" Algojo itu mengerakkan kepalanya. Hormat pada Luvita.
Algojo itu masuk dengan tampang cabulnya.
"Mau apa kau" Pada Algojo yang merabanya.
"Tidak... jangan... Tidakk" teriaknya meronta Gloria.
Luvita keluar dari tempat penyiksaan itu, pergi ke perusahaan. Untuk Max nanti saja. Masih ada hari esok untuk menyiksa mantan yang membuangnya demi Gloria.
Karena ia tak bisa melakukannya sendirian, karna sang pangeran juga berhak memberi pelajaran.
*****
"Kita sudahi"
"Terima kasih atas kerja samanya" Luvita melihat pria didepannya. Harlo, asisten Grey.
Ah dirinya dibuang lagi, tak seberharga itu kan dirinya...
Menatap pria didepannya. Asik menyeruput lattenya, ia jadi ingat quote, Jika ingin lepas, lepaskan saja. Jangan berusaha menahannya.
Hanya mengingat quote itu saja membuatnya lelah. sudahlah. Anggap saja kemaren itu kesenangan sesaat Ta!
Luvita beranjak dari kursinya, mengambil tas pada kursi sebelahnya , menyangklongkannya di pundak. Dan berjalan keluar kafe. Meninggalkan Harlo yang melongo.