Seperti hujan pertama yang menghapus derita kekeringan, kuingin kau kembali membawa rasa yang hilang.
*
Gemericik air mulai membasahi bumantara. Tiap tetesnya mengandung ribuan warna, yang mana berasal dari perasaan tiap manusia. Kala itu seorang gadis tengah berdiri memandangi hamparan tanah yang mulai beraroma. Membuatnya terhanyut dalam suasana nestapa juga nelangsa. Gadis itu Ghea Andara. Nama sederhana dengan ribuan kisah tiap harinya. Seperti sekarang, ia tengah menunggu seseorang yang tidak pasti kapan akan tiba ... atau tak pernah tiba?
Ghea tersenyum, kisahnya mungkin telah berakhir sejak kepergian seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa untuknya. Meski demikian, ia masih bertahan pada tempatnya. Ghea hanya memiliki harapan dan keyakinan. Suatu hari, hujan pertama akan membawa seseorang itu kembali. Bak air yang mengusir kekeringan, seseorang itu akan menorehkan ribuan warna dalam lembar kehidupannya.
"Ghea." Suara itu tidak mampu membuat Ghea bergeming. Ia masih berdiri di sana, menyaksikan tetes air hujan yang membasahi kaca jendela rumahnya. "Sampai kapan kamu seperti ini, Ghea? Mengharapkan seseorang yang tidak menghargaimu sama sekali? Bahkan mama yakin dia sekarang sudah bahagia dengan kehidupannya. Seharusnya kamu juga bahagia, Ghea." Ghea masih tidak bergeming. Gadis itu masih memandang lurus ke luar jendela.
"Lagipula, daripada kamu berdiam diri saja di sini, lebih baik bantu mama membeli keperluan rumah. Labih bermanfaat dan mendapat pahala. Kamu juga bisa menikmati udara segar di luar rumah. Agar tidak seperti katak dalam tempurung." Raisa--ibu Ghea--menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan dan secarik kertas pada Ghea membuat sang anak mau tak mau harus menuruti perkataanya.
Ghea menerima uang dan secarik kertas dari sang ibu lantas beranjak ke kamarnya. Usai mengenakan mantel tebal di tubuhnya, gadis itu mengambil sebuah payung yang menggantung di belakang pintu. Tanpa sepatah kata, gadis itu meninggalkan rumah membuat hati Raisa teriris. "Maafkan mama, Ghea. Kalau saja kesepakatan itu tidak pernah dibuat, pasti kamu masih jadi Ghea yang ceria bukan murung seperti sekarang," monolog Raisa penuh penyesalan.
Sementara di lain sisi, Ghea menerobos hujan lantas bergegas menuju minimarket tak jauh dari rumahnya. Tak ingin berlama-lama di luar, gadis itu mempercepat langkahnya memasuki minimarket lantas mencari barang-barang yang tertera di secarik kertas pemberian sang ibu. Usai mengambil semua barang dalam daftar belanja, gadis itu mulai mengantre untuk membayar belanjaannya. Tetapi netra gadis itu menangkap sosok yang kini memasuki minimarket. "Nico."
Laki-laki dengan jaket denim dengan rambut hitam berantakan yang sedikit basah karena guyuran hujan itu mampu menyita perhatian Ghea. Bukan hanya Ghea, tetapi manusia dalam minimarket ini turut memerhatikannya. Hal ini tidak lain karena aura berbeda yang ditimbulkan laki-laki itu. Bahkan satu persatu pengunjung mulai memberi jalan setelah laki-laki itu beranjak menuju kasir.
"Kayak biasa, delivery order." Nico memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribu. Setelahnya, ia berbalik lantas beranjak meninggalkan minimarket tanpa menyadari jika Ghea tengah memerhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
*
Ghea menatap lurus jalanan yang ada di hadapannya. Ia memilih untuk berteduh di sebuah halte bus dekat minimarket karena hujan tak kunjung reda. Lagi-lagi sekelebat memori masa lalu terlintas di benaknya. Gadis itu memeluk belanjaannya lantas menghirup dalam-dalam udara yang membaur padu bersama petrikor. Usai mendapat kabar jika sebuah paket berisi sepuluh batang cokelat kembali dikirim ke rumahnya membuat gadis itu semakin heran. Manusia mana yang rela membuang-buang uang hanya untuk paket--bahkan--tidak pernah ia konsumsi?
"Ghea." Seorang laki-laki dengan tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter tengah duduk di samping Ghea. Laki-laki bernama Geraldine Putra Sanjaya itu tidak mampu membuat Ghea tertarik untuk memerhatikannya. "Ngapain di sini? Nunggu hujan reda? Gue antar pulang mau?" tanya Gerald bertubi-tubi. Lagi-lagi Ghea tidak bergeming. "Ghea, gue antar pulang mau?" ulang Gerald membuat Ghea menatapnya sekilas sebelum kembali menatap ke jalanan. "Lo bukan siapa-siapa, jangan sok peduli dengan berbuat seperti mereka," ucap Ghea penuh penekanan.
Gerald tertegun. Gadis di sampingnya bukan Ghea yang ia kenal, melainkan orang lain. "Gue tau semua yang terjadi memang gak benar. Tapi percaya sama gue, Ghea. Kak Nico benar-benar nggak berniat ngecewain lo. Kalian masih bisa bersatu, kalau lo mau," ucap Gerald membuat Ghea mendecih. "Kalian sama saja." Ghea mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan halte itu sebelum Gerald kembalu menghalangi langkahnya. "Lo masih berharap Kak Nico datang seperti dulu." Lagi-lagi Ghea mendecih. "Gak usah sok tau," ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan Gerald sendiri di halte itu.
"Tapi realitanya, di sini bukan lo saja yang terluka, Kak Nico juga."
*
Ghea tercengang melihat sebuah motor laki-laki yang terparkir di pekarangan rumahnya. Gadis itu lebih terkejut melihat seorang laki-laki yang ia tunggu tengah berbincang dengan sang ibu. Arnico Putra Sanjaya, laki-laki yang ia temui beberapa saat lalu di minimarket lah pemilik motor itu. "Nico." Hanya itu yang dapat Ghea ucapkan sebelum kantong belanjaaanya terjatuh kala gadis itu berlari ke kamarnya.
"Ghea." Nico berniat mengejar gadisnya sebelum Raisa mengisyaratkan agar ia saja yang membujuk sang buah hati. "Biar tante saja yang membujuk Ghea," ucap Raisa sebelum menyusul sang buah hati. Setelah sekian lama Nico kembali, bersamaan dengan pengirim paket berisi cokelat yang terungkap.
*
Raisa memasuki kamar sang buah hati--beruntung--tidak dikunci. Wanita setengah baya itu terenyuh ketika melihat sang buah hati meringkuk di bawah selimut seraya menangis tanpa suara. Dengan cekatan, ia membangunkan sang buah hati lantas membiarkan menangis dalam dekapannya.
"Ghea, mama tau segala sesuatu yang terjadi di masa lalu memang tidak pantas diterima. Pembatalan pertunangan karena tidak direstui oleh orang tua Nico memang tidak dapat diterima. Tapi ada satu hal yang belum kamu tahu, Nak. Nico sama terlukanya dengan kamu."
Raisa menjeda ucapannya. "Nico sudah menunggu hari ini tiba, dimana empat tahun telah berlalu. Hari dimana hujan pertama turun. Seperti perkataan kamu dulu kalau Nico akan menjemputmu ketika hujan pertama turun. Hari ini, impianmu akan menjadi nyata. Nico kembali, tepat di hujan pertama tahun ini."
"Ghea, percaya sama mama. Nico sangat mencintaimu melebihi dirinya sendiri. Paket cokelat misterius itu berasal dari Nico. Dia rela memberimu cokelat setiap hari agar senyum di wajahmu kembali merekah." Ghea masih enggan merespon, gadis itu masih terpaku dengan apa yang terjadi.
"Sebenarnya Nico menyelipkan sepucuk surat pada setiap paket yang ia kirim. Dari surat-surat itu, ibu yakin jika Nico memang yang terbaik untukmu, Ghea. Tadi Nico juga bilang, kalau orang tuanya sudah merestui hubungan kalian."
Kali ini perkataan Raisa mampu membuat Ghea bereaksi. "Mengirim surat dan cokelat bukan cara terbaik untuk memperbaiki masalah. Kalau Nico memang menyesali perbuatannya yang tergesa-gesa di masa lalu, seharusnya ia membawa orang tuanya ke mari. Bukan hanya mengucapkan kata yang tidak memiliki kepastian, menjadi nyata atau isapan jempol semata." Ghea kembali menenggelamkan diri di bawah selimut. "Lebih baik mama keluar, temui calon menantu idaman mama. Ghea gak akan bergerak dari tempat ini apalagi untuk menemui Nico."
Raisa menghela nafas panjang sebelum meninggalkan kamar sang buah hati. Nico yang berada tak jauh dari mereka pun merasakan nestapa yang dialami Raisa. Ghea memang keras kepala, Nico tau itu. Kini, ia menyesali perbuatannya yang tergesa-gesa hingga membuat hubungan mereka berada di ambang ketidakpastian. Kalau saja saat itu ia memikirkan akibat dari perbuatannya. Kalau saja saat itu Nico meminta ijin dahulu kepada kedua orang tuanya, keluarganya mungkin kondisi seperti ini takkan terjadi dalam kisah cinta mereka.
Drrt ... drrt ..., Nico menerima panggilan masuk tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo."
"Nico, kamu dimana?" tanya seseorang di seberang sana.
"Rumah Ghea, ada apa Ma?"
"Dia sudah setuju?" tanya Renata, ibunda Nico dan Gerald.
Nico menghela nafas panjang. "Belum, Ma. Nico masih berusaha bujuk dia lagi," ucapnya parau.
"Ibu Ghea ada di sana?"
"Ada, bentar Nico kasih tau Tante Raisa dulu." Nico menghampiri Raisa yang berdiri di depan kamar Ghea. "Tante, mama ingin bicara," ucapnya seraya memberikan ponselnya. Raisa menerima ponsel Nico lantas menceritakan segalanya pada Renata.
"Gimana perkembangan Ghea?" tanya Renata.
"Masih sama, dia belum bisa menerima permintaan maaf Nico kalau kamu sama suamimu belum datang ke rumah. Ghea masih belum percaya kalau Nico benar-benar serius kali ini," jawab Raisa.
"Kalau begitu, nanti aku usahakan bisa pulang ke Malang secepatnya sama Mas Zio. Sementara itu, kasih Ghea sama Nico waktu berdua. Aku yakin lambat laun, Ghea dapat kembali seperti dulu." Renata menjeda perkataannya. "Maafkan aku sama Mas Zio, gara-gara kami Ghea jadi pribadi yang berbeda seperti sekarang," ucap Renata tulus.
"Iya Renata. Sekarang, kita harus fokus memperbaiki hubungan Nico sama Ghea. Terima masa lalu sebagai pelajaran. Sebenarnya itu bukan salah kalian sepenuhnya, aku juga turut menjadi penyebab perubahan sikap Ghea."
Renata bungkam sejenak. "Yauda, Raisa. Masih ada pekerjaan sebelum aku balik ke Malang. Tolong jaga Ghea dan Nico di sana," ucapnya.
"Iya Renata, itu pasti."
Tut ... tut ... tut ... ! Sambungan telepon terputus, Raisa mengembalikan ponsel ke pemiliknya. "Renata bilang, dia sama papa kamu bakal berusaha biar bisa pulang hari ini. Sementara itu, kamu harus bisa bujuk Ghea keluar rumah. Supaya kalian bisa menikmati waktu berdua, bicara dari hati ke hati." Nico hanya menjawab perkataan Raisa dengan anggukan.
"Mama, Ghea harus pergi ke--" Perkataan Ghea terputus melihat Nico yang berdiri di hadapannya setelah gadis itu membuka pintu. "Gak jadi," ucap Ghea lantas berniat menutup pintu sebelum tangan Nico mencegahnya. "Ghea, kasih satu kesempatan untuk buktikan keseriusanku terhadap hubungan kita," ucap Nico penuh permohonan. "Basi," ketus Ghea lantas memalingkan pandangan dari Nico.
"Ghea, please. Kasih kesempatan untuk hubungan kita, aku pengin kita seperti dulu. Aku juga ingin mengembalikan senyum di wajahmu lagi, Ghea. Seperti hujan pertama yang menghapus kekeringan di muka bumi, aku juga ingin memperbaiki kesalahan terbesar dalam hidupku," ucap Nico lantas menatap lekat netra Ghea membuat gadis itu terhanyut dalam ketulusannya. "Aku mohon," sambung Nico.
"Ghea, tolong pikirkan lagi. Nico sangat serius dan tulus kepada hubungan kalian," bujuk Raisa.
Ghea menghela nafas panjang. "Oke, aku kasih kamu satu kesempatan untuk membuktikan keseriusanmu. Akuu akan percaya omonganmu jika hari ini, kamu membawaku ketemu Tante Renata dan Om Zio. Buktikan kalau kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dulu," putusnya mampu menerbitkan seulas senyum di wajah tampan Nico.
"Thanks Ghea! Aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga dari kamu, terima kasih banget!" ucap Nico lantas berniat memeluk Ghea sebelum tatapan tajam gadis itu menciutkan niatnya. "Maaf, aku terbawa suasana," jujur Nico hanya direspon decihan Ghea.
"Terima kasih, Ghea. Oh iya, tadi kamu mau bilang apa?" tanya Raisa membuat Ghea memikirkan apa yang ingin ia lakukan sebelumnya. "Oh itu, sore ini aku lupa kalau ada jadwal fanmeet di Hotel Cempaka. Barusan Gevan ngechat kalau dia sudah di lokasi."
"Siapa Gevan?" tanya Nico penasaran. "Gevan itu asisten, editor, manager, sekaligus sahabat Ghea. Empat tahun terakhir, Ghea sudah menerbitkan novel. Awalnya dia ditawari oleh si Gevan ini dan hasilnya sangat bagus. Ghea jadi penulis best seller tahun ini. Tapi baru sekarang ada event fanmeet gitu. Kamu gak gugup, Ghea?" Ghea tidak bergeming. "Gugup sih, tapi mau bagaimana lagi? Gevan sudah mengatur segalanya."
Raisa tersenyum lantas menepuk pundak sang putri. "Semangat, Ghea. Tapi sepertinya hari ini, lebih baik kamu berangkat sama Nico aja. Mama yakin dengan hadirnya Nico di sana, rasa gugup kamu akan sirna. Itung-itung kalian bisa jalan berdua," ucap Raisa membuat Ghea mempertimbangkan perkataannya. "Ide bagus, sekalian nanti kita buktikan. Nico benar-benar serius atau hanya manis di bibir," sindir Ghea. "Kalau begitu, Ghea pamit Ma," sambung Ghea seraya mencium punggung tangan sang ibu diikuti oleh Nico.
"Semoga berhasil!"
*
Nico mengitari mobil lantas membukakan pintu untuk Ghea. "Turun, Juaraku," ucapnya lantas membungkuk mengisyaratkan gadis itu untuk turun. "Thanks." Satu kata yang keluar dari mulut Ghea mampu menaikkan senyum di wajah Nico. Pasalnya sejak dari rumah gadis itu, tak ada yang ingin membuka pembicaraan. Keduanya hanya pasrah dalam kesunyian.
"Sama-sama." Ghea tersenyum lantas menyalakan ponselnya. Ia menghubungi Gevan yang katanya sudah berada di sini.
"Halo Van, lo dimana?"
"Gue masih di parkiran, emang fanmeetnya dimana?"
"Enggak, mama nggak ikut."
"Gue diantar Nico, abis ini mau ada urusan."
"Nico itu ... " Ghea menatap Nico sekilas. "Dia mantan calon tunangan gue." Ada nada sedih dalam kalimatnya membuat Nico semakin ingin membuktikan jika sekarang ia sudah berubah. "Gak usah dibahas, lo dimana sekarang?"
"Oh di rooftop, yauda gue ke sana."
Dengan cepat, Ghea memasuki hotel bersama Nico lantas menaiki lift. Tak memerlukan banyak waktu, keduanya telah sampai di lantai paling atas. Mereka menaiki tangga lantas menuju rooftop yang telah disiapkan untuk fanmeet Ghea. Boom! Kedatangan keduanya disambut sangat baik oleh penggemar Ghea yang bisa dibilang tidak sedikit.
Gevan yang menanti kedatangan sang penulis pun menarik Ghea ke atas panggung sementara Nico menyaksikan gadis itu dari kedekatan. Fanmeet pun dimulai, Ghea tersenyum canggung ketika melihat banyak manusia di hadapannya. Hingga perkataan ibunya terbukti benar, satu senyuman dari Nico mampu mengusir kecanggungan dalam dirinya.
Sesi pertama adalah tanya jawab. Ghea selalu menjawab pertanyaan dari penggemar dengan jujur dan penuh percaya diri. Hingga seorang penggemar berusia remaja mengacungkan tangan.
"Kak Ghea, aku sangat menyukai novel terbarumu yang judulnya 'Aku, Ia, dan Hujan Pertama'. Alurnya, bahasanya, tokohnya, semuanya aku suka! Gimana sih caranya biar bisa mendapat ide yang brilian seperti itu? Terlebih rasa yakin dan cinta begitu besar yang dimiliki oleh tokoh Sharen pada Ardean. Apa cerita ini terinspirasi dari kehidupan nyatamu?"
Pertanyaan dari seorang penggemar membuat Ghea tersenyum penuh arti. Gadis itu menatap Nico yang terkejut mendengar pertanyaan penggemar Ghea. Perlahan ia mengangguk. "Kalau kalian menginginkan ide yang bagus, cukup pejamkan mata dan nikmati udara segar di sekitar kalian. Cukup merilekskan pikiran dan tunggu ide itu datang dengan sendirinya." Ghea menghela nafas. "Cerita ini memang berasal dari kehidupan nyataku. Ada sedikit bumbu di dalamnya yang mana aku pun tidak tahu akan menjadi nyata atau sebaliknya. Tetapi aku sangat bahagia mendengar kamu menyukainya."
Gemuruh tepuk tangan mulai menghiasi fanmeet ini. Lagi-lagi Gevan menyilakan para penggemar Ghea untuk menanyakan sesuatu dan berinteraksi dengan idola mereka.
"Kak, aku mau tau kenapa kakak selalu bikin cerita yang happy ending dibanding sad ending?"
"Sebenarnya dulu ibuku pernah bilang. Suatu cerita atau kisah akan benar-benar tamat ketika berakhir bahagia. Kalau masih sedih, itu artinya belum berakhir. Melainkan ia tengah berada dalam proses menuju kebahagiaan dalam kisah itu sendiri. Makanya aku sering membuat cerita yang happy ending," jawab Ghea membuat sang penggemar semakin kagum akan kepribadian yang ia miliki.
"Okay pertanyaan terakhir. Yang ingin bertanya silakan mengangkat tangan," ucap Gevan lagi.
Seorang wanita setengah baya yang duduk di bangku tengah mengangkat tangan. "Nak Ghea mau jadi menantu tante nggak?" tanya wanita itu membuat Ghea terkejut. Meskipun Ghea tidak dapat melihat dengan jelas, tapi ia merasa jika penggemarnya merupakan sosok yang begitu familiar.
"Gak mau ya? Padahal tante pengen banget Ghea jadi menantu tante. Masalahnya anak sulung tante cuma mau nikah kalau sama Nak Ghea, gak mau sama lainnya," ucap penggemar itu lantas berdiri membuat Ghea merasa terkejut bukan main.
"Tante Renata!"
*
"Maafkan tante dan om ya Ghea? Dulu kami terlalu gelap mata sampai menolak hubungan kalian mentah-mentah."
Setelah kedatangan Renata dan Zio di antara penggemar Ghea, fanmeet masih berlanjut dengan foto bersama dan memberi tanda tangan. Kini acara fanmeet Ghea telah usai. Kini, setelah sekian lama, Ghea makan malam bersama Nico dan orang tuanya di sebuah restoran. Meski hanya diterangi oleh lampu yang mrnyorot meja tempat mereka duduk, tetap saja makan malam kali ini mulai memunculkan Ghea yang ceria dan ramah.
"Semua sudah berlalu, Tante. Harusnya Ghea yang meminta maaf karena tidak mengingatkan Nico dulu. Harusnya sebelum memutuskan untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius, Ghea harus bisa sukses dulu. Nico pun sama, supaya bisa jadi teladan untuk keturunan kami nanti," ucap Ghea membuat Nico dan orang tuanya terenyuh.
"Perkataanmu menbuat Om semakin menyesal karena menolak hubungan kalian dulu." Zio bersuara. Pria yang memiliki kepala batu itu telah melunak. Hati sekuat baja yang ia miliki telah dilelehkan oleh cinta Ghea dan Nico. "Sekarang Om ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu. Jadi, apa yang bisa Om lakukan untuk kalian?" tanya Zio.
"Ssst ... Nico, buruan!" ucap Renata setelah melihat lampu hijau dalam perkataan Zio. Wanita itu mengisyaratkan sesuatu pada putra sulungnya. Bukan, lebih tepatnya mendesakkan sesuatu pada putranya. Tentu ini menciptakan kebingungan dalam benak Ghea.
Nico menghela nafas panjang, lantas menatap lekat gadis di sebelahnya. Laki-laki itu meraih tangan Ghea lantas mengajak gadis itu menuju pusat ruangan. Lampu sorot itu mati, digantikan oleh lilin-lilin kecil yang memenuhi ruangan ini. Ghea semakin takjub melihat jika sekarang ia tengah berdiri dalam susunan lilin berbentuk hati bersama Nico. Tanpa ia duga, laki-laki yang merupakan cintanya sejak kelas tiga SMA itu berjongkok di hadapannya.
"Ghea, aku tahu masa lalu kita memang tidak indah. Tapi, sekarang aku benar-benar berubah. Orang tua kita pun sudah saling merestui. Hari ini aku ingin mewujudkan mimpimu di hujan pertama. Jadi ... will you marry me, Ghea Andara?"
Ghea mengangguk beserta satu senyuman dalam wajah cantiknya. "Yes, i will."
Hari ini Ghea percaya, penantian panjang akan berakhir manis jika kita masih bertahan dalam cobaan.
Hari ini Ghea percaya, kisah kita tidak akan berakhir jika belum bahagia.
Hari ini Ghea percaya, hujan pertama tidak hanya mengubah permukaan bumi, melainkan turut andil dalam kebahagiaan hidupnya.
—Tamat—
11/10/20