Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya.
Aku sedang duduk di kursi kebesaran. Membaca setiap CV yang tersusun dimeja. Aku terhenyak kala membaca sebuah nama yang tertera di CV terakhir, Ranu Megantara.
Mana mungkin dia ,gumamku.
Ah nama itu sebuah nama yang mengingatkanku pada sosok dia. Sosok yang mengajarkanku arti nama cinta sekaligus membawaku ke jurang luka yang begitu dalam.
Seketika ingatanku berputar balik jauh ke belakang. Sudah 4 tahun lalu ,tetapi masih teringat jelas. Bagaimana dia meninggalkanku, memutuskanku secara sepihak.
**
Singkat cerita aku dan Ranu dulunya sepasang kekasih.
Kami tinggal di kota kecil bagian timur jawa. Merantau bersama ke kota Jakarta untuk merajut Asa.
Kami melamar pekerjaan di perusahaan yang sama. Dan sama sama diterima namun dia lebih beruntung karena mempunyai ijazah S1 Marketing sedangkan aku yang hanya lulusan SMA bekerja di bagian kebersihan atau sebagai cleaning service.
Bukan hanya tingkat pendidikan yang berbeda, dari segi fisik kami jauh. Kalau kata anak jaman sekarang dia lebih goodlooking.
Tapi lagi lagi tak masalah karna Ranu menerimaku apa adanya.
Sampai pada suatu masa, semuanya berubah saat ia memberi kabar yang cukup mengagetkan sekaligus membahagiakan.
Saat itu kami sedang berada di kantiin.
"Rin, aku diterima casting film." Ucapnya antusias. Dari senyumnya yang mengembang dan binar matanya. Jelas bahwa Ranu sangat bahagia. Akupun ikut bahagia.
"Hah beneran, wah selamat pacarku sebentar lagi akan jadi artis." Kataku tak kalah antusias.
Sempat ia bercerita kalau sedang coba coba ikut casting dan aku percaya sih dari tampangnya yang mumpuni tak ayal dia diterima.
"Mungkin ke depan aku bakal resign dari kantor, Ucapnya penuh kehati hatian "kamu nggak apa apa kan?"
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Iyaa mas Ranu aku nggak apa, apapun jalan yang kamu ambil aku tetep dukung kok. Asalkan kamu bahagia "
"Terimakasih."
Dia terbaik, laki laki yang menerima ku apa adanya. Tak pernah malu dengan kondisi kita yang berbeda. Tak pernah menuntut lebih dan aku sangat bahagia dimiliki Ranu.
Dan benar saja, seminggu kemudian Ia resign dari kantor.
Dia sempat pamit sebelum pergi, bahkan dia bilang akan pindah Kosan yang dekat dengan tempat syuting.
Hari silih berganyi, dua minggu berlalu. Aku masih menunggu, dia tak sekalipun datang ataupun menghubungi.
Apakah menjadi seorang artis sesibuk itu? Ntahlah mungkin dia benar benar sibuk.
Dan sekarang sudah tiga kali melewati tanggal satu, artinya 3 bulan mas Ranu pergi. Padahal wajah tampannya sering riwa riwi di layar televisi. Apakah dia melupakanku? Lagi lagi aku mencoba berpikir positif. Mungkin dia masih sibuk.
Sampai suatu hari, saat aku tak sengaja melihat berita di televisi seorang artis pendatang baru Ranu Megantara menjalin kasih dengan artis sinetron cantik.
Aku masih terpaku di depan televisi. Dunia seakan berhenti berputar. Apakah aku tak salah lihat. Ya benar dia Ranu, kekasihku . Saat itu juga hatiku runtuh.
Seolah mendapat jawaban atas kegelisahanku saat itu. Harapanku musnah.
Dia laki laki yang mengajarkanku arti cinta.
Dia yang selama ini aku dampingi dari masa sulit.
Dia yang mengisi hari hariku selama 3 tahun ini.
Dia yang selalu aku harapkan. Dia yang namanya selalu terselip disetiap doaku
Dengan mudahnya mencapakanku, dengan mudahnya meninggalkanku.
Hatiku sakit, terlebih saat 2 hari kemudian dia datang. Turun dari alphard hitam mewah nan mengkilat. Berdiri dihadapanku. Dengan raut wajah yang sulit dijelaskan ada raut bersalah ntahlah.
Aku hanya menatapnya muak.
"Mau apa?" Tanyaku ketus.
"Boleh aku masuk? Ada hal yang mau aku bicarakan."
Akupun segera berbalik dan masuk. Dia mengekor.
Kami duduk berhadap.
"Rin, aku minta maaf." Ucapnya lirih.
Dan aku masih diam.
"Rin, aku benar benar minta maaf beberapa bulan ini ngga pernah nemuin kamu."
"Dan, aku... eh sepertinya hubungan kita cukup sampai disini saja."
Aku segera membuang muka, tertawa sumbang. Hah sudah kuduga.
"Kita jarang ketemu, aku sibuk begitupun kamu. Jika diteruskan hubungan ini ngga akan ada ujungnya."
Aku kembali menatapnya tajam.
"Hah, bukan itu alasanya. Ngga usah sok dramatis deh mas. Kamu pikir aku ngga tau berita kamu di luar sana. Kamu menjalin hubungan sama artis cantik itu kan." Ucapku berapi api. Sungguh laki laki didepanku ini bukan Ranu yang ku kenal bertahun silam.
"Rin!" Bentaknya.
"Ya ya ya aku tau mana mungkin seorang Ranu Megantara memiliki pacar seorang cleaning service apa kata netizen." Hah lagi lagi aku tersungut.
"Oke kalau kamu udah paham!" Bentaknya.
Aku tersentak sungguh dia bukan Ranu yang ku kenal . Ranuku tak pernah berbicara kasar.
"Kamu tau? Ini adalah mimpiku menjadi artis terkenal. Aku ngga mau sampai namaku tercoreng. Lihatlah dirimu yang seperti ini berbeda jauh denganku,
Aku terpaku dengan ucapannya. Apa apaan bukannya dia selama ini menerima ku apa adanya.
"Ayolah lah Rin, kamu harusnya sadar diri kamu siapa dan aku siapa."
Seketika itu juga aku tampar wajah memuakan itu, sungguh kata kata yang keluar dari mulutnya begitu menyakitkan.
"Jika ingin pergi silakan pergi, tapi jangan pernah kamu ngehina aku. Ya aku tau siapa sih aku hanya seorang cleaning service."
"Aku emang ngga sempurna, tapi percayalah tak akan kau temukan yang sebaik aku." Dadaku naik turun, menahan amarah yang semakin menjadi
"Ucapanmu kali ini benar benar kelewatan." Aku kecewa.
***
Sejak hari yang menyakitkan itu aku mencoba bangkit.
Merasa sedih itu manusiawi tapi meratapi kesedihan sebagai seseorang yang ditinggalkan juga tak ada gunanya
Aku mulai memperbaiki diri bukan untuk dia tapi untuk diriku sendiri.
Aku jadi lebih giat bekerja, dan lebih giat belajar.
Berhubung gaji di perusahaanku lebih dari UMR maka aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah
Aku juga mulai mengikuti les skill academy jurusan bisnis dan manajemen.
Memperbaiki kualitas hidup, lagi pula ngga selamanya aku akan jadi seorang cleaning service. Aku ingin jadi seorang pengusaha.
Akan ku balaskan dendamku, ya tentu saja balas dendam terbaik adalah menjadikan diriku lebih baik.
Dia boleh mengecewakanku bukan berarti aku lebih buruk dari dia.
***
"Permisi bu."
Memori pahit itu seakan terhenti tatkala suara sekertarisku menggema dari arah pintu. Aku menghela sekejap.
"Ah iya fir, ada apa."
"Calon karyawan yang akan interview sudah datang. Apakah bisa dimulai."
"Ah iya persilakan masuk saja." Fira keluar.
Aku mengembuskan nafas berat. Memejamkan mata sebentar lalu mencoba fokus.
Krett
Seorang laki laki masuk dengan pakaian formal, kemeja putih setelan celana hitam.
Mas Ranu? Apakah aku tak salah lihat?
Aku terhenyak beberapa saat. Aku rasa dia juga begitu. Sampai aku memutuskan pandanganku ke arah lain.
"Silakan duduk." Aku bersikap bisa saja walau tak ayal jantung ini masih bedegub.
"Kita mulai saja interviewnya ya." Dia mengangguk, dan kami sama sama bersikap profesional.
"Jadi silakan perkenalkan diri anda." Ucapku tegas.
"Nama saya Ranu Gibran Megantara, 28 tahun lulusan S1 Marketing dan saya pernah bekerja di bidang yang sama selama satu tahun__."
Setelah dia memperkenalkan diri kemudian di lanjutkan dengan tanya jawab seperti biasa.
"Baik cukup menarik, nanti akan saya kabari lewat e-mail apakah anda di terima atau tidaknya."
Dia mengangguk. Hening beberapa saat.
Sampai dia memecahkan keheningan itu.
"Apa kabar?" Tanyanya dengan hati-hati.
Aku segera menatapnya, terlihat jelas redup mata sendunya.
"Baik." Jawabku singkat.
Ia tertawa sumbang. Akupun menatapnya dengan tajam.
"Aku ngga menyangka kamu udah sukses Rin."
Apa apaan ini dia sedang meremehkanku atau sedang apa.
"Seperti yang anda lihat!"
"Maafkan aku." Lirihnya.
Aku hanya megernyit "Untuk ?"
"Untuk semuanya, aku udah ninggalin kamu, aku udah mutusin kamu sepihak, aku..." ucapnya penuh penyesalan. Aku segera memotong ucapannya.
"Kamu udah ngehina aku, meremehkanku , menyakitiku hah bahkan aku masih ingat jelas saat kamu menjelaskan dirimu siapa dan diriku siapa. Asal kamu tahu aku tetap Rinjani yang buruk rupa dan jelek itu kok." Ucapku kesal, sungguh rasanya masih jelas saat dia menghinaku kala itu.
"Maafkan aku. Aku sungguh malu." Lirihnya.
Aku menghela nafas kasar.
"Sudah lupakan saja, itu hanya bagian dari masalalu yang ngga perlu disesali. Lagian berkat ucapan menyakitkan kamu waktu itu aku bisa jadi Rinjani yang lebih baik."
Tapi kenapa artis yang dulu dielu elukan kini malah ingin bekerja kembali menjadi karyawan. Sebenarnya apa yang terjadi?
Dia mengangguk "Aku bodoh, aku dibohongi wanita itu dan managerku. Karirku hancur. Semuanya lenyap begitu saja." Dia menjawab tanpa aku tanya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Aku hanya menatapnya simpati, bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dari perjalananku. Aku sudah memaafkan. Dia baik tapi melukai.
Huh, sukar di percaya, tapi inilah kenyataannya. Hidup memang penuh dengan plot twist, empat tahun lalu dia pergi meninggalkanku, memutuskanku secara sepihak bahkan terang terangan berucap dengan kata yang begitu menyakitkan.
Dan lihatlah sekarang, takdir mempertemukan ku kembali dengan dia. Dengan cara yang tak disangka. Datang sebagai bawahanku dan aku sebagai bosnya.
Berdamai dengan diri sendiri, memperbaiki hidup. Dan aku percaya bahwa kata "Indah pada waktunya" hanya berlaku buat mereka yang mau berusaha.
Hidup bagai roda yang berputar, sekarang bisa saja kamu teratas tapi bom waktu kapan saja bisa meledak.
Saat sedang di atas jangan sombong, apalagi mencapakan seseorang yang menemani saat kondisi terburuk.