Kebanyakan laki-laki di dunia ini sikapnya memang seperti itu, Mellisa merasa benci pada ayahnya yang berselingkuh.
"Ayah jahat!" teriak Mellisa tidak dapat menahan amarahnya, Dimas-ayah Mellisa membawa cewek lain ke dalam rumah malam itu.
"Heh, kamu jangan teriak nanti bisa kedengaran tetangga!" ucap Dimas melotot kearah Mellisa.
"Biar saja, supaya orang-orang tau bahwa ayah itu. Pengkhianat." Mellisa meninggikan nada suaranya dan menekankan katanya yang terakhir.
"Heh, kamu itu masih anak kecil jangan ikut campur urusan orang," kata cewek di samping Dimas, namanya Arisha.
"Aku sudah remaja tante! Yang tidak berhak itu tante, merebut suami orang!" Mellisa sudah habis sabar, ingin rasanya iya membuang cewek itu ketempat sampah.
Dimas yang duduk disofa ruang tamu tiba-tiba saja menghentakkan kakinya kelantai,"Kamu kalau diberitau sama orang tua malah nyerocos ya!"
"sayang mari kita pergi dari sini, aku gak betah lama-lama."
"Ayok!" sahut Arisha.
Dimas dan Arisha akhirnya meninggalkan Mellisa begitu saja, mereka pergi dari rumah.
Mellisa berdiri mematung, air matanya terus mengalir. Dimas benar-benar jahat,Andara-ibunya Mellisa sedang strok Dimas malah meninggalkannya dan selingkuh, benar-benar keterlaluan.
***
Dipagi yang cerah, cahaya masuk kedalam kamar Andara melewati jendela yang sudah terbuka. Mellisa masuk kekamar ibunya membawakan obat, segelas air, dan nasi goreng.
"Ibu, makan obat dulu ya," ucap Mellisa, Andara hanya mengangguk kecil.
Mellisa mendudukkan ibunya setelah terbaring semalaman, dengan cepat Mellisa menyuapi ibunya dengan nasi goreng yang baru saja ia masak, lalu memberikannya obat.
Pagi ini memang sangat cerah dan indah, tapi ada terbekas sakit dihati Mellisa. Biasanya pagi seperti ini ayahnya yang menjaga ibunya, tapi Dimas malah selingkuh, Mellisa terpaksa tidak masuk sekolah, kesehatan ibunya lebih penting.
"Ibu, ayah jahat ya," lirih Mellisa.Arisha tidak bisa bergerak atau berbicara ia hanya mengangguk dan menatap Mellisa sedih.
"Ayah,sangat tega meninggalkan kita!"
"Assalamualaikum! Mellisa!" panggil seseorang diluar sana.
"Itu pasti Raisha dan Luna," Mellisa berjalan meninggalkan kamar ibunya lalu membukakan pintu untuk tamunya.
"Mellisa?" tanya Raisha heran Mellisa tidak memakai seragam sekolah.
"Maaf ya teman-teman, aku gak berangkat sekolah bareng hari ini, ibu aku lagi sakit," Terang Mellisa.
"Oh gitu, yaudah," ucap Luna mengiyakan.
"Tapikan ayah kamu,bisa jaga ibu kamu?" tanya Raisha lagi.
"Nggak bisa, tapi tunggu," Mellisa masuk kembali kedalam rumah dan beberapa detik kemudian muncul kembali,"Ini surat aku, tolong berikan pada bu guru ya," minta Mellisa.
"Oke," jawab Luna lalu mengambil surat ditangan Mellisa.
"Kok kamu gitu sih, semalam kamu sekolah sekarang tidak, kenapa?" ucap Raisha ingin tau.
"Semalam ayah aku yang jaga ibu, sekarang ayah gak ada, paham kan kalau gitu aku masuk dulu," beberapa detik kemudian Mellisa menutup pintunya cepat.
"Ayo berangkat nanti telat," ajak Luna pada Raisha, tapi Raisha hanya keheranan.
***
Mellisa sedang dilanda kesusahan, ia hanya dengan ibunya dirumah bertahan hidup.
Hari mulai gelap, Mellisa baru saja memberi makan dan minum pada ibunya yang strok. Hidup Mellisa sangat hancur.
Malam itu ibunya sudah terlelap tapi entah mengapa Mellisa tidak dapat memejamkan matanya, atau karena ia tidur hanya dengan beralas tikar disamping ranjang ibunya, Mellisa menangis meruntuki nasipnya dan menangis melihat ibunya yang strok karena tabrakan seminggu yang lalu.
Dan sekarang Mellisa sudah tidak tau tujuan hidupnya, dan dia sangat membenci ayahnya, pasti.
***
Pagi yang sangat mengejutkan bagi Mellisa, bagaimana tidak, ibunya sesak nafas matanya terbelalak.
"Ibu! Ibu kenapa, Mellisa takut!"
"Ibu tunggu, Mellisa telpon dokter Andi sekarang!" Mellisa mencari kontak dokter Andi dan langsung menelponnya.
"Ayo angkat, angkat," Mellisa kawatir dengan ibunya, sudah 2menit tidak ada jawaban dari dokter Andi. Mellisa terus menelponnya tapi tidak terjawab.
Petir berbunyi nyaring tak lama dari itu hujan mengguyur kota Amuntai dengan derasnya. Mellisa harus meminta tolong.
Saat diteras rumah,Mellisa berteriak meminta tolong tapi suaranya tidak terdengar,suara hujan mengalahkan suara nyaring Mellisa.
"Toloongggg!!!" Teriak Mellisa sekuat tenaga, air matanya terus mengalir.
"Nak! Nak! Ada apa!" seru Minah tetangga sebelahnya yang hidup sebatang kara.
"Bibi! Tolong ibu saya, bi,"
"Ibu saya ada dikamar, tolong jaga dia," mohon Mellisa menangis terisak,"Saya harus pergi sebentar, kerumah dokter Andi!" setelah itu Mellisa berlalu pergi.
"Oke, baik,"
***
Mellisa menembus hujan sambil mengayuh sepedanya secepat mungkin,orang-orang disekitarnya yang berada di trotoar memandang Mellisa,tapi Mellisa tidak peduli ia hanya menangis ketika hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Rumah Mellisa dengan rumah dokter Andi berjarak 100 kilometer, sekarang Mellisa sudah berada didepan gerbang rumah dokter Andi.
"Assalamualaikum, dokter Andi!" teriak Mellisa sambil mengendor-gendor gerbang yang terkunci.
"Dokter Andi! Apakah dokter Andi ad-" ucap Mellisa terputus ketika ia membaca tulisan didepan pintu rumah itu.
Tutup.orangnya sedang pulang kampung.
Mellisa kembali menjatuhkan air matanya, ia merasa pasrah.
***
Mellisa kembali menuju rumahnya dengan mengayuh sepedanya lemah,"Hiks," Mellisa menangis bersama hujan disepanjang jalan.
Ketika sampai didepan rumah, Mellisa langsung disambut dengan bu Minah, tapi aneh, wajahnya pucat dan matanya seperti baru saja menangis hebat.
"Bibi, dokter Andi tidak ada dirumah," ucap Mellisa sambil terisak.
Minah menatap wajah Mellisa lekat-lekat, setelah itu menangis...
"Bibi kenapa menangis?"
"Hiks, Mellisa ibu kamu... " Minah tak mampu berbicara.
"Ibu kenapa, bi?"
Minah tidak dapat menjawab,Mellisa langsung berlari kekamar ibunya.
"Ibu! Ibu kenapa?" tanya Mellisa sambil menggoyangkan tubuh mamanya, tapi Andara tak kunjung bangun.
"Ibu, ibu bangun.., Mellisa takut!" Mellisa menangis hebat.
"Mellisa!" seru Minah dibelakannya lalu berdiri disampingnya.
"Ibu kamu sudah pergi."
Mellisa terdiam mematung,"M, maksud bibi?" tanya Tesa sangat hati-hati.
Bu Minah langsung memeluk Mellisa erat,"Ibu kamu, sudah meninggall!"
Mimpi apa yang sekarang Mellisa lihat, tapi sial, ini nyata. Hari yang buruk dan sangat menyakitkan. Setelah itu Mellisa memeluk ibunya yang terbaring dan menangis sejadi-jadinya.
***
Orang-orang sudah meninggalkan makam ibunya Mellisa,sekarang hanya ada bu Minah dengan Mellisa yang tak henti-hentinya menangis sedari tadi.
"Mellisa!" panggil seorang pria, kakinya potong sebelah.
Mellisa memalingkan kepalanya mengarah pria itu, beberapa detik kemudian Mellisa yakin ia akan membenci orang itu,karna pria itu Dimas ayahnya sendiri.
"Mellisa! Ibu sudah meninggal!" Dimas menangis.
"Kenapa kamu kesini, pergi!" usir Mellisa.
"Aku suaminya, kenapa kamu mengusir ayah kamu sendiri Mellisa."
"Memang gak tau diri! Semua ini gara-gara ayah, kalau hari itu ayah ada, semua ini gak akan terjadi."
"SEKARANG AYAH PERGI!" teriak Mellisa.
Dimas merasa hatinya tersayat tapi Mellisa lebih tersayat hatinya. Karena merasa bersalah dan malu, akhirnya Dimas berlalu pergi.
Mellisa memerhatikan ayahnya yang berlalu pergi dan bingung, kenapa kaki sebelah kiri ayahnya gak ada.
"Mellisa! Kenapa kamu bicara begitu dengan ayah kamu sendiri," ucap Minah.
"Bibi, ayah itu telah selingkuh dan meninggalkan kami."
"Tapi dia tetap ayah kamu."
***
"Ayah."
Dimas berbalik, mendapati Mellisa berdiri di depan makam ibunya.
"Ayah, aku sayang ayah, hiks," Mellisa langsung berlari dan memeluk ayahnya yang bertongkat ditangannya penyangga kakinya yang potong.
"Mellisa, ayah minta maaf, sudah jahat sama kamu dan ibu kamu, ayah sudah dapat karma,semalam ayah kecelakaan dan kaki sebelah kiri ayah diaputasi.
"Tante, kemana?" tanya Mellisa.
"Arisha sudah meninggalkan ayah, hiks," jawab Dimas.
"Ayah harap anak ayah bisa memaafkan ayah ya,"
"Mellisa sudah maafin ayah hiks, Mellisa tidak mau kehilangan ayah setelah ibu," air mata Mellisa berjatuhan semakin banyak.
"Makasih banyak Mellisa, kamu sangat baik," Dimas memeluk Mellisa erat begitupun Mellisa, keduanya menangis haru dan meratapi nasip.
Bagaimanapun Dimas itu orang tua Mellisa dan Mellisa tidak mau kehilangan ayahnya pula.
Hari yang penuh hikmah dan menyedihkan.
***
Akhir-akhir ini Mellisa sering mengurung dirinya didalam kamar, jarang makan, dan wajahnya tidak tampak ceria, mungkin masih terpukul karena ibunya meninggalkan ia.
Dimas membuka pintu kamar Mellisa dan langsung mendapati Mellisa yang berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Mellisa sayang, yuk makan dulu nak," ucap Dimas lalu meletakkan makanan di atas meja yang berada disamping tempat tidur.
"Mellisa, bangun," ucap Dimas lagi sambil menggoyang tubuh anaknya pelan.
Akhirnya mata Mellisa terbuka lalu menatap ayahnya yang sudah duduk disampingnya,"Kenapa ayah?" tanya Mellisa.
"Mellisa kamu sakit?" tanya ayahnya setelah melihat mata anaknya memerah rambut acak-acakan dan wajahnya yang pucat.
Dimas memegangi dahi Mellisa, "Ya Allah! dahimu panas sekali."
"Kamu harus makan kali ini, harus habiskan lalu makan obat,"
"Tapi yah, Mellisa gak nafsu makan,"
"Ayah tahu, tapi kamu belum makan dari semalam nanti sakit kamu makin parah," ucap Dimas lalu menyodorkan sepiring nasi goreng kepada Mellisa.
"Baiklah," setelah itu Mellisa makan walau terpaksa.
***
Bruk! Mellisa terjatuh ketika mau mengambil segelas air didapur.
"Mellisa!" Dimas langsung menghampiri Mellisa yang tergeletak dilantai, "Mellisa bangun sayang!" karna mellisa belum saja sadar Dimas menelpon taksi untuk membawa Mellisa kerumah sakit.
Waktu dirumah sakit Dimas sangat kawatir dengan keadaan Mellisa dan menunggu diluar, berjalan kesana-kemari dengan kaki yang potong sebelah tidak membuat Dimas tenang.
Akhirnya Dimas menelpon seseorang, orang itu sangat dekat dengan Mellisa.
***
Sudah 2 hari Mellisa dirawat dirumah sakit akhirnya diperbolehkan pulang.
"Ayah senang banget kamu udah sembuh sayang,"
"Aku juga senang, yah,"
Waktu perjalanan pulang dari rumah sakit, didalam taksi Dimas dan Mellisa bersenda gurau.
"Ayah punya kejutan untuk kamu," ucap Dimas ketika sudah berada didepan rumah.
"Apa itu yah!" ucap Mellisa senang.
"Buka pintu rumah dulu," suruh Dimas.
Tanpa basa-basi Mellisa membuka pintu rumah dan betapa terkejutnya..
Bom..
"Selamat ulang tahun cucu nenek!"
"Nenekk!" teriak Mellisa lalu memeluk neneknya erat-erat.
"Kenapa nenek gak kabarin Mellisa kalau nenek mau datang?"
"Karna ini kejutan untuk kamu, setelah ini nenek akan tinggal bersama kalian,"
"Beneran!" ucap Mellisa memastikan.
"Iya beneran,"
"Mellisa ini kado untukmu," ucap Raisha dengan kado di tangannya.
"Ini dariku," ucap Luna menyodorkan kado ketangan Mellisa.
"Raisha, Luna kalian datang juga!" seru Mellisa.
"Iya dong masa kami lupa sama ulang tahunmu," ucap Raisha.
"Selamat ulang tahun ke 15 Mellisa," ucap Luna.
"Udah-udah mari potong kuenya," ucap Mira neneknya Mellisa.
Hari yang membahagiakan dimana Mellisa dikelilingi oleh orang-orang yang ia sayangi.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga!" semuanya bernyannyi.
Semoga ibu tenang dan bahagia dialam sana ucap Mellisa dalam hati sebelum meniup lilin.
SELESAI