"Terkadang kedekatan yang singkat, justru memiliki kenangan yang dalam dan sulit untuk dilupakan, seberapa keras kita mencoba ikhlas namun rasa itu tak pernah lepas"
ini ceritaku
Mencintai dalam diam bukanlah hal yang mudah, terlebih jika kita justru sudah memiliki hubungan dengan yang lain, ada perasaan yang harus kita jaga, tapi terkadang cinta tak memandang itu semua, contohnya seperti yang aku rasakan saat ini.
Sebelumnya perkenalkan namaku Carla, aku adalah seorang Customer Service di sebuah mall besar di pinggiran kota, aku ingin bercerita kala aku mencintai seseorang namun aku sudah memiliki hubungan dengan orang lain, pria ini bernama Ramdhani Guruh Prasetyo ia adalah seorang fit out officer di tempat aku bekerja, orangnya tidak terlalu tampan tapi dia memiliki kharisma yang membuat wanita mudah jatuh hati padanya, sikapnya yang cool membuatku semakin penasaran untuk lebih dekat dengannya.
Pagi ini aku bertugas di meja resepsionist di management office, yahh aku selalu bersemangat jika di tempatkan disana, aku akan lebih sering melihatnya karena memang di management officelah tempat Ia bekerja,
"tuk tuk tuk tuk " suara sepatu terdengar menggema karena ruangan yang masih sepi, aku yang duduk sendiri hanya memandang kosong sebuah pintu kaca yang berada di depanku
degggg jantungku seakan berhenti sesaat kala mataku mentap pak Dhani (panggilan pria itu, karena posisinya dia adalah atasanku)
"teeettt thank you" terdengar suara finger print tanda dia sudah absen masuk pagi ini.
Ia mendorong pintu kaca yang ada di depanku, seperti biasa tanpa kata dan hanya sedikit senyuman yang dia berikan, lalu Ia bergegas masuk meninggalkan meja resepsionist
"ohh tuhan sedikit senyum aja kenapa bisa semanis ini" pujiku dalam hati, begini rasanya mencintai dalam diam hanya bisa mengaggumi tanpa bisa memiliki.
waktu menunjukan pukul 09.30, aku masih bertugas sendiri sambil menunggu partner kerjaku yang masuk jam 10, tidak terlalu banyak kerjaan pagi ini, para tamu yang biasa datang untuk bertemu orang managementpun belum ada yang datang, hanya ada beberapa Surat Jalan yang aku harus berikan Pada divisi Tenant realation yaitu yang berhubungan dengan para pemilik toko yang berada di mall ini, dan ada satu surat jalan yang harus aku berikan pada divisi fit out.
"kring.... kring... kring... " dering telfon terdengar begitu nyaring
"hallo selamat pagi PT xxxxxx dengan Carla bisa di Bantu" greeting wajib saat menerima telfon
"mbak, saya Dhani mau tanya, surat jalan untuk toko A sudah ada belum? , soalnya belum ada di meja saya, itu harus saya tanda tangan secepatnya" ucap Dhani di balik telfon, mendengar suaranya aku hanya bisa senyum-senyum sendiri
"ohhh iya pak, ada disaya, nanti saya antar, tapi tunggu CS yang masuk ya pak, jam 10an , soalnya meja CS gak boleh kosong" ucapku
"ohh gak usah, aku kesana aja" ucap dhani, membuat Carla semakin tersenyum lebar
"ohhh baik pak" kututup telfon dan langsung menyiapkan surat jalannya, tak lama Dhani keluar dari dalam ruangan management office dan menghampiriku,
"mbak... suratnya mana? " Tanya Dhani yang sudah berdiri di samping meja resepsionist
"ohhh iya ini pak" rasanya jantungku mau copot ketika aku berada disampingnya, aroma parfumnya tercium jelas karena jarak kami yang dekat
"boleh pinjem pulpen, saya lupa bawa pulpen"
"ini pak... " kuberikan pulpen yang ada di meja saat itu, Ia begitu serius mengoreksi kertas yang ada di hadapannya, saking seriusnya Ia tak sadar dari tadi aku memandangnya tanpa berkedip,
"Okk... mbak... saya titip ini ya, nanti kalau orangnya datang bilang pengerjaannya harus setelah mall tutup, " ucap Dhani membuatku sedikit kaget
"ohhh iya pak... baik"
"Okk makasi ya... " Dhanipun berlalu pergi dengan membawa pulpenku,sepertinya Ia lupa mengembalikannya hehehe.
********
Setelah hari itu entah kenapa aku lebih sering bertemu Dhani, meski aku bertugas di lobby mall.
Hari ini aku melihat dia di salah satu kedai coffee sedang menikmati secangkir coffee sendirian, kebetulan kedai coffee itu berada di samping meja customer service di lobby utama dan aku sedang bertugas disana saat itu,
"ahhh lagi lagi harus liat dia, " gumamku dalam hati. semenjak aku mengangguminya hubunganku dan Aldo sedikit renggang, mungkin saat ini hatiku sedang condong pada Dhani.
Jam istirahat aku memutuskan untuk tetap berada di loker, ruangan kami para Customer Service berganti seragam, ku buka ponselku, aku mulai melihat profile Dhani di media social, dan ternyata dia memajang sebuah foto secangkir coffee dengan tulisan "istirahat Sejenak" entah keberanian dari mana, aku justru mengomentarinya melalui mesanger , disitulah awal mula kedekatan kita, aku tak menyangka dia dengan cepat membalas pesanku dengan ramah hingga akhirnya kita sering komunikasi melalui mesangger.
Setelah kemarin kita saling chat lewat messenger hari ini Dhani menawarkan diri untuk mengantarku pulang rasanya seperti mimpi, bibirku sulit untuk menolak
pesan singkat
Dhani : La, aku tunggu di samping mall ya, gak enak kalau disana
aku : Okk pak, bentar lagi aku pulang langsung ke Sana
dhani : sip deh aku tunggu
Akupun segera mengganti seragamku, kugerai rambutku yang sudah seharian ki cepol hingga menyisakan gelombang tak beraturan pada rambut panjangku.
Aku begitu bersemangat untuk bertemu dia, hingga aku lupa belum membalas pesan Aldo, rasanya nama Aldo semakin terkikis di otakku.
Aku berjalan cukup jauh ke sebuah gang yang ada di samping mall, yah kami menutupi kedekatan kami, jadi kami harus bersembunyi jika ingin bertemu.
"Hai.... " sapanya yang masih berada diatas motor
"hai..... " jawabku malu-malu, aghhh aku tak pernah berkhayal sedikitpun bisa berada dengannya sedekat ini, meski memang aku mengaguminya
"yuk Naik, nanti keburu ada yang liat" ucapnya sambil memasangkan helm di kepalaku, seketika tubuhku terasa kaku kala wajahnya berhadapan persis denganku
"ohh.. iiiii... yaaa pak" jawabku gugup, aku segera menaiki motornya, hmmm kucium aroma tubuhnya yang begitu harum, entah berapa botol parfum yang ia pakai, tapi jujur aku semakin tertarik padanya.
motor melaju dengan kecepatan sedang, lampu jalan dan angin malam menambah suasana semakin romantis meski masih ada jarak yang kurasa saat itu, hingga tiba-tiba motor terhenti
"kok berhenti pak? " tanyaku
"kamu fikir saya tukang ojek, masa kamu pegangannya ke jaket saya" ucap dhani membuatku semakin Salah tingkah, ahhh ini tuh rasanya sulit ku ungkapkan
"ehhh... iya pak maaf" jawabku sedikit gugup, kucoba melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya, agak sedikit ragu dan malu, namun ia menarik tanganku hingga kepalaku menyentuh punggungnya, ini yang dinamakan kenyamanan, aku begitu tenang menikmati jalanan malam hari bersamanya, kami berbincang-bincang, tertawa sesekali ia mengelus lembut tanganku ohh tuhan maafkan aku kini hatiku berpaling dari Aldo.
perjalan 30 menit yang begitu indah, hingga kamipun tiba dirumahku.
"assalamualaikum mah... " salamku ketika masuk kedalam rumah yang pintunya tak tertutup
"waalaikumsalam... " jawab mamahku yang saat itu berada di ruang tamu begitu terkejut kala melihat laki-laki lain yang mengantarku pulang, matanya penuh kecurigaan.
"assalamualaikum tante... saya Dhani temen kerja Carla, cuman mau anter Carla pulang" Dhani segera mencium tangan mamah penuh sopan santun
"ohhh iii ya... masuk dulu nak" jawab mamahku mempersilahlannya masuk,Dhanipun masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Carla, bikin minum anget buat temennya" suruh mamahku..
"gak usah repot-repot tante.... " ucap dhani
"ihh gak papa kok.." ucap mamah, aku segera membuatkan teh manis hangat untuknya, tiba-tiba mamah datang menghampiriku
"Carla, Aldo tau kamu di anter, siapa itu temen kamu? " tanya mamah berbisik,
aku hanya tersenyum menggelengkan kepala
"dasar anak ini, kalau Aldo tau gimana? " tanya mamah, ia khawatir karna hubunganku dan Aldo sudah berjalan hampir 3 tahun, dan saat ini aku justru terpesona pada laki-laki lain.
"udah mamah tenang aja" jawabku sambil berjalan meninggalkan mamah yang berada di dapur
"minum pak, biar anget badannya" ucapku sambil menyodorka segelas teh manis hangat yang kubuat dengan Cinta
"makasi ya.... " jawabnya, Kamipun saling berbincang menanyakan hal hal yang menjadi kegemaran kami berdua hingga tak sadar waktu menunjukan pukul 11 malam, Dhanipun harus pamit pulang karna besok ia harus bekerja pagi, rasanya tak rela, masih ingin bersamanya
"yaudah aku pulang dulu ya" pamit dhani, aku hanya tersenyum sambil mengangguk
"mah... pak dhani mau pulang" panggilku, mamah pun bergegas menghampiri aku dan dhani
"tante pulang dulu ya.... " pamit dhani sambil mencium tangan mamah
"ohh iya..... hati-hati ya nak, makasi udah anter Carla jadi merepotkan" ucap mamah sambil mengelus pundak Dhani,
"gak kok tante... " jawabnya, aku mengantarkan Dhani hingga ke motornya
"pulang dulu ya... Bobo jangan gadang" ucapnya dengan senyuman manis yang selalu membuat aku tak henti memikirkan dia
"iya pak dhani juga ya..... " dengan spontan kuraih tangannya, dan kucium, untuk pertama kali aku merasakan tangannya yang begitu lembut sepertinya malam ini aku tak akan bisa tidur.
Setelah itu aku begitu bersemangat untuk bekerja, hampir setiap malam aku pulang selalu di antar, kitapun saling mengirim pesan, hingga kadang aku tak perdulikan pesan masuk dari Aldo, hingga suatu pagi entah mengapa rasanya aku begitu bersalah pada Dhani jika aku tak berkata jujur, aku takut justru Dhani Akan tahu dari orang lain, jika aku sebenernya sudah memiliki hubungan dengan Aldo, malam ini Dhani kembali mengantarku pulang, seperti biasa Dhani tidak langsung pulang kami akan mengobrol dan bercanda di teras, dia banyak bercerita tentang kesukaannya pada seekor kucing, akupun pernah main ke kosannya dan memang dia memiliki kucing yang di beri nama Almond lucu ya....
Aku terus memandanginya saat dia bicara tentang semua hobinya,
"kenapa kok liatinnya gitu sih? " Tanya Dhani
"gak papa seneng aja kalau liat pak Dhani cerita" jawabku sambil tersenyum
"pak.... "aku berniat mengatakan tentang hubunganku dengan Aldo
" hmmmm" jawabnya matanya menatapku sambil tersenyum
"boleh aku suka sama pak Dhani? " tanyaku penuh ragu
"hmm maksudnya? " tanyanya wajahnya tiba-tiba terlihat malu
"aku suka sama pak Dhani, tapi saat ini aku music punya hubungan sama orang lain" jelasku, seketika wajahnya berubah dia tak jawab pertanyaanku hanya senyum biasa, aku fikir ternyata tak tepat aku bicara seperti itu, Benar saja tak lama ia pamit pulang, padahal aku masih ingin bersamanya.
Setelah perkataanku kemarin sikapnya berubah 180 derajat, ia tak pernah menyapaku sehangat dulu, semua pesan dan telfonku tak pernah ia tanggapi, rasanya aku merasa kehilangan dia, hingga aku mendengar kabar dia justru dekat dengan teman kerjaku, dan tak lama setelah itu ia memilih resign dan pindah kerja, bahkan saat hari terakhir ia bekerja, ia sama sekali tak menemuiku, aku bingung tak tau harus apa, tak Ada penjelasan yang aku dapatkan.
memang setelah dia pergi dari kehidupanku hubunganku dengan Aldo kembali membaik, tapi hatiku sama sekali tak pernah lepas memikirkannya, semudah itu ia pergi jika memang karena hubunganku dengan Aldo kita masih bisa bicarakan semuanya, dia pergi saat aku sudah merasa sayang padanya, kedekatan kami memang singkat namun semua kenangan itu masih melekat hingga sampai saat ini.
aku memutuskan untuk menerima lamaran Aldo dan menikah dengannya, namun bayangan Dhani tak pernah pergi dari fikiranku, hatiku tersayat Kala teringat semua kenangan kami menyusuri malam setiap dia mengantarku pulang, kenangan itu terus Ada difikiranku hingga saat ini aku sudah menjalani 8 tahun pernikahan dengan Aldo, dan diapun sudah memiliki pasangan halalnya, namun nama dia selalu memiliki tempat spesial di hatiku, aku selalu berusaha untuk bisa menjalin komunikasi lagi dengannya, namun semua akses ia tutup rapat,aku hanya bisa merasakan rindu yang tak pernah ada obatnya, karena sampai detik ini aku masih mencintainya, melebihi cintaku pada Aldo, semoga kelak kamu tau dan bisa menjelaskan mengapa saat itu kamu pergi begitu saja tanpa pernah Ada ucapan perpisahan.
meski saat ini aku sadar tak mungkin bisa memilikimu namun kau yang selalu hadir dalam setiap hariku, dalam mimpi dan khayalanku, biarlah aku hanya bisa mencintaimu dalam diam menganggumimu dalam kenangan.
karena memang Cinta sesungguhnya tidak Akan memaksakan untuk bisa memilikinya, namun ikhlas untuk membiarkannya bahagia dengan pendampingnya yang lain.