Matahari sudah berada di puncaknya. Ia bercahaya terang, namun terang itu membuat orang orang kepanasan. Air keringat yang sebagai penyejuk tubuh keluar begitu saja tanpa di suruh ataupun di suruh ya memang air itu harus keluar jika tubuh merasa panas. Di bawah terik matahari panas itu seorang pria paru baya sedang memukul kayu dengan kapaknya, beberapa kali ia lakukan dan beberapa kali juga tetesan air keringat keluar membanjiri wajahnya yang kepanasan serta beberapa kali ia usap, beberapa kali juga tetesan air itu jatuh menyentuh kayu di bawahnya, ia tidak peduli yang ia pedulikan hanya kayu di bawahnya yang harus ia belah menjadi beberapa bagian dan harus mendapatkan seikat kayu bakar untuk menghidupi keluarganya.
Setiap kali ia mengayunkan kapak itu, setiap kali ia lihat air keringat beterbangan. Setiap kali juga ia mengingat istrinya yang menantinya pulang kerja, wajahnya yang selalu tersenyum seolah olah menyambutnya pulang dari kerja, seolah olah juga menjadi obat lelahnya dan Yang menjadi harapan dan semangatnya untuk menyelesaikan kerja.
Beberapa kali ia ayunkan beberapa kali juga tenaganya harus ia pompa hingga kayu itu terbelah menjadi beberapa bagian.
Dengan kedua tangannya ia mengumpulkannya dan membelah kayu yang lainnya, semua kegiatan itu ia lakukan hingga cahaya Matahari yang semulanya panas menjadi hangat, yang semulanya berwarna kuning, kini berwarna orange.
Pria itu bernama dika.
Setelah dika selesai mengikat kayu bakar ia pun pulang dengan seikat kayu bakar di atas kepalanya.
Tiba di depan rumahnya istrinya yang selalu dika harapkan ternyata tidak menyambutnya, ia merasa sedih, ada sesuatu yang aneh terasa.
Dika berjalan dan menurunkan seikat kayu bakar di depan rumahnya kemudian ia masuk ke dalam lalu mandi
Setelah selesai mandi, ia pergi ke kamar untuk mengganti baju. Istrinya sudah ada di sana duduk di meja mengamati secarik kertas
Dika mendekatinya
“Lihat alangkah indah senyumannya itu.” Ujarnya setelah dika tiba.
Dika melihat gambar bayi yang indah di secarik kertas itu, ia memahami apa yang terjadi dan mengetahui istrinya ingin sekali punya anak. Sudah 5 tahun mereka menikah, namun buah hati mereka tak kunjung datang menghampiri mereka.
Suasana dingin seketika menyelubungi nya. Ia memandang istrinya yang terlihat tersenyum lembut memandang gambar bayi di atas kertas putih itu, ia tahu itu adalah senyuman yang selalu ia lihat, yang menjadi sambutan pulangnya, namun ada lekukan yang lebih indah terlihat, lekukan itu lebih tulus dari bisanya terlihat.
Nama istrinya klarinta.
“indah sekali.” Jawab dika sembari memandang gambar bayi itu.
Padangnya klarinta terlihat bahagia melihat gambar bayi yang ada dan ada sesuatu yang lebih hangat terasa bila Dika melihat klarinta seperti itu.
Klarinta adalah seseorang yang bisa menggambar, ia akan menggambar sesuatu yang selalu ia sukai dan akan selalu menggambar di saat saat ia melihat pemandangan ataupun adegan yang indah.
Suatu ketika Dika dan klarinta pergi ke gunung dan ketika mereka duduk di pinggir tebing, klarinta mengeluarkan alat alat gambarnya yang tidak lain hanya buku gambar, pengapus dan pensil, meskipun sederhana ia bisa membuat gambar yang indah dengan kedua tangannya yang lihai itu.
“kenapa kau tidak Poto saja?” Tanya dika.
“Dengan menggambar aku bisa melihat semua detail yang ada, mengetahui semua sudut sudut, jarak, padangan.” Klarinta mulai menggambar.
Angin berembus dengan lembut menerpa kedua wajah mereka, merasakan dan menggoyangkan setiap rambut yang tumbuh.
Angin pegunungan memang sejuk dan terasa menyegarkan. Angin angin menerbangkan rambut hitam terurai panjang yang selalu dika puji yang selalu menjadi mahkota setiap wanita dan yang selalu melindungi kepalanya.
Dika mengamati setiap gerakan tangan klarinta, tangannya yang sudah berpengalaman terlihat lembut menggaris garis kertas putih. Sesekali ia tersenyum dan mengerak gerakan kepalanya.
30 menit pun berlalu dan klarinta sudah menyelesaikannya, ia akan mengangkatnya dan memandangnya dengan jauh, melihat lihat setia Sudut gambarnya.
“Bagaimana?”
Kalarinta memalingkan wajahnya lalu mendekati gambar yang ada di tangnya. “lihat.”
“bagaimana?”
“bagus.”
“huh.” Tarikan nafas panjang klarinta. “aku ingin sekali menggambar sesuatu yang hanya ada di dalam pikiranku.” Klarinta lalu menurunkan gambar itu.
Dika heran. “bukankah kau sudah menggambar sesuatu yang ada di pikiranmu?”
“tidak.” Sampai sekarang pengalaman itu masih Dika ingat.
“apakah kau sudah menggambar yang ada di dalam pikiranmu?” tanya dika.
Klarinta memalingkan wajahnya, ia tersenyum. “ya.” Ucapnya pelan. “ ya aku sudah menggambarnya, bagaimana?”
“indah.”
“aku tidak menyangka kau mengingatnya.”
“Sebagai suamimu tentu aku harus mengingat segala sesuatu yang selalu kau anggap penting.”
“Jangan berkata seperti itu.”
“kenapa?”
Klarinta tidak membalas, ia memandang gambar.
****
Ke esokkan harinya dika seperti bisa akan pergi kerja dan seperti bisanya klarinta akan mempersiapkan makanan, tetapi ia tidak seperti bisanya memandang suminya yang sedang makan.
Setelah selesai makan ia mencari istrinya ke segala ruangan, tetapi ia tidak ada di sana maka Dika pun keluar.
Klarinta duduk di teras rumah memandang seorang anak kecil yang tengah bermain dengan orang tuanya, di seberang rumah mereka, dika yang melihatnya mengetahui klarinta sangat ingin sekali mempunyai anak dan diks juga ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi ayah, yang selalu mendengar, melihat dan merasakan kelucuan, kenakalan, kepolosan seorang anak.
Selama mereka menikah, dika merasakan sesuatu yang hampa, kesepian dan terisolasi meskipun ia sudah menikah dengan seseorang yang ia cintai, tetapi tetap saja keluarga tidak akan lengkap jika belum memiliki anak.
Dika duduk di samping klarinta memandang poninya yang indah dan rambut hitam mengkilat karena Cahya Matahari.
Wajah klarinta begitu cantik saat cahaya matahari pagi menyinarinya.
“apa yang kau lakukan disini?” tanya dika.
Klarinta sedikit terkejut mendengarnya. “tidak ada, hanya menghangatkan diri saja.”
Dika tahu klarinta menyembunyikan kesedihannya dan ia tahu bahwa ia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua.
“jika kau memiliki anak nama apa yang akan kau berikan nantinya?” tanya dika.
Kalarinta sedikit terkejut lagi. “jika begitu mungkin aku harus memikirkannya dulu.”
“Kenapa?”
Dika mengetahui dari televisi biasanya setiap orang yang menikah pastinya akan memikirkan sebuah nama sebelum anaknya lahir dan ada juga jauh jauh hari.
“karena aku ingin melihat wajahnya dulu. Waktu dia lahir, hari,bulan dan waktu dari sanalah aku akan memberikan dia nama.”
Terdengar Suara anak kecil seberang yang tertawa Senang. Ia berlari, ayah dan ibunya mengejarnya, tentu saja ia akan kalah dari kedua orang tuanya yang lebih besar, tetapi ibu dan ayahnya tidak berlari mereka hanya berjalan dan sesekali berteriak memanggil anak gadisnya yang masih belia itu.
Mereka tidak melanjutkan pembicaraan, mereka hanya diam memandang keindahan keluarga seberang yang kelihatan lengkap itu.
****
Di sore hari karena tidak ada pekerjaan kalarinta memutuskan untuk mengunjungi teman dekatnya, sudah 1 bulan ia tidak mengunjunginya dan juga ia sangat merindukannya, merindukan suarnya, tawanya, cengengnya—waktu ia masih kecil.
Sepanjang perjalanan, klarinta memikirkan bagaimana sikap temannya itu sekarang, apakah ia masih seperti dulu, apakah berubah atau Hanya berubah sedikit saja.
Ada rasa hangat terasa saat membayangkannya dan ada juga rasa sedih, kecewa dan marah kalau ia tidak ada di rumahnya.
Saat ia berada di halaman rumahnya, ia menarik nafas lega dari dulu sampai sekarang semuanya masih seperti bisa saat ia berkunjung dan sekarang ia mengetahui sikap temannya itu sekarang tidak berubah.
Tok, tok, tok.” Suara pintu ia ketuk dengan pelan pelan, suara itu adalah pertama kalinya ia buat dan pertama kalinya ia merasa sedikit malu mengunjungi temanya biasanya ia akan berteriak dan tidak mengenal malu.
Ia menunggu sejenak. suara langkah kaki yang satai dan tenang terdengar semakin mendekat, suara itu sangat ia mengenalnya; suara langkah kaki yang malas.
Pintu terbuka memperlihatkan wajah Nayaka yang sepertinya baru bangun dari tidurnya, ia menggosok matanya yang malas.
Saat memandang kalarinta ia sedikit terkejut dan membesarkan matanya. “ehh!”
“Kenapa?” tanya klarinta yang sedikit aneh.
“Tidak ada.” Dengan cepat nayaka menyabar pergelangan tangannya dan menarik masuk ke dalam kamarnya.
“ada apa Naya...” Ia berhenti berbicara setelah melihat gantungan gantungan kartu di langit langit kamar Nayaka dan gantungan itu adalah hasil tulisan mereka berdua saat kecil.
“Kau masih mengenangnya?”
Nayaka tersenyum mengangguk. “Bagaimana? Apakah indah?”
“indah.”
“mari.” Nayaka menariknya menuju samping kamarnya dan mengambil album poto di atas meja. “lihat ini.” Nayaka menyerahkan Album Poto tersebut.
Klarinta tersenyum mengingat masa kecilnya yang begitu bahagia, saat itu ia dan Nayaka bermain bersama dan ibu Nayaka mengambil gambar setiap adegan yang terasa indah. Ia mengamati setiap detail Poto tersebut, wajahnya yang tirus dan cantik dengan rambut panjang tersenyum sambil memeluk Nayaka yang rambutnya sebahu waktu itu.
Setalah itu mereka membicarakan segala sesuatu yang mereka alami selama sebulan Selama tidak bertemu, klarinta tidak menyangka Nayaka membuat semua itu dan tidak menyangka ia masih menyimpan kenangan kenang belia mereka.
Nayaka mengambil salah satu kartu. “ini.”
“Apa ini?” klarinta mengambilnya.
“Itu sebuah cerita anak kecil yang harus kau beri nama.”
Setelah mendengarnya wajah klarinta menjadi murung, ia mengingat dirinya yang belum mempunyai anak dan ingin sekali memberikan nama untuknya.
“Maaf, aku tidak maksud menyinggung mu.” Ucap Nayaka dengan lemah.