Judul : Senbazuru
Pengap. Berdebu. Banyak kecoa dan tikus.
Itulah kesan pertama saat aku menginjakkan kaki ke ruangan ini. Entah mengapa tiba-tiba saja hatiku tergerak untuk masuk ke ruangan yang sudah bertahun-tahun tidak aku jamah sama sekali.
Gudang.
Oh mungkin saja karena suami memintaku untuk mencarikan berkas lama yang lupa ia taruh dimana. Dan tempat yang belum aku geledah hanya gudang ini.
Aku membuka setiap jendela yang ada, membiarkan sirkulasi udara dan cahaya berjalan dengan lancar. Ku sapu lantai yang kelewat kotor itu sebelum mengobrak-abrik rak buku dan kardus yang ada.
Ekor mataku tak sengaja menemukan buku yang tidak asing. Sampul buku itu didominasi warna putih dengan gambar bangau kertas di atasnya. Ah, aku jadi teringat saat pertama kali menemukan buku itu.
Sebenarnya, buku dengan judul 1000 bangau kertas itu adalah buku milik sekolah yang lupa aku kembalikan sampai saat ini. Yah, maklumlah dulu waktu sekolah aku suka sekali bergulat dengan buku-buku di perpustakaan, pinjam buku sebanyak mungkin hingga salah satunya lupa untuk dikembalikan.
Jaman dulu belum ada aturan di perpus yang maksimal pinjam 3 buku, buku yang boleh dipinjam hanya yang ada capnya saja, harus tanda tangan sebelum pinjam, kembalikan tepat waktu dan lain sebagainya. Soalnya dulu perpus sekolahku belum ada yang jaga, jadi masih bebas.
Tapi, cuma satu buku ini saja kok yang lupa dikembalikan. Masa iya mau satu kardus. Perampokan namanya.
Buku ini adalah novel pertama yang aku baca. Jadi keinget waktu aku pertama kali nemuin novel ini..
Wuuuoosssshhhh.....
Eh, ee ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ada angin puting beliung di gudang?
Pandanganku terasa kabur karena kabut putih yang tiba-tiba muncul, lalu sedetik kemudian aku sudah ada di ruangan yang berbeda.
Ku amati ruangan yang baru saja aku pijak ini.
Ruangan ini...
Perpustakaan sekolah!
Dan aku melihat sosok yang sangat aku kenal di sana.
Aku menemukan diriku yang masih remaja sedang duduk di kursi perpus sambil senyum-senyum sendiri.
Ku dekati diriku yang sedang asyik berkutat dengan buku. Setelah dekat, aku melirik buku apa yang diriku baca saat itu. Maklum, kejadian ini sudah lama sekali ingatanku mulai pudar.
Buku novel 1000 bangau kertas?
What?! Aku kembali ke tahun 2010 disaat aku masih kelas 1 SMP!
Syuutt
Lah?! Kok tembus?
Aku tidak bisa memegang diriku yang masih remaja. Lah iya, setelah aku amati ternyata seluruh tubuhku hanya seperti bayangan yang tembus pandang. Apa aku hantu?
Dug!!
Bola basket menggelinding ke samping ruang perpus setelah menabrak tembok. Tak lama seorang anak laki-laki datang mengambilnya. Ia melirik aku yang masih remaja sebelum pergi membawa bola itu kembali ke lapangan.
Kenapa aku tidak menyadarinya dulu?
Ternyata dia diam-diam memperhatikanku?
Anak laki-laki itu adalah cinta pada pandang pertamaku di SMP. Aku langsung suka dengannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Namanya Yusuf.
Tapi sayang, diriku yang dulu adalah anak introvert yang susah untuk bergaul. Siapa juga yang mau deket coba? Eh jangan salah, aku dulu juga punya teman dekat meski diriku cenderung tertutup.
Aku kangen mereka.
Ku langkahkan kaki menuju luar perpus. Untung saja aku tak terlihat oleh mereka. Karena sekarang aku sedang memakai baju dinas. Daster mini alias kurang bahan.
Syuutt.. Syuutt..
Orang-orang melewatiku begitu saja. Menembus tubuh samarku.
"Hey, Yusuf ke kantin yuk. Capek nih!" teriak anak laki-laki yang terlihat sudah sangat berkeringat itu. Dia teman dekat Yusuf namanya Pamungkas.
"Sasa.. "
Nah itu dia mereka.
Dua anak perempuan mendekati diriku--Sasa yang sedang fokus membaca novel.
"Main basket yuk.. " ajak Nesa.
"Ayo ikut ke lapangan", timpal Maura.
"Bentar deh, lagi seru nih", tolak Sasa yang lebih tertarik dengan novel yang baru ia temukan.
"Ayo ih!"
Nesa dan Maura menarik paksa Sasa ke lapangan. Sasa pun menurut dengan buku yang masih pada genggamannya.
Sasa meletakkan novel itu di bangku yang kosong sebelum menyusul ke dua temannya ke tengah lapangan.
Saat sedang asyik menonton diriku dan kedua temanku bermain basket, tak sengaja aku menangkap gerak-gerik aneh dari arah jendela kelas 2. Ternyata itu kak Arjun sedang mengamati Sasa dari dalam kelas.
Tunggu! Kak Arjun?!
Jadi dia dulu juga suka perhatiin aku? Aku bahkan tidak pernah mengetahui hal itu. Yang aku ingat, kakak kelasku itu memang suka menggangguku hingga membuatku risih.
Dan kejadian setelah ini aku masih ingat betul.
Duag!
"Aduh!"
Bola yang aku--Sasa lemparkan gagal masuk ke dalam ring dan malah mengenai kepala Yusuf yang baru saja datang dari arah kantin, membuat minuman yang ada ditangannya terjatuh dan tumpah di atas lantai.
Setelah itu Sasa langsung menghampiri sang korban.
"Maaf aku gak sengaja", katanya.
"Bisa main gak sih?! Liat nih bajuku basah! Bodoh!" bentak Yusuf dengan sedikit dorongan yang membuat Sasa terkejut.
Aku sendiri juga masih tak percaya. Yusuf yang menurutku anak baik, sopan, dan tenang malah sekasar itu hanya karena kesalahan yang benar-benar tidak aku sengaja. Dan karena dulu hatiku masih lembek tentu saja bentakan kecil seperti tadi sangat melukai hatiku.
"Ya udah sih. Yang penting aku udah minta maaf", ujar Sasa yang kemudian meninggalkan tempat itu.
"Sasa.. "
Bahkan panggilan Nesa dan Maura tak ku hiraukan kala itu.
Aku masih bisa merasakan bagaimana sakitnya hatiku saat itu. Lelaki yang selama ini aku cintai dan banggakan ternyata sekasar itu. Dan mulai saat itu aku bertekat untuk menutup hatiku dan berhenti menyukai lelaki bernama Yusuf itu.
"Nesa.. "
Aku menoleh ke asal suara.
Apa lagi ini?
Tiba-tiba saja aku sudah ada di atap sekolah. Dan aku tidak ingat ini kejadiannya kapan. Karena seragam Yusuf yang tadinya basah sekarang sudah kering total.
"Sasa kenapa? Kok udah dua tahun ini diemin aku terus. Dia kayak menghindar. Tapi aku gak berani buat nanyain ke dia", tutur Yusuf.
Apa? Dua tahun? Berarti ini udah dua tahun setelah insiden itu. Dan yang membuat aku bingung, kenapa Yusuf nanyain tentang aku ke Nesa? Padahal yang aku tahu saat itu Nesa berpacaran dengan Yusuf karena mereka sangat dekat.
"Gak tau juga. Dia gak pernah cerita apa-apa", sahut Nesa.
Bohong! Harusnya Nesa tahu soal perasaanku ke Yusuf.
"Apa kamu udah kasih suratku ke Sasa?"
"Udah"
"Apa jawabannya? "
"Surat itu langsung dibuang"
Surat? Surat apa?! Aku tidak pernah menerima surat. Apalagi dari Yusuf.
"Oh begitu"
Ku lihat wajah Yusuf langsung murung.
"Mungkin aku harus melupakan perasaanku ke Sasa"
Deg!
Perasaan? Ke Sasa?! Perasaan Yusuf ke aku?!
Tunggu! Ada yang tidak beres.
Woi Yusuf! Aku tidak pernah menerima surat apa-apa dari kamu! Woy! Denger gak?!
Aku berusaha berteriak di telinga Yusuf yang bahkan dia tidak merespon sama sekali. Bodohnya aku, aku kan hanya bayangan disini.
Setelah Yusuf pergi dari sana aku menoleh ke arah Nesa dengan sedikit kesal. Kenapa dia dulu tidak bilang apa-apa ke aku mengenai surat itu. Dia malah bilang kalau Yusuf membenciku, makanya aku terus menghindari lelaki itu.
"Maaf Sasa, surat dari Yusuf buat kamu udah aku buang. Kamu gak pantas buat dia, karena aku juga suka sama Yusuf. "
Ucapan Nesa barusan membuatku tertegun. Aku mengeraskan rahangku menahan kesal.
Dasar penghianat! Tem--
Wuoossshhhh.....
Belum puas aku mengeluarkan untaian sajak untuk Nesa tiba-tiba saja kabut putih sudah menghalangi pandanganku.
"Sayang? Kamu baik-baik saja? "
Sentuhan tangan di bahu tiba-tiba mengejutkanku. Ku buka mata dengan perlahan. Badanku sedikit terhuyung karena kepala yang terasa pening.
"Kalau lagi gak enak badan istirahat saja. Jangan dipaksakan. "
Suara yang sangat aku kenal membuatku segera tersadar jika aku sudah ada di tempatku semula. Gudang.
Aku menoleh ke belakang. Kulihat suamiku berdiri sambil menggendong putra kami yang masih berusia 2 tahun.
"Kamu tidak dengar Theo menangis mencarimu?"
"T-tidak", jawabku yang sudah berdiri.
"Mama.. "
Ku raih Theo yang tangannya sudah menjulur ke arahku.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Arjun memastikan.
"Aku baik, hanya sedikit lelah", jawabku yang membuat suamiku lega.
"Mari ke dapur aku buatkan teh hangat"
Aku tersenyum. Suamiku itu memang pengertian. Kami pun berjalan beriringan, menjauh dari gudang.
"Kok jam segini udah pulang?" tanyaku.
"Gak tau nih tiba-tiba kangen aja sama kamu."
Pipiku langsung merona mendengarnya.
Sebenarnya pikiranku masih terusik dengan kejadian tadi. Kenapa aku bisa mengalaminya? Itu seperti mimpi. Tapi aku tidak sedang tertidur. Rasanya juga seperti nyata. Tau ah aku pusing setelah mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi dariku.
Apakah itu kekuatan magis dari legenda senbazuru yang katanya barang siapa mampu membuat seribu bangau kertas maka satu keinginannya akan terkabul.
Oke, memang aku dulu pernah membuat banyak bangau kertas dengan harapan Yusuf membalas perasaanku, tapi belum sampai seribu biji aku sudah menyerah karena insiden itu.
Entahlah, biarlah legenda tetap menjadi legenda.