Setelah di tinggalkan pacarku (pria), aku (wanita) menjadi bossnya.
Pagi itu hujan deras mengguyur Kota Nganjuk. Eva yang duduk sendiri di halte bis itu, sedang menunggu Rama, sahabat sejatinya sejak kecil. Saat hujan seperti ini, ia teringat kenangan kecilnya dulu bersama Rama. Saat itu ia dan Rama sedang bermain di taman. Tiba-tiba hujan datang, ia dan Rama segera berteduh ke sebuah gazebo yang ada di taman itu. Kala itu terjadi percakapan kecil diantara mereka.
"Rama... aku sedih ma. Kalau hujan seperti ini, aku jadi teringat sama Ibuk. Waktu Ibuk meninggal karena kecelakaan, juga hujan seperti ini. " Ucap gadis kecil itu.
"Kamu jangan sedih, Va, aku kan ada disini. Aku janji akan nemenin kamu untuk selamanya." Ucap bocah lugu itu kepada sahabatnya.
"Benar!, kamu akan nemenin aku untuk selamanya? Selamanya sampai kita tua nanti?" tanya gadis itu lagi.
"Iya. Bahkan kalau perlu, kalau kita dewasa nanti kita nikah saja. Kamu mau kan nikah sama aku? " Sahut bocah itu dan Eva hanya mengangguk menandakan jawaban setuju.
"Tapi jika kamu ingkar dari janji ini gimana ma?" Ucap gadis itu kemudian,
"Hemm... tenang saja. Aku janji akan mengantarkan kamu ke orang yang bisa menemanimu untuk selamanya". Jawab Rama singkat.
Jika teringat hal itu, Eva merasa malu sendiri. Tak lama kemudian Rama datang dengan sepeda motornya. Dan akhirnya mereka berdua pergi dengan mengendarai sepeda motor milik Rama ke arah sawahan untuk pergi ke tempat wisata Watu Lawang.
--
Hari itu adalah hari minggu, seperti biasa Rama mengajak Eva untuk pergi ke tempat wisata Watu Lawang yang ada di Sawahan. Tapi kali ini berbeda. Sudah dua jam Eva menunggu Rama di rumahnya, tapi ia tak kunjung datang juga.
Krring...krring.. bunyi telephon rumah Eva berbunyi. Segera ia mengangkat telephon itu, siapa tau saja dari Rama. Ternyata benar itu Rama. "Eva, sekarang kamu datang ke rumahku. Ku tunggu.. tut..tut..tut.." telephon itu terputus. "Ha.. ha..hallo, Rama..Rama..ha.hallo?
Sahut Eva. "Kok putus sich..?" gerutu gadis itu.
Dalam sekejap ia berada di depan rumah Rama.
"Ramaaaaa...!!!"
Teriak gadis itu menerobos masuk ke dalam rumahnya. Terlihat di dalam rumah Rama suasana yang sangat ramai. Banyak para tamu yang hadir mengenakan jas dan gaun yang cantik.
Eva mencari sosok Rama. Ternyata Rama berada di tengah-tengah para tamu undangan yang hadir bersama seorang gadis yang terlihat sangat cantik.
"Baiklah karena seluruh para tamu undangan semua sudah hadir, marilah kita mulai acara pertunangan ini. Silahkan saudara Rama Aditia pratma, putra dari Bapak Sholeh untuk menyematkan cincin pertunanganya ke jari manis saudari Shinta Dwiana, putri dari Bapak Hadi Wijaya." Ucap Mc itu.
Mendengar itu semua, Eva hanya terdiam dan terpaku.
"Ya sudah, sekarang giliran Shinta Dwiana untuk menyematkan cincin pertunangan ke jari saudara Rama." Lanjut Mc itu lagi.
Tubuh Eva mati rasa tidak bisa bergerak sama sekali. Dan tiba-tiba air matanya keluar begitu saja tanpa diperintah. Rama melihat Eva, sorot matanya yang tajam dengan tatapan dingin, seolah tidak perduli akan kehadirannya di acara itu. Eva menyanggupkan langkahnya, ia maju untuk bersalaman dengan Rama,
"Selamat.." Satu kata terucap dari mulut mungilnya dan kemudian pergi tanpa suara.
Keesokan harinya Eva mendengar bahwa Rama pindah rumah ke Surabaya. Begitu sakit hati Eva, meskipun Rama bukanlah pacar Eva tapi sudah sejak lama Eva memendam rasa suka itu pada Rama.
Tiga tahun berselang semenjak kejadian pertunangan itu. Saat ini Eva berada di Kompleks perumahan yang berada di Nganjuk. Ya kali ini Evalah yang bertunangan dengan laki-laki pilihan orang tuanya itu.
"Baiklah kita mulai acara pertunangan ini antara saudara Andik Trio Widodo putra dari Bapak Aslan dengan Eva Devitha Sari, putri dari Bapak Farid. Silahkan saudara Andik menyematkan cincin pertunangan ke jari manis saudari Eva. Ya dan sekarang giliran saudari Eva untuk menyematkan cincin pertunangan ke jari manis saudara Andik." Sahut Mc itu. Acara pertunanagan itu berlangsung sangat khidmat tanpa ada halang rintangan.
Tiba-tiba, Eva menangkap suatu sosok yang tak asing lagi baginya. Rama. Ya sahabat sejatinya itu hadir di acara pertunangannya ini. Sungguh Eva tak percaya apa yang dilihatnya.
"Selamat ya, Eva, Kuharap kamu bahagia dengan pertunangan ini.
" Ucap Rama memberi selamat pada Eva.
Eva hanya membisu mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Rama. Dan Rama segera pergi meninggalkan tempat pertunangan itu. Eva pergi menuju kedua orang tuanya. Ia menyampaikan bahwa ia tiba-tiba tak enak badan, ia ingin segera pulang. Dengan diantar Andik ia pulang ke rumahnya. Pesta pertunangan itu tetap berlanjut tanpa adanya kedua anak muda itu.
Eva menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Eva menangis, dalam hatinya ia masih mencintai Rama tetapi kini ia telah bertunangan dengan orang lain.
"Rama kamu jahat, kenapa kamu melakukan semua ini sama aku? Kenapa?
Padahal, mungkin kamu sudah tahu bahwa aku mencintai kamu, tapi kenapa kamu hadir dan memberiku selamat seperti itu? Kamu mau membuatku menyesal atas keputusanku ini?"
Pikir Eva di benaknya.
Enam bulan berlangsung setelah itu dan di hari ini, Eva akan menikah dengan Andik. Eva yang saat itu sedang berada di kamar pengantin melihat wajahnya di cermin. Wajahnya sangat cantik dengan riasan Adat Jawa. Tapi apakah keputusan yang ia ambil ini benar? Pertanyaan itu yang selalu teringat didalam kepalanya.
"Eva, apa kamu sudah siap? Kalau sudah ayo kita segera kita turun kebawah. Semuanya sudah menunggu kamu."
Ucap Anisa, kakak Eva.
"Ya kak. Ayo kita turun ke bawah, Eva sudah siap"
Sahut Eva.
Eva sudah berada di lantai bawah. Sungguh cantik ia dengan kebaya yang dikenakanya itu, membuat semua mata tertuju padanya. Ketika saat dimulai Ijab Kabul, tiba-tiba handphone Bapak Eva berbunyi. Ternyata yang menelpon itu adalah Bapak Sholeh, teman Bapak Eva sekaligus Bapak dari sahabat sejatinya Rama. Beliau mengabarkan bahwa Rama telah meninggal dunia dikarenakan Kanker Otak stadium akhir.
Mendengar itu semua Eva langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Akhirnya pernikahan itu ditunda.
Beberapa hari setelah itu, Eva menjadi orang yang pendiam. Ia sering mengurung dirinya di kamar. Hingga suatu malam, ia terbangun dari tidurnya. Entah mengapa, ia melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya. Ia menatap kebawah jendela itu. Ia terkejut, ia melihat apa yang seharusnya tidak terlihat lagi.
"Rama".
Ucap Eva, Eva melihat Rama. Dari bawah Rama memanggil nama Eva. Eva bergegas menuju tempat Rama. Diluar rumah udara sangat dingin tapi tak ia hiraukan selama ia masih bersama Rama. Rama mengajaknya berjalan-jalan menuju ke suatu tempat.
"Rama? Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu melakukan semua ini sama aku? Kamu sadarkan selama ini aku cinta sama kamu?"
Tanya Eva. Ia sadar bahwa Rama yang ada di sampingnya saat ini adalah semu. Mendengar pertanyaan itu Rama hanya tersenyum sambil terus melanjutkan perjalanannya. Eva hanya mengikuti kemana ia dibawa oleh Rama.
Mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan. Di depan rumah Andik.
"Rama kenapa kamu bawa aku kesini?"
Tanya Eva.
"Va, aku bertunangan dengan Shinta itu, karena aku sayang banget sama kamu. Aku nggak mau kamu sedih dengan tahu harapan hidup aku tinggal sedikit lagi. Aku cinta sama kamu, Va. Dan dulu waktu kita masih kecil, aku berjanji kalaupun aku nggak bisa mendampingi kamu untuk selamanya, aku sendiri yang akan mengantarkan kamu ke orang yang bisa mencintai dan menyayangi kamu untuk selamanya. Dan orang itu adalah Andik."
Ucap Rama. Mendengar itu semua Eva menangis.
"Aku janji, aku akan menyayangi dan mencintai Andik sama seperti aku menyayangi dan cinta sama kamu Rama."
Janji Eva.
Setelah Eva mengucap janjinya, Rama tersenyum dan menghilang bersama dengan terbitnya mentari pagi.
"Eva, kamu sedang apa berada di depan rumahku sepagi ini?"
Tanya Andik yang baru keluar dari rumahnya.
Melihat Andik, Eva segera berlari ke arahnya dan setelah sampai, ia langsung memeluk Andik dengan begitu eratnya.
"Aku cinta dan sayang banget sama kamu, Andik"
Ucap Eva dengan senyum mengembang. Andik bingung mengapa Eva sepagi ini berada di depan rumahnya sambil bebicara seperti itu. Meskipun begitu, hatinya berbunga-bunga dan ia tersenyum sambil membalas memeluk Eva.
Tiga bulan setelah itu, Eva dan Andik menikah dan melangsungkan resepsi pernikahanya di taman, sebuah balai pertemuan yang sangat indah. Balai pertemuan itulah yang akan menjadi saksi pernikahan mereka nantinya. Eva melihat langit biru nan cerah. Terlihat di langit itu bayangan wajah Rama tersenyum puas yang telah menyatukan dua insan ini.
"Semoga kamu bahagia di sana... Rama."
Ucap Eva di dalam hati.