Seorang gadis sedang berjalan keluar dari pintu keluar pesawat. Dengan wajah datar, gadis itu berjalan angkuh menuju luar bandara.
"Sial, kenapa aku harus jalan kaki dari sini ke rumah." gerutunya lalu berjalan menyelusuri trotoar sambil menggeret koper.
Chanmi Calerify panggil saja dia Cale, gadis cantik dari Prancis kembali ke tanah kelahirannya. Cale di prancis sudah hampir 5tahun, dia kembali ke Indonesia sebab dia rindu dengan seseorang, ia memastikan orang yang ia rindui masih menunggu dirinya.
Di seberang jalan Cale melihat segerombolan laki-laki yang memakai pakaian serba hitam sedang berkelahi dengan seseorang yang memakai pakaian formal. Tanpa menunggu lebih lama, ia menghampiri orang-orang yang tengah berkelahi itu.
Bukk.. satu pukulan terkena pada orang itu sampai pingsan.
"Eh kau anak kecil, kenapa kau ikut campur urusanku?" Ucap bos dari orang-orang itu.
"Cih, kau merendahkanku Hah? Botak."
Bukk..
"Apakah ini yang dinamakan ANAK KECIL." ucap Cale sambil nenekankan kata terakhirnya. Pukulan demi pukulan menghantam mereka sampai pingsan mungkin sampai mati.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Cale, lalu membalikkan tubuhnya seketika itu juga ia tercengang karena orang itu adalah orang yang ia rindukan siapa lagi kalo bukan Caloey Stevadit.
Begitupun dengan Loey sama percis dengan Cale tercengang melihat gadis yang telah menolongnya itu. Jujur saja Loey juga memiliki rasa rindu pada Cale, tapi itu dulu, dia sangat kecewa dengannya. Pergi tanpa jejak dan pulang tanpa kabar. Kini berbeda, Loey sekarang sudah memiliki seseorang yang singgah dihatinya setelah Cale.
"Kenapa kau kembali? Setelah perasaanku kepadamu hilang." ucap Loey datar.
"Dulu kau kemana saja? disaat aku membutuhkanmu."
"Dan kau pergi tanpa kasih kabar?" Cale membiarkan Loey mengutarakan unek-uneknya yang dia pendam. Cukup, Cale tidak tahan lagi dengan semua itu, lalu Cale melenggang pergi.
Pagi harinya Cale berangkat kuliah. Dikolidor depan kampus, Cale melihat Loey berjalan bersama seorang gadis cantik mungkin dia kekasih baru Loey yang dikabarkan jadi tunangannya. Gadis itu bergelayut manja di tangan Loey, dia sangat glamor dan berlebihan. Rumor mahasiswa disini sering mengatakan bahwa gadis itu bernama Dhisil Lazara.
'Andai kau tahu Loey, aku pergi bukan karena apa-apa. Aku pergi hanya ingin membantu ayahmu, dan sekaligus melawan penyakitku' batin Cale lalu pergi menuju kelasnya.
Kini Cale sedang menunggu Loey di taman favoritnya mereka. Cale ingin menjelaskan semuanya, ini waktu yang sangat tepat untuk mengutarakan semuanya. Sekian susah ia membujuk Loey hingga mau dan akhirnya dia mengiyakan kemauannya.
Loey datang dan duduk di samping Cale, sungguh keduanya merindukan masa-masa saat mereka masih berdua.
"To the poin aja, kau ingin berbicara apa?" tanya Loey tanpa menatap Cale dan itu membuat goresan kecil di hatinya.
"Jujur aku masih sayang kepadamu bahkan masih cinta. Mungkin kau tidak. Aku bingung cara menyampaikannya. Aku takut kau semakin bersedih, aku tidak mau-. "
"Tapi kau mengambil cara seperti itu sama aja membuatku semakin terpuruk. Kau pergi disaat aku di bawah, disaat ayahku berubah dari biasanya. Kau salah Cal. Salah. Dan apa, saat itu juga ayahku menjatuhkanku. "
"Itu bukan ayahmu!" sergah Cale membuat Loey tercengang.
"Ayahmu berada di paris, tinggal bersamaku." lanjutnya sambil menatap langit senja.
Loey diam tak berkutik, ia sedang bergelut dengan pikirannya, entah dia memikirkan apa. Cale yang melihat Loey terdiam dia tersenyum manis.
"Kau menginginkanku pergi dari hidupmu kan?" pertanyaan Cale membuat Loey kembali kesadarannya lalu menatap Cale.
"Mak-Maksudmu?" tanya Loey tergagap.
"Kau tidak ingin melihatku lagi kan? Oke, aku akan lakukan itu demimu, Loey. Dan ini--" Cale menggantungkan kalimatnya seraya mengambil sebuah amplop dari kantung jaketnya, lalu menyodorkan kearah Loey.
"Buatmu, isinya surat. Surat yang ku tulis. Temui ayahmu di paris kalau kau mau. Di luar amplop ini ada alamatnya." Loey dengan ragu menerima surat itu.
"Dan satu lagi. Aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik." Cale berdiri dari duduk nya, sebelum melangkah ia berbalik.
"Loey. I love you forever, thanks for accepting me in your life. Goodbye. I love you so much." ucapnya lalu berjalan meninggalkan Loey yang tengah terpaku mendengannya.
Hari demi hari Loey menjalankan aktifitasnya seperti biasanya, tetapi pikirannya tertuju kepada Cale. Dari sejak pertemuan ditaman tempo hari, sampai sekarang Loey tidak melihat sosok cantik nan mungil itu lagi, sungguh Cale menempati janjinya.
Dan soal surat itu Loey belum pernah ia baca, surat itu ia simpan di meja belajarnya. Dan hubungan Loey dengan Dhisil sudah usai karena dia tahu kelakuan busuk Dhisil selama ini pada dirinya. Loey memutuskan untuk pulang kerumah karena tiba-tiba ia sangat penasaran dengan keadaan ayahnya begitupun dengan Cale.
******
Loey telah sampai di negeri prancis, lalu ia mencari alamat yang tertera diluar amplop. Kini rumah megah nan elegan terpangpang jelas dihadapannya. Sekali lagi Loey mencocokkan alamat yang di amplop dan di luar pagar, dan hasilnya sama. Lalu Loey berjalan kearah pintu dan memencet bel, dan pintu pun terbuka menampilkan laki-laki paruh baya.
"Loey." ucapnya kaget dengan kehadiran Loey di sini.
"Ayah." Loey langsung memeluk ayahnya dan menangis.
****
"Jadi sekarang Cale dimana yah?" Tanya Loey yang telah mendengarkan penjelasan ayahnya dari awal sampai akhir.
"Kau yakin ingin bertemu dengan Cale?"pertanyaan itu membuat Loey menganggukan kepala dengan sangat yakin. "Ayo ikut ayah."
*****
Tempat pemakaman umum.
Yap kini Loey dan ayah berada di TPU, Loey menyerit heran kenapa ayahnya membawanya ketempat ini? Perasaannya sekarang tak karuan. Ayah Loey berhenti di sebuah batu nisan yang tertera nama CHANMI CALERIFY.
"Ayah, ini bercanda kan? Ayah tidak mungkin menipuku kan? Jawab aku yah." lirih Loey dan perlahan ia terduduk lesu disamping makam Cale.
"Iya Cale meninggal dunia seminggu yang lalu. Dia mengidap penyakit kanker otak. Dia ke paris setelah bertemu denganmu, saat itu dia langsung koma sampai meninggal dunia saat itu juga. " ucapan ayah teringat saat ia bertemu dengan Cale seminggu yang lalu.
Loey baru menyadari wajah Cale yang sangat pucat dan bekas darah yang keluar dari hidungnya.
"Cale!! Kenapa kau meninggalkan ku Cal. Ayo tunjukkan wajahmu dan bangunkan aku dari mimpi ini Cal!!!" Teriak Loey dengan pilu, ia menyesal. Memang penyesalan itu selalu datang di akhir, bukan di awal. Buru-buru Loey membuka surat dari Cale dan perlahan ia membacanya.
'Too Loey kekasih hati Cale.
Hay, kau apa kabar? Semoga baik-baik aja ya sayang. Hehe kau pasti sedang membaca surat dariku ya?
Loey maafkan aku atas semua kelakuan sama sikap aku padamu yang mungkin menurutmu berlebihan. Kau berkunjung kerumah abadiku ya? hehe aku bingung ingin bercerita dari mana lagi.
Oh iya kau udah tahukan tentang penyakitku dari ayahmu? Loey tolong kau penuhi keinginanku yang terakhir kalinya. Aku ingin kau bahagia bersama gadis lain, kau harus bangkit, kau harus jadi Loey yang dulu aku kenal oke.
Simpan aku dihatimu yang paling dalam, akupun begitu. Aku sangat sangat sangat mencintaimu, aku menyayangimu. Aku pergi, semoga kita dapat bertemu kembali di alam nanti. Jaga dirimu baik-baik. Aku selalu ada disisimu walaupun kita sudah berbeda alam. I love you Caleoy Stevadit. '
*****
3 bulan kemudian.
Loey kini sedang bekerja di perusahaan miliknya di paris. Ya sejak rahasia itu terbongkar, ia memutuskan untuk tinggal di kota paris. Ia ingin menjaga ayahnya yang semakin tua dan ia disini merasa sangat dekat dengan Cale.
Tok tok tok.
"Masuk"
"Maaf pak ini sekretaris yang telah saya seleksi."
"Suruh masuk ke ruangan saya."
"Baik pak saya permisi dulu." Sekretaris itu pun pergi untuk memanggil sekretaris yang baru. Mendengar ketukan pintu, Loey mempersilahkan masuk. Sekretaris itu pun masuk.
"Perkenalkan namamu." ucap Loey tanpa menatap sekretaris baru.
"Nama saya Cale Reintan, panggil saya Intan pak."
Seketika Loey menatap Intan dan membuatnya terkejut. Mukanya sangat mirip dengan Cale, begitupun dengan namanya.
*****
Setelah kejadian pagi itu kini Loey duduk dibalkon kamarnya untuk melihat bintang yang bercahaya. Seketika bulu kuduknya merinding dan ia merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya. Dengan perlahan Rio menoleh ke samping ingin memastikan.
"Intan?" Tanyanya pada seorang gadis yang memakai gaun putih bercahaya yang sedang duduk disamping Loey. Gadis itupun menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
"Aku bukan Intan, Loey. Haha." jawabnya sambil tertawa ringan.
"Bagaimana, kakakku cantikkan sama sepertiku."
"Cal-Cale." gadis itu mengangguk, Loey langsung memeluk Cale erat.
"Cal maafkan aku. Iya aku salah selama ini."
"Sttt.. sudah ini tak perlu di sesali Loey, jadikan ini pelajaran untukmu." Lalu Cale melepaskan pelukannya.
"Jaga kakakku ya, demi aku."
"Iya aku janji Cal."
"Yasudah aku harus kembali lagi, aku pulang dulu ya. Ingat pesanku." saat itu juga bayangan Cale perlahan-lahan menghilang.
Loey terbangun dari mimpinya, ia memimpikan Cale. Apa betul Intan itu kakaknya? Kalau iya ia akan membuktikan padanya bahwa ia akan menjaga Intan.
Haripun berlalu kini Loey dan Intan sangat dekat ia merasa sedang dekat dengan Cale. Yang ada dalam tubuh Intan sama percis dengan Cale, semuanya. Sampai kebersamaannya membawa mereka ke status yang lebih serius.
Disinilah Loey dan Intan melangsungkan pernikahan. Gedung hotel yang ternama di Paris menjadi tempat mereka mengucapkan janji suci pernikahan. Serangkai acara telah Loey lewati, kini mereka sedang menyambut para tamu yang ingin memberikan ucapan selamat.
Dari kejauhan dipintu masuk sosok Cale muncul disana tersenyum bahagia.
"Semoga kalian bahagia selamanya, aku selalu ada disisi kalian. I love you all."
Seperti tarikan magnet Loey dan Intan menatap ke pintu masuk secara bersamaan, disana mereka melihat orang yang mereka sayang dan di rindukan.
"Terima kasih. I love you too dear." Ucap mereka bersama sambil tersenyum. Lalu sosok Cale menghilang dihadapan mereka.
THE END..