Alika adalah mantan kekasih Angga. Angga yang berpisah bertahun-tahun lamanya menemui Alika kembali. Namun Alika tampak tidak mengenal Angga karena Alika sudah melupakannya, terlebih Alika mengenal sosok Angga dengan nama Setya bukanlah Angga. Angga yang kembali jatuh hati berusaha untuk mengintai kebiasaan dan kegiatan Alika , namun merasakan patah ketika Angga mendapat kabar bahwa Alika tidak ingin menikah dalam usia ini , dan memutuskan untuk menjalin rumah tangga di usia menjelang 28 tahun, beberapa lamaran sudah berdatangan , namun dengan halus dan sopan Alika menolak semua pelamar dengan alasan akan melanjutkan studi keluar negeri. Angga yang sudah terlanjur jatuh hati memikirkan bagaimana caranya agar Alika mau menerima dan menikah dengannya. pada akhirnya agama memutuskan untuk menjebak Alika di sebuah hotel dan membuat drama seolah-olah mereka telah melakukan sesuatu. itu membuat Alika putus harapan dan terpaksa menerima lamaran dan pernikahan dengan anda karena merasa dirinya kotor dan tidak suci seperti dulu lagi.
__________________________________________________
Terpaksa menikah
#part1
Dialtar pernikahan dengan design gedung dan pernak-pernik yang mewah itu , tampak ada sepasang pengantin yang duduk bersanding bak raja dan ratu tengah sibuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan. Pernikahan mereka dilaksanakan begitu megah dengan tamu yang juga banyak berdatangan dengan baju tak kalah mewah.
Tentu saja, sebab itu adalah pernikahan dari Angga Dwi Prasetya dengan istrinya yang bernama Alika Tasyanissa yang tak lain seorang putra dari bapak Walikota di sebuah kota di pulau Jawa dan seorang putri dari KH. Wibowo yang juga merupakan santri ternama di kota itu. Para keluarga datang menyambut para tamu dengan bahagia dan penuh suka cita
____________________________________________
(Angga Dwi Prasetya)
Aku masih berdiri di pelaminan ini menyambut tamu yang begitu banyak datang ke acara pernikahan ku sembari memandangi tempat yang ku gunakan sebagai tempat pernikahanku, aku mengaguminya sebab design ini kurancang dengan sangat luar biasa. Betapa tidak aku begitu bahagia karena berhasil mendapatkan wanita yang aku damba selama ini. Sesekali aku melirik pada wanita disampingku, tak berpoles saja dia membuat lututku tak kuat lagi berdiri karena mengaguminya apalagi jika dia dirias dengan luar biasa seperti ini. Meskipun tipis, aura kecantikannya memang sangat luar biasa. Oh Alika, sungguh kau membuat diriku benar-benar tidak berdaya. Rasanya aku ingin membelaimu sekarang juga, aku berharap amarahmu lekas reda. Agar aku benar-benar bisa merasakan menjadi suami darimu.
_________________________________________
(Alika tasyanissa)
Aku masih berdiri di altar ini, rasanya kakiku begitu sakit sekali. Kenapa tamu berhamburan datang begini sih? Bahkan kenapa teman-teman ku pun berdatangan. Aku tidak pernah merasa mengundang mereka. Argh sialan, ini pasti ulah pria licik ini. Kupandang sekilas wajahnya, tampak dia begitu antusias untuk menyalami para tamu undangan dengan senyum sumringah diwajahnya. Berbanding terbalik dengan diriku yang sebenarnya sudah enggan dan malas yang memasang raut muka menahan senyum , aku muak jika harus berlama-lama dengan pria licik ini. Bagaimana tidak, pria tidak gentle-man disampingku ini memilikiku dengan cara tidak hormat. Mengalahkan pesaing lainnya dengan cara yang benar-benar tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang pria. Begitu instan dan menjijikkan.
__________________________________
Aku melihat punggung pria itu dari dalam mobil, terlihat dia membuka pintu rumah mewah bertingkat dua dan membawa barang-barang kami. Aku keluar dari mobilnya dan menyusul melewatinya begitu saja.
"Dimana kamarku" tanyaku ketus tanpa menoleh pada wajahnya sedikitpun
"Kamar kita diatas sayang"
"Bisa tidak , kau itu mencerna pertanyaan ku. Aku bertanya kamarku dan bukan kamar kita"
"Sayang, kita ini suami istri. Tentu saja akan satu kamar"
"Tolonglah, aku belum siap untuk memandang wajahmu. Aku takut kebencian ku akan membuatku melakukan hal-hal yang tidak diinginkan padamu"
"Baik, aku akan menunggu sampai waktu itu tiba. Kamu boleh pilih kamar diatas atau dibawah , ada banyak kamar dirumah ini. Kamu bebas memilih yang mana karena rumah ini sudah kuatasnamakan dengan namamu. Ini kuncinya. Aku akan memilih kamar dibawah disudut kiri itu. Aku harap hatimu segera luluh"
Aku mengambil sederet kunci yang dia beri. Sengaja aku periksa satu persatu 4 kamar dirumah itu agar aku bisa memilih kamar yang membuatku nyaman. Dan akhirnya aku memilih kamar diatas yang ruangannya cukup luas. Aku segera menata baju dan alat perhiasanku dikamar ini. Kemudian bergegas mandi untuk membersihkan diri dan segera mengistirahatkan badan yang merasa lelah dan letih.
Setelah siap mandi aku menelentangkan badanku dikasur yang mewah ini. Aku menyelimutkan diri dan memposisikan tidurku yang miring memeluk guling untuk mencoba tertidur. Namun tiba-tiba tanpa aba-aba air mataku mengalir begitu saja. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk menerima semua takdir yang menimpaku sekarang. Aku bahkan berfikiran untuk membunuh diriku yang sudah tidak suci , sudah begitu kotor dan menjijikkan ini. Mengingat kejadian itu membuat aku tak pernah bisa berhenti mengutuk diri dan memaki diriku sendiri
(Flashback mode on)
Waktu itu dihari Sabtu seperti biasa aku mengikuti acara seminar dikampus. Sebentar lagi aku akan diwisuda dan memang banyak seminar yang wajib diikuti bagi kami para calon wisudawan/wisudawati. Acara tidak berlangsung lama, aku pulang dengan sendirinya dan mencoba memesan taksi online. Dengan menunggu didekat gang di sekitar kampus ini aku sibuk memainkan ponselku melihat pesan masuk dari sana dan sini. Dari seberang aku melihat ada seorang pria tampan yang bertubuh gagah sedang memperhatikanku dengan jeli. Itu membuat tubuhku bergidik ngeri, pria itu sudah memperhatikanku sedari aku berjalan menuju gang ini. Dan bahkan sekarang dia tidak pergi dan malah semakin mengamatiku. Tiba-tiba dari arah samping ada yang memegang pundak ku membuat aku spontan melihat kearahnya, dan dia langsung membekap mulutku hingga pingsan tak berdaya.
Aku terbangun disebuah kamar besar, dengan tubuh tertutupi selimut. Aku masih mencoba menstabilkan stamina ku. Kubuka perlahan mataku dan menahan sakit dikepalai yang terasa pusing dan berat sekali. Kemudian setelah aku sadar ,aku melihat pria yang diseberang tadi yang sedang menatapku.
"Dimana ini". Teriakku histeris
"Tenang sayang, kita ada di hotel. Dan terimakasih untuk hari ini"
Aku mendengarnya terkejut dan spontan melihat diriku dibalik selimut. Polos tanpa sehelai benangpun, apa yang dilakukan pria gila ini. Oh astaga,,, ada darah disana. Aku yang melihatnya menggelengkan kepala tak percaya kemudian menangis sejadi-jadinya.
Pria itu mendekat dan memelukku dengan erat
"Tenanglah sayang, jangan khawatir aku akan bertanggung atas apa yang terjadi. Aku mencintaimu. Jangan menangis"
"Lancang, siapa kau. Aku bahkan tidak mengenalmu. Berani-beraninya kau perlakukan aku dengan nista begini?. Dimana otakmu, kau sudah mempermalukan wanita seperti ini. Kepa*rat menjauh dariku dan enyahlah." Aku berkata dengan mulut gemertar, aku benar-benar marah dengan semua yang telah terjadi.
Aku bergegas mengambil selimut yang masih melilit ditubuhku untuk kujadikan penutup tubuhku yang menuju kamar mandi dihotel ini. Tak lupa aku mengambil bajuku yang berserakan dilantai yang dibuat oleh pria tak malu ini. Aku memilih mengguyur badanku dibawah shower dengan tak hentinya menangis meratapi diri. Bahkan aku menjambak diriku sendiri merasa tidak becus untuk menjaga diri.
Aku keluar dengan pakaian lengkap dan riasan sederhana. Dengan mata sembab aku keluar tanpa menghiraukan pria itu yang sibuk memandangiku. Aku keluar tanpa peduli bagaimana nasibku jika aku meninggalkannya dan membiarkan dia lari dari tanggung jawabnya. Aku marah padanya dan pada diriku sendiri. Aku menangis sepanjang jalan menuju rumah bahkan masih menangis juga saat sudah tiba dirumah. Hari itu rasanya duniaku berhenti berputar, nafasku berhenti keluar, nadiku berhenti berdenyut. Aku seperti manusia yang mati suri yang merasa kehilangan jasadku sendiri. Aku benar-benar merasa mati dalam tubuh yang masih bernadi .