Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya. Tidak akan ada yang menyangka, seorang gadis polos dan buruk rupa yang ditinggalkan akan menjadi cinderella.
Enam Tahun lalu aku ditinggalkan oleh pacarku demi wanita lain yang lebih kaya dan cantik. Sewaktu dimana aku jatuh karena kepergian kedua orang tuaku.
Siapa yang mau mengulurkan tangan untuk gadis buruk rupa sepertiku, hanya dapat mengandalkan diri sendiri. Bertahan hidup dengan kemampuan sendiri, demi mencapainya aku rela menahan sakit di tubuhku.
Merakit segala hal yang aku bisa, mencoba berbagai rintangan hidup, berlatih dan bersekolah mengandalkan jerih payah bekerja part time.
Hingga di sini aku berdiri, bandara kota NanNyang. Tempat terpuruknya aku. Tempat yang membuatku menjadi manusia kejam pada orang yang melakukan kesalahan. Dan tempat di mana masalaluku berada.
"Jin Yi, tunggu pembalasanku." Desisku rendah.
Sebuah mobil alphard menuju ke arahku, seorang supir mempersilahkan aku untuk masuk. Di belakang mobil jemputanku masih ada dua mobil hitam yang mengawal, memastikan aku selamat setelah sampai di Mansion.
"Silahkan nyonya!" Seru kepala pelayan.
Aku mengangguk sembari melewati barikade para pelayan Mansion. Aku tidak sendiri karena banyak pelayan disini, serta masih ada malaikat kecil.
"Mommy pulang!" Seru anak berusia 6 Tahun, dia Arles anakku.
Aku merentangkan tanganku lebar, dia menyambutku dengan gembira. Inilah hasilku di jebak oleh mantan pacarku, Jin Yi kau sungguh brengsek.
Aku membawa Arles masuk untuk tidur siang. Daripada itu, aku masih mencari siapa ayah anak ini sekalipun pada akhirnya aku akan mengurusnya sendiri.
Keesokan paginya aku mengunjungi kantor milik Jin Yi, pemegang saham terbesar adalah aku. Seketika seringaianku muncul, masih ada Arles yang selalu setia menemaniku kemanapun.
"Mommy, aku akan loncat kelas lagi." Ujarnya padaku, aku tidak terlalu kaget mungkin sudah terbiasa.
"Kelas tiga?" Aku sungguh tak begitu ingat karena kelasnya tak sesuai umur.
"Empat." Ujarnya sembari mendengus pasrah karena aku tak tahu.
Aku mengelus rambutnya lembut, " Xiao Ar, kamu diam dimobil. Mommy ada urusan!" Aku mencium dahinya kemudian keluar dari mobil dan berlalu kedalam gedung perusahaan.
Arles menatap kedepan, "Bolehkah aku keluar?" Dia bertanya dengan nada santai namun dengan tatapan tajam.
Sang supir menoleh, "Tuan muda akan di awasi Rolie." Ujarnya sembari membungkuk, Arles menanggapinya dengan mengangguk dan berlalu begitu saja.
"Ikuti aku Rolie!" Perintah Arles setelah berada di luar.
Anak usia 6 Tahun itu berjalan menuju ke gedung yang dekat dengan gedung yang sebelumnya di masuki sang Ibu. Ditangnya ada tablet pemberian sang Ibu. Ia mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum penuh arti.
Ia dan sang bodyguard masuk dan bertemu resepsionis. Resepsionis itu menganga melihat tampilan Arles terutama tampangnya.
"Gendong aku." Pinta Arles pada Rolie.
"Antarkan aku ke ruang presedir kalian!" Seakan terhipnotis oleh Arles, resepsionis itu segera menuntun keduanya ke ruang sang presedir.
"Di sini." Ujar resepsionis itu dengan sopan, Arles melambaikan tangannya tak lupa berterimakasih.
"Turunkan aku." Rolie pun menurunkan sang Tuan muda, tanpa perintah Rolie mengetuk pintu tiga kali.
"Masuk!" Suara serak itu memberi perintah dari dalam.
Rolie membuka pintu tak lupa mempersilahkan sang Tuan muda untuk masuk. Arles berjalan dengan penuh percaya diri jangan lupakan aura Tuan mudanya.
"Selamat siang Tuan Jiang." Sapa Arles dengan lugas, berlalu duduk di sofa seenaknya.
Seorang yang disapa pun berbalik menghadap Arles. Alisnya mengernyit, kentara sekali jika dia bingung.
Dengan wajah flat pria itu bertanya, "Siapa?"
"Enam Tahun lalu." Arles berujar dengan santai.
Jiang Nan berdiri dengan mata yang menajam. Saat akan mendekat Rolie menghadangnya. Arles mengangkat tangnya menyuruh agar Rolie tak ikut campur.
Jiang Nan duduk di samping Arles, "Siapa namamu?" Tanyanya dengan nada yang lebih bersahabat.
"Arles."
"Margamu?"
"Menurutmu, kenapa ibuku tak memberi marganya padaku?, dan aku tak punya marga."
"Dia mencariku?" Arles mengangguk.
Jiang Nan mencabut beberapa helai rambutnya dan rambut Arles, lalu menyimpannya di sebuah plastik klip.
"Ran!" Serunya, dan seorang pemuda masuk sembari membungkuk.
"Berikan ini pada Rong Ye, Tes DNA!" Pemuda itu mengangguk lalu bergegas pergi.
Arles berjalan santai mengikuti pemuda itu, "Kau akan pergi?"
Arles berbalik dan mengangguk, "Aku menunggumu menjadi ayahku!" Tanpa kata lagi ia pergi kembali ke mobil.
Sementara itu Lin Sueyu ibu Arles tengah duduk ruang rapat pemegang saham dengan elegan. Sebagai pemegang saham terbesar, ia bisa sepuasnya melontarkan pendapat yang tak disukainya.
"Seharusnya properti itu tidak menguras kebendaharaan kan, Tuan Jin Yi." Lin Sueyu mengatur mimiknya dengan baik.
Jin Yi diam-diam menggeram di dalam hatinya. Ya, bagaimana pun ia pemilik perusahaan. Ia mencoba tersenyum di depan Lin Sueyu yang sama sekali tak ia kenali.
Setelah adu mulut pada rapat, Lin Sueyu segera bergegas untuk pergi dari bangunan itu. Tanpa tau dari kejauhan Jin Yi mengepalkan tangnya hingga memutih.
Sore tiba, Lin Sueyu yang tengah memanjakan anaknya harus terganggu dengan datangnya undangan pesta dari Jin Yi.
"Apa Ar boleh ikut?" Tanya Arles dengan mata yang memohon.
"Jangan jauh-jauh dari Mommy!" Arles mengangguk antusias
Lin Sueyu menyuruh anaknya untuk segera bersiap karena langit mulai gelap. Ia juga bersiap semaksimal mungkin untuk tampil elegan dan mempesona, salah satu tak tik balas dendam.
"Pesta perayaan pernikahan ya." Desisnya sembari menyeringai.
Namun siapa yang tahu, Jin Yi yang licik telah merencanakan suatu hal yang tak baik bagi Lin Sueyu. Apalagi saat Jin Yi mengetahui bahwa Lin Sueyu, adalah gadis bernama Sueyu yang telah ia tinggalkan dulu.
Tidak perlu banyak waktu bagi Lin Sueyu beserta anaknya datang di gedung yang telah di sewa oleh Jin Yi. Keduanya masuk dengan aura kekuasaan yang kentara, serta sangat mencolok.
Lin Sueyu menggandeng tangan Arles dengan lembut. Dan saat itu juga Jin Yi datang dengan senyum yang dipaksakan. Firasat Sueyu sendiri sedikit tak enak.
"Lama tak bertemu, Sueyu." Sapa Feng shiya, istri Jin Yi.
"Kalian sudah tau ternyata." Sahut Lin Sueyu dengan senyum manis.
Pamdangan Jin Yi jatuh pada Arles, Lin Sueyu menggenggam erat jemari Arles.
"Apakah ini anakmu dengan rubah tua itu?" Provokasi Jin Yi dengan senyum lebar.
Lin Sueyu memejamkan matanya, "Siapa yang kau maksud?"
"Tentu saja kolegaku bukan?" Feng Shiya tertawa.
"Dasar anak haram." Lin Sueyu menampar dengan keras pipi Feng Shiya.
"Dasar jalang!" Arles tak tinggal diam, kakinya menendang tulang keting Feng Shiya.
"Kau mengatai siapa Bibi?" Tanya Arles dengan tatapan tajam.
"Tentu saja ibumu, Ibu jalang dan anak haram." Dua sejoli itu tertawa.
"Siapa yang kau katai, nyonya muda Jin?"
Lin Sueyu berbalik, "Jiang Nan?" Lin Sueyu bingung bukankah pria ini adalah Presedir Perusahaan Nan Company?.
Jiang Nan mendekat dan menggendong Arles, "Apa kau baik-baik saja?"
"Tidakkan sebaiknya kau bertanya kepada Mommy terlebih dahulu?" Tanya balik Arles.
Lin Sueyu yang bingung pun hanya mencoba bersikap netral.
Jiang Nan pun beralih, "Apa kau baik-baik saja sayang?" Arles memberikan kode membuat Lin Sueyu mengangguk.
"Kau terlambat Jiang Nan."
"Maafkan aku."
Sungguh dua orang yang pandai bersandiwara.
"Apa kalian menyerang istri dan anakku?" Tanya Jiang Nan dengan mata mengintimidasi.
"Tidak berani Tuan." Ujar Jin Yi dan Feng Shiya serentak sembari menunduk meminta maaf.
Dalam kesempatan itu Lin Sueyu mempermalukan pasangan di depannya. Membuat mereka berlutut dan meminta maaf.
"Mari pergi." Ujar Jiang Nan diangguki Lin Sueyu.
"Jin Yi, seluruh sahammu ada padaku sekarang!, maka cepat kemasi barangmu dari perusahaanku!"
Lin Sueyu pergi bersama Jiang Nan beserta anaknya.