Kita bertemu secara tidak sengaja, penuh dengan rasa keraguan, kecanggungan, bahkan sesekali aku tak berani untuk menyapamu. Segalanya berjalan secara sederhana, dari kamu yang bukan siapa-siapa, sampai akhirnya kamu menjadi tempatku bercerita. Kamu yang sempat menjadi sosok paling asing, kini menjadi senyum paling indah yang menyapa hariku.
Apa kamu ingat, entah dimalam keberapa dari pertemuan kita. Kamu memintaku membacakan sebuah cerpen. Aku menyuruhmu tidur, namun kamu bilang kalau kamu masih ingin mendengar suaraku. Aku tak bisa menolaknya, dan akhirnya aku mengalah untuk membacakan cerpen panjang itu sampai kamu terlelap. Dan saat aku selesai membacakannya, kamu sudah terbang duluan di alam mimpi.
Tingkahmu selalu saja membuatku tertawa, bahkan terkadang aku sampai sakit perut mendengar ocehan malam kita yang berlangsung begitu mengasyikan. Tapi, apa kamu tahu? Waktu kamu menemukanku, hatiku masih separuh karena separuh lagi belum sembuh dari luka luka yang sempat bersemayam selama dua tahun terakhir. Akupun masih ragu, apakah ini waktu yang tepat untuk membuka hati kembali pada sosok lelaki, karena aku tak mau menyakiti lelaki hanya karena egoku sendiri
Ragu, takut, bimbang, segalanya bergumul dalam hatiku. Kamu lelaki yang begitu ramah membukakan pintu hatinya disaat hatiku sedang diporak-porandakan luka. Apakah aku harus menjalani ini?, apakah kamu benar benar akan bahagia dengan kondisiku yang masih belum sepenuhnya sembuh ini?
Malam-malam kita lalui bersama. Menata hamparan nestapa, menghitung bintang diantara jarak yang menyekat, melepas ribuan kunang-kunang yang begitu lembut memainkan cahayanya pada malam hari. Semua berjalan begitu sederhana, sampai akhirnya aku merasa cukup nyaman untuk berkeluh kesah dipundakmu. Berbagi air mata, saling menguatkan, dan saling menjadi sandaran. Kamu selalu ada, memberikan seuntai senyum kala aku merasa ditinggalkan sendirian dibawah semesta yang kadang kejam ini.
"Segala sesuatu yang terjadi tidak akan selalu karena kehendak kita, jadi nikmati takdir dan alurnya. All is well"
Aku masih ingat tentang kata-kata itu.
Kamu mengucapkannya saat aku menangis karena dicurangi semesta. Kamu berusaha meyakinkan, bahwa semua yang aku lakukan tetap akan ada hasilnya. Lalu setelah hatiku merasa cukup tenang, kamu menyuruhku untuk segera istirahat. Katamu, biar aku bisa tenang dan tidak terlalu banyak pikiran.
Aku benar-benar lega disampingmu
Sosok yang sangat mengerti kondisiku, bahkan saat aku jatuh sekalipun. Lalu apakah aku harus membuka pintu hati lagi? Atau aku harus pergi meninggalkanmu dalam malam-malam yang sepertinya membuatku semakin candu
Entah aku tak tahu, yang pasti aku takut kehilanganmu. Dan perasaan nyaman itu seolah mengobati lukaku sendiri.
Dari sinilah segala kisah itu bermula, kita dua pasang hati yang hanya menjadi hamba jarak. Kita, dua keyakinan yang akhirnya saling menguatkan. Kamu berbeda, dan kisah yang kini aku jalani juga menjadi kisah yang berbeda. Kamu mengajarkanku banyak hal.
Genggaman tanganmu selalu meyakinkan ku bahwa aku adalah wanita kuat yang mampu melewati terpaan hidup.
"Mari menjadi kompas bersama"
Ucapmu kala itu, disertai terpaan angin malam yang riuh membawa kabar antara jarak kita yang masih nyata adanya
Selaksa segala tawa yang kita ramu semenjak itu, perlahan kamu membuat raguku menyata segala percaya. Mendengarkan segala tuturmu, dan senyum manismu yang selalu simpul disetiap malamku. Aku tahu, bahwa ini teramat singkat untuk saling merasakan getar renjana. Bahkan kita hanyalah dua insan yang belum bertatap muka. Namun, bukankah kita tidak memiliki hak akan hati kita sendiri?
Kita hanyalah dua hati yang dikendalikan oleh sang Mahasutradara dengan segala skenario paling luar biasa. Bahkan kita tak bisa menebak sebuah takdir, perihal pertemuan kita, masa depan kita, dan perjalanan kita. Kita tak pernah tahu, apakah engkau pelabuhan terakhirku atau hanya sekadar menjadi tempat singgahku saja.
Namun, percakapan singkat itu selalu saja membawaku dalam ketenangan. Meskipun hanya sesekali tertawa, terkadang hening, terkadang engkau bertingkah sangat konyol, atau kita yang menghabiskan waktu berdua untuk saling berkisah masalah hidup.
Apa kamu tahu? Sepanjang hariku ada yang selalu aku nantikan, yakni percakapan singkat kita ditengah malam meskipun hanya via suara tanpa tatap mata. Suaramu yang terkadang menggemaskan hhhhh seolah bebanku seharian lenyap begitu saja. Kamu pun selalu melakukan hal konyol yang membuatku tak henti-hentinya tertawa.
Apa kamu ingat, mama sempat menggedor pintu kamarku karena aku tertawa terlalu keras kan, ya itu juga karena ulahmu 😑. Sampai akhirnya aku meninggalkanmu sendiri, dan kamu pun terpaksa menikmati alunan musik itu sendirian sampai tertidur dan pagi hari ponselmu kehabisan daya wkwkk.
Aku rasa kamu adalah keajaiban yang dituliskan Tuhan dalam lembar kisah ku kali ini. Sosok penuh candu yang menenangkan segala raguku. Mungkin Tuhan merasa marah denganku yang begitu membenci sosok lelaki setelah kejadian menyedihkan beberapa bulan lalu. Sehingga dia mengingatkan kepadaku, bahwa tidak semua lelaki itu buruk. Dan melalui kamu, aku percaya bahwa masih ada sosok lelaki dengan kehangatannya yang luar biasa.
Aku tidak bisa merangkai terlalu banyak aksara jika itu tentangmu, karena kamu tertulis dalam aksara yang berbeda dengan segala larik cerita yang pernah aku tuliskan. Kamu adalah aksara kalbu yang hanya mampu terbaca oleh ketulusan, kasih sayang, dan keikhlasan.
Dan mulai malam itu, aku dan kamu menjadi satu candu yang tak pernah bisa terpisahkan. Meskipun nyatanya jarak masih belum terima kita disatukan. Namun percayalah, jarak tak sejahat itu bukan?, dia hanya ingin kita sedikit belajar untuk menghargai pertemuan kita kelak. Dia hanya ingin mengajarkan kita untuk menabung rindu sampai tiba saatnya kita bertemu
Aku rasa mengenalmu bukanlah sebuah kebetulan, aku percaya bahwa kamu hadir dengan keajaiban tersendiri yang dituliskan oleh sang penguasa dalam draft rancangan hidup yang sudah aku susun tiga tahun lalu. Kamu, pemilik tawa menggemaskan yang selalu membuat senyumku simpul kala mendengar celotehmu. Tak terasa, tujuh purnama kita habiskan dengan banyak cerita. Tentang jutaan kata-kata, percakapan singkat, sesekali saling bercanda, dan tak lupa sisipan sedikit kata rindu yang tak terungkapkan namun nampak dalam setiap malam kita masing-masing.
Aku masih ingat pada purnama ke tujuh, kamu tersenyum simpul dan sangat canggung tak seperti biasanya. Apa kau tahu, malam itu aku sedikit merasa ketakutan. Apakah aku akan kehilangan dirimu?, apakah kamu juga akan pergi seperti lelaki yang lain? Apakah aku hanya menjadi pelampiasan sesaatmu saja? Padahal sudah banyak orang yang meyakinkanku, bahwa kamu adalah lelaki yang berbeda dengan lelaki lainnya yang pernah bertahta di hatiku.
"Terima kasih satu minggu ini kamu telah berbuat sangat baik dan perhatian kepadaku" ucapmu
Aku masih ingat betul kamu mengucapkannya, dan ucapan itu benar-benar membuatku takut. Aku jadi ingat saat pertama kita memutuskan untuk menghabiskan purnama, kamu pernah menyampaikan satu hal
"Kita adalah penjahat dari diri kita masing-masing, jika suatu saat nanti kita menjadi jahat, percayalah itu adalah bagian dari kejahatan kita"
Apakah kamu akan pergi?
Apakah kamu hanya sementara seperti mereka?
Apakah kamu hanyalah semu yang tak mungkin kutatap?
Pertanyaan itu makin bergumul dalam pikiranku
Aku menghela nafas perlahan, sedikit menenangkan diri. Aku takut melakukan hal yang salah dalam kondisi genting seperti ini. Sampai akhirnya aku menuliskan beberapa aksara diatas kertas lalu kuberikan itu padamu. Apa kamu masih ingat apa yang aku tulis kala itu?
"Bolehkah aku menyampaikan satu pesan? Aku tak akan pergi, bahkan kala sang senja telah berubah menjadi fajar. Aku hanya ingin menghabiskan segala titik itu bersama. Aku ingin menghabiskan segala tawa, segala tangis, dan segala duka. Aku akan tetap ada, bahkan kala kau berkata semua telah berakhir
Karena sampai kapanpun, engkau tetap menjadi malam paling kutunggu, dan tak akan berakhir sampai kita bersatu "
Itu yang aku tulis malam itu, dan kamu.. Aku tak tahu apakah kau membacanya atau tidak. Lalu kita sama-sama diam, perlahan musik diputar dan kita menikmati kesunyian masing-masing. Dan malam itu, aku hanya mengharapkan satu hal, bahwa kamu dan aku belum berakhir sampai disini...
Aku masih berusaha pada frekuensi yang sama. Tetap membangunkanmu untuk meeting pagi, mengingatkanmu makan siang, dan mengingatkan meeting soremu lagi. Segala perbincangan itu masih selalu kubawa pada frekuensi yang sama. Aku hanya tak ingin terlalu gegabah, karena aku pernah kehilangan seseorang karena kebodohanku sendiri. Dan aku tak mau kehilangan kamu.
Namun akhirnya ketahuilah, bahwa segala rencana hanya akan menjadi harapan saja. Malam ini semuanya terlihat begitu berat, tentang ruangku yang hampa tanpa kehadiran senyummu. Juga kotak-kotak rindu yang di dalamnya memang sangat menyesak. Hampa kian buas mencumbuku, tak mau menyisakan sedikit ruang kosong di sudut diri. Aku terluka, benar-benar jatuh dan sendiri tanpa kehadiranmu lagi.
Kamu, yang pernah menjadi senyum paling luar biasa dihidupku. Dan kini aku benar-benar harus pergi dan melepasmu. Aku tahu, hatiku tercabik dengan sekumpulan air mata. Namun, sebuah keyakinan itu akhirnya hadir.
Melepasmu harus menjadi keikhlasanku. Aku harus siap meniti semuanya sendirian, dan aku harus benar-benar mampu melupakan segala bualan yang tertutur dari bibirmu.
Pada hari ini,izinkan aku menyampaikan satu hal. Terima kasih telah mengajarkanku untuk terjatuh lagi, terima kasih telah mengingatkanku bahwa aku salah mencintai makhluk Nya. Dan terima kasih telah menjadi kenangan terburuk lagi untuk hidupku.
Kamu telah berhasil melukis luka diatas luka yang belum terjamah bahagia. Kamu menina bobokkan mimpi buruk nan kelam yang akhirnya kini begitu akrab disampingku.
Aku tak akan membencimu seperti aku membenci mereka. Dan Tuhan,bolehkah aku meminta satu hal? Jika karma memang ada,maka jangan timpakan karma untuknya. Jagalah pilihannya dan jangan timpakan kesedihan yang kedua didirinya.