"Lepas!"
"Dengerin dulu, dengerin dulu..."
"Apa? Alasan apa lagi yang mau kamu buat, Mas!" Sasmita menatap tajam Ridwan. Ia meminggirkan motornya lalu mengejar Mita yang tak mau berhenti.
"Ayo kita cari tempat dulu" mereka sedang ditengah jalan. Mita tak mau ia bonceng sekeluar dari kafe.
"Enggak!" Sasmita tak mau lagi mendengarkan alasan apapun. Ia melepas kasar cekalan tangan Ridwan.
Semua sudah jelas. Penghianatan Ridwan dan Nina, --adik ketemu gedenya--
Mita berlari.
BRAK!
"MITAAA"
Mita melayang matanya menatap Ridwan. "Ini yang kau mau kan Mas" ia tegeletak di aspal dengan darah yang mengalir dari tubuhnya. Hanya satu penyesalannya. Ia menyesal memilih Ridwan.
*****
Mita membuka matanya. "Sayang bangun, kamu mau jodohmu dipatuk ayam"
Mita ngulet. Mengerjap. Duduk sebentar dan berdiri. Ia mengeser pintinya mencati handuk. Tak ada. Biasanya ia meletakan handuk dibelakang pintu.
Mita keluar, ia melihat adiknya, Saswita, Wita. Berlari dengan handuk dipundaknya menuju kamar mandi.
"Gue dulu!" Mita menarik kerah belakan Wita. "Gue mau kerja" lanjutnya.
Wita mendengus, ia kesal pada kakaknya. "Kakak gue piket, please!"
"Ck! Sok sokan piket lu, gue telat kerja ini" Mita tak ingin kalah.
"Kak, gue duluan deh ya, lu masih ngigo kayaknya. Kumpulin nyawa lu dulu yak!"
"Sumpah, lu tahu Buser kan, tuh guru killer tugas hari ini kalau sampe telat matilah awak" Wita menepuk bahu Mita. Nyolonong masuk kamar mandi.
"Lu ngomong apa sih?" Mita masih tak mengerti omongan ibu dua anak itu, sepagi ini sudah datang kerumah orang tuanya.
Mita berjalan ke meja makan. Mengambil minum dan menyemburkannya. Ia terbatuk.
Bentar!
Rumah orang tuannya. Ia melebarkan matanya. Benar, ini rumah orang tuannya. Waktu ia masih kuliah.
Mita terpekur. Tepukan dibahunya membuatnya menoleh. "Ini nasi uduk emak, makan dulu" Ibu Rosa, ibunya.
Mita langsung memeluknya. Erat. "Buk" Sesak di hatinya. Menahan tangisannya, suaranya bergetar lirih.
"Kenapa hmmm..." Bu Rosa mengelus punggung anaknya. Mungkin anaknya tadi malam mimpi buruk.
Bu Rosa menjauhkan anaknya dari pelukkannya. Mendengar tangisan anaknya yang makin keras.
"Kenapa kamu?" Kuatir. bu Rosa meraba dahi anaknya. Panas.
"Kami demam lho ini" bu Rosa mengambilkan segelas air "duduk, sarapan, kamu gak usah masuk dulu hari ini, ijin aja" mendorong putrinya yang sesengukkan itu untuk duduk.
Memyeret satu piring nasi uduk kesukaannya. Mita menyendok nasinya, Sroott... "Jorok! Kamu tuh udah gede" bu Rosa menyerahkan beberapa tisu.
Mita hanya terkekeh, rasanya rindu sekali dengan omelan sang ibu.
Seharian itu Mita selalu membintuti sang ibu. Bu Rosa heran. Kenapa anaknya ini jadi manja sekali padanya hari ini.
Tetapi bu Rosa senang. Mita selalu sibuk sejak kuliah, waktunya berkumpul dengan keluarga juga berkurang. Apalagi sejak Mita memutuskan kos dekat kampusnya. Ya makin berkurang.
"Ayah pulang" Suara Ayah,Subondo, pak Bondo, Mita langsung menyongsong Ayahnya, dan memeluknya erat.
Matanya berkaca, tetapi kali ini ia tahan air matanya. "Yah" lirihnya.
"Lho anak Ayah dirumah?" Mita mengangguk. Dalam pelukan ayahnya. Mita tak mengira bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi.
Tadi setelah bosa menenagkan diri, juga ejekan jahil Wita. Mita bertanya tanggal juga tahun berapa sekarang. 10 Oktober 2010.
Mita meraih tanggalan yang di pegang adiknya itu. Benar. Mita mengecek kamarnya. Menemukan ponselnya. Blackberry. Membaca pesan disana.
Astaga kenapa bisa, batinnya.
Ia membersihkan dirinya, masih tak percaya dengan semuannya.
Yang ia ingat terakhir ia bertengkar hebat dengan Ridwan. Mengingat itu kepala Mita berdenyut sakit.
Apa ini mimpi? Kalau mimpi aku mohon jangan bangunkan aku. Batin Mita. Ia terlalu senang bisa berkumpul lagi dengan orang tuannya.
Malam menjelang, makan malam sudah selesai. Wita yang sedari awal merasa gelagat aneh kakaknya itu bertanya. "Lu kenapa sih kak? Ada apa dikampus lu"
"Kenapa?" Mita bertanya balik. Wita berdecak. "Kalau orang nanya duluan itu jawab dulu baru nanya balik" Kesalnya, tapi memang Wita sekali.
Mita terkekeh, merasa dijahili sang kakak Wita makin kesal rasanya percuma bertanya pada kakaknya itu.
"Gak papa kok adikku yang manis"
"Dih, enggak beres lu" Wita melipir pergi.
*****
Tak terasa sudah sebulan lamanya. Awalnya Mita takut jika saat nanti bangun bukan di waktu yang sama jadi Mita meminum banyak kopi agar tak tertidur. Ia ingin disini. Memperbaiki semuannya.
Tapi ia kalah dengan kantuknya. Dan ya ia tertidur dan terbangun dengan panik.
Hebohnya menjadi cibiran sang adik. Sejak ia terbangun di tahun 2010 itu, Mita memutuskan tinggal kembali bersama keluarganya.
Ia lebih banyak bersama keluarganya. Tapi dengan hati yang was-was. Karna dihari ke-13 ia tinggal. Mita merasa jantungnya berdegup tak seperti biasanya.
Saat dikampus Mita tak sadarkan diri. Sekilas ia bisa mendengar seseorang memanggil namanya. Mita tahu suara itu. Ridwan.
Mita bisa kembali kapan saja atau terbangun dari mimpinya yang indah ini. Disini ia bisa memperbaiki hubungannya denga orang tuannya, juga sebelum ia berdosa lebih memilih Ridwan ketimbang orang tuannya. Yang membuat penyesalan seumur hidupnya.
*****
Ini hari ke-40 dimana tadi malam ia mengalami lagi kejadian yang sama. Suara seseorang memanggilnya. Ridwan.
Dengan tangisan lirih. Meminta maaf padanya.
Mita terbangun dengan panik. Ia mengusap wajahnya. Dan segera keluar kamar. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia akan menemani ibunya ke pasar.
Waktu dirumah, Bu Rosa melihat kegelisahaan di mata anaknya sedari tadi, saat menemaninya berbelanja.
"Kenapa? Kamu melamun sedari tadi lho, gak fokus gitu" Dengan mengusap punggung Mita. Menyalurkan kehangatan.
"Hmm..." Mita teringat tadi saat sang ibu menyuruhnya membeli udang sekilo yag dibeli malah ikan dorang sekilo. Bukan hanya sekali, tapi kesalahannya berulang.
"Cerita sama ibu" bu Rosa mengelus rambut Mita. "Kamu sudah siap?" Mita mengerutkan dahi, bingung dengan perkataan bu Rosa.
Bu Rosa hanya tersenyum hangat. Senyum keibuan yang biasa menenangkan anaknya itu.
"Ini waktunya kamu kembali ya?" Tanyanya yang membuat Mita tambah bingung. "Ibu tahu siapa kamu," Bu Rosa masih tersenyum menatap sang anak.
"Ya tahu, kan Mita anak ibu" Kelakar Mita dengan terkekeh pelan. "Iya memang, tapi yang ini lebih dewasa dan lebih manja" bu Rosa menarik ujung hidung Mita.
Bu Rosa tahu, Mita yang saat ini bersamanya memang Mita anaknya, dengan versi yang berbeda.
Disitu Mita terdiam. Matanya menganak sungai. Semakin lama semakin deras dengan isakan sesak yang ia tahan.
Mita menubruk tubuh ibunya memeluknya dengan kencang. Tubuh Mita bergetar hebat. "Maafin Mita buk... Maafin Mita" Tangisnya meraung.
"Mita sudah buat Ibu, Ayah dan Wita sangat kecewa" Dadanya sangat sesak. Sesak sekali. Dengan semua rasa penyesalannya.
"Mita buat salah besar" isaknya. "Maafin Mita Buk... Maafin Mita" masih dengan pelukan eratnya pada sang ibu.
Bu Rosa menepuk-nepuk punggung Mita. "Mita itu anak ibu dan Ayah. Kami sayang kamu. Dan kami selalu memaafkan kamu. Apapun itu," Bu Rosa mencium puncak kepala anaknya.
"Jadi tanamkan didalam hati. Apapun itu Ibu dan Ayah akan selalu memaafkanmu tanpa kamu minta. Ibu jadi tenang. Melihat kamu sekarang." Senyuman hangat. Mita merangsek memeluk ibunya lebih erat.
"Buk, Mita sayang banget sama ibuk"
"Mita sayang banget sama Ayah"
"Mita sayang banget sama Wita"
"Mita cinta kalian"
Bu Rosa mengangguk. Menepuk hangat punggung putrinya. Ia tersenyum. Ia senang bisa bertemu Mita yang berada di masa depan. Ia lega. Kesalahan apapun itu ia dan suami memaafkannya.
*****
Mita terbangun. Matanya menyipit silau dengan lampu terang yang menyorotnya.
Melihat sekitar. Putih. Bau antiseptik menyebar pada indra penciumannya.
Ah dia kembali. Ingatannya berkelebatan. Ada sendu disana. Suara alat entah apa itu memenuhi ruangan. Seorang suster yang mengeceknya.
"Ibu sudah sadar" bertanya padanya
"saya panggilan dokter ya bu" lalu ia bergegas keluar ruang rawat Mita.
"Coba ibu, ikuti cahayanya" dokter menyorot mata Mita dengan senter kecilnya. Mita mengikuti.
"Oke bagus, saya periksa dulu ya bu" Dokter menasukan senter pada kanton lalu melepaskan stetoskopnya. Memeriksa Mita.
Disudut ruangan dekat brangkarnya, ia melihat Wita. Wajahnya tampak lelah dan cemas.
"Oke sudah sehat bu, pokoknya obatnya diminum, mungkin nanti lukanya akan sedikit nyeri, kalau begitu saya permisi dulu"
"Terima kasih, dok"
"Terima kasih ya dok" Dokter meninggalkan ruangan Mita dengan suster mengikutinya keluar.
"Kak Mitaa..." Wina memelukku kencang.
"Aw!" Wita tak sengaja menyenggol luka Mita.
"Sori kak, lo tahu lo jahat! Gue pikir lo mau ninggalin gue" Seduhnya.
"Gue pikir juga gitu." Mata Mita menerawang.
"Jangan coba coba lu ninggalin gue, gue gak mau sendiri" Ancamnya dengan tangisan.
Mita terkekeh, adiknya itu sangat manis.
"Gue ketemu ibu," mendengar itu tangisan Wita redah.
"Terus? Lo gak bakal dibawak, pasti ibuk sama Ayah emoh bawa lo kesana, makanya lo balik, dua minggu lo tidur kak"
"Jangan tinggalin gue please kak!" Lirihnya air matanya menetes deras.
"Gue juga ketemu ayah, sama ketemu elu juga peleh" kekeh pelan Mita.
"Lha gimana?! gue masih di area bumi, bernapas dan bahagia" mengusap sisa air matanya.
"Gak tahu itu mimpi apa gimana? Lo tau Wit, Ibu maafin gue Wit, ayah juga, gue lega"
"Gue kayak kelempar ke masa lalu gitu. Gue masuk kedalem badan gue yang dulu tahun 2010"
"Dan ibuk tahu itu gue yang sekarang Wit, dia bilang Maafin gue, Apapun salah gue" Isakku. Sesak lagi.
"Kan gue udah bilang dari dulu, mereka udah maafin elu kak" Wita mengusap air mataku.
"Mereka sayang kita, mereka sayang elu, kami, sayang elu, walau lo gak mau kenal kita kak" Tangisku makin kencang. Wita juga memelukku.
"Gue mau bercerai sama Mas Ridwan" putus Mita. Yang membuat mata adiknya itu mau copot sangking kagetnya. Lebar banget kalo bisa ngegelinding, udah ngegelinding keluar itu mata.
"Gue panggilin dokter lagi ya, kayaknya dia kelewatan kagak periksa otak lu tadi"
Mita memutar mata malas. Dia serius ditanggapi candaan oleh adiknya.
"Gue gak becanda Wit"
"Yang bilang elu becanda sapa kak!! Yang ada elu dikira gila!"
"Gue mau benerin yang bisa dibenerin"
"Dengan lu cerai?!" Mita mengangguk pelan. Terserahlah kalau kakaknya itu baru bangun dari koma.
"Gue mau balikin keadaan ke garisnya lagi, mau balikin kebahagian orang yang ada disekitar gue Wit"
"Ya emang gak bisa tanpa cerai. Serius lo kak? Lo gak mikirin perasaan Mas Ridwan?"
Mita lagi lagi terkekeh "Perasaan yang mana? selama ini ternyata Mas Ridwan itu cintanya sama Nina dan Lo tahu gue itu pelarian" tertawa sedih.
"Tahu darimana lo"
"Gue liat sendiri buktinya"
"Mita, Sayang..." Suara berat dari pintu, sosok itu masuk dengan tampang yang berantakan juga kemeja yang kusut, napas yang tersengal. Tak seperti biasanya yang selalu tampil rapi, bersih.
Ia meraih Mita dan memeluk erat. "Kamu udah bangun sayang, Makasi sayang" Ridwan mengecupi puncak kepala Mita.
Wita melipir keluar. Ia memberikan kakaknya menyelesaikan masalahnya.
Mita hanya terdiam dalam duduknya. "Makasih Ya Tuhan kau bawa kembali istri hamba."
"Makasih kamu kembali, sayang"
"Mas gak mau kehilanganmu"
"Itu menyiksa Mas"
"Janji jangan tinggalkan Mas Ya Ta" Ridwan terus mengecupi kepala Mita.
"Mas" panggil lirih
"Apa? Kamu mau minum?"
"Kamu pengen makan apa?"
"Mas ayo kita berpisah" Mita menjatuhkan bomnya.
###$$###