" SDN 8 LULUS SERATUS PERSEN ". teriak bapak kepala sekolah di mimbar kebesarannya. dengan nada yang penuh rasa bangga dan juga bahagia.
" YEAYYYYYYYYYYYYYY". teriak murid murid dalam lapangan tersebut. tak kalah nyaring dengan kepala sekolah. tak kalah bahagia dengan senyuman sumringah yang terlihat jelas pada muka jajaran guru yang berbaris rapi disana.
" KITA LULUS, KITA LULUS ". ucap salah satu siswi pada temannya yang lain. dengan rasa bahagia yang tak mampu ia jelaskan.
" AYO KITA PULANG, KITA RAYAKAN KELULUSAN INI ". ucap siswi yang lainnya dengan sedikit berteriak. takut teman temannya tak mendengar ucapannya. karna berisiknya suasana disana.
****
" kita lulus Din, kita lulus Ran". ucap seorang siswi kepada teman teman disamping nya sambil mengayuh sepedanya.
3 sepeda berkeranjang depan itu, terus berjalan. menyusuri jalanan desa yang masih belum di aspal itu. tak lupa dengan senyum lebar pada kedua sudut bibirnya.
di bawah pohon rindang yang menghambat panas matahari itu. ketiga murid perempuan tersebut memarkirkan sepedanya yang sudah mulai terlihat usang.
" ah tak terasa saja 6 tahun sudah terlewati ". ucap gadis beransel merah pada kedua temannya.
" benar katamu din, rasanya cepat sekali ". ucap siswi lainnya kepada gadis bernama Dinda itu. dengan raut wajah seakan akan tak percaya dengan semua yang sudah dilaluinya.
kemudian terlihat salah satu diantara mereka berjalan menjauh dari pohon mangga. mendekati jembatan di sungai yang biasanya digunakan ibu ibu mencuci.
" mengapa detik detik berpisah itu selalu terasa cepat sekali ya Din, Ran?". tanya gadis bernama Asia kepada temannya yang bernama Dinda dan Rani. dengan pandangan menatap sungai yang terlihat bersinar dibawah pantulan sinar matahari pagi.
" rasa rasanya, baru kemarin aku mengenalmu Din. kemudian kita satu kelompok matematika, lalu tiba tiba si Rani ini datang dan meminta satu kelompok dengan kita ". ucap Asia masih dengan menatap sungai yang jernih itu. dari nadanya terlihat ia sedih sekali jika berpisah dengan teman temannya ini.
Dinda pun berjalan mendekat kepada Asia yang kini menatap ke arah langit. ia memengang pundak gadis beransel orange yang sudah tak layak dipakai itu. terlihat banyak tambalan tambalan pada tasnya. yang seingat Dinda itu tas dari mereka kelas 3 SD.
" hidup selalu beriringan Asia, selalu ada bahagia diakhir sedih. dan selalu ada sedih di tengah tengah bahagia. kita cukup menikmatinya saja ". ucap Dinda dengan bijak. entah dapat Ilham dari mana, ia dapat berbicara seperti itu.
" kamu benar Din, kita cukup menikmatinya". ucap Asia menatap Dinda dengan yakin. mulai terlihat lagi raut bahagia pada wajahnya.
" hei,,, ini hari kelulusan kita mengapa kita bersedih". ucap Rani sambil menyusul kedua temannya. yang meninggalkannya dibawah pohon mangga.
" bukankah seharusnya kita bahagia?". tanya Rani. namun lebih tepatnya bukan oertanyaan melainkan pernyataan.
" sudahlah mari kita habiskan waktu kita untuk bersenang senang ". ucap Rani lagi. dengan memeluk kedua sahabatnya dari semasa SD kelas 3 itu.
" MARI KITA BERSENANG SENANG ". ucap Dinda semangat. seperti memberi energi kepada kedua sahabatnya itu.
yang langsung diangguki oleh Rani dan Asia. mereka tersenyum sangat lebar sekali. melupakan sedikit rasa sedih yang sempat hinggap dalam hatinya.
Rani yang sedari tadi terlihat bersemangat, langsung menarik tangan Asia dan Dinda, sampai menuju sungai.
Rani dan Asia pun tak menolak hal tersebut mereka justru menikmati tarikan dari Rani. hingga akhirnya mereka berdua melompat ke sungai. mencicipi dinginnya air disaat matahari sedang terik teriknya.
" MAMAK DINDA LULUS". teriak dinda