PRANG!!
Suara alarm yang biasa terdengar di pagi buta. Sepasang suami-istri yang selalu bertengkar tanpa jeda, hingga membuat kedua anaknya kerap terbangun pada dini hari.
Ayah yang tak pernah sungkan berteriak sambil melayangkan benda-benda disekitarnya, disertai pelantunan segala jenis umpat kepada ibu yang juga membalas berteriak seraya menangis hingga suaranya sengau.
Sedang Rio dan adik perempuannya yang memang tidur satu kamar, hanya berpura-pura tak mendengar semua itu. Mencoba bertahan dalam mimpi masing-masing, karena hanya di sanalah satu-satunya tempat segala sesuatu dapat berjalan sesuai keinginan.
"Kapan semua ini akan berakhir?" lirih Rio yang sudah lelah mendengar pria di ruang tamu itu mengumpatkan nama binatang berulang kali.
"Kalau sudah besar, aku tak akan sudi menjadi orang macam ayah", lanjutnya.
"Aku takut kak", sahut Lea.
Rio meliriknya sejenak, kemudian menarik Lea kedalam pelukannya.
"Tenang, ada kakak disini."
PRANG!!
Lea membenamkan wajahnya pada dada Rio. Anak laki-laki yang baru lulus sekolah dasar itu berharap semuanya cepat selesai. Rio lelah terus mendengar hal menyakiti seperti ini. Dua orang yang dia sayangi dan hormati sedang berseteru di luar sana. Sebagai seorang anak yang baru akan beranjak remaja itu tak tahu siapa yang pantas dia bela. Kasihan Lea yang masih kecil.
"Silahkan keluar dari rumah sebelum rumah ini aku bakar!"
BRAKK!
Hantaman pintu yang lumayan keras mengakhiri perang dingin itu. Suara isak tangis ibu mereka semakin jelas terdengar. Mengusik dua kakak beradik itu untuk keluar dari kamar.
"IBUU.. " teriak Lea yang langsung berlari memeluk ibunya.
Rio memandangi ruang tamu yang seperti baru saja dihantam tsunami. Porak poranda. Berantakan dimana-mana. Bahkan beberapa barang rumah tangga hancur tak berbentuk.
Mata Rio merasa panas melihat ruangan yang berantakan itu, juga keadaan ibunya yang tak kalah memprihatinkannya.
"Mari kemasi barang kalian, kita akan menginap di rumah nenek", lirih ibunya yang entak sejak kapan sudah menghapus air matanya, berusaha terlihat baik-baik saja di depan kedua anaknya.
" Kita mau liburan ma? " tanya Lea dengan wajahnya polosnya.
Ibunya hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Yeayy ke rumah nenek!" seru Lea girang.
Rio memandangi wajah sendu ibunya tanpa ada niat bertanya tentang apa yang baru saja terjadi.
"Ayo Rio", titah ibunya yang membuat Rio sedikit tersentak.
" I-iya bu. Ayo Lea aku bantu beres-beres baju", Rio menggandeng tangan mungil adiknya.
"Oh ya, berapa hari kita menginap bu?" tanya Rio sebelum ia benar-benar pergi menuju kamar.
"Ibu belum tahu. Bawa saja barang yang kalian perlukan. "
Rio mengangguk paham.
Sejak saat itu Rio dan Lea tidak pernah kembali ke rumah mereka lagi. Begitu pula dengan ayah yang tak pernah terlihat ataupun sekedar menghubungi lewat telepon.
Terkadang Lea suka rewel karena rindu ingin bertemu ayahnya dan bertanya kenapa mereka tidak pernah pulang ke rumah. Namun ibunya selalu beralasan jika ayahnya sedang bekerja di luar kota dan belum bisa pulang. Sedangkan mengenai rumah, ibu mereka bilang kalau rumah lama dijual untuk tambahan uang saku ayah mereka diluar kota.
Hingga sekarang Lea sudah berusia 15 tahun, ia sudah tidak pernah bertanya soal ayahnya. Seolah ia sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran seorang ayah ditengah-tengah keluarganya.
"Lea dari mana saja?!" bentak Rio yang sudah tidak dapat menahan emosinya saat tahu adiknya itu suka pulang tengah malam.
"Main di rumah Rima kak", sahut Lea tenang, seolah bentakan adalah hal yang biasa ia dengar.
"Jangan bohong, Lea. Kamu itu anak perempuan gak baik pulang malam-malam", sungut Rio.
"Aku capek kak, mau tidur"
Lea langsung berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan wajah kakaknya yang terlihat merah padam.
Brak!
Lea menutup pintu dengan keras. Membuat ibunya yang sudah tertidur di kamar sebelah terbangun lalu keluar dari kamar.
"Ada apa, Rio?"
"Hhh.. Lea pulang larut lagi, bu", Rio menghela nafasnya kasar.
" Biar besok ibu bicara sama adikmu. "
"Tidak usah, bu. Biar Rio saja", tolak Rio.
Ia khawatir kejadian terakhir saat ibunya menegur Lea terulang lagi. Bukannya menurut, Lea malah menentang dan membentak ibunya dan membuat ibunya sedih hingga jatuh sakit.
"Tidurlah, besok kamu kerja kan?"
"Iya bu. Ibu juga. Umm.. Bukankah lebih baik ibu tidak usah bekerja lagi? Kan Rio udah bisa cukupin kebutuhan kita semua".
"Tidak apa-apa Rio, selama ibu masih bisa cari uang. Lagian ibu harus menabung buat biaya nikah kamu nanti".
Ini lah topik yang paling tidak disukai Rio.
"Punya pacar saja belom bu, udah mikirin nikah", Rio tersenyum kecut.
"Makanya cari"
"Gak ada yang buang bu, masa mau dicari"
"Ah kamu ni pintar cari alasan"
"Hehehe"
Rio senang melihat senyum simpul terukir di wajah ibunya yang mulai menua. Ia berharap bisa tetap menjaga senyuman itu.
*
"Apa ini Lea?!!"
Plak!
Rio sudah tidak bisa menahan amarah saat menghadapi Lea yang menurutnya sudah melewati batas. Tadi pagi ia menemukan sebuah benda pipih dengan tanda dua garis merah pada permukaannya. Ia tidak cukup bodoh mengetahui benda apa itu.
"Hiks.. Kakak jahat!" lirih Lea sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Air mata yang sudah tak terbendung pun luruh membasahi pipi.
"Jelas kakak marah! Kamu sudah keterlaluan. Ibu bisa sedih jika tau anak perempuan kesayangannya hamil diluar nikah! Kamu tahu tidak, selama ini ibu sudah banyak berkorban demi kita. Merawat dan membesarkan kita sendirian setelah nenek meninggal. Ibu rela dicemooh banyak orang karena status jandanya demi siapa? Demi kita Lea!! Bahkan ibu masih semangat bekerja demi biayain sekolah kamu." Rio menarik nafas sejenak.
"Dan kamu malah menghancurkan harapan ibu dengan perbuatan bodoh kamu!"
Prang!
Rio melemparkan gelas kaca tepat di depan kaki Lea yang sedang duduk tertunduk di kursi ruang tamu.
"Kakak jahat! Gak ada bedanya sama ayah!" teriak Lea yang terkejut dengan tindakan kakaknya barusan.
Rio hampir saja menampar pipi adiknya untuk yang kedua kali dalam hidupnya.
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba ibu mereka datang dari arah pintu dengan wajah pucat.
"I-ibu?! Ibu tidak bekerja?" tanya Rio gugup sambil menurunkan tangannya.
"Ibu sedang tidak enak badan. Lea, kamu kenapa menangis? Kamu tidak sekolah?" ibunya berbalik menatap Lea.
"Hiks.. Hiks.."
Lea malah semakin menangis tersedu-sedu.
"Ada apa ini?"
Ibu mereka menoleh memandangi anak-anaknya secara bergantian berusaha mencari jawaban yang tak kunjung keluar dari mulut anak-anaknya.
"Apa yang kamu pegang, Rio?"
Ibunya tak sengaja melirik benda pipih yang ada ditangan Rio.
"E-enggak bu. Ini--"
Belum sempat Rio melanjutkan kata-katanya ibunya sudah terlebih dahulu merebut benda tak asing itu dari tangan putranya.
"Punya siapa ini?" tanya ibunya dengan suara bergetar.
"Jawab ibu!!" wanita paruh baya itu menaikkan nada bicaranya karena kedua anaknya hanya diam saja sambil menunduk.
"Ibu bertanya pada kalian.. hiks", air mata ibu mereka mulai berlinang disertai isak tangis yang tertahan.
Ini pertama kalinya ibu mereka menampakkan air mata kesedihan di depan anak-anaknya.
"Ibu--akh"
"IBU! "
Teriak Rio dan Lea bersamaan saat ibu mereka tiba-tiba limbung sambil memegangi dada. Dengan sigap Rio menahan pinggang ibunya lalu merebahkannya di atas lantai secara perlahan.
"Ibu.. Banguunn.. Hiks", tangis Lea sambil menggoyangkan badan ibunya.
"Ibuu.. Tolong bangun. Ibu kenapa? Kalau ibu lelah istirahat saja tidak apa-apa, tapi jangan lupa untuk bangun lagi. Rio belum bisa bahagiain ibu.. Bukankah ibu mau melihat Rio menikah? Oke, besok Rio akan cari calon istri yang cantik dan kenalin ke ibu. Tapi ibu harus bangun. Rio masih butuh ibuu..", racau Rio sambil berlinang air mata saat merasakan tubuh dingin ibunya.
Bahkan ia sudah tidak dapat merasakan hembusan nafas keluar dari hidung wanita dalam dekapannya itu.
Satu hal yang ia ingat dari ayahnya, anak lelaki tidak boleh menangis. Tapi kali ini ia harus melanggar ucapan itu ketika melihat wajah teduh wanita yang telah membawanya lahir ke dunia sedang terlelap dalam tidur panjangnya.
"Ibu.. Maafin Lea.. Lea gugur sebelum mekar.. "