Yin Shiyi, wanita mandiri yang selalu di rendahkan oleh keluarganya sendiri. Menerima banyak hal dari keluarganya, bukannya kasih sayang akan tetapi malah sebuah serangan fisik dan batin. Apalagi ibu tiri yang kejam dan berdarah dingin.
Yin Shiyi yang di besarkan oleh kejahatan ikut terjerumus dalam hal tersebut, meniru keganasan sang ibu tiri saat menyiksanya.
Tahun ini setelah ia pulang dari Inggris akibat kuliahn, ia berniat membalas atas apa yang semua ia dapatkan dari lingkup keluarga itu.
Saat akan melakukan penerbangan tiba-tiba ia di suruh ke kelas bisnis karena kelas ekonomi dinyatakan habis. Yin Shiyi tak menolak karena itu juga atas perminta maafan dari pihak penerbangan.
Di kelas Bisnis Yin Shiyi tak sengaja menabrak punggung bidang milik seorang pria yang tampan, namun hal itu sama sekali tak menarik perhatian Yin Shiyi yang memiliki sifat acuh tak acuh.
"Maaf." Hanya itu yang di ucapkan Yin Shiyi lalu duduk dengan santai.
Tanpa di duga pria yang di tabraknya adalah teman sebangku di pesawat. Yin Shiyi tetap tenang dan mencoba memejamkan matanya. Tanpa ia duga bahwa pria itu memikirkan dirinya.
Saat pesawat akan mendaran pria itu membangunkan Yin Shiyi. Ia melenguh dengan bibir kecilnya yang semerah cerry itu.
"Ada apa?" Tanya Yin Shiyi bungung.
"Pesawat akan mendarat." Peringat pria itu dengan wajah flat.
"Terimakasih." Ujar Yin Shiyi.
Saat sampai di bandara Yin Shiyi lagi-lagi tak sengaja menabrak pria itu hingga membuat kartu namnya jatuh. Kali ini Yin Shiyi sedikit perhatian karena sifat pria itu padanya saat di pesawat.
"CEO Corporation Grup." Ujar Yin Shiyi membaca kartu nama milik pria itu.
"Lin Yvon Diningrat?" Pria itu mengangguk, "Itu namaku!" Serunya.
"Apa aku dapat menyebutnya Yvon?" Pria itu kembali mengangguk.
Yin Shiyi dengan percaya diri mengangkat jemarinya untuk bersalaman, "Yin Shiyi."
"Kartu nama itu untukmu, sampai jumpa Yiyi." Ujar Yvon dengan senyuman tipis yang menambah ketampananya di depan Yin Shiyi.
Di perjalanan pulang Yin Shiyi menyeringai dalam hati, bukankah ini kesempatan bagus untuk menghancurkan kalian batinnya.
Rencana mulai tersusun rapi, dia akan memulainya dari Corporation Grup. Perusahaan terbesar di kota Jianyang. Ayah, ibu, aku akan mengambil hakku.
Ayah Yin Shiyi meninggal setelah ia betangkat ke Inggris, dan setelah ia selidiki ini semua perbuatan ibu tirinya dan membuat surat wasiat palsu.
"Ayah, Shiyi akan membalas dendam!"
Setelah sampai di kediaman ia harus melihat para manusia yang memuakkan, yang tengah berhura-hura melupakan mendiang ayahnya. Berpura-pura poloslah Shiyi.
"Bibi, Shiyi pulang." Ujar Yin Shiyi dengan suara lemah dan menunduk.
"Pergilah dari sini kak, kau merusak pemandangan." Dengan itu Yin Shiyi segera pergi ke kamaranya.
Keesokan harinya, pagi sekali ia sudah sampai di depan gedung Corporation grup. Dengan percaya diri ia masuk hingga di hadang oeh resepsionis.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin menemui Pak Yvon!"
"Apakah sudah membuat janji?" Yin Shiyi menggeleng.
"Silahkan tunggu di ruang tunggu dulu, karena pmpinan kami masih ada urusan yang lebih penting." Ujar resepsionis itu. Walaupun tersenyum Yin Shiyi tau bahwa resepsionis itu tidak menyukainya.
Yin Shiyi pun mengambil tindakan menelfon Yvon masih dengan adanya resepsionis itu.
"Siapa?" Tanya Yvon di seberang sana.
"Aku Yin Shiyi, kau di mana?" Tanya Yin Shiyi ke intinya.
"Ah yiyi, aku di kantor. Ada apa?"
"Aku di kantormu dan resepsioniamu menghalangiku menemuimu Yvon." Resepsionis itu nampak masih tersenyum meremehkan.
Namun beberapa menit berikutnya Yvon benar-benar ke bawah saat di mintai oleh Yin Shiyi dan masih memperingati pegawai terutama Resepsionis itu.
Setelah sampai di ruangan pribadi milik Yvon, Yvon segera menutup pintunya dengan rapat.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Yin Shiyi bingung.
Tanpa berkata apapun, Yvon menarik pergelangan tangan Yin Shiyi lembut hingga tubuhnya jatuh di atas tubuh Yvon.
Detak jantung keduanya tiba-tiba tak normal. Bukankah baru bertemu, tidak bukankah sudah dua kali namun jika ada perasaan bukankah terlalu cepat?.
"Yvon, turunkan aku." Namun Yvon malah memeluk Yin Shiyi dengan lembut.
"Kamu sudah pulang Yiyi." Gumam Yvon yang tak di mengerti Yin Shiyi.
"Apakah kita pernah dekat?"
"Bukankah kita sangat dekat sekarang, bahkan aku dapat menciummu jika kau mau." Yin Shiyi menatapnya tajam.
"Aku kesini untuk meminta pekerjaan dan meminta bantuan bukan untuk menjadi wanitamu Yvon!" Peringat Yin Shiyi.
Yvon membungkamnya dengan sebuah kecupan yang berubah menjadi lumatan ganas milik Yvon, satu-satunya yang mendapatkannya hanya Yin Shiyi.
"Emmh." Desah Yin Shiyi saat sebuah telapak tangan kekar menggerayangi tubuhnya.
"Yvon..ah, lepass!"
Namun Yvon sama sekali tak menggubris itu, Yvon melakukannya. Yin Shiyi yang tak sanggup menolak pun terjerumus hingga keduanya memiliki hubungan.
Beberapa hari Yin Shiyi membuat kesepakatan dengan Yvon masalah keluarganya dan hak milik ia dengan perusahaan ayahnya, YinGang Grup.
Bagi Yvon melakukan itu mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu Yvon mendapatkan keinginannya dan Yin Shiyi mendapatkan keinginanya juga.
Namun makin ke hari Yin Shiyi jarang bertemu dengan Yvon karena ia di sibukkan dengan perusahaan ayahnya. Hingga saat rapat di mulai Yin Shiyi begitu fokus sampai tak menyadari adanya Yvon yang duduk di sampingnya.
"Baik, aku ingin kalian segera menyelesaikan proyek ini. Aku tidak butuh orang yang tidak kompeten, jika tidak sanggup boleh keluar, aku memiliki banyak orang yang lebih berwawasan." Ujar Yin Shiyi mengakhiri rapat.
Semuanya keluar kecuali Yin Shiyi, Yvon menarik kursi Yin Shiyi untuk dekat dengannya. Yin Shiyi tersentak kaget melihat Yvon di ruangan rapat.
"Mulai kapan kau di sini?" Tanya Yin Shiyi masih dengan keterkejutannya.
"Sedari tadi." Jawab Yvon sembari memainkan helai rambut Yin Shiyi.
"Ada urusan apa?" Tanya Yin Shiyi yang terlihat sedikit lelah.
Yvon beranjak mengangkat Yin Shiyi menuju ruang pribadi milik CEO perusahaan tersebut.
"Karena proyek perusahaan, kau melupakan aku Yiyi." Dengus Yvon.
"Memangnya aku siapa?"
"Kau wanitaku!"
Yin Shiyi terkekeh, "Simpanan." Sahutnya enteng.
Yvon mendengus geram, membawa Yin Shiyi ke atas tempat tidur yang di sediakan di ruang pribadi.
"Perlu bukti apa lagi hm?" Tanya Yvon sembari membuat kissmark di leher Yin Shiyi membuat sang empu melenguh.
"Kau tidak pernah mengatakan apapun Yvon, aku pikir aku hanyah wanita penghiburmu." Ujar Yin Shiyi tersenyum masam.
Yvon berhenti, "Atas dasar apa kamu menyimpulkannya, kalau begitu menikahlah dengaku."
"Kau melamarku?"
"Termasuk."