Brakhh
Sebuah pintu jati di dobrak dengan keras oleh seorang gadis, dan di dalam ruangan itu terdapat kasur dengan dua sejoli yang tengah berzina.
Gadis itu terkekeh, "Bagus ya Vin, istri di rumah mikirin lo takut kenapa-kenapa tapi lo malah enak-enakan nabur benih sama sekertaris lo."
"R-reina!" Gagap suami gadis itu berseru.
Gadis bernama Reina itu melangkah lalu menarik pergelangan tangan sekertaris Gavin dengan kasar.
Plak
Reina menamparnya keras, "Seru Len main sama suami gue," Reina berjongkok lalu memegang dagu runcing sekertaris bernama Lena itu, "Seru gak?"
Bukannya merasa bersalah Lena malah tersenyum penuh kemenangan, Reina ikut tersenyum dengan seriangaian.
Plak
Plak
Reina menampar Lena dua kali di pipi kanan dan kiri dengan keras. Belum sampai situ, Reina menghajar Lena sampai babak belur.
Setelah puas Reina berbalik menghadap Gavin yang menatapnya penuh rasa bersalah.
"Kenapa?" Tanya Reina.
"Maaf Rein, aku di jebak sama dia?" Reina tersenyum masam mendengarnya.
"Yakin di jebak?, tapi kenapa lo nikmatin." Ujar Reina menusuk.
Gavin yang kalang kabut berkeringat, bulir-bulir keringat jatuh di dahinya. Reina tiba-tiba mengelapnya dengan tisu di nakas.
"Kamu yakin Vin?" Tanya Reina lagi Gavin hanya mengangguk kaku.
Sebuah pesan tiba-tiba muncul di hanphone Gavin, dan saat dia melihatnya mata itu terbelalak kaget. Reina bangkit dan ingin berlalu pergi tanpa senyum di wajah cantiknya. Gavin berlari hanya dengan kolor untuk menggapai jemari Reina.
"Aku bisa jelasin Rein." Ujar Gavin tergesa-gesa.
Reina menepis tangan Gavin, "Mau jelasin apa lagi Vin, mau jelasin kalau lo selingkuh sama sekertaris lo itu, dan nyarisnya dia sahabat gue sendiri." Gavin terpaku.
"Gue mau kita cerai."
"Oke, kalau itu mau kamu." Reina tersenyum masam.
"Sampai jumpa di pengadilan, Gavindra Fernando." Reina berbalik pergi.
Saat menengok ke belakang, lagi-lagi ia tersenyum masam. Memang tidak ada harapan. Dua pasang sejoli yang begitu cinta. Tentu saja, dua sejoli pezina itu melanjutkan kegiatannya.
Saat menaiki lift pada akhirnya ia dapat menumpahkan rasa sakit yang ia rasakan. Sedetik kemuadian ia meneteskan air mata hingga tersedu-sedu.
Saat sampai di parkiran ia segera meninggalkan hotel itu dengan mengendarai mobilnya.
Keesokannya ia bertemu dengan Gavin serta Lena di pengadilan. Lagi-lagi dia tersenyum masam namun kali ini di dalam hati. Ia melewati dua pasangan itu begitu saja.
Setelah Reina meminta keadilan, akhirnya ia menang. Satu yang tak di ketahui Gavin, Reina sedang hamil anaknya. Dan kesempatan terakhir ini Reina ingin memberi tahu karena ia tak ingin memisahkan anak dan ayah.
Di depan pengadilan Reina berinisiatif menghentikan Gavin dan meminta izin untuk berbicara.
"Mau ngomong apa, bukannya udah dapet hak yang lo mau."
Dada Reina sedikit sesak mendengarnya, apalagi nadanya tak lagi sama dari yang dahulu sebelum bercerai.
"Gue nggak mau rahasiain ini, gue cuma mau ngomong kalo gue hamil anak lo. Jadi terserah setelah dia lahir, kapanpun lo mau ketemu gue nggak ngelarang." Jelas Reina pada akhirnya.
Gavin terkekeh, "Anak gue?, kapan gue nyentuh lo Rein!"
Bola mata Reina terbelalak, "Lo nggak inget?" Gavin menggeleng.
Reina terkekeh merasa lucu, "Lo lupain malam itu semudah ganti baju ya Vin. Lo minum sampai mabuk dan maksa gue berhubungan intim padahal gue lagi sakit. Lo tau gak, gue sampai masuk rumah sakit itu bukan karena masuk angin, tapi karena lo."
"Halah, ngarang cerita lo. Mungkin itu anak pria lain yang nggak tanggung jawab kan." Remeh Gavin.
Reina terkekeh, "Baru kali ini gue ketemu cowok sebejat lo Vin." Reina pergi mengendarai mobilnya dengan cepat.
2 Tahun berlalu begitu saja.
"Daddy!" Seru Frehan kepada sang ayah.
Frehan berlari ke arah sang ayah dan menubruknya. Sang ayah yang bernama Fernon itu menangkap anak-anak usia 5 Tahun itu, mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Apakah harus berlari?" Tegur Reina secara halus.
"Bukankah ada Daddy?" Frehan menaik turunkan alisnya membuat mata Reina menyipit.
"Akan Mommy tambahkan PR mu!"
"Daddy!"
"Tidak ikut-ikut." Ujar Fernon mengangkat tangannya.
Frehan memutar bola matanya malas.
"Mom!" Reina hanya bergumam tak jelas.
"Ehan ingin jalan-jalan"
"Oke!" Bukan Reina melainkan Fernon.
"Yey!" Sorak Frehan.
"Tapi kita jemput Freya dan Bilqis di rumah Oma." Ujar Fernon pada anaknya.
Frehan menepuk dahinya, "Ehan lupa, kalau adik tak ada di rumah."
Reina mengusap dahi Ehan, "Jangan di tepuk lagi." Frehan hanya mengangguk patuh.
Keluarga kecil itu pun pergi menjemput dua anggota lain, setelahnya mereka kembali ke tujuan utama untuk jalan-jalan. Mobil Alphard berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang menuju taman bermain.
Tidak seperti keluarga kaya lainnya, keluarga satu ini lebih ke berbaur dengan rakyat biasa. Di tengah-tengah bermain, Bilqis tak sengaja menabrak kaki seorang wanita.
Buk
Bilqis jatuh terduduk dengan di marahi oleh wanita itu. Freya kembaran Frehan datang dan menampik tangan wanita itu yang ingin memukul adiknya, Bilqis.
"Maaf, adik saya salah apa?" Tanya Freya dingin dengan nada formal.
"Oh, ini adik kamu. Adik kamu ini habis nabrak saya." Jawab wanita itu dengan nada angkuh.
Seorang lelaki datang merangkul wanita itu dari belakang.
"Kenapa sayang?" Tanya lelaki itu penasaran.
"Anak ini nabrak aku, nanti kalau aku jatuh terus keguguran gimana?" Manja wanita itu.
Lelaki itu berwajah suram, "Kalian gak punya mata ya!" Bentak lelaki itu membuat Bilqis meneteskan air matanya.
Freya menghadang pukulan lelaki itu untuk Bilqis, alhasil Freya di tamparnya. Namun Freya sama sekali tak goyah maupun menangis, ia malah menyeringai sadis.
"Pasal 351 KUHP: Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah." Ujar Freya sinis.
"Ngerti apa kamu anak kecil!" Dengus lelaki itu.
Saat akan memukul anak itu lagi, wajahnya keburu dihantam oleh suatu benda, yang tak lain dan bukan adalah high heels milik Reina.
"Arghh" Erang lelaki itu yang tak lain adalah Gavin mantan suami Reina.
"Lebih dari sejengkal lagi tangan lo gue putusin!" Peringat Reina tajam.
"Reina!" Sahut Lena kaget.
Saat Lena akan mendorong Reina untuk membalas dendam Fernon datang tepat waktu dan melawan Lena hingga terjerambab ke belakang.
Sedangkan Frehan menolong kedua saudaranya, menjauhkan dari pertikaian itu.
"Pertunjukan yang bagus." Gumam Frehan yang dapat di dengar Freya.
"Apa pipimu sakit?" Freya menggeleng pada sang kembaran.
Sementara itu keadaan orang tua mereka sekarang tengah melawan dua pasangan yang memuakkan mata.
"Apa kabar Tuan Gavindra Fernando!" Seru Fernon yang kebetulan kenal.
Sedangkan Gavin mengatasi keterkejutannya atas apa yang terjadi, pemilik saham terbesar perusahaannya muncul dengan mantan istrinya.
"Selain bajingan, ternyata lo juga bisa kekerasan sama anak sendiri ya Vin." Mata Gavin terbelalak kaget.
"Dan liat istri lo itu, dia jatuh tapi nggak keguguran. Aneh kan?"
Gavin menoleh dan baru menyadari di mana perut besar istrinya?.
"Lena itu mandul Gavin." Ujar Reina berlalu meninggalkan dua pasangan itu.
Fernon yang masih tinggal menghajar Gavin karena berani menyentuh putrinya.
"Jangan pernah melakukan kesalahan lagi Tuan!" Desis Fernon rendah dan berlalu pergi menyusul keluarga kecilnya.
Gavin yang linglung, apa lagi ini?. Tiba-tiba semua hal terjadi padanya dalam satu hari. Dia baru tahu wanitanya mandul, dan dia telah menyia-nyiakan wanita yang memberinya anak.
"Reina" gumamnya penuh rasa bersalah.
Pada akhirnya, penyesalan yang datang. Penyesalan yang seumur hidup menggerogoti seorang Gavin.