Perkenalkan Adhijuarga Dirga, atau lebih sering disapa Dirga. Di antara teman-teman yang lain, hanya ia seorang diri yang terlihat sangat keren, bahkan cukup sekali dibilang ganteng. Semua cewek yang ada di sekolah, sangat mengagumi Dirga. Teriakan cewek sudah biasa didengar, saat Dirga lewat tengah lapangan sekolah.
Anehnya. Dirga adalah orang yang sangat super tertutup, tampilan mungkin keren, namun karena sifat cueknya. Banyak orang sering keberatan ada didekatnya. Dirga selalu saja punya alasan untuk menghindar.
Dirga adalah sosok yang ketika kamu berpapasan dengannya. Kamu tidak akan mendapat senyum darinya, bahkan senyum palsu pun tidak. Memang aneh, tapi itulah sosok Dirga. Misterius.
Sebenarnya, tidak ada yang tahu, kalau Dirga sedang menyembunyikan luka dalam hatinya. "Siapa yang peduli?"; "siapa yang mengerti?". Sadar atau tidak, teman-teman Dirga hanya melihat kelebihan Dirga yang selalu tampil menawan di hadapan para cewek. Namun, kenyataannya mereka tidak benar-benar mengerti.
Bel istirahat berbunyi...
"Dirga..." panggil ramah cewek yang sedang di sampingnya. Dirga tak menggubris, hanya menoleh sedikit, lalu pergi meninggalkan cewek itu. "Boleh pinjam pulpen?" lanjut cewek itu. Dirga berhenti melangkahkan kakinya, bertanya: "Untuk apa?". Cewek itu terlihat gugup, lalu, "Untuk menulis sesuatu." Dirga tersenyum sambil menghela napas, "Maaf. Pinjam pulpen teman yang lain saja." dan Dirga pergi begitu saja.
Sang cewek sudah feeling, bahwa Dirga akan menjawab seperti itu. Namun, "Tunggu, Dirga..." sambil menarik kerah baju seragam Dirga. "Aku Fania. Salam kenal." Dirga terkejut, 'Hah?'
"Aku sudah tahu nama kamu, kok. Kamu Dirga." Fania meneruskan. Dirga yang masih kebingungan hanya menjawab, "Iya, tapi maksud kamu apa? ". Fania tertawa kecil, sambil kembali menagih, "Mana pulpen kamu? boleh pinjam enggak?", dengan wajah yang tak enak hati, Dirga memberikan pulpen pada Fania.
"Nih... ", Fania mengembalikan pulpen itu pada Dirga sekaligus dengan kertas yang baru saja Fania tulis. "Itu nomor WhatsApp ku save ya, please. "
Setelah kejadian pada hari itu, Fania selalu menunggu salam pertama dari Dirga. Setiap malam ia menunggu, tapi tak kunjung datang notifikasi Whatsapp dari Dirga. Sudah dua hari Dirga tak memperkenalkan salamnya pada Fania dan dua hari itu juga Dirga tak masuk Sekolah.
Keesokan harinya, Fania yang melihat Dirga berjalan di tengah lapangan, buru-buru untuk menghampiri Dirga. "Dirgaa.. " , sambil napas yang masih ngos-ngosan. "Kamu lari?" tanya Dirga. "Bukan. Aku tadi ngesot.." Jawab Fania sambil gurau untuk mencairkan suasana. "Kok, kamu belum juga Whatsapp aku?" tanya Fania kembali. Dirga ragu, menggaruk sedikit rambutnya, "Sejujurnya, aku tidak punya handphone Fania. Maaf." Fania kebingungan. Untuk orang seperti Dirga, yang kece dan dikagumi banyak cewek di sekolah, masa ia tak memiliki handphone. "Iya. Soalnya aku bukan dari orang yang berada." Lanjut Dirga.
Fania yang tak enak hati malah berbalik meminta maaf. "Maaf. Kalau kemarin aku lancang memberi nomor handphone-ku." Dirga tersenyum. "Tidak apa-apa." Suasana menjadi hening di antara mereka berdua. Sedangkan, siswa yang lain sibuk meneriaki mereka berdua dari atas sekolah dengan "Cie.. Ciee.. " . Dirga dan Fania menjadi pusat perhatian. Dan hari itu, masih menjadi awal.
Hari demi hari, mereka lewatkan di sekolah. Mereka sudah begitu akrab, bahkan lebih dari sekadar akrab. Jam istirahat mereka selalu berdua untuk makan siomay di kantin, lalu, lanjut pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas sekolah. Mereka selalu bersama. Selalu.
tujuh tahun lalu dari kejadian itu...
Fania masih mengingat jelas kisah itu.
Kini, Fania sudah bekerja menjadi Guru di salah satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tapi, Dirga sudah tidak ada kabar. Semenjak lulus SMA, mereka berpisah, karena Fania yang harus kuliah di luar kota. Sedangkan, Dirga bekerja paruh waktu di kedai kopi. Bahkan saat Fania Wisuda lalu pulang, Dirga sudah tidak terlihat lagi di kedai itu. Entah.
Malamnya, tiba-tiba Fania menerima telepon dari nomor yang tidak diketahuinya. Fania mengangkatnya. "Halo.". "Ini Fania bukan?" tanya seseorang di balik telepon. "Iya. Ini siapa ya?" tanya balik Fania. "Aku Dirga. Masih ingat?". Fania yang tak berkata-kata hanya menutup mulutnya oleh telapak tangannya. Masih tak percaya, "Kamu bisa tahu nomor handphone aku dari siapa?" . Dirga tertawa, "Bukannya dulu kamu yang kasih aku?" Fania yang pura-pura tak ingat, "Oh, iya. Waktu dulu." , "Aku kira kamu ganti nomor handphone." Dirga melanjutkan. "Kamu masih simpan?" Tanya Fania. "Iya. Kan, aku sudah bilang, aku belum punya handphone saat itu." Jawab Dirga. Fania membalas dengan tawa kecilnya sambil menggaruk lehernya. "Kamu apa kabar? Dari tadi kita hanya membahas soal handphone tapi lupa tanya kabar." Dirga tertawa, "Oh, iya. Maaf. Oh, maksud aku baik. Kamu bagaimana kabar?", "Aku juga baik." Fania melebarkan senyumnya. ". Hening sesaat, sampai Dirga memulai duluan. "Besok sibuk enggak?", "Sibuk." Jawab Fania. "Oh, yaudah lain hari saja." Dirga murung. "Ha ha, bercanda kali. Besok aku enggak sibuk, kok". Dirga tertawa kecil, lalu menarik napas sedikit. "Kamu mau makan malam di cafe tempat dulu aku pernah bekerja di sana." Fania hanya mengucap, "Jam tujuh malam ya." lalu menutup teleponnya. Fania yang kegirangan, lompat ke atas tempat tidur, lalu memeluk gulingnya. Masa lalu mampir ke kehidupannya lagi. Namun, Fania senang.
Esoknya tiba, Fania yang sudah siap dari jam 5 sore, menelepon Dirga.Tapi, tak ada jawaban. Ia berangkat sendiri, tidak jauh memang dari tempat tinggal Fania. Hanya 15 menit untuk sampai cafe itu. Fania tiba jam 18.15 menunggu kurang lebih 45 menit. Namun, ternyata Dirga juga adalah orang yang tepat waktu. Dirga sampai 18.35, Fania hanya menunggu 20 menit.
'Hai' Dirga melambaikan tangan ke Fania. "Hei, sekarang kamu lebih tinggi lagi." Ujar Fania kagum. Dirga berbisik "Aku banyak makan daging jerapah.", Fania tersenyum, "Ish.. , apasih."
Sudah satu jam mereka bercerita tentang masa sekolah, masa pertama kali bertemu, masa malu pada saat itu. Hingga bertanya apa rencana hidup untuk ke depanya, hingga pada satu momen di malam ini semua itu harus berakhir. Semua keheningan harus diberitakan. Mereka berdua yang sedang tertawa senang, asyik bercerita, tiba-tiba Dirga memotong. "Oh, iya aku sampai lupa tujuan aku ke sini buat apa."
Fania melipatkan kedua tangannya, "Memang ada apa?"
Dirga tersenyum, "Kamu jangan kaget, ya."
Fania yang tak sabar, "Ih, buruan ada apa?" menahan senyumnya sendiri. Dirga mengangkat tasnya, lalu mengambil sesuatu dari tasnya. "Nih." lalu memberikannya pada Fania. "Hah?" Fania, dengan tatapan yang kosong, melihat sepotong undangan pernikahan antara Adhijuarga Dirga dan calon mempelai Dinda Amelia. "Wah, kamu mau nikah?" Tanya Fania, sambil menahan bendung air matanya sendiri. "Iya. Kamu datang ya.", Fania hanya mengangguk, "Oh, iya aku harus pulang. Besok ada deadline." Lanjut Fania, lalu pergi menutup tangisnya. "Faniaa.." Panggil Dirga kembali. "Apa?" Fania yang tidak menoleh. "Makasih ya buat malam ini." Fania tak menggubris pergi begitu saja.
Setiap harapan dalam perjalanan, mengantar kita pada dua hal; yang pertama keberhasilan dan yang kedua penyesalan. Dan malam ini, Fania berhasil sampai pada penyesalan itu. Pagi itu saat Fania teringat masa lalu, akan terus pahit jika harus mengulang di malam yang sama untuk kedua kalinya. Dirga, masih menjadi tempat untuk mengenang. Fania sudah belajar lebih lama dari yang dia kira.