Jam menunjukkan pukul 12.00
Terlihat seorang wanita berumur 25 tahun sedang tertidur di atas pembaringannya.Nampaknya ia sangat gelisah di dalam tidurnya, beberapa butir keringat kian jatuh membasahi wajahnya.Tangannya mengenggam erat selimutnya, ia terlihat sangat ketakutan.
"Tidaaaak !!" Ia spontan terduduk dari tidurnya, matanya terlihat berkaca kaca, nafasnya tak beraturan
"Apa kau bermimpi lagi ? Seorang pria mendekatinya menyodorkan segelas air putih
Namanya Jihan. ia segera meraih gelas yang disodorkan kepadanya.Setelah meneguk beberapa tegukan, ia mulai terlihat sedikit baikan
"Apa sebaiknya kita ke Psikiater untuk memeriksakanmu ?!" Tanya kembali lelaki itu yang tidak lain adalah suaminya, Namanya Reihan
Jihan hanya mengangguk tanda setuju, sejak malam dimana ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke 25,sebulan sudah berlalu dan mimpi itu selalu hadir dengan mimpi yang sama telah menghantuinya.Bahkan hanya untuk sekedar menutup mata, rasanya ia enggan.Takut akan mimpi yang sama datang menghampirinya. Rasanya mimpi itu sangat nyata.
•••
"Bagaimana dok ?!" Tanya Reihan kepada dokter Indra yang sudah memeriksa Jihan
"Aku belum tahu pasti, karna ini pemeriksaan pertama untuknya, harus butuh beberapa waktu agar dapat memecahkan masalahnya." Jawab Dokter itu dengan serius
"Ini resep obat untuknya, sepertinya, mimpi mimpinya sangat menguras emosi dan tenaganya !" Sambil menyodorkan kertas kecil
"Terima kasih dok,besok aku akan membawanya kembali !" Jawab Reihan
"Sebaiknya begitu !" Senyum Dr. Indra
•••
Reihan berpropesi sebagai seorang kuli bangunan,hari itu ia terlihat mengangkat rangka besi yang baru saja datang.
"Apa aku harus membantumu ?!" Tanya Jihan
"Gak perlu sayang, sebaiknya kau beristirahat !" Jawab Reihan dengan senyum
Kehidupan mereka memang terbilang sangatlah sederhana,namun tak membuat pasangan itu jauh dari kata kebahagiaan.
"Jihan.. !!" Teriak salah seorang wanita yang tak lain adalah sahabat baik Jihan. Namanya Mutiah, ia sudah seperti saudaranya sendiri
Jihan menatap jauh kearah Mutiah yang melambaikan tangannya memanggil Jihan.
"Aku sana dulu ya mas !"
Reihan hanya mengangguk
Jihan tersenyum berjalan mendekati Mutiah
"Ada apa ? Sepertinya kau terlihat senang !" Tanya Jihan
"Apa kau tau, aku mendengar seseorang sedang menjual buah dengan harga sangat murah." Jawab Mutiah dengan senyum sembringah,ia sangat tahu kalau Jihan sangat suka dengan buah buahan apalagi buah apel.
"Benarkah ? Seberapa murah, sehingga membuatmu tak bisa melepas senyum kebahagiaanmu itu ?!"
"Rp. 2000 per biji ! sangat murah kan !?"
"Emm benar benar sangat murah ! kalau gitu tunggu apa lagi !? Ayo cus berangkat ! Hehee" Sambil menarik tangan Mutiah
Mereka berjalan menyusuri lorong kecil hingga tiba di sebuah kedai yang menjual buah murah.
"Buahnya bu Rp. 2000 per biji !" Seru si penjual
"Ko'jualnya murah banget bu ?!" Tanya Jihan
"Oh, Kebun kami lagi panen raya, hasil panen lebih banyak dari yang kami harapkan ! jadi kami untuk hari ini dan dua hari ke depan masih menjual murah !" Jawab penjual itu dengan senyum syukur yang terukir di bibirnya
"Kalau begitu kami beli 10 buah apel dan 5 jeruk." Sambil menyodorkan uang selembaran
"Kamu mau beli buah apa Mutiah ? ambil saja, sisanya masih Rp. 20.000 kamu ambil saja semuanya."
"Makasih ya kak !" Dengan senyum sumbringahnya
Saat Mutiah masih asik memilih buah,Jihan tiba tiba terlihat fokus menatap layar televisi yang tergantung di kedai itu.
Berita terkini, menurut pakar klimatologi dan geofisika bahwa akan ada kunjungan Planet Venus di bumi kita, hanya saja kali ini sepertinya berbeda, kalau biasanya planet venus bisa di lihat pada malam hari,kali ini Planet Venus akan muncul di sore hari.
Entah mengapa saat mendengar berita itu, membuat keringat dingin bercucuran di tubuh Jihan.Ia terlihat cemas dan ketakutan.
"Mutiah, apa kamu sudah selesai !?" Jihan terlihat panik
"Udak kak !"
"Ayo kita pulang !"
Mutiah mengangguk, Jihan segera menarik lengannya.
"Kenapa begitu terburu buru kak ?!" Tanya Mutiah yang sedikit bingung melihat ekspresi Jihan
"Kakak hanya merasa gak enak badan !" Jawab Jihan mencoba menutupi
Mereka terus berjalan menyisiri lorong yang tadi mereka lewati, hingga mereka sampai di depan rumah Jihan
Tiba tiba, Suasana membeku,angin bertiup kencang,sinar matahari tiba tiba tertutupi dengan sesuatu, perlahan hari yang seharusnya masih terlihat terang kini gelap redup.
"Lihat sana.. sepertinya ada pantulan bayangan besar di langit !" Seru salah seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari rumah Jihan
Beberapa kota sudah tertutupi oleh bayangan itu dan berbagai bencana alam telah terjadi dimana mana.Grafitasi bumi mulai tak bekerja,membuat semuanya melayang ke udara.Terkecuali di tempat Jihan berdiri.
"Jihan, apa kau baik baik saja ?!" Tanya Reihan dengan nafas ter engah engah menghampiri istrinya
Jihan masih tertegun melihat langit, sepertinya ada seseorang yang mencoba menahan kekuatan itu. Ia perlahan memutar menoleh ke arah belakang, Seseorang yang masih memakai seragam dokter. Jihan terkejut melihat Dokter itu yang tak lain adalah Dr. Indra.
"Kau harus melakukan sesuatu, aku tak mampu terus menahan kekuatan ini." Seru Dr.Indra yang masih mengangkat kedua tangannya ke arah langit seakan menahan suatu tegangan
Jihan kembali tersadar dan menatap kembali menatap ke arah langit.Kali ini ia melihat sesosok wanita bermahkota yang tengah menahan kekuatannya.
"Aku tak bisa menahan kekuatan ini !" Seru wanita itu
Tiba tiba seorang lelaki memakai seragam hitam dan kaca mata yang melekat di wajahnya mengendarai sepeda motor menghampiri Jihan
"Ana, kau harus ikut denganku ! hanya kau yang bisa menghentikan ini !" Seru lelaki itu
"Ana ? dia adalah Jihan !" Seru Reihan tak membiarkan istrinya pergi
Jihan segera melepaskan genggaman Reihan, sepertinya dia sudah mengerti dengan yang terjadi.
"Maafkan aku sayang, aku harus pergi !"
"Tidak Jihan, kau tak boleh meninggalkanku !" Seru Reihan
"Kau deluanlah, aku akan menyusul !" Pinta Jihan pada lelaki itu
Jihan yang masih menggenggam tangan mutiah segera berlari mengikuti arah motor itu yang melaju. Entah bagaimana mereka sepertinya berpindah ke dimensi lain, tiba tiba mereka berada di gurun pasir dan terus berlari mengitari gunung piyramid.
Mutiah terlihat terkesima dengan pemandangan yang baru ia lihat, ia membentangkan tangannya sebelah menyentuh gunung piyramid yang ada tepat di sampingnya. Gunung Piyramid itu seakan terkoneksi dengan sentuhan tangan Mutiah, perlahan ukiran dan lukisan terlihat di gunung itu. Jihan yang melihatnya segera menghentikan Mutiah.
"Mutiah, jangan lakukan itu !" Seru Jihan
Mendengar teriakan Jihan, Mutiah segera menurunkan tangannya.Mereka terus berlari menyusuri tiap lorong yang semakin kecil, hingga tiba di suatu titik diamana ada sebuah lorong pendek dengan mulut gua yang terbuka
"Ayo kita kesana !" Ajak Jihan yang masih mengenggam erat tangan Mutiah.Keringat telah bercucuran di seluruh tubuhnya
"Aku takut, apa ini aman ?!" Tanya Mutiah
Namun Jihan hanya mengabaikan pertanyaan Mutiah,ia hanya terus menggenggam erat tangannya dan berlari memasuki gua yang pintunya terbuka.
Jihan terlihat sangat mengenal tempat itu, Ya, tempat itu yang selama ini terus hadir di dalam mimpinya.
"Akhirnya kau datang juga Ana !" Seru seorang pria berkepala plontos dengan pakaian yang sangat kuno.Seperti pakaian saat zaman kerajaan Mesir kuno.
Lelaki itu berbicara dengan bahasa kuno, dan entah bagaimana bisa Jihan bisa mengerti setiap kata yang di ucapkan lelaki itu.Mutiah menatap Jihan dengan tatapan bingung,perasaannya saat itu bercampur aduk, ia terpesona dengan barang dan tiap ukiran yang ada di dalam gua itu.Tapi ia juga sedikit takut dan khawatir,kejadian ini tak bisa di terima oleh nalar dan logikanya. Sedangkan Jihan terus berbicara dengan pria misterius itu.
Jihan terus memperhatikan lelaki itu yang tengah mempersiapkan upacara pengorbanan.Kemudian ia mengeluarkan secarik kertas berwarna kuning dari dalam peti kecil, ia terus memandangi kertas yang menggambarkan anaknya itu dengan tatapan sedih.
"Aku tahu, kau merindukan putrimu !" Seru Jihan lirih
Namun lelaki itu hanya diam dan kembali melanjutkan persiapan pengorbanan.
"Kali ini, temanmu yang akan membantumu menyelesaikan upacara pengorbanan ini !" Seru lelaki itu
"Apa maksudmu ?!"
"Dia sudah terpilih, dan sang Ratu yang memilihnya langsung !"
"Apa kau ingin yang terjadi pada putrimu terulang lagi ?!" Tanya Jihan dengan suara meninggi, ia mencoba bernegosiasi dengan lelaki itu
Lelaki itu hanya diam melakukan aktivitasnya tertunduk sedih.
Tiba tiba seorang Ratu muncul dengan pakaian kerajaan kuno,terlihat sebuah mahkota tertakhta di atas kepalanya.Jihan menyadari bahwa ia sempat melihat wanita itu di atas langit saat dia masih berada di depan rumahnya.
"Apa dia reinkarnasi Ana ?!" Tanyanya pada pria itu
Pria itu menganggukkan kepalanya
"Wajahnya memang sangat mirip dengan Ana ! baiklah, persiapkan segalanya, dan dia perlu di mandikan dengan beberapa kembang, agar prosesnya dapat berjalan lancar !"
"Hanya ayahnya yang bisa memandikannya !" Seru pria itu.
"Ayahku ? bagaimana mungkin ?!" Tanya Jihan dengan suara lirih
Ayahnya saat itu adalah suami sang Ratu, dan sang Ratu adalah Ibu dimasa lalunya saat sebagai Ana.
Jihan dan Mutiah di tuntun ke tempat permandian yang sudah di siapkan. Jihan terus menatap Mutiah yang tingakah telah berubah.Mutiah terlihat seperti patung berjalan, tak ada ekspresi diwajahnya selain wajah datar.
Setelah dimandikan,Mutiah di tuntun di tempat duduknya searah dengan terbitnya Matahari,sedangkan Jihan di baringkan di suatu tandu.Namun sebelumnya pria yang berkepala plontos itu menyematkan satu cincin berbatu biru di jari Jihan.Entah apa maksudnya.
Sang Ratu ingin memulai upacara pengorbanannya.
Namun sepertinya kali ini Dewa Venus menolak pengorbanannya. Sedangkan Mutiah terlihat mulai terbakar dengan cahaya matahari
"Apa yang terjadi ?! mengapa sang Dewa Venus menolaknya ?!" Tanya sang Ratu pada pria plontos itu
"Ini mungkin karna karakter dan sifatnya yang berbeda !" Jawab pria itu
"Apa maksudmu ?!"
"Saat itu Ana adalah seorang gadis durhaka dan kejam, ia sangat serakah, tak ada kebaikan sama sekali didalam dirinya. Berbeda dengan Reinkarnasinya, ia sangat baik dan berjiwa lapang, hanya kebaikan yang ada di dalam dirinya. Dewa Venus hanya menerima Seseorang yang penuh dengan Dosa." Jelas Pria plontos itu
Sang Ratu mengerti dengan penjelasan Pria itu,dan kemudian melepaskan Jihan,sang Ratu menggantikan posisi Jihan menjadi satu pengorbanan.
"Kau telah menjadi putri yang baik, aku akan menggantikanmu ! maafkan ibu !" Pesan Sang Ratu pada Jihan
Sinar yang terang berwarna kuning menyilaukan mata Jihan. dan kemudian...
"Tidaaaak... !" Jihan terbangun dari tidurnya, seakan semuanya hanya mimpi
"Apa kau bermimpi ?!" Tanya Reihan mendekati Istrinya dengan secangkir air putih di tangannya.
Jihan menganggukkan kepalanya,ia terlihat sangat lelah, banyak keringat yang mengguyur seluruh tubuhnya. Matanya memerah seakan sudah menangis.
"Tapi kali ini seperti nyata !" Jawab Jihan dengan suara tercekik,ia tak dapat menahan sedih yang ada di hatinya
"Tenanglah, kau hanya bermimpi !" Reihan perlahan memeluk Jihan mencoba menghiburnya
Tiba tiba Jihan teringat akan Mutiah
"Diamana Mutiah ?! aku harus mencarinya !" Seru Jihan ingin beranjak dari tempat tidurnya
Tiba tiba Mutiah muncul dengan membawa beberapa potongan buah apel yang mereka beli.
"Ada apa kak ?! aku ada disini !" Jawab Mutiah sembari mendekati Jihan
"Apa kau baik baik saja ?!" Tanya Jihan
"Aku baik baik saja !"
"Apa yang sebenarnya terjadi ?!" Tanya Jihan yang perlahan kembali tenang
"Kau pingsan saat di depan rumah, untungnya ada Dr.Indra yang segera merawatmu !" Jelas Reihan
"Dokter Indra ?!" Tanya Jihan bingung
Dr. Indra yang sedari tadi duduk memperhatikan Jihan segera mendekati.
"Maafkan aku Juhan, aku melakukan pengobatanku padamu !" Kata Dr. Indra
"Ya, aku mengingatnya, kau kan ... " Kata kata Jihan terhenti
"Apa kali ini aku hanya benar benar bermimpi lagi ?" Sambungnya
Dr. Indra mengangguk
"Dan kali ini mimpimu telah selesai ! kau tak perlu khawatir lagi." Jawab Dr.Indra dengan senyum
"Terima kasih Dokter !?" Pinta Reihan berdiri membungkuk di hadapan Dr.Indra
"Baiklah,kalau begitu aku permisi dulu !"
Dr. Indra segera berbalik menuju pintu keluar dengan senyum mengembang, hanya dia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kau tau ? demi dirimu, aku dan kak Reihan juga ikut di hipnotis oleh Dokter itu !" Celoteh Mutiah
"Benarkah ?!" Tanya Jihan menatap suaminya
Reihan menganggukkan kepalanya dengan senyum, Jihan tak sengaja memutar mutar cincin yang tersemat di jarinya,ia kemudian menyadari, dan segera memperhatikan cincin itu. Sebuah cincin yang bertahtakan batu biru.Ia kemudian mengingat Pria plontos yang menyematkan cincin ittu di jarinya.
"Cincin itu sangat cantik yah ?!" Kata Reihan
"Tapi ini bukan milikkku." Jawab Jihan
"Sekarang sudah menjadi milikmu, Dr.Indra yang memberikannya !" Jelas Reihan
"Benarkah ?!"
Reihan menganggukkan kepalanya,menatap ramah istrinya.Jihan benar benar masih penasaran apakah yang ia alami benar benar mimipi atau kah hanya ilusi ?! Tapi satu yang pasti,Cincin itu menjadi saksi bisu perjalanan Reinkarnasi Jihan.
Sekian....
"Terima Kasih,buat para pembaca, jangan lupa like n coment ya...😊"