Sore itu Amir memandang kosong ke atas langit-langit kamar.
Dia masih mengenang saat pertama kali pulang ke kampung ini setelah menyelesaikan belajar ilmu agamanya di suatu negri.
Saat itu dia begitu bersemangat untuk mengajarkan ilmu yang telah di perolehnya.
Tapi setelah waktu berlalu, masih sangat sedikit warga kampung yang mau datang ke pengajiannya.
Mereka lebih banyak mendatangi sebuah pohon besar tua yang berdiri di ujung jalan kampung.
Bukan hanya warga kampung itu, tetapi banyak juga dari warga luar kampung.
Mereka datang ke pohon itu untuk meminta sesuatu, meletakkan sesajian dan lain sebagainya.
Amir merasa resah dengan keadaan itu.
Dia ingin menghentikan kebiasaan itu.
Dia tau itu adalah perbuatan musyrik dan syirik.
Setelah sekian lama dia menahan diri sambil tetap berdakwah, pada akhirnya dia mengambil sebuah keputusan.
Kemusyrikan ini harus di hentikan. Pohon itu harus di robohkan.
Amirpun memberitahukan niatnya itu kepada beberapa warga kampung.
Warga kampung mengatakan bahwa pohon itu bukanlah pohon sembarangan, ada sesuatu yang keramat di sana.
Amir tetap pada keputusannya untuk merobohkan pohon besar itu.
Dengan hati yang mantab Amir berjalan ke arah pohon besar yang berdiri tegak di ujung jalan kampung sambil membawa sebuah kapak.
Tapi di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Pria itu berpakaian biasa namun nampak berwibawa.
Wajahnya teduh dengan kharisma yang sulit untuk di lukiskan.
Pria itu pun menyapa Amir..
"Hendak kemanakah Tuan?" Suara itu lembut dan ramah menyapa Amir.
"Aku hendak ke pohon besar di ujung kampung itu" Jawab Amir.
"Apa yang hendak Tuan lakukan di sana?" Tanyanya lagi.
"Apakah Tuan akan seperti kebanyakkan penduduk di sini dan orang-orang lainnya yang hendak meminta sesuatu kepada pohon itu?" Pria itu melanjutkan pertanyaannya.
"Oh ... tidak, aku tidak akan melakukan perbuatan syirik tersebut" Jawab Amir tegas.
"Lantas hal apakah yang hendak Tuan lakukan di sana?"
"Lihatlah ... aku membawa kapak, dan aku akan merobohkan pohon besar itu agar orang-orang tak lagi pergi ke sana dan meminta-minta kepada pohon itu lagi" Jawab Amir sambil menunjukkan kapak di tangannya.
"Ohh..." Kata pria tersebut sambil memperhatikan kapak yang tunjukkan Amir.
"Jika begitu aku tak bisa membiarkanmu kesana Tuan" Lanjut pria itu lagi.
"Kenapa?" Tanya amir.
Pria itu menarik nafas panjang.
"Aku adalah penunggu pohon besar itu, aku tinggal dan bersemayam di sana"
Amir mengernyitkan dahinya.
"Atas izin Tuhanku aku telah hidup lama di sini, di pohon besar itu, aku di beri sedikit kuasa untuk memberikan apa yang di minta manusia kepadaku melalui pohon itu. Aku di berikan kekuatan untuk memperdaya manusia hingga mereka lalai kepada Tuhan mereka lalu datang kepadaku untuk meminta sesuatu. Tuhanmu yang juga adalah Tuhanku mengizinkan aku untuk melakukan itu" Kata pria itu dengan tenang.
"Tapi aku tak bisa terus membiarkan hal itu. Aku akan tetap merobohkan pohon itu" Jawab Amir.
"Aku tak bisa membiarkanmu melakukan hal itu Tuan"
"Aku tak butuh izinmu"
"Aku akan tetap menghalangi Tuan"
"Maka aku pun akan membinasakanmu"
Amir dan pria tersebut kini berhadap-hadapan dengan ancang-ancang saling menyerang.
"Bismillah..." Amir menerjang pria tersebut.
Dia memukul dan menendang pria tersebut hingga terjatuh.
Tak butuh waktu lama bagi Amir untuk mengalahkan pria tersebut.
Di penghujung gerakkan saat Amir hendak menyelesaikan pertarungannya tiba-tiba pria tersebut menangis menghiba dan berkata.
"Cukup Tuan. Aku kalah dari engkau karena engkau adalah laki-laki sholeh. Engkau adalah manusia yang di berkahi. Iman di dalam dadamu telah menjadikanmu salah satu manusia pilihanNya. Semua ibadah dan ketulusanmu telah menjadikanmu mulia saat harus berhadapan dengan makhluk sepertiku. Maka dengan izin darimu wahai pemuda wali Allah, bisakah kita bicara sejenak sebelum engkau memutuskan tentang nasibku dan pohon itu"
Kata pria tersebut dengan lirih.
Amir diam sejenak.
"Bicaralah..."
Pria tersebut lalu duduk di depan Amir.
"Engkau tau siapa saja yang datang kepadaku? Kepada pohon itu?"
Amir diam.
"Mereka adalah kebanyakkan manusia yang putus asa. Mereka pernah meminta kepada Tuhan, mereka beribadah juga berdoa. tetapi kebanyakkan dari mereka tak memiliki cukup kesabaran dan keyakinan untuk tetap selalu bersama Tuhan mereka. Mereka sedih kadang juga marah kenapa Tuhan tak mau mengabulkan permintaan mereka, hingga saatnya teman-temanku membisikkan ke dalam hati mereka untuk datang kepadaku. Aku telah memiliki perjanjian dengan Tuhanku, bahwa aku di perkenankan untuk menyesatkan manusia sebanyak-banyaknya sebagai temanku di akhirat nanti. Aku di berikan kekuatan dan kesempatan untuk melalaikan manusia, dengan izinNya aku bisa memberikan sedikit tentang apa yang di minta manusia"
Amir masih mendengarkan pria itu berbicara
"Kebanyakkan manusia tidaklah sama seperti engkau wahai pemuda pilihan Allah. Kebanyakkan manusia itu hatinya rapuh, imannya lemah dan pengharapannya tinggi. Manusia-manusia yang datang kepadaku mereka hanya kurang dalam berilmu. Engkau sebagai pemuda yang di rahmati Allah, engkau seharusnya bisa mengajarkan kepada mereka. Berikan mereka ilmu khidmat tentang agama, tentang Tuhan, tentang kebenaran"
Pria itu sekarang merubah rona wajahnya, Amir masih setia mendengarkan
"Berdakwahlah dengan ilmumu kepada mereka, dengan hartamu" Lanjut pria tersebut.
"Berdakwahlah dengan kekuatan, dengan cara yang menarik. Kau lihat surau di kampung ini? Entah sudah berapa lama usia surau itu, lihatlah hai pemuda pilihan Allah. Surau itu sudah sangat tua, lantainya tanah dan bangunannya usang. Lihatlah tikar-tikar di dalam surau itu, lusuh dan berbau. Engkau telah mengajarkan ilmu di sana, lihatlah berapa manusia yang datang memenuhi seruanmu? Sedikit sekali bukan?Perbaikilah semua itu agar manusia tertarik datang ke majelis ilmu, mendengarkan bimbinganmu. Engkau harus memiliki tempat yang mewah dan indah agar manusia-manusia itu datang kepadamu. Percayalah ucapanku wahai pemuda utusan Allah. Fikirkan dengan akalmu tentang ucapanku" Pria itu menatap Amir.
"Saat ini, jikapun engkau tetap dengan niatmu semula hendak merobohkan pohon besar itu, maka aku tak bisa lagi menghalangimu. Tapi fikirkan ini hai yang di rahmati Allah. Setelah engkau robohkan pohon besar itu, lihatlah di atas bukit-bukit itu, di hutan-hutan yang di sana. Masih ada banyak pohon yang bisa aku tempati, karena Tuhanmu mengizinkan aku dengan perjanjianNya yang teguh. Engkau tak mungkin bisa menebang seluruh pohon di muka bumi ini" Kata pria itu lagi.
"Tapi...." Lirih Amir sekarang
"Hai pemuda yang akan tinggal di syurga, jika engkau mempercayaiku, aku akan membantumu"
"Bagaimana......?" Amir mulai ragu
Pria itu kini berdiri tegak di hadapan Amir
"Aku akan membantumu dengan kekayaan. Bukan hal yang mustahil aku melakukan itu karena Tuhan telah memberikan setetes ilmuNya kepadaku. Dengan kekayaan yang aku berikan, engkau bisa membangun surau yang besar lagi megah. Engkau bisa membantu orang miskin, anak yatim dan orang-orang yang menderita. Engkau bisa membuat rumah-rumah kebaikan untuk mengajarkan ilmu. Dengan harta engkau bisa leluasa memanggil manusia untuk berdakwah, engkau akan banyak mengajarkan manusia menjadikan mereka hamba-hamba yang sholeh dan taat kepada ajaran agama"
.........
"Engkau tak usah ragu wahai pemuda yang di ridhoi Allah. Aku tak akan memintamu untuk mempersekutukan Tuhan. Aku tak akan memintamu untuk menyembahku. Engkau beramal lah dengan ikhlas, beribadahlah karena Allah bukan karena yang lain. Engkau perbanyaklah amal ibadahmu, sholatmu. Bertahajudlah di sepertiga malammu dengan khusyuk, di akhir sholat tahajudmu, lihatlah di bawah sajadahmu, aku akan meletakkan kekayaan di bawah telapak kakimu. Demi Allah yang Maha Perkasa lagi Menunaikan Janji, akupun tak akan ingkar janji jika engkau berkenan mengurungkan niat untuk merobohkan pohon besar di ujung kampong itu. Demi Allah ini adalah sesuatu yang telah di takdirkan untukmu"
Mendengar itu semua, Amir pun berkata
"Baiklah, tapi jika nanti kau berbohong, aku akan kembali lagi untuk merobohkan pohon besar itu"
"Aku selalu menepati janjiku" Jawab pria itu.
...........................
Amir berlalu dari pria tersebut dengan dada di penuhi kemenangan. Dia bangga dan bersemangat.
Pria itu tersenyum.
..........................
Malam itu selepas tidur sejenak Amir tersentak, dia harus melakukan sholat tahajud untuk membuktikan kebenaran ucapan pria yang tadi sore ia temui.
Sebenarnya tahajud bagi Amir adalah kegiatan yang biasa dia lakukan, tetapi malam ini agak berbeda.
Amir turun dari pembaringannya, membersihkan diri dan berwudhuk lalu tahajud.
Selesai sholat lantas ia melipat sajadahnya, dan benar saja, di bawah sajadah itu telah ada 15 keping uang emas.
Amir mengambil keping-keping uang emas itu untuk memastikan bahwa itu bukan khayalan.
Dan ternyata bahwa itu adalah benar adanya.
Amir membathin "Ternyata benar, pria itu menepati janjinya"
…………………………………………
Hari berlalu, begitulah sekarang Amir mengumpulkan keping-keping uang emas untuk ia gunakan nanti sebagai biaya segala hal yang telah ia rencanakan.
Sekarang Amir begitu tak sabar untuk selalu bisa melaksanakan sholat tahajud lalu mengambil kepingan uang emas yang telah tersedia di bawah sajadahnya.
Setelah dua minggu, memasuki minggu ketiga, setelah selesai sholat tahajud, Amir kaget karena tak lagi ia dapati kepingan uang emas di bawah sajadahnya.
Dia berfikir "Apakah pria itu telah terlupa?"
Keesokan malamnya Amir tak juga mendapatkan kepingan uang emas itu di bawah sajadahnya.
Begitu juga di malam-malam berikutnya.
Amir marah, dia merasa pria itu telah ingkar janji.
Kepingan uang emas yang dia dapatkan masih belum cukup bahkan untuk membangun sebuah surau yang besar.
Hatinya bergejolak, dia merasa harus mendatangi kembali pria penghuni pohon besar tersebut untuk menagih janjinya.
..............................
Dengan berbekal kapak di tangan, Amir berjalan menuju pohon besar di ujung kampung dengan rasa amarah karena merasa telah di bohongi.
Saat sampai di bawah pohon besar itu Amir dengan suara keras memanggil penghuni pohon besar tersebut.
"Keluarlah....!!"
Tak lama secara tiba-tiba pria itu telah berdiri tepat di hadapan Amir.
"Kau telah ingkar!" Teriak Amir
"Apa yang telah ku ingkari?" Kata pria tersebut.
"Mengapa kau tak lagi memberikan kepingan uang emas itu, hah?!! Uang emas itu masih belum cukup, tidak seperti yang engkau telah katakan di hari itu. Jika kau tak memberikan lagi kepingan uang emas itu, lihatlah, aku pasti akan merobohkan pohon ini"
Sambil Amir menunjukkan kapaknya kepada pria tersebut.
"Apakah engkau masih tahajud?" Tanya pria tersebut tenang.
"Ya" Jawab Amir
"Maka tahajud lah nanti malam" Kata pria itu lagi
"Jika kau berdusta lagi, aku pasti akan kembali kemari" Ancam Amir
Pria itu hanya tersenyum.
.....................................
Malam itu Amir kembali tahajud, setelah selesai dia menyibakkan sajadahnya dengan tergesa.
Tapi tak ada sesuatupun di balik sajadahnya. Amir semakin marah.
......................................
"Keparat kau. Aku akan merobohkan pohon ini agar orang-orang tak lagi terpedaya oleh tipu muslihatmu"
"Engkau tak akan bisa"
Amir kalap, dia menyerang pria tersebut dengan segenap kemarahannya. Dia menerjang.
Pria itu hanya menghindar sedikit, lalu mendorong Amir hingga jatuh terguling-guling.
Amir kaget. Dia menyerang kembali pria tersebut, tapi dengan mudah pria tersebut menghindar lalu mendorongnya lagi.
Begitu seterusnya yang terjadi hingga Amir kelelahan dan tak mampu lagi untuk berdiri.
"Engkau telah lalai Amir" Kata pria tersebut.
"Dahulu saat engkau datang kemari hendak merobohkan pohon ini, aku tau niatmu tulus karena Allah. Saat itu aku pun tau aku tak akan bisa mengalahkanmu. Tapi lihatlah sekarang, hatimu telah tercemari dengan harta. Engkau tak lagi datang dengan ketulusan karena Allah, ada harta yang engkau bawa dalam hatimu. Dahulu amalmu, ibadahmu serta tahajudmu engkau ikhlas karena Allah, lihatlah sekarang, engkau telah menduakan Tuhanmu. Aku telah menyesatkanmu dari jalan yang lurus" Pria itu tenang menjelaskan kepada Amir.
"Tapi aku melakukan itu semua untuk nantinya demi kebaikan agamaku" Dalih Amir
"Engkau lebih tau apa yang ada dalam hatimu"
"Tapi bukankah kau berkata dan berjanji..." Tanya Amir
Pria tersebut tersenyum.
"Janjiku bukanlah apa-apa wahai anak Adam. Adalah sudah menjadi janjiku untuk selalu menyesatkan umat manusia Amir. Aku di berikan kekuatan, aku di berikan kemampuan, Tuhan telah mengizinkan itu hingga akhir masa nanti"
..................................
Amir kini menyesal karena telah tersesat dan di lalaikan, dia menangis keras dan pilu.
=T A M A T=