"Gak perlu jadi manusia super untuk jadi pahlawan, loe cukup jadi diri loe, itu sudah cukup, setidaknya buat gue!" Sejatinya kata-kata itu adalah perkataan yang cukup menohok, dan semestinya, pun seharusnya omongan tersebut membuat Gilang sadar dan tidak melanjutkan ide gilanya.
Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, Gilang malah kian bersikukuh, terus saja melanjutkan ide gilanya, meski konsekuensinya, ia harus kehilangan orang yang paling dicintainya, Shinta.
Shinta, perempuan berparas ayu, berpostur sedang, berkulit sawo matang; Gilang mengenalnya sedari kanak-kanak, teman main, awalnya.
"Gue Superman...! Gue Srikandi...! Bersama-sama kita akan membasmi kejahatan di muka bumi ini...! Yeah....!" Pekik mereka secara bersama-sama, hal tersebut mereka perbuat ketika mereka duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, sesaat setelah mereka menghajar jagoan sekolah yang paling ditakuti, Seno.
Seno, senior mereka, berperawakan besar, lebih tepatnya gembul, duduk di bangku kelas enam.
Berdua mereka menghajar Seno hingga babak belur.
Awal pertikaian adalah perihal ancaman si gembul kepada seluruh anak murid kelas satu, si gembul memberi ancam kepada masing-masing orang untuk setiap harinya memberikan upeti kepada si gembul, seminimal-minimalnya dua ribu rupiah, yang dimulai esok hari, kalau tidak bakal mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Dan ternyata itu bukan pepesan kosong!
Si gembul memerintahkan kepada satu dua orang anak buahnya untuk memuntir telinga orang-orang yang tidak menuruti omongannya. Dan ketika giliran tersebut sampai ke telinga Shinta, Shinta pun menepis tangan tersebut. Si pemuntir melirik ke si gembul, si gembul memerintahkan untuk memuntir telinga yang sebelah, tapi kembali ditepis, si gembul pun geram, berjalan terburu-buru ke arah Shinta, tanpa ia sadari kalau ada sebelah kaki yang terjulur ke depan, yang sebenarnya perbuatan tersebut sengaja diperbuat oleh si pemilik kaki, tak pelak si gembul pun terjungkal jatuh, dengan mulut yang tepat mencium kaki Shinta. Semua orang menggelar tawa, termasuk komplotan si gembul tentunya.
Bangkit dengan kepayahan, oleh karena badan yang megar ditambah lagi dengan amarah yang menjajah hati, bak api entah pula sudah membakar nalar.
Si Gembul menoleh kepada si pemilik kaki, telunjuknya menuding geram, gigi-giginya menggemeretak, bersiap memerintahkan gerombolannya untuk menghajar.
"Kalau loe berani loe lawan gue!" ucap si pemilik kaki. Si Gembul, dengan raut geram, sambil menyapu hidungnya dengan jari telunjuk, menjawab tantangan tersebut dengan nada menggertak. "Loe jual, gue beli. Kalau loe semua harus sujud dan cium kaki gue!"
Si pemilik mengangguk. Lalu bagaimana dengan teman-teman sejawat, tentulah perasaannya mereka berkecamuk, sesungguhnya mereka tak mau diikut sertakan, tak ada urusan, begitu pikir mereka, apa hal, iya karena mereka merasa telah menunaikan kewajiban, mereka telah membayar upeti, tapi sayangnya kata penolakan sungkan terucapkan.
Tak sampai hitungan detik adu jotos pun tak terelakkan.Manakala tendangan putar Gilang akhirnya tepat menghajar perut yang buntal, yang oleh karena terjangan tersebut membuat si pemilik perut kembali terpelanting jatuh, Shinta pun bergerak cepat tak sampai hitungan detik ia meloncat, menindih dan menjambak.
Seno akhirnya mengacungkan kedua tangan ke udara, pertanda menyerah.
Dan dari situ Shinta dan Gilang pun bermetamorfosis, mereka pahlawan, sekaligus pelindung bagi teman-teman sepermainan mereka, tidak di sekolah, tidak kampung.
Seperti lesatan meteor nama mereka pun melejit, cukup disegani, bahkan sampai enam tingkatan usia mereka, gimana nggak sekarang mereka punya banyak pengikut, dan salah satu pengikut mereka yang paling loyal adalah, Seno.
Dan hal tersebut mereka perbuat hingga mereka menamatkan sekolah mereka hingga tingkatan terakhir, lanjutan atas.
Setelahnya, oleh karena kesibukan masing-masing, komplotan besar itu secara alamiah membubarkan diri hingga tersisa dua orang saja, Gilang dan Shinta.
Beberapa tahun berselang, lebih pasnya, tepat setelah Gilang berhasil menyelesaikan studi sarjana S-1 nya, begitu juga dengan Shinta, yang mana gelar sarjana tersebut mereka dapatkan di fakultas dan jurusan yang berbeda, tetapi begitu pun oleh karena penelitian yang sedang mereka kerjakan, mereka tetap saling terhubung.
"Ini sudah percobaan ke berapa, Lang. Gue gak yakin kalau..."
"Thomas Alva Edison aja gagal seribu kali,"
"Tapi persoalannya berbeda!"
"Beda!? Iya! Tapi kita punya tujuan yang sama, membawa terang ke dunia ini."
"Thomas Alva Edison gak menciptakan matahari! Sementara loe..."
"Gue yakin kalau Thomas Alva Edison hidup hari ini dia juga bakalan menciptakan matahari! Apa loe lupa tentang sejumlah ilmuwan di Timur sana, mereka sedang menciptakan matahari buatan, kamu lupa!?"
"Tapi kan gagal!"
"Iya hari ini, besok, lusa pasti berhasil! Tinggal menunggu waktu dan momentum saja."
"Loe keras kepala banget sih!"
"Shin, tinggal satu persoalan lagi, gue yakin sesudahnya..."
"Lang, dengar gue, please, sekali ini, dengar gue... Manusia yang loe mimpi-mimpikan itu gak mungkin ada! Kita gak mungkin bisa jadi seperti itu!"
"Pasti bisa!"
"Manusia super itu cuma dongeng...!"
"Tidak! Sebentar lagi itu nyata, tinggal menunggu waktu dan momentum yang pas!"
"Selama ini kita salah, Lang!"
"Salah!? Salah apa maksud loe?! Gue gak merasa melakukan kesalahan!? Loe barangkali!?"
"Apa yang kita lakukan dulu, kemarin itu semua yang kita lakukan hanya ingin mempertontonkan kesombongan, keegoisan kita. Kita bukan pahlawan, Lang. Kita gak ada bedanya dengan ayam jago!"
"Hahaha... Loe menyamakan gue dan diri loe dengan ayam jago!? Gila! Parah loe!!!"
"Iya! Ayam Jago! Cuma diadu di sana, di adu sini... Perdamaian yang kita inginkan itu semu. Menjatuhkan lawan agar dia tunduk pada kemauan kita. Bukannya itu semua semu!"
"Setidaknya mereka gak buat onar lagi,"
"Terus setelah sekian lama apa terjadi perdamaian yang loe idam-idamkan. Di depan mata loe mungkin tidak, tapi di belakang loe!?"
"Maka dari itu kamu lupa apa kalau salah satu kehebatan dari ramuan ini adalah untuk memberikan kemampuan pada diri kita hingga kita mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi pikiran orang lain agar orang-orang itu mau berubah dari jalannya yang salah."
"Loe bukan Tuhan!"
"Tapi Tuhan kasih gue otak!"