"Setelah di tinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya."
Aku Silvia Ardthan, putri tunggal dari pasangan Venus Ardthan dan Zhela Ardthan. Aku tidak tinggal dengan kedua orang tuaku, karena aku ingin mandiri. Awalnya kedua orang tuaku tidak mengizinkanku untuk tinggal sendiri dan takut aku kenapa-kenapa bila tinggal sendiri. Tapi dengan ribuan rayuanku akhrinya Ayah mengizinkan-ku untuk tinggal sendiri dengan syarat aku harus tinggal di apartemen milik Ayah, Bunda hanya pasrah ini juga demi kebaikanku.
Hari ini adalah hari Minggu, biasanya hari Minggu aku menghabiskan waktu untuk merawat diriku sendiri. Tetapi kali ini aku tidak punya waktu untuk itu, hari ini aku telah berjanji dengan pacarku yang bernama Devan ingin mengajaknya untuk berjalan-jalan. Selama 2 Minggu aku dan Devan tidak pernah bertemu hanya kontakan saja, katanya dia sibuk dengan pekerjaannya. Aku sempat berpikir negatif tentang Devan tapi aku singkirkan pikiran seperti itu karena aku tau Devan adalah laki-laki yang setia padaku. Entah itu benar atau tidak.
Setelah aku bersiap-siap, berdandan sederhana memakai baju berlengan panjang dengan velana jeans panjang karena siang ini cuacanya cukup panas. Aku menunggu ojek online yang aku pesan di lobby, tidak lama kemudian ojek online ku datang aku langsung saja memakai helm, naik ke atas motor dan mas-mas yang mengantarkan aku mulai menjalankan motornya.
Aku mempunyai mobil sendiri tapi aku tidak ingin memakainya dari waktu ini, saat pergi aku selalu menggunakan ojek online kalau tidak aku meminta Devan untuk mengantarkan-ku. Sampai di cafe, aku memesan minuman terlebih dahulu sambil menunggu Devan yang masih di perjalanan menuju cafe.
Aku melambaikan tanganku saat melihat Devan yang muncul di balik pintu cafe. Laki-laki itu tersenyum dan aku membalas senyumannya, dia melangkah mendekatiku dan duduk di sampingku. Ahh sudah lama sekali aku tidak melihat senyumnya yang manis seperti ini.
"Udah pesan makanan?" tanya Devan padaku, aku menggeleng menjawabnya.
"Belum, aku menunggumu." jawabku membuatnya mengulas senyum lebar di wajahnya.
"Besok-besok jangan menungguku, pesan saja duluan." balasnya sambil mengacak rambutku.
"Ihh jangan di gituin, berantakan nanti." gerutuku kesal, sedangkan Devan terkikik geli melihat ku yang kesal kepadanya.
"Mau pesen yang mana?"
***
Setelah selessi makan aku dan Devan memutuskan untuk ketaman. Di taman lumayan ramai, kami duduk berdua melihat bocah-bocah sedang bermain. Tiba-tiba aku kepikiran dengan perkataan Devan yang waktu ini yang ingin melamarku.
"Dev, kita udah pacaran 3 tahun kamu kapan mau ngelamar aku?" tanyaku dengan gugup, sebenarnya aku tidak ingin membahas ini tapi entah mengapa diriku ingin sekali membahasnya.
Devan menghela nafasnya kasar, dia menatapku dengan sayu. "Sil, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." ucapnya membuatku sangat penasaran dengan kata 'sesutau' pikiranku udah melayang-layang berpikir negatif. "Aku mau kita udahan aja sampai sini." sambungnya.
Seketika aku mematung lalu aku tertawa, "Dev jangan bercanda..." ucapku dengan terkekeh.
"Aku serius Sil." suaranya yang tegas seperti itu mampu membuatku menghentikan tawaanku.
Aku mengalihkan pandanganku ke depan. "K-kenapa?" tanyaku dengan lirih, air mataku sudah bergenang di kelopak mata dan berusaha untuk tidak menangis di depannya.
Devan menggenggam tanganku erat, aku membiarkannya memegangi tanganku. "Aku di jodohkan dengan teman anak Papah. 2 minggu lagi acara pernikahanku dengannya. Aku engga bisa nolak,"
Air mataku lolos, aku tau Papah Devan sangat tidak menyukai hubunganku dengan dia. Aku tidak tau harus jawab apa, aku lebih baik pergi dari sana berusaha tidak menghiraukan Devan yang terus memanggil namaku. Hari ini aku tidak ingin pulang ke apartemen, aku ingin pulang ke rumah Ayah dan Bunda.
Aku melambaikan tangan saat melihat taksi yang berjalan ke arahku, taksi itu berhenti dan mempersilahkan masuk. Aku memberi tau kemana tujuanku kepada pak supir, setelah sampai di rumah berwarna putih dengan bodyguard yang berjaga di dipan gerbang.
Aku membayar taksi setelah itu aku turun dari taksi, beberapa bodyguard melihatku bingung karena mukaku yang sembab akibat menangis.
"Sore Nona." sapa para bodyguard, lalu salah satu dari mereka membuka gerbang dan mempersilahkan aku masuk.
Aku masuk kedalam rumah, sepi. Itu yang pertama kali ada di pikiranku setelah merasakan sepinya rumah. Aku melihat sekeliling, tidak ada Ayah dan Bunda. Tiba-tiba Bibik menghampiriku memberi tahuku bahwa Ayah-Bunda sedang dinas keluar kota dan akan balik di ke esok hari.
Aku mengangguk mengerti, "Terimakasih Bik, aku ke atas dulu." pamit ku yang ingin menuju kamarku.
"Iya Non sama sama, Nona mau makan apa untuk nanti malam?" tanya Bibik padaku yang hendak melangkah.
"Apa aja bik, sekalian buatin makanan buat Para ART dan bodyguard. Mereka pasti kelelahan." sahutku lalu melangkah menuju lantai dua tepatnya kamarku yang sudah lama aku tidak tempati.
***
Ke esokan harinya, di siang hari Ayah dan Bunda telah sampai di rumah mereka sempat terkejut dengan keberadaan ku yang berada di rumah. Mereka bertanya-tanya kenapa aku bisa berada di rumah dan aku telah menceritakan tentang hubunganku dengan Devan.
"Sudah nak, jangan di pikirin jodoh sudah ada yang ngatur, jika Devan memang jodoh kamu dia tidak akan pergi sangat jauh." aku mengangguk menyetujui perkataan Bunda.
"Dari pada kamu sakit hari seperti itu, mending bantu Ayah untuk mengurus perusahaan Ayah lagi satu." ucap Ayah yang sedari tadi diam, tengah berkutat dengan laptop di depannya.
"Tapi aku engga bisa ngurus, Ayah. aku aja engga pernah kekantor Ayah." ucapku berusaha menolak dengan halus, aku tau itu sangat tidak bagus tapi bekerja di perusahaan Ayah memanglah sangat berat aku yakin saat aku bekerja di perusahaan Ayah pasti aku menghabiskan waktuku untuk lembur kerja.
"Ya tidak apa-apa, berarti kamu harus menikah dengan anak teman Ayah." aku melongo menatap Ayah heran, aku ini baru di putusin sudah di jodohkan saja tanpa meminta persetujuanku?
"Ayah! Silvi baru aja di putusin, Ayah jangan begitu." tegas Bunda seraya memukul lengan suaminya.
"Hehehe, maaf Ayah hanya ingin kamu menikah kalau tidak bantu Ayah menjaga perusahaan Ayah, apa lagi ke adaan Ayah sudah tua seperti ini."
"Ahh, iya-iya aku mengerti. Baik aku akan menggantikan Ayah di perusahan." Ayah tersenyum lebar, ia memelukku dan mengucapkan terimakasih.
"Ini baru anak Ayah! Tapi soal perjodohan itu harus di lalukan." ujarnya dengan bangga.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian."
***
Satu minggu berlalu, dalam satu minggu itu banyak yang aku pelajari tentang perusahaan Ayah. Hari ini adalah hari ke delapan aku bekerja di perusahaan Ayah, kini aku tengah berkutat dengan berkas dan juga laptop di depanku ternyata pekerjaan Ayah memang tidak mudah, baru segini aja aku sudah pusing bagaimana dengan Ayah yang bertahun-tahun bekerja.
Terlalu banyak berkas-berkas yang harus aku urus membuatku pusing, aku memutuskan untuk meninggalkan berkasku dan menuju kantin kantor, toh juga sekarang waktunya istirahat. Aku berjalan terus entah kemana, karena aku tidak terlalu tau dengan area kantor. Aku melihat karyawan yang menatapku sinis, ternyata aku berada di ruangan karyawan. Mereka semua menatapku, mungkin mereka tidak mengetahui bahwa aku siapa karena aku tidak memperkenalkan diri pada karyawan, malas.
Aku bertanya pada salah satu karyawan, "Mbak tau kantin kantor gak?" tanyaku pada mbak yang tengah bersiap-siap.
Mbak-mbak itu menoleh ke arahku dan tersenyum, "Kebetulan sekali aku mau ke kantin, apa kamu mau ikut bersama saya?" aku mengangguk kecil.
Sampai di kantin aku langsung saja memesan makanan dan minuman, juga beberapa cemilan yang akan aku bawa ke ruanganku. Setelah beberapa menit aku selesai makan.
"Oh ya, kita belum kenalan.." ucapku pada mbak yang tadi mengantarkan-ku kekantin. Aku mengulurkan tanganku, "Aku Silviana, panggil Silvi aja."
Dia mengulurkan tangannya juga lalu kami berjabat tangan, "Aku Sena. Omong-omong kamu karyawan baru di sini?" tanya Sena.
"Ahh iya—" ucapanku terpotong karena aku mendengar ada yang memanggil namaku, dan aku merasa suara itu sangat familiar.
"Silvi?" panggil seseorang itu dari arah belakangku, aku membalikkan badanku aku terkejut mendapatkan Devan yang berada di sini. Tunggu dia bukan karyawan di sini kan?
"Sayang!!" teriak seorang wanita dengan membawa nampan itu menghampiri Devan. Wanita itu menatap sinis diriku dari bawah hingga ujung rambut. "Siap lo? Ohh OB baru ya?" cerocosnya.
Aku menggerutkan keningku, apa dia bilang? OB? Aku tidak salah dengar kan?
"Dev kamu kenal sama OB ini?" tanyanya sedikit berbisik pada Devan tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Ahh iya ini mantanku, Silvi." jawabnya memperkenalkan ku.
"Ohh si miskin, kasihan banget nasip lo. Udah di putusin pacar jadi OB pula, makanya sultan dikit dek." ejeknya sambil terkekeh.
Tiba-tiba sekertarisku datang menghampiriku, "Kalian apa-apaan? Cepat minta maaf sama buk Silvi!" tintahnya dengan tegas.
"Idih ogah gua minta maaf sama dia," ucapnya sambil menatapku dengan jijik.
"Gita jangan keterlaluan dengan bos kamu!"
"Apa? Bos?" sentak Devan kaget dengan ucapan sekertarisku.
"Buk Silvi anak tunggal dari Pak Venus Adhtan. Buk Silvi memang tidak ingin memperkenalkan dirinya dengan karyawan di sini, hanya beberapa saja."
"Silvi, kamu? Kenapa engga bilang?" tanya Devan padaku. Dia memegang tanganku. "Kamu mau balikan sama aku?"
Iyap, Devan memang tidak mengetahui kalau aku adalah anak tunggal dari keluarga Adhtan. Aku memang tidak ingin memberitahu tentang setatusku, yang Devan tau kalau kedua orang tua aku tinggal di kampung dan aku ke sini untuk mencari pekerjaan, sebelum aku bertemu dengan Devan aku bekerja di cafe dan di tempat itu aku mulai pdkt dengan Devan.
Seseorang menyentak tangan Devan hingga tangannya yang menggenggamku terlepas, "Siapa anda? Berani sekali menyentuh istri saya?"
"Sil?"
Aku lupa menceritakan kalau aku menyetujui perjodohan yang Ayah tawarkan wkatu ini, dan laki-laki itu adalah calon suami aku namanya Reyhan Saputra Adhatma.
"Rey? Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku padanya.
Reyhan hanya melirikku lalu manarik-ku pergi dari kantin, sebelum itu Reyhan menyempatkan berucap.
"Jangan pernah sentuh istri saya, apa lagi berbicara dengannya." ohh Reyhan sangat posesif.
"Reyhan sakit!!" sungguh tanganku sangat-sangat sakit, Reyhan sangat erat menggenggam tanganku.
Reyhan terus menarikku hingga sampai di ruanganku, aku didorong masuk dan Reyhan mengunci pintunya. Dia menuntunku untuk duduk di sofa.
Aku mengusap tanganku yang kemerahan akibat tarikan dari Reyhan. Laki-laki itu mengambil alih tanganku lalu ia mengusap pergelangan tanganku dengan lemput.
"Maaf, apa masih sakit?" tanya Reyhan lembut. Aku menggeleng menjawabnya. "Lain kali jangan dekat-dekat dengan pria breng**k sepertinya." Aku menganggukkan kepalaku.
Inilah Reyhan, bersikap dingin didepan orang lain dan terlihat cuek tetapi tidak denganku dia lembut, cengeng seperti bayi, manja itu dan satu lagi posesif yang membuatku sangat-sangat suka dengannya. Dalam waktu seminggu Reyhan berhasil menaklukkan hatiku, aku pun tidak tau dengan perasaanku yang tiba-tiba tumbuh lagi.
Aku menyukai sifatnya, aku mencintai dirinya. Aku beruntung menerima perjodohan itu, kenapa tidak dari dulu sebelum aku berpacaran dengan Devan, saja Reyhan ada di kehidupanku.
"Sil, entah mengapa aku ingin pernikahan kita di percepat."
~TAMAT~
Reyhan sangat ngebet pingin nikah ya. Silvi harus sabar-sabar dengan Reyhan yang posesif.
Maaf kalau ada salah kata atau typo dan lainnya.
Jangan lupa like dan komen ya!! Lop buat kalian💕💕💘