Gendre : #Drama #Horor
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, lalu meregangkan tubuhku yang sudah mati rasa.
hm, aku tak perduli dengan tubuhku yang sudah mati rasa, ini hanya sekedar formalitas untuk menghibur diriku sendiri.
Ketika hari sudah pagi, aku bangun, merenggangkan tubuh seperti yang sering mereka lakukan. Ya, kebiasaan manusia yang masih hidup di pagi hari. Padahal aku sudah mati tapi masih melakukan hal ini, sangat ironis. Sudah jadi hantu masih saja ingin seperti manusia yang hidup.
Aku bosan, setiap hari hanya terus terjaga di kuburanku sendiri. Jadi hantu tidak enak sekali, tidak butuh mandi, bahkan tidur, kalau aku masih hidup pasti mataku sudah jadi mata panda nih.
"Hei, apa kalian nggak bosan terus terdiam seperti itu huh?" Aku benar-benar heran melihat para hantu lain yang terus terjaga di kuburan mereka sendiri tanpa bosan sedikitpun seperti itu. Bahkan ada yang setiap malam hanya terus menangis.
Aku memperhatikan mereka, menunggu ada yang menjawabku. Tapi memang penantianku sangat tak dibutuhkan didimensi ghoib ini deh. Mereka sombong sekali tak pernah menjawab pertanyaanku, apalagi pernyataanku. Halah, sangat tidak ramah.
"Cih, kalian ini nggak seru." Aku mendengus, pergi melayang meninggalkan kuburan sepi itu, bisa-bisa aku mati lagi untuk kedua kalinya karena merasa sangat bosan.
Gedung-gedung pencakar langit berjejer memenuhi tiap sudut kota, diatas nya langit terlihat sangat cerah dihiasi oleh awan-awan yang berwarna putih menyilaukan. Melihat itu, senyumku jadi merekah. Tak biasanya hari secerah ini, karena hari-hari lalu sering mendung dan hujan.
Aku menembus salah satu kaca gedung yang paling tinggi. Ini apartemen, tempat orang-orang tinggal. Aku langsung menembus ke lantai dua, di tempat yang pertama, kulihat ada ibu dan dua anak yang sedang memanggang kue, senyuman mereka tak luput dari ruangan itu, mereka saling bergurau satu sama lain. Di sela-sela tawa mereka, salah satu anak mengatakan "Kuharap ayah akan tersenyum sangaaaaaat lebar saat pulang nanti hihi," Lalu mereka tertawa kembali. Keluarga yang harmonis.
Di tempat yang selanjutnya, ada seorang laki-laki yang sedang bernyanyi dengan suara yang lirih dan sendu. Dia bernyanyi untuk dirinya sendiri di hadapan kue ulang tahun yang diatasnya telah terisi oleh dua lilin angka yang sudah menyala, dua dan dua, tak jauh berbeda dengan umurku, hanya satu tahun lebih tua dariku.
Kedua telapak tangannya beberapa kali bertemu, tapi tak menimbulkan sekalipun suara selayaknya sebuah tepukan tangan. Melihatnya seperti itu, aku jadi teringat oleh kenangan-kenangan masa laluku. Sekilas dia terlihat hampir mirip denganku.
"Selamat ulang tahun untukmu.. Semoga kedepannya, harimu dipenuhi oleh kebahagiaan. Kalau kamu nggak punya teman maka carilah teman, walaupun itu cuma satu, itu sudah cukup,"
Aku tau perkataanku tak dapat didengarnya, tapi aku berharap itu dapat tersampaikan.
Aku terus menembus lantai demi lantai, ini tak membuatku bosan, malahan aku sangat antusias melihat kegiatan orang-orang saat masih hidup. Orang-orang memiliki kegiatan mereka masing-masing.
Tapi aku tadi sempat tak sengaja melihat seorang pria yang sedang mandi.
Aakkhh mataku ternodai. Eh, kan aku sudah menginjak usia dewasa, tapi tetap saja..
Aku melihatnyaaa,
"Uugh.. Maapin aku om, sumpah aku nggak ada niatan buat ngintip tadi loh," Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali, mungkin itu bisa menghilangkan suatu ingatan yang tidak senonoh di dalam otakku.
Sudah ada dilantai berapa aku saat ini, aku tak sempat menghitungnya, jika ada petunjuk angka pun aku tak terlalu memperhatikannya, yang pasti aku yakin sekali jika saat ini aku hampir sampai pada puncak gedung, entah kurang enam atau tujuh lantai yang harus aku lewati lagi untuk sampai.
Saat sampai di lantai berikutnya, aku heran karena tak ada satupun orang yang tinggal disini.
Aku menelusuri seisi ruangan, tapi tidak lagi dengan kamar mandi, lagi pula aku tak mendengar suara gemercik air disana. Jadi aku menyimpulkan bahwa memang tak ada orang yang sedang mandi disana. Mungkin mereka pergi.
Lanjut lantai berikutnya saja deh..
"Astaga! Hey, apa yang kamu lakukan!" Aku sontak berteriak, melesat ke arah perempuan seumurku yang ada di tepi balkon.
Aku yakin dia ingin bunuh diri dengan terjun ke bawah, melihat dari ketinggian lantai ini dia pasti akan mati. Tapi sekilas aku melihat dia terlihat ragu untuk terjun, mungkin dia belum benar-benar siap dengan kematian.
"Jangan terjun ke sana dasar bodoh! Kemarilah.." Aku ingin meraih dan menarik tangannya untuk naik kembali, tapi tak bisa. Aku hantu, aku tak bisa menyentuh manusia, tenagaku tak cukup untuk melakukan itu.
Ah, tapi kan aku bisa merasukinya.
Aku segera masuk ke tubuh perempuan itu, aku bersyukur itu benar-benar berhasil, aku langsung berusaha naik ke permukaan balkon, bertumpu pada kedua tangan yang tengah memegang pagar. Saat kedua kaki telah menginjak dataran balkon aku tak langsung keluar dari tubuhnya, aku lebih dulu menjauhkan tubuhnya dari balkon, masuk ke ruangan dan menutup pintu balkon, setelah merasa aman aku langsung keluar dari tubuhnya. Kupikir saat dia telah menjauh dari balkon tak ada kemungkinan dia terjun kembali.
Tak kusangka dia terlihat tenang menyadari dirinya telah berpindah tempat secara misterius. Aku menatapnya, menunggu apa yang akan dia lakukan, sebenarnya aku masih takut jika dia akan kembali mencoba untuk terjun.
"Kok malah nolongin, kenapa nggak biarin aku terjun aja? Kupikir semua hantu sama aja nggak perduli sama sekitarnya," Sorot matanya lurus menatapku. Aku terkejut, ternyata dia bisa melihatku.
"Ooh, kamu bisa melihatku toh, kamu kenapa mau mati sih? Ada masalah hidup apa huh, aku kaget tau! Masa iya aku mau biarin orang bunuh diri gitu aja? Nggak lah, aku nggak sama kayak mereka, aku aja heran merhatiin mereka yang ga ada bosannya cuma diem jaga kuburan mereka sendiri. Ya gitu.. Eghh, pokoknya kamu jangan sekali lagi nyoba terjun! Jangan mati, hidupmu itu berharga,"
Sebenernya aku sangat sebal melihat orang bodoh sepertinya. Cih, bodoh sekali menyia-nyiakan hidupnya yang hanya sekali seperti itu.
Dia menghela napas berat, "Berharga? Ck, kamu tau apa tentangku. Aku ini cuma orang yang nggak berguna, semua orang benci aku, aku benar-benar udah muak hidup tanpa arti apa apa, nggak ada hiburan, setiap hari cuma bingung mikirin skripsi, entah udah tepat berapa kali skripsiku di tolak. Aku muak, aku pengen mati aja biar ga bingungin urusan skripsi." Perempuan itu terduduk di lantai, merasa sangat frustasi dia mengacak-acak rambutnya yang sangat panjang hingga menyentuh lantai.
"Oalah begitu, pantas aja.. maaf. Udahin aja ya bunuh dirinya, jangan dilakuin. Kamu tau.. Kehidupan setelah kematian itu nggak seperti yang kamu bayangin. Hidupmu itu cuma sekali, jadi jangan disia-siain okey," Aku jongkok di hadapan nya, menatap lurus ke arah matanya.
Melihat masih ada seseorang yang seperti ini, aku jadi mengingat sesuatu yang tak ingin kuingat kembali, membuatku jadi tersenyum ketir.
"Kata siapa kamu nggak berguna? Kamu sendiri huh? Buang pikiran yang seperti itu. Itu nggak benar, buktinya kamu bisa melihatku, kamu spesial!" Aku tersenyum tulus menatapnya.
Ucapanku kali ini membuat nya meneteskan ari mata. Itu bukan hanya setetes air mata, melainkan suatu tangisan. Aku jadi terkekeh, jarang melihat tangisan dari seseorang seperti ini. Aku mengelus punggungnya. Ya, walau tak benar-benar menyentuhnya tapi mungkin ini bisa membuat dia lebih tenang.
"Sudah ya, kedepannya jangan coba bunuh diri lagi. Semangat! Harimu masih panjang, Apapun itu kamu harus semangat! Kamu bisa kok," Aku berniat untuk menyemangati nya, semoga dia mendapatkan semangat nya kembali.
Aku menunggunya sampai berhenti menangis, hanya terus menatapnya dengan senyuman tulusku.
"H-hei.. Berubah menjadi hantu itu seperti apa rasanya?" Dia menatapku sembari mengelap air matanya
"Semuanya mati rasa." Aku tersenyum ketir.
"Termasuk hatimu?" Tanyanya sekali lagi.
Aku mengangguk.
"Sepertinya itu salah deh, buktinya kamu membantuku. Berarti semua nya nggak mati rasa tuh, hatimu aja masih bisa bersimpati padaku," Dia tersenyum. Perkataannya membuatku jadi berpikir.
Benar juga perkataannya...
"Aku Nina. Siapa namamu?" Aku mendadak jadi antusias. Target pertama nih, jangan sampai lepas hihi..
"Filia, " Filia langsung menjawab cepat pertanyaanku, sepertinya dia sudah tau jika aku akan bertanya tentang namanya.
"Boleh nggak aku ngintilin kamu- eh nggak, maksudku.. Jadi temanmu," Aku terkekeh.
"Hayoloh, udah ketahuan niatnya tersembunyinya," Filia tertawa, "Boleh banget tauk, iya nggak apapa-apa ikutin aja aku terus! Kan sudah aku katakan tadi, semua orang membenciku, jelas aku senang karena kamu satu-satunya temanku sekarang."
"Kalau boleh tau.. Kamu kenapa bisa meninggal Nina? kalo nggak salah diliat dari wujudmu, kamu kecelakaan ya?"
Aku hanya diam, tak menjawab.
"Aah, kalo pertanyaanku membebanimu nggak usah dijawab nggak apa-apa kok," Filia mendadak gugup karena melihatku yang hanya terdiam.
"Hmm nggak apa-apa, aku memang mati karena kecelakaan, tapi.. Ah lupakan." Hanya itu saja yang Kujawab, aku tak mau mengungkapkan semua ceritaku padanya, biarkan saja ceritaku tak ada yang tahu selain aku sendiri.
Filia hanya mengangguk mengerti. Sepertinya dia tau kalau aku memang tak ingin menceritakannya.
Aku melayang meninggalkan filia, duduk di kursi miliknya yang terlihat empuk dan lembut. "Duduk sini yuk! Tenangkan dulu pikiran mu, jangan duduk di lantai begitu,"
Agak kurang sopan sebenernya karena aku yang sebagai tamu malah menyuruh tuan rumah duduk di tempat tinggal nya sendiri.
Filia mengangguk, berdiri, menyusulku duduk di kursi empuknya.
"Ah, kamu bisa ambil minum sendiri kan.. Kalau saja aku masih hidup pasti sudah aku ambilkan air minum untukmu, maaf." Ucapku lirih.
Filia menggeleng, "Nggak, aku nggak butuh minum kok. Makasih Nina, aku udah tenang berkat kamu," Filia tersenyum.
"Kamu nggak akan coba bunuh diri lagi kan? Jangan ya.. Kamu kan masih bisa berusaha lagi, jangan nyerah gitu kalau belum tercapai. Soal skripsimu aku mungkin bisa bantu kamu," Aku melayang, mendekat ke pintu balkon yang dasarnya terdiri dari kaca,
"lihat, langitnya cerah begini loh, suasana hatimu juga harus cerah dong!" Tambahku.
Filia malah tertunduk dengan ekspresi sedih. Apa perkataanku salah?
"Mungkin besok aku akan coba memulai hariku kembali, tapi aku nggak tau kedepannya akan bagaimana.." Lirihnya.
"Eyy kamu bisa! Jangan pesimis begitu ah, optimis dong!" Aku terkekeh.
"Filia, kamu nggak takut dengannya?" Aku menunjuk bayangan hitam yang sedang merayap didinding bak cicak,
"Eeggh.. Udah mirip cicak aja kamu, jadi yang normal dikit dong!" Bayangan itu hanya meresponku dengan menggeram.
"Aku udah sering liat yang berwujud seperti itu sih, jadi nggak takut.
Aku sudah sering menyuruhnya pergi dari sini tapi dia tetap aja tinggal.
Walau dia nggak menggangguku, aku tetap nggak suka, dia nggak seramah kamu, mangkanya itu aku pikir semua hantu sama aja seperti dia, tapi ternyata masih ada yang seperti kamu," Filia merapikan lembaran-lembaran kertas yang berantakan di atas meja depannya.
Mungkin sekarang suasana hati Filia sudah stabil, aku kagum dengannya yang terlihat dengan mudah kembali baik-baik saja, entah memang benar begitu atau tidak.
Yang perlu kulakukan hanya terus membantunya sampai dia benar-benar tak ada pikiran untuk bunuh diri lagi. Aku tak mau dia cepat berubah menjadi hantu sepertiku. Cukup aku saja yang berakhir seperti ini, jangan sampai orang lain juga.
"Omong-omong, kalau nggak salah kamu semurunanku kan Nina?"
"Lho kemana dia.. "
"Oh ya, kamu bilang apa tadi? Umurku sama denganmu? Hmm sepertinya gitu, " Aku mengangguk.
"Aah.. Begitu, kamu beneran mau ngintilin aku huh?" Filia berdiri membawa lembaran-lembaran kertas yang tadi dia rapikan, meletakkannya di dalam nangkas.
"Eeyy, jangan bilang ngintilin ah! Ya benar sih aku niatnya mau disini aja sama kamu, habisnya bosen banget di kuburanku terus, hmm nggak ngerti juga sih kenapa aku tinggal di kuburanku sendiri, kalau ragaku bisa hidup dan keluar kubur sendiri mah nggak apa-apa, aku jagain terus aja, tapi itu kan mustahil," Jawabku.
"Oke oke. Kamu belum belum pernah berteman dengan hantu lain?" Filia menatapku, memiringkan kepalanya.
"Boro-boro berteman, aku ajakin ngomong aja nggak ada yang balas, sombong sekali kan mereka," Aku mendengus. Ekspresiku yang terlihat kesal membuat Filia tertawa lepas.
Tok, Tok, Tok.
Suara ketukan pintu membuat kami menghentikan obrolan kami. Filia menatapku, terlihat ingin bertanya, tapi sudah kubalas dengan menaik turunkan bahuku.
"Buka saja." Aku kenatap pintu.
"Sebentar!!" Filia merapikan rambutnya yang tadi sempat acak-acakan, lalu segera menuju ke arah pintu dan membukanya.
"Eh.. Ada perlu apa ya?" Filia menatap sejenak laki-laki berkacamata yang barusan mengetuk pintunya.
"Benar kan kamu Filia?" Tanyanya.
Filia mengangguk, tapi masih merasa bingung.
"Hai, kenalin aku Anan,"
"Kamu tadi yang kasih aku surat ya.. Umm.. Ini untukmu, makan saja semuanya," Anan menyodorkan kue yang ada ditangannya ke pada Filia.
"Dan ini juga." Dia kembali menyodorkan sebuah bungkusan, entah apa itu, mungkin.. martabak?
Filia menerima keduanya dengan ragu, dia menatapku sekali lagi tatapan matanya seolah bertanya apa yang sedang terjadi.
"Ehehey, surat yang dia maksud.. Aku yang memberikanya, aku menulis namamu dan nomor apartemenmu, diluar dugaan dia langsung kesini," Aku tersenyum jahil menatap Filia.
Filia menyipitkan matanya saat menatapku, "Pantas aja tadi kamu sempat menghilang, ternyata karena ini.. " Bisiknya padaku.
Saat tersadar dengan tatapan Anan yang masih mengarah padanya, dia langsung beralih pandangan, giliran menatap Anan dengan senyuman yang ramah.
"Ahaha.. Makasih, selamat ulang tahun ya.."
"Ah, boleh minta nomor mu tidak?" Filia terkekeh, terlihat sedikit malu-malu.
Eghh.. Apa-apaan itu.
"B-boleh," Anan tergesa-gesa, langsung mengeluarkan teleponnya, "Boleh banget malahan.." Gumamnya.
"Hm, maaf?" Dahi Filia mengerut.
"A-ah, nggak apa-apa, aku cuma omong kosong tadi kok," Anan menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Setelah Anan memberikan nomor teleponnya, dia pergi meninggalkan Filia, Filia sekali lagi berterimakasih untuk kue yang Anan berikan, tapi Anan menggeleng karena itu bukan apa-apa.
"Ciye.. Yang dapat teman baru nih," Aku tersenyum jahil, melesat mendekati wajah Filia.
"Apaan sih, jangan terlalu mendekat begitu ah, agak merinding nih.." Filia menjauh dariku.
"Makasih.." Filia tertunduk malu.
"Laki-laki tinggi.. Berpakaian rapi dan berkacamata. Uhh..Tipeku banget.."
"Ah tunggu, aku penasaran apa yang kamu tulis di surat yang telah dia baca,"
Malah giliran Filia yang melesat mendekatiku, menatapku penuh harap untuk jawabanku pada pertanyaannya.
"Hmmm, Apa ya.."
"Adadeh heheh."
.
.
.
makasih buat yang udah baca, dan jangan lupa dukungannya heheh. (-^〇^-)♡♡
-Liulu.