"Masih disini ? Bukan nya kamu ada janjian dinner jam 7 malam ini ?" Frank Lampard masuk ke dalam ruangan Bryant dengan mengernyitkan dahinya kebingungan saat ini masih menemukan si Boss lagi membaca berkasnya dengan santai.
" Oh shiits ! Aku melupakannya lagi !" Bergegaslah dia menyambar jas nya yang tergantung berikut kunci mobilnya. "Aku jalan dulu !" Teriaknya sambil berlalu. Barry hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi dan tingkahnya.
Sementara itu di cafe Charlotte duduk dengan gelisah karena sudah sejam ia menunggu kekasihnya itu tidak kunjung datang. Ia merasakan tidak enak dengan pandangan pelayan yang hilir mudik karena hanya duduk dan meminum segelas air hangat tanpa memesan makanannya.
Ia pun bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari cafe tersebut. Dengan grab ia pun kembali ke apartemennya. Cacing diperutnya sudah meronta-ronta meminta jatahnya, ia langsung ke pantry dan membuat makanan simpel untuk makan malam. Bryant mencari-cari sosok Charlotte di Cafe tempat mereka akan merayakan hari jadinya mereka. "Dia sudah pulang. Aku terlambat, aku sudah melupakannya lagi. " Batinnya. Diapun berjalan gontai ke parkiran setelah mendapatkan informasi tentang Charlotte dari sang pelayan.
Ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya Charlotte.
Dia menekan tombol hijaunya didinding sisi kanan pintu masuk.
Charlotte dengan malas membukakan pintu untuk Bryant.
"Sayang maafkanlah aku, sudah melupakan janji kita. Aku tadi lembur dan ..." Charlotte tidaklah mengindahkan hal yang dikatakan oleh Bryant. Gadis itu berjalan menuju ke arah kamarnya dan langsung tiduran membelakangi Bryant yang setia mengikutinya. Wanita itu langsung mengenakan headset mendengar suara lagu di phonsel pintar nya dan memejamkan mata.
Hanya itu saja yang bisa dia lakukan karena penyakit lupanya Bryant. Bagaimana cara agar dia secara terkenal menjadi pengacara yang hebat, namun peran dia sebagai seorang kekasih adalah buruk. Bagaimana dia begitu bodoh jatuh cinta dengan seorang pria seperti itu.
Bryant menanggalkan jas dan dasinya kemudian dia ikut bergabung dengan Charlotte di tempat tidur. Lelaki itu merangkul pinggangnya dan mencium puncaknya karena merasa bersalah karena melupakan temu janjinya.
"Sorry." Katanya lembut dia pun ikut merebahkan diri di sampingnya dengan cara masih memeluknya Charlotte menghela nafasnya menahannya rasa kesalnya.
Bryant akhirnya ia tertidur pulas dengan cara masih memeluknya dari belakang. Charlotte merasakannya hanya dapat terdiam.
Dua tahun ini sang kekasih Bryant melupakan hal-hal yang bersangkutan dengan hubungan antara mereka. Ia pun melepaskan headset dan mematikan music nya kemudian ia ia memutuskan untuk tidur.
Bryant berpacaran dengan Charlotte selama 3 tahun lalu. Entahlah Kenapa akhirnya dia menjadi pelupa di tahun-tahun akhir ini. Hal-hal remeh bagi pria itu sangat penting untuk Charlotte. Bryant sendiri sering menginap di apartemennya Charlotte namun lelaki itu tidak pernah menyentuhnya melakukan hubungan intim seperti pasangan pada umumnya. Bryant penganut ajaran agama dengan taat, namun ia juga menghargai Charlotte.
Keesokannya Charlotte sibuk di pantry dengan masakannya. Ia membuat wafle dan pancake untuk sarapan pagi. Dia sudah selesai membuat kopi saat itulah Bryant muncul dengan pakaiannya yang lain dan wajah terlihat lebih segar.
"Terimakasih Sayang." Katanya saat Charlotte memberikan sarapannya. Charlotte hanya terdiam. memandangi wajah lelaki itu.
" Kita kemana hari ini? " Tanyanya seraya menatap wajah cantiknya Charlotte.
"Tidurlah. Mau apa lagi." Seusai sarapannya Charlotte masuk dan mengambil phonsel nya setelah selesai dia pun melanjutkan acara tidurnya dan mengacuhkannya.
Lelaki itu hanya terdiam melihat tingkah lakunya seolah-olah ia tidak pernah ada di sana. Yah, jika dia melupakan sesuatu Charlotte selalu mengacuhkan nya. Dia merasakan hal itu sangatlah tidak nyaman. Lebih baik jika ia dicaci-maki saja daripada ia mendiamkannya. Bryant mengerjakan tugas kantornya di ranjang dan sesekali ia melirik ke arah samping. Charlotte masih sama tidak bergerak, tidur pulas.
Setelah menyelesaikan pekerjaan Bryant mengambil benda di tas kerjanya. Kotak kecil berisi cincin berlian dia sematkan dijari Charlotte. I love you, bisiknya dan mengecupi puncaknya ia pun tertidur pulas di sampingnya.
Matanya Charlotte mengerjap-ngerjap saat dia bangun Bryant sudah tidak bersamanya ia pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat dia menyisir rambut ada kejanggalan di jemarinya. Cincin ? Kapan dia melakukannya Batinnya. Setelah itu dia pun pergi ke kantor.
Siang itu Charlotte menemui clientnya di restoran dekat sebuah hotel. Matanya menatap ke arah sosok dikenalnya di halaman parkir itu ia melihatnya Bryant bercipika-cipiki dengan seorang wanita seksi, tidak hanya itu saja. wanita itu menempel erat di tubuhnya. Segera saja ia memotret nya beberapa kali dan mengirimkan pesan singkat ke Bryant. Kemudian ia pun berlalu.
" Sayang. Kamu yakin tidak mau balikan sama aku ? " Ucap wanita itu masih memeluk tubuh Bryant. "Makasih. Namun aku sudah akan menikahinya. Pergilah !" katanya dingin.
"Aku masih menunggu kamu." Bisiknya sambil mencium pipinya dan berlalu. Bryant membuka phonsel nya karena tadi ia mendengar suara notifikasi pesan masuk. Dia terkesiap manakala melihat gambarnya bersama Brissa. Charlotte melihatnya. Tidak pasti dia marah besar, pikirnya.
Saat di apartemennya Charlotte Bryant melihat kopernya ada di ruang tamu. " Sayang. Akan ku jelaskan. Ini .." Charlotte melepaskan cincin dan menaruhnya di atas meja dan berlalu. Saat di depan pintu masuk kamar langkahnya terhenti.
"Kita putus saja. Aku jenuh dengan penyakit lupa mu yang makin akut ! Toh kamu sudah memiliki wanita itu. Jangan lagi berdebat, aku malas !" ia pun masuk ke dalam kamarnya.
Charlotte marah padaku, dia tidak memberikan kesempatan lagi, pikirnya sedih. Dengan tanpa berdebat Bryant menarik koper dan mengambil cincinnya.
Dua hari kemudian Charlotte bertemu dengan Frank Lampard di food court di mall.
"Nona Charlotte ? Sendirian ? Mana si Boss ?". Lelaki itu bertanya terus kepada nya. Agak risih namun apa boleh buat.
" Iya lagi malas saja ", Jawabnya sedikit malas.
Frank Lampard terkekeh kecil. " Pasti Boss lupa lagi ?" Si Boss penyakit amnesia makin parah saja." Gerutunya. " Amnesia ?" Keningnya berkerut tidak mengerti. "Iya, sejak kecelakaan dua tahun lalu, bos memiliki penyakit lupa. Makanya beliau membeli pen reader. Untuk mengingat sesuatu dan dia juga memasukkan ke dalam file. Itulah sebabnya beliau sering lupa peristiwa berberapa menit lalu." Jelas Frank Lampard.
"apa kamu kenal wanita itu?" Charlotte memberikan phonsel nya.
" O, dia? Wanita itu kan mantan Boss 4Tahun lalu. Mereka putus juga karena dia tidur dengan lelaki lain. Baginya lelaki itu hanya mesin ATM." Lanjutnya.
Sesuai perpisahannya dengan Frank. Charlotte ke apartemennya. Dia melihat Bryant duduk di kursinya dengan menonton film.
"Sayang lama sekali belanja nya ?" Lelakinya mengambil semua belanjaannya kemudian ia menatanya. Dengan kebingungannya ia terdiam melihat aktivitas Bryant.
Ia juga mengetahui ada pen setiap kali lelaku itu juga melihat iPad di sampingnya tadi.
"Sayang. Ayo bersihkan dirimu. Lalu kita makan. Aku sudah membuat makan malam. Saat di kamar ia melihat baju-bajunya Bryant disana juga.
"Sayang kamu lupain cincinnya. Pakai saja ya ? Jangan pernah dilepas ! I love you ! " Bisiknya sambil menyematkan cincin dan menciumi bibir Charlotte. "Segeralah bergabung dengan aku di meja. Ku tunggu." Charlotte lagi-lagi teerdiam. Mereka makan bersama dan Bryant bercerita tentang rencana pernikahan mereka dan program bayi juga langsung. Karena ia ingin terikat dengan sang istri agar ramaikan rumah mereka.
Charlotte meneteskan air matanya. Terharu. Betapa bodoh dirinya. Tidak mencari tahu dan langsung saja memutuskan hubungan. Bryant peduli padanya dan perhatian nya begitu tulus. Aku akan mencoba membalas cintamu sepenuhnya. Batinnya.