Malam itu Weli tidur dengan senyum di bibirnya, di salah satu kamar tamu yang indah dan mewah di rumah keluarga Ian, teman 1 angkatannya di Ksatrian.
Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, sejauh ini semua berjalan lancar tanpa hambatan yang cukup berarti.
Besok, ia berjanji akan ke rumah Chalik lagi untuk belajar lebih mengenal lagi budaya Betawi dan kekhasannya langsung dari orang tua Chalik, yang kini bisa ia panggil Abah dan Nyak, sebagaimana Chalik memanggil kedua orang tuanya tersebut.
Di flat screen tv 40 inch yang ada di kamar ini, sedang ditayangkan telenovela dari Amerika Latin (entah judulnya apa dan dari negara mana), namun dialognya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Weli sebenarnya bukan penikmat drama atau novel yang ditayangkan di layar televisi, yang biasanya dibagi menjadi banyak episode, namun adegan yang sedang tayang ini menarik perhatian Weli yang mulai mengantuk.
***
“Kapan kau akan mulai melakukan sesuatu untuk hidupmu Rudolfo?” tanya si perempuan kepada laki-laki berambut merah yang duduk di hadapannya. Sepertinya mereka berdua sedang sarapan bersama.
“Kau sudah cukup dewasa untuk mencari pekerjaan,” lanjutnya. “Sungguh, kau tidak pernah melakukan apa-apa dalam hidupmu kecuali..”
“Hanya main-main?” sahut si laku-laki tadi memotong kalimat si perempuan dan kembali menambahkan: “Apa yang salah dengan hal tersebut? Tidak ada yang ku rugikan dan aku memang tidak mau mencari pekerjaan. Orang bekerja itu untuk mendapatkan uang dan saya telah memilikinya, dalam jumlah yang banyak. Untuk apa lagi bekerja?”
Ucapannya itu membuat si-perempuan gusar dan sepertinya hanya untuk semakin membuat si-perempuan kesal, si-laki-laki yang dipanggil Rudolfo itu menarik-narik poni rambut merah-nya, yang sudah mulai melebihi panjang rambut laki-laki pada umumnya.
“Tolong dengarkan aku Rudolfo!” ujar si-perempuan lagi, “Kau sungguh-sungguh harus mulai bekerja, menghasilkan karya atau menjadi berguna dan menghasilkan uang-mu sendiri. Bukan sekedar menikmati warisan dari orang tua-mu. Dan kebetulan aku tau ada pekerjaan yang tepat untukmu. Kegiatan awalnya akan dimulai pada bulan September nanti,” tambah si-perempuan sambil menatap si-laki-laki dengan begitu manis, yang pada akhirnya dapat membuat laki-laki tersebut menyerah.
“Baiklah,” jawabnya, “Aku akan melakukannya, tapi itu artinya aku masih punya waktu sekitar enam bulan sebagai masa bebas-ku kan?”
***
Tanpa sadar Weli tertidur. Kini flat screen tv 40 inch itu yang menonton Weli tertidur.
Ketika alarm yang sudah ia pasang berbunyi, Weli terbangun dengan kaget, melihat ke arah TV yang tidak lagi menyala, entah memang ada sensor geraknya atau mungkin ada seseorang yang masuk ke kamar ini dan mematikan TV yang tidak ditonton. Weli tidak terlalu memikirkannya, ia hanya bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan diri supaya bisa segera pergi ke rumah Chalik sesuai janjinya.
***
Singkat cerita, semalam Ian telah meminjamkan mobilnya untuk dipakai Weli sepanjang hari ini. Dan tanpa menunda waktu, ia bergegas mengendarai mobil itu ke rumah Chalik.
Hari masih relatif pagi ketika Weli sampai ke depan rumah Chalik, namun seperti yang sudah diperkirakannya, kedua orang tua Chalik menerima Weli dengan ramah. Mereka bahkan tidak sungkan untuk mempersilahkan Weli membangunkan Chalik yang memang belum keluar dari kamarnya pagi ini.
Tok..tok..tok..
“Chalik, izin masuk ya?” sapaku sambil kembali mengetuk kamarnya.
“Masuk saja nak Weli, tadi sudah Sholat subuh bareng seh kami, tapi sepertinya dia tidur lagi itu.. bangunin aja Chalik-nya ituh, biar sekalian malu dia.. Udah sepagian begini anak gadis kog masih lanjut molor!” kata Nyak Chalik sekilas kepada Weli, sambil masih tampak sibuk bolak-balik antara dapur dan ruang makan.
Weli pun memutar gagang pintu dan seketika terkejut dengan teramat sangat sewaktu melihat pemandangan kamar Chalik untuk pertama kalinya. Ia melihat kamar bernuansa putih yang berantakan sekali di tengah cahaya pagi yang seharusnya menyegarkan.
Beberapa pasang sepatu dan sendal juga kaos kaki bekas pakai tampak berserakan di lantai. Ada 2 keranjang berbeda ukuran dan jenis bahan, yang ikut terserak bersama sepatu dan sendal itu, juga gunting, beberapa pita satin dan lakban bening.
Laci-laci lemari pakaian tampak terbuka dan memperlilhatkan beberapa pakaian (bahkan pakaian dalam perempuan yang sempat membuat wajah Weli memerah) yang tidak tersusun rapi, ‘Entahlah itu pakaian bersih atau sudah bekas pakai yang terkesan di lempar ke sana kemari?’ batin Weli tak habis pikir.
Kondisi meja belajar atau meja dandan juga tidak kalah semerawutnya, tampak berbagai macam botol tidak tersusun rapi dan dihiasi banyak noda, mungkin sisa make-up atau apapun itu. Tas, alat tulis, beberapa buku dan kertas turut meramaikan kondisi meja belajar itu. Benar-benar tak karuan.
Di belakang daun pintu bergantung beberapa tas, ransel, baju, celana jeans dan rok yang sudah mulai mengeluarkan bau-bauan tak sedapnya sendiri. Tampaknya pakaian bekas pakai sehari sebelumnya atau bahkan mungkin seminggu yang lalu.
Beberapa buku dan pernak-pernik hiasan juga beberapa bingkai kayu dengan foto Chalik dan keluarganya, yang sepertinya sudah memudar dari warna aslinya atau memang vintage (secara umum, vintage artinya adalah pada segala sesuatu yang usang dan lama, serta berasal dari kenangan di masa lalu), tergeletak tidak beraturan di nakas berbentuk tangga putih di samping kanan-kiri tempat tidur.
Selimut dan beberapa kain, seperti pashmina, tersampir di atas tempat tidur, di sudut bantal dan di atas selimut yang tergulung dengan sangat tidak rapi, bahkan beberapa bagiannya sampai terhampar di lantai. ‘Apa Chalik tidak merasa risih dengan kondisi semerawut begini? Bagaimana bisa sosoknya yang selama ini sangat terkenal cinta kebersihan, bisa merasa nyaman dalam kesemerawutan seperti ini? Apakah Chalik yang dia kenal selama ini memiliki kepribadian ganda?’ batin Weli kembali bertanya-tanya.
Dan disanalah sosok yang Weli pertanyakan kewarasannya sedang menikmati tambahan istirahat paginya dengan raut wajah yang tenang bahkan terkesan sedang tersenyum.
Chalik masih menggunakan mukena berwarna cerah, mungkin yang ia pakai ketika Sholat subuh bersama Abah dan Nyak tadi. Chalik tampak nyaman dalam posisi tengkurap dengan selimut yang hanya membalut sebagian kakinya.
“Chalik, bangun! Ditunggu Abah dan Nyak di meja makan untuk sarapan bareng tuh..” kata Weli selembut mungkin, mungkin khawatir membuat Chalik kaget dan malu. Namun ketika Chalik tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari mimpi indahnya, Weli semakin mendekatkan diri dan mengusap bahu Chalik perlahan.
“Hhemm.. apaan seh Nyak? Masih subuh kan?” kata Chalik sambil melap permukaan mulutnya yang aga berair dan lalu mengucek matanya, sebelum akhirnya menyadari keberadaan Weli di kamar-nya yang super berantakan.
Tiba-tiba suara keras seperti teriakan nyaring terdengar dan menghentak kesadaran Weli. Ternyata itu suara alarm yang Weli pasang dan ia melihat flat screen tv 40 inch, yang kini sudah menayangkan siaran tunda ceremonial Pembukaan Olimpiade Musim Dingin ke-23 yang berlangsung di Pyeongchang, Korea Selatan.
Weli sadar, yang sebenarnya masih di alam mimpi sebelumnya adalah dirinya sendiri. ‘Untunglah ini hanya mimpi (mimpi buruk yang mungkin terdampak dari telenovela yang ia tonton sebelum tidur) dan semoga Chalik yang ia kenal tidak seperti yang ada di mimpinya..’ harap Weli dalam batin.
***