Setelah ditinggal oleh pacarku, aku menjadi bosnya.
Lika-liku yang terkadang aneh dalam hidup. Pun demikian yang aku alami.
Tepat, dua tahun yang lalu, pacarku yang bernama Ben memilih meninggalkanku tanpa kesan. Saat liburan menjelang wisuda, pria yang sudah mengisi hari-hariku sejak di bangku putih abu-abu itu pergi ... tanpa kesan ... tanpa kabar.
Dalam penantian yang panjang, aku mencari di mana Ben berada. Beberapa pesan kukirimkan, nyatanya tidak pernah terbalas. Panggilan seluler pun aku coba, nyatanya juga tak tersambung. Hati ini gundah dan juga resah.
Sehingga, setelah memilih bertahan atas satu nama yang selalu bertahta di hati ini. Perlahan aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam nama itu. Membiarkan waktu yang kulalui dalam penantian sendiri berada di belakangku.
Sekalipun samar-samar hati ini selalu memanggil namanya.
"Ben, sudah dua tahun waktu berlalu. Kamu di mana Ben? Haruskah aku menyerah sekarang juga? Sudah terlalu lama aku menunggu, Ben." ucapku dengan lirih sembari mengigit bibir bagian dalamnya.
🌸🌸🌸
Hingga suatu hari di musim semi, saat aku telah menjadi seorang wanita karier di salah satu Bank yang cukup ternama di Kota J. Secara sekilas aku melihat, Ben ... ya, orang itu berdiri di hadapanku.
Sekian tahun tanpa sua, dan kemudian mata ini bisa menatap membuat jantungku berdebar melebihi ambang batasnya.
Akan tetapi, tunggu dulu. Apakah aku telah salah lihat? Mengapa di sini Ben justru menjadi bawahanku di bagian Auditor Finansial.
Beberapa kali aku mengerjap, kemudian aku meminta Curriculum Vitae dari pria bernama lengkap Ben Rasendriya itu. Benar, dia lulus seangkatan denganku. Akan tetapi, bagaimana mungkin pria itu kini menjadi bawahanku.
Mencoba menenangkan diriku sendiri, aku berusaha seprofesional mungkin memberikan orientasi bagi Ben dan beberapa rekrutan terbaru dari Bank tempatku bekerja.
Beberapa kali mataku ini bersitatap dengannya, tetapi aku berusaha menghindarinya. Hingga sore sepulang bekerja, aku memilih berdiam sejenak di ruanganku. Rasanya begitu enggan keluar dari ruangan ini hingga harus kembali bertatap muka dengan Ben.
Namun yang terjadi di luar dugaanku. Suara ketukan di pintu menyadarkanku dari lamunanku. Saat aku berkata, "masuk...."
Rupanya Ben lah yang saat ini mendatangiku. Pria itu tersenyum dan terus melangkah kakinya ke arahku.
"Ada perlu apa?" tanyaku setenang mungkin kepada pria yang membuatku membuang waktu begitu panjang. Berdiri di antara ketidakpastian.
Namun, pria itu justru terus mendekat hingga kini dia berdiri tepat di depan meja kerjaku.
"Hai Elsa, bagaimana kabarmu?" tanyanya memulai obrolan.
"Hmm, baik." jawabku dengan singkat.
"Sudah dua tahun berlalu, Sasa ... dan tidak menyangka, sekarang kamu mencapai apa yang kamu cita-citakan sejak di bangku putih abu-abu." ucapnya dengan mata yang tampak berbinar.
Sementara aku hanya diam. Membiarkan pria bernama Ben itu terus bersuara. Akan tetapi, saat dia memanggilku "Sasa", seolah kepakan kupu-kupu hadir di dalam hatiku.
Itu adalah panggilan sayang yang Ben sematkan untukku.
Sasa, ya begitulah dia memanggilku.
" Jika tidak ada yang berkaitan dengan pekerjaan silakan pulang. Maaf, aku harus segera pulang." ucapku sembari menarik hand bag yang bertengger di atas mejaku.
Berusaha mengabaikan Ben, aku pun berdiri dan berusaha melangkahkan kaki.
Namun, baru beberapa langkah yang aku ambil, sebuah tangan terasa mencekal pergelangan tanganku hingga menghentikan langkah kakiku.
"Sasa, aku kembali, Sa...." ucap Ben yang berusaha menahanku.
Dengan cepat aku menghempaskan tangan yang sejak SMA selalu menggenggam tanganku.
"Semua sudah berakhir, Ben ... tidak ada lagi Sasa." ucapku dengan tegas dan dalam posisi masih membelakanginya.
"Itu hanya pikiran kamu saja, Sa... nyatanya di hati ini masih saja ada namamu." ucap Ben yang terdengar dengan sungguh-sungguh.
Perlahan aku membalikkan badanku, hingga kini aku bisa menatap kembali wajah pria yang kurindukan kehadirannya. Namun, wajah inilah yang aku benci. Ya, aku membencinya karena dia telah meninggalkanku begitu saja.
"Maaf Sa ... tetapi, tidak bisakah kita kembali jatuh cinta dan memulai kembali kisah kita yang belum usai." ucap Ben yang syarat akan meminta.
Sementara aku mendengkus dengan kesal.
"Sorry, Ben ... aku tidak bisa. Bagiku kisah ini telah usai." jawabku meyakinkan diriku sendiri bahwa kisahku bersamanya memang telah usai.
"Sa, kamu harus dengar pengakuanku. Aku jatuh cinta berkali-kali dengan seorang wanita, dan wanita itu adalah kamu...."